Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V1 - Chapter 4 Part 1


__ADS_3

BAB 4 : Seseorang Mengunggah Video Pelanggan Yang Sedang Dipukul


...----------------...


Sudah tiga hari sejak Seiya mengambil posisi sebagai manajer pelaksana.


Pagi hari setelah malam tanpa tidur, ia berangkat sekolah, matanya tertunduk. Ia sudah mengambil terlalu banyak libur; jika ia tidak mulai masuk ke kelas sesekali, orang-orang akan mulai curiga.


Dengan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan di dalam kereta penuh sesak, ia menyalakan smartphonenya dan memeriksa total klik video. “……?” Ia secara naluri menggosok matanya. Total klik untuk video baju renang ‘Semua 30 Yen’ adalah 8,873.


Ketika ia mengeceknya tadi malam sebelum pergi tidur, totalnya 218. Dari sebanyak itu hingga 8,873? Sulit dipercaya bahwa total kliknya bisa mencapai kenaikan empat puluh kali lipat hanya dalam satu malam. 218 klik ke 8,873 klik? Tidak masuk akal.


Menahan rasa gelisahnya, ia mengecek totalnya lagi selama sela-sela antara setiap kelas. Setelah jam kedua, totalnya 12,031. Selama makan siang, totalnya 21,230. Setelah jam keenam, totalnya melebihi 40,000 dan bertambah dengan sangat cepat sampai-sampai setiap kali ia menyegarkan datanya, angkanya sudah bertambah ratusan.


...----------------...


“Kelihatannya video yang berbeda menjadi viral. Kebanyakan orang yang menonton video promosi sampai di sana via tautan yang direkomendasikan…” Isuzu menginfokan ke Seiya begitu ia sampai di kantornya di taman. Ia segera berlari ke sana pulang sekolah.


“Video yang berbeda…?” tanyanya.


“Video pertarungan Moffle,” dia memberitahunya. “Tamu lain pasti merekam serangannya pada sang ayah, dan kemudian mengunggah videonya ke Internet.”


“Apa?!” Seiya mencoba mengaksesnya dengan laptop di dekatnya. Informasi terbatas yang disediakan smartphonenya belum membuatnya jelas, tapi sekarang sudah jelas. Salah satu ‘video yang terkait’ ke video baju renang Seiya sudah memperoleh lebih dari 190,000 klik. Judulnya ‘Maskot Taman Hiburan Mengalahkan Berandalan.’


Ia mengkliknya, dan memang, itu adalah rekaman dari pertarungan Moffle dengan keluarga tamu dari hari sebelumnya. Salah satu tamu lainnya pasti merekamnya dalam kebingungan, pergi sebelum Seiya dan Isuzu datang berlari, dan kemudian mengunggahnya ke situs video nantinya.


Dalam hal format, itu sangat mirip dengan video pertarungan lain yang mungkin kau lihat secara online; itu dimulai dengan sang pria meneriakkan umpatan pada Moffle, yang berada di luar bingkai video. Tidak ada penjelasan tentang apa penyebabnya.


Kata-kata ancaman sang pria bertahan sekitar sepuluh detik. Itu adalah adegan yang cukup tidak nyaman.


Kualitas audionya rendah, jadi sulit untuk mendengar apapun yang Moffle katakan. Itu hanya terdengar seperti ia meneriakkan ‘Fumomo, fumo, fumomomo!’


Lalu, pria itu menyerbu Moffle. Saat ketegangan mencapai puncaknya, Moffle melakukan elakan yang tepat terhadap serangan pria itu, diikuti oleh sebuah tinju sempurna ke rahangnya. Serangan itu menjatuhkannya, lalu Moffle meninju udara dengan sebuah rangkaian dua pukulan cepat sebelum melakukan pose mengejek. Itu adalah akhir dari videonya.


“Mmgh…” Seiya mengerang.


Kenyataannya, Moffle juga salah. Tapi karena salah penggambaran, itu terlihat sangat mendebarkan.


Sebagian besar komentar di video itu positif.


Satu tertulis, “Kerja bagus. Benar-benar katarsis untuk kami di industri jasa.”


Yang lain: “Pukulan itu tepat sasaran. Maskot sangat kuat.”


Yang lain: “Taman apa ini? Aku harus pergi melihatnya!”


Tentu saja, ada komentar kritikan juga. Misalnya: “Taman hiburan macam apa yang memukul pelanggan mereka?” dan “Ini dipalsukan, ini adalah pemasaran siluman.” Tapi jauh lebih banyak yang menganggap pertarungan itu menghibur daripada yang tidak.


Hitungan kliknya hampir 200,000.


Selain itu, tautan pertama dari ‘video yang terkait’ pertarungan itu adalah video promosi, dengan thumbnailnya yang menampilkan tiga gadis cantik dalam baju renang. Yah, setidaknya itu menjalankan tugasnya untuk menarik mata.


Kesimpulannya, video pertarungan Moffle sudah menjadi viral, dan video itu mengalirkan lalu lintas ke video promosi.


“Kliknya masih bertambah,” Isuzu meninjau dengan sangat membantu. “Ini pertanda bagus, kan?”


“Hmm…” Seiya tidak berkomitmen.


“Ada apa?” dia bertanya. “Kau tidak tampak senang.”


“Yah, ini adalah berita baik, tapi…” Ia ragu untuk merayakannya. Lagipula—


“Moffu.” Ia mendongak dan melihat Moffle, yang berdiri di pintu masuk menuju kantor. Ia bersandar pada kusen dengan aura kesombongan sempurna di sekitarnya.


“Moffle,” Isuzu menyapanya. “Videomu tampaknya sukses.”


“Aku tahu, fumo. Aku sudah mendengarnya seharian. Tapi… hah, aku bukan maskot kepala AmaBuri tanpa alasan, fumo. Aku punya hal tertentu, kau tahu… karisma?”


Bajingan ini, pikir Seiya. Aku tahu ia akan mencoba menyombongkannya.


“Itu butuh suatu kekuatan bintang tertentu untuk mengubah keadaan yang tidak menguntungkan menjadi emas,” Moffle berkata dengan santai. “Aku sangat bertalenta, fumo, aku bahkan menakuti diriku. Kukira itu untuk menunjukkan… seorang bocah amatir mungkin berusaha menjadi pandai, tapi ia akan selalu pucat di hadapan bakat sejati, fumo.” Moffle memandang rendah Seiya, menyeringai jahat. …Kenyataannya, Moffle jauh lebih pendek darinya. Tapi saat ini, ia entah bagaimana tampak menjulang tinggi di atasnya.


“Ngh…” Seiya menunduk, bahunya bergetar.


Moffle melanjutkan, “Jadi, hmmmm… Kanie-kun. Bagaimana dengan videomu, fumo? Video tiga gadis dalam baju renang? Hah, kau berpikir keras untuk itu, kan? Kau sangat bergairah. Tapi, sayang sekali. Apa kau benar-benar berpikir itu akan meledak dalam popularitas? Dunia tidak melayani kenaifan seperti itu. Heh heh heh…”


Sial. Ini menyebalkan. Sangat menyebalkan. Untuk membuatnya lebih buruk, ia bahkan tidak bisa mengatakan bahwa Moffle salah.


“Itu hanya kebetulan bahwa itu berjalan baik,” Isuzu menyela. “Aku tidak tahu siapa yang mengunggahnya, tapi kau harus berterimakasih karena mereka mengeditnya menjadi sedemikian menyanjung. Mereka bisa saja dengan mudah membuatmu menjadi penjahatnya.”


“Moffu…” Pengamatannya yang sangat akurat membuat Moffle menunduk malu.


“Nah… aku yakin kau punya sesuatu untuk dikatakan, Kanie-kun?” dia melanjutkan. “Mengesampingkan kompetisi remeh.”


“…Ya, sebenarnya.” Seiya menarik napas panjang, menghilangkan rasa malu dan kemarahannya. “…Ada sekitar 50,000 klik di video promosi 30 yen. Puncaknya mungkin malam ini, dan kemudian penonton akan berhenti bertambah besok. Kita beruntung jika itu menyentuh 100,000.”


“Fumo…”


“Selain itu, ada fakta bahwa orang-orang yang menonton videonya ada di seluruh Jepang. Bahkan jika orang di Hokkaido dan Okinawa tertarik dengan AmaBuri, tidak mungkin mereka akan datang ke sini karena keinginan tiba-tiba. Jadi, berapa banyak orang yang akan datang ke sini setelah menonton video semacam itu? Satu dari sepuluh? Tidak—kurang dari itu. Kita beruntung jika mendapat satu dari lima puluh.”


Dengan kata lain, dua persen. Dan bahkan mungkin itu optimis…


“Jadi, misalnya, jika 100,000 orang melihat iklannya, maka itu diterjemahkan menjadi 2,000 kunjungan ke taman. Dan itu mungkin akan lebih sedikit dari itu, mengingat kesulitan geografis yang kusebutkan—lebih seperti 1,000, atau lebih sedikit. Maksudku adalah hanya karena videonya viral tidak harus berarti kita bisa mendapat lebih banyak tamu.”


“Kalau begitu, kenapa kau menempatkan kami di siksaan itu?” Isuzu bertanya padanya, tatapannya bisa dipahami penuh kebencian.


“Karena aku lebih suka memiliki 1,001 daripada 1,000.” Seiya membalas tegas.


Mata Moffle dan Isuzu terbelalak.


“Dapatkan setiap orang yang bisa kita dapat,” ia memberitahu mereka. “Itulah yang harus kita lakukan, saat ini.”


Sebuah skema cemerlang tidak akan mucul begitu saja dari udara, bagaimanapun. Untuk sekarang, mereka harus fokus mendapatkan setiap individu yang mereka bisa dapatkan ke taman. Mereka perlu rela melakukan apa saja untuk membuatnya terjadi—itulah satu-satunya cara mereka bisa punya kesempatan.


“……”


Ia tidak bermaksud mengungkapkan keputusasaannya secara terbuka seperti ini, tapi Moffle dan Isuzu masih tampak mengambil sesuatu dari kata-katanya. “…Aku paham apa maksudmu, fumo,” ucap Moffle. Ia tidak lagi sombong maupun tersenyum. “Aku akan pergi sekarang. Para tamu menunggu, fumo.”


Moffle pergi, meninggalkan Seiya dan Isuzu bersama di kantor.


“…Kupikir Moffle baru menyadari bahwa kau serius.” dia akhirnya berkata.


“Benarkah?”


“Ya. Dan lebih dari itu, Kupikir ia pikir kau memenangkan ronde ini.”


“Menang?” Itu adalah hal aneh untuk diucapkan, pikir Seiya. Aku hanya mengutarakan pendekatanku pada masalahnya.


“Kau mencoba mendapatkan setiap tamu yang bisa kau dapatkan,” jelas Isuzu. “Sementara itu, Moffle menyelinap keluar dari pos di atas panggungnya untuk mengejekmu… Mengingat tugasnya kemungkinan membuatnya sadar.”


“Ahh… Begitu.” Tampaknya sang tikus punya lebih dari rasa bangga dalam pekerjaannya. Ia kemungkinan tidak bisa tahan hanya berdiri di sini setelah mendengar sesuatu seperti itu.


Isuzu menjulurkan wajahnya keluar pintu kantor untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana. Lalu dia berbalik, menutup pintu di belakangnya, dan berjalan menghampiri Seiya. “Kanie-kun.”


“A-Apa?” Wajahnya dekat. Mata besarnya menatap tajam matanya. Seiya berpaling secara naluri.


“Aku tidak akan mengeluh lagi,” dia memberitahunya. “Kalau kau memintaku untuk keluar dengan pakaian renang lagi, akan kulakukan.


Kalau kau memintaku untuk telanjang, akan kulakukan.”


“Y-Yah…” ia tergagap, “Aku tidak berpikir aku akan memintamu untuk telanjang…”


“…Begitu,” ucapnya, setelah jeda. “Kalau begitu kita akan menyingkirkan ketelanjangan dari meja. Bagaimanapun, kau adalah komandan yang baik.


Itulah yang coba kukatakan.”


“Ahh…” ia tergagap seperti orang bodoh, saat ia merasakan perkataannya menembus langsung ke hatinya.


Komandan yang baik. Dirinya, benarkah? Sulit bagi Seiya untuk setuju. Masih jauh lebih mungkin kalau ini semua akan berakhir dengan tragedi.


Isuzu berbalik dengan tajam, seolah menyatakan bahwa dia tidak punya apapun lagi untuk dikatakan. “Aku juga akan pergi ke atas panggung,” ucapnya. “Barangkali aku bisa mengesankan para tamu dengan kecakapanku dalam menembak tajam.”


“Jangan kebetulan membunuh seseorang, oke?” usulnya dengan datar.

__ADS_1


“Akan kucoba.” Mengeluarkan musketnya yang biasa, Isuzu meninggalkan kantor.


...----------------...


Setelah itu, Seiya menjalankan tugasnya: membaca laporan dari berbagai departemen, memberikan instruksi, berkonsultasi dengan staf. Ia memeriksa bagaimana pemeliharaan berjalan, memberi keputusan akhir pada salinan iklan, meluruskan ketidakefisienan, dan banyak lagi. Begitu ia mencapai tempat pemberhentian, Seiya memutuskan untuk melihat bagaimana keadaan di atas panggung.


“Ayo lihat…” Ia mengenakan seragam tamannya, yang merupakan jas biru tua yang disesuaikan dengan aiguillette emas dan sebuah ban lengan bertuliskan ‘manajer pelaksana.’ Ia pikir ia tampak konyol memakainya, tapi pakaian itu sudah lama menjadi aturan bahwa manajer taman harus mengenakannya saat ia pergi ke atas panggung.


Ia meninggalkan gedung urusan umum dan menuju jalan ke plaza depan. Sudah cukup gelap; dekat dengan waktu tutup. Sebagian besar tamu mungkin sudah pergi sekarang.


“……?” Ketika ia datang ke plaza depan, Alun-Alun Masuk, ia mendapati bahwa segalanya tampak hidup, secara mengejutkan.


Itu jauh dari penuh sesak, tentu saja. Mengingat musimnya dan waktunya, tidak mengejutkan bahwa pengunjung agak jarang, tapi para tamu yang ada di sana sudah berhenti ketika mereka berjalan menuju gerbang untuk menikmati penampilan dari para pemeran.


“Moffu! Moffu!” Moffle melakukan juggling. Empat bola menjadi lima, lima menjadi enam. Ia menjaga semuanya tetap di udara dengan keterampilan yang hebat, menambahkan putaran di sana sini. Bahwa ia melakukan itu dengan lengan-lengan kecil gemuk miliknya itu membuatnya lebih mengesankan. Begitu ia selesai, empat atau lima tamu bertepuk tangan, dan Moffle membalas dengan membungkuk rendah.


“Ron! Ron!” Macaron menari. Hip-hop awal 2000-an meledak dari pemutar CD tua dan berkarat saat ia melompat dan berlari dengan marah di jalan. Salinan resmi taman menyatakan bahwa Macaron terspesialisasi pada dansa ballroom, tapi apa yang sedang ia tampilkan saat ini adalah breakdance hardcore. Ia berputar-putar di atas kepalanya mengikuti ritme dari lagu Run DMC20 lama, membuat beberapa tamu bersorak-sorai.


“Mii! Mii!” Tiramii melakukan pertunjukan di atas panggung. Jauh dari menjadi mainan anak, panggungnya kira-kira setinggi tiga meter. Karena Tiramii adalah maskot kecil yang mencolok, hal ini terutama menyebabkan visual yang tidak proporsional dan genting. Meskipun posturnya tampak mustahil, Tiramii berlari ringan di seluruh kotaknya, pertama melompat-lompat, lalu melompat dengan satu kaki, lalu bahkan berjalan mundur. Para tamu yang berjalan di sepanjang jalan mendukungnya.


“……” Isuzu juga di sana. Dia memakai penutup mata dan dengan rapi melakukan tembakan jarak jauh pada balon-balon yang ada di dalam mulut para maskot yang tampak gugup—termasuk Wanipii dan Tricen—dengan musketnya. Setiap kali ia mengenai targetnya, lima atau enam tamu yang menonton bertepuk tangan.


Beberapa pemeran lainnya juga hadir, melakukan yang terbaik untuk membuat para tamu senang dengan berbagai cara. Jadi ini yang dimaksud penjaga keamanan saat ia menyebutkan tawa baru-baru ini, pikir Seiya pada dirinya sendiri. Ini tentunya adalah perubahan dari yang biasanya.


Mereka memberi para tamu pertunjukan yang bagus, melakukan apapun yang mereka bisa untuk menghibur mereka. Dan mereka, hasilnya, menikmati berinteraksi dengan para tamu.


Seiya tetap berdiri di jalan keluar, tercengang, untuk setidaknya satu atau dua menit penuh. “Kenapa kalian tidak selalu melakukannya seperti ini?” adalah pertanyaan yang akhirnya melayang dari bibirnya.


“Aku takut mereka hanya bisa karena dirimu.” Ia berbalik terkejut melihat Latifah berdiri di sana. Muse bersamanya; dia, tampaknya, adalah yang membimbingnya ke sini.


“Latifah.” ia menyapanya.


“Kanie-sama,” Latifah membalas. Dia tersenyum, matanya tertutup. Muse, yang menggenggam tangannya, melihat dirinya dengan keprihatinan samar.


“Ini sangat jelas bagiku… Kami semua sudah banyak berubah sejak kedatanganmu,” dia melanjutkan. “Kami sangat yakin kalau tidak ada masa depan yang tersisa untuk kami… dan sekarang, kami mulai menyadari kalau kami mungkin sudah salah. Bisakah kau melihat paman—maafkan aku—Moffle-san?”


Sudah menyelesaikan pertunjukkan jugglingnya, Moffle sekarang sedang membuat kawanan merpati terbang keluar dari topinya, mengundang tepukan tangan lain dari tamu mereka.


“Moffle-san belum bekerja sangat keras pada apapun dalam waktu yang sangat lama.” Latifah memberitahunya.


“Hmm…” Seiya merenung. Itu benar bahwa ada sesuatu yang sungguh-sungguh tentang penampilannya.


“Kerja kerasnya, hasilnya, menginspirasi para pemeran lainnya. Bahkan jika taman memang ditutup, ia tidak mengharapkannya untuk berada di bawah keadaan yang akan membolehkanmu mengatakan ‘Sudah kubilang.’ Aku merasakan motivasi itu dengan sangat kuat darinya.”


“Maksudmu aku memberi mereka harapan, eh?” Seiya bertanya.


“Ya,” Latifah memberitahunya. “Inilah yang disebut banyak orang sebagai keajaiban.”


Lebih banyak keajaiban, huh? Sudahlah yang benar saja… Seiya menahan dirinya dari mengatakan pemikiran itu keras-keras.


Jadi begitu; suasananya berubah. Tapi itu tidak berarti akan menjadi mudah untuk mendapatkan 100,000 tamu. Jika plaza penuh sesak dengan orang, itu mungkin memberi harapan kecil, tapi ini tidak; ini hanya satu atau dua keluarga per maskot.


Seiya tidak berbohong saat ia mengatakan ia mau membawa masuk setiap tamu yang ia bisa. Tapi untuk mencapai 100,000 dalam situasi ini—


“Kanie-sama,” Latifah meminta dengan pelan, “Maukah kau berjalan denganku?”


“…?” Penasaran, ia menunggunya untuk berkata lebih banyak.


“Masih ada satu jam sampai jam tutup taman. Kalau kau mau…” Latifah bimbang untuk sesaat, pipinya menjadi merah muda. “Aku ingin kau menemaniku… berkencan.”


...----------------...


Seiya meyakinkan Muse yang khawatir, lalu membawa Latifah keluar untuk tur taman.


Karena dia buta, itu tidak bisa dihindari kalau ia akan berakhir memegang tangannya. Tentu saja, para pemain yang mereka lewati menyaksikan dengan syok, dan bahkan para tamu, yang tidak tahu siapa mereka, tampak menganggap mereka pasangan yang tidak mungkin.


Pertama, mereka berhenti di ‘Rumah Manisan Moffle.’ Ini adalah atraksi di mana kau menembak tikus dengan pistol laser… bukan atraksi yang dirancang untuk kesenangan Latifah. Mereka hanya berkeliaran hingga mereka sampai di ruangan akhir, di mana Moffle datang untuk menemuinya dan mengambil foto cenderamata. Pada pemeriksaan lebih dekat, jelas bahwa ini bukan Moffle yang asli, tapi seseorang dalam kostum.


“Moffu!”


Moffle yang asli sedang tampil di Alun-Alun Masuk saat ini, jadi mereka pasti mendapat seseorang untuk menggantikannya.


“Yah, bukankah ini mengejutkan,” muncul suara seorang pria dari dalam. “Kami sangat kekurangan tenaga, kau lihat… mereka bahkan membuat penjaga keamanan sepertiku ikut menyumbang.”


“Terima kasih sudah membantu,” ucapnya. “Akan kupastikan kau mendapat bayaran lembur.”


“Nah, nah. Aku melakukan ini karena aku menyukainya. Dan para tamu tampaknya menikmati berfoto denganku lebih dari yang kuharapkan.” Selagi ia berbicara, penjaga tua dalam kostum Moffle mengambil foto Seiya dan Latifah bersama.


Tepat sebelum rana dimatikan, Latifah memeluk erat lengan Seiya.


...----------------...


Mereka berkeliling ke Petualangan Bunga Tiramii, Teater Musik Macaron dan atraksi lainnya, memberikan lebih banyak ucapan terima kasih pada para maskot pengganti yang mereka jumpai di sana.


Setelah mereka mengunjungi beberapa dari mereka, Seiya menanyai Latifah sebuah pertanyaan. “Itu saja atraksi-atraksi yang populer di area ini… Apa ada tempat lain yang mau kau kunjungi?”


Latifah membalas, “Ya. Aku ingin menaiki roda raksasa.”


“Bianglala… huh?”


Roda raksasa. Itu adalah atraksi tua, lebih tua dari masa gelembung tahun 1980-an. Ia dengar kalau itu cukup populer selama tahun-tahun awal periode Showa, ketika areanya dikenal sebagai ‘Lapangan Permainan Amagi.’ Dia menyebutnya roda ‘raksasa’, tapi itu benar-benar sangat merendahkan dibandingkan dengan apa yang mereka bangun dewasa ini dengan teknologi modern—kau mungkin akan mendapatkan pemandangan yang lebih baik dari atap bangunan tingkat tinggi setempat. Dan lagi, Seiya sudah berharap untuk menghindari bianglala jika memungkinkan.


“Apa kau yakin kau tidak mau melakukan hal lain?” ia bertanya dengan ragu. “Itu tidak akan punya banyak hal untuk dilihat. …Ah.” Teringat tentang penglihatan Latifah, Seiya tergagap cepat mengatakan, “Em, maaf…”


“Kau tidak perlu meminta maaf; itu tidak menggangguku,” dia meyakinkan dirinya. “Aku hanya ingin menaiki bianglala.”


“Kalau kau yakin, Aku… Aku tidak keberatan.” ucapnya, merasakan keringat mulai muncul di punggungnya.


“Kalau begitu, ayo.” dia meminta dengan ceria.


Ia meraih tangan Latifah dan menuntunnya menaiki bianglala. Taman baru saja akan tutup; hampir tidak ada tamu yang tersisa.


Setelah pintu gondola tertutup, ia angkat bicara. “Kuharap kau tidak akan mengambil ini ke arah yang salah, tapi… Kau tidak bisa melihat pemandangannya, kan? Kenapa tertarik dengan bianglala?”


“Ah. Itu benar bahwa aku tidak bisa melihat pemandangannya…” suaranya mengecil. “Tapi aku mengetahui bahwa ada saat ketika aku bisa, meskipun itu sudah lama sekali hingga aku tidak lagi mengingatnya…”


“…?” Ia menunggunya untuk berkata lebih banyak.


“Meski begitu,” dia melanjutkan, “aku merasakan sedikit kenyamanan dari sensasi guncangan bianglala ini: getarannya, deritannya, kekerasan tempat duduk di bagian belakangku… Ini adalah sesuatu yang kuinginkan untuk dinikmati bersamamu.”


“Ah-ha…” Seiya merasa seolah-olah beberapa hal yang dikatakan Latifah terlalu sulit untuk dipahami. Ia akhirnya mengeluarkannya dari benaknya, dengan pemikiran bahwa sebagai orang buta, dia pasti akan termotivasi oleh hal-hal di luar pemahamannya.


Dalam keadaan normal, ia mungkin akan lebih penasaran, tapi— “Kita sudah naik cukup tinggi, huh?” ia berbisik, mengelus ringan dadanya.


Bianglalanya tidak setinggi itu. Meski begitu, mereka secara kasar sudah mencapai ketinggian dari bangunan empat lantai. Atraksi di sekeliling sekarang hanyalah kumpulan atap, dan ‘getaran’ serta ‘deritan’ yang Latifah bicarakan tidak membantu. Jantungnya mulai berdebar-debar.


“Seberapa tinggi kita sekarang?” dia bertanya.


“Hmm? Uh… Jika ini adalah sebuah jam, kita akan berada di sekitar pukul 10:00?” Ia tidak bisa menjaga suaranya agar tidak pecah.


Ah, sial, pikirnya, Kita bahkan belum berada di puncak? Kita masih harus naik lebih tinggi? Yang benar saja…


“Kanie-sama?” Latifah bertanya, terdengar prihatin. “Apa kau baik-baik saja?”


“Uh? A-Apa maksudmu?”


“Suaramu bergetar…” dia memberitahunya.


“Aku t-t-tidak berpikir begitu…” Seiya tergagap lagi.


Meskipun bianglala itu tidak mendekati ukuran bianglala besar modern, itu menduduki salah satu titik tertinggi dari Perbukitan Tama, yang membuat pemandangannya sangat bagus. Ia bisa melihat cakrawala bagian barat Tokyo yang berkilauan secara menyeluruh. Itu seperti permata yang tersebar di malam hari. Hamparan lampu yang berkelap-kelip memanjang ke cakrawala—sangat jauh hingga ia harus menegangkan matanya untuk melihat mereka. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa direplikasi dalam foto ataupun video.


“Bagaimana pendapatmu, Kanie-sama?” Latifah bertanya, matanya tertutup tenang.


“Um… i-ini sangat indah,” dia mengaku. “M-Mungkin bukan pemandangan seharga 100,000 dolar, tapi… c-cukup bagus, kau tahu?”


“Kanie-sama? Suaramu pecah…”


Aku tidak peduli! Kita bahkan belum berada di puncak. Jika ini adalah sebuah jam, kita masih akan berada di sekitar pukul 11:30. Kita masih harus naik lebih tinggi? Yang benar saja…


“Kanie-sama?”


Berapa lama lagi ia harus duduk di sini sementara mereka terus naik lebih dan lebih tinggi? Ia tidak bisa bernapas, dan punggungnya basah oleh keringat. Setiap guncangan dari gondola menyebabkan kewarasannya pergi sedikit lebih jauh.

__ADS_1


Ia bahkan tidak bisa membayangkan melihat keluar jendela sekarang. Tidak lagi. Tidak lagi. Keluarkan aku dari sini!


“Ah… Kanie-sama, apa kau takut ketinggian, mungkin?” Latifah bertanya.


“T-Tentu saja tidak!” ia menyanggah dengan suara tercekik.


Latifah tampak tertegun untuk sesaat, kemudian badannya merosot. “Maafkan aku,” dia meminta maaf. “Itu adalah hal yang menghina untuk ditanyakan.”


“Oh, tidak… Tidak apa-apa, tapi… em, Aku… Ini hanya…” Seiya melonggarkan dasinya dan membuka kancing teratas bajunya. Untuk menjaga dari melihat keluar, ia menutup rapat matanya dan menggelengkan kepalanya.


Satu-satunya pilihan untuknya adalah mengalihkan dirinya sendiri dengan berbicara. Apa gunanya terlihat hebat sekarang? Itu tidak akan membawanya kemana pun.


“Aku tidak hebat dengan ketinggian…” ia mengakui.


Acrophobia Seiya pertama kali terbentuk di sekitar sekolah menengah. Ia tidak memikirkan ketinggian sama sekali di kelas sekolah dasar yang lebih rendah. Ia bahkan terlibat dalam ‘uji keberanian’ konyol di lantai 10 dari bangunan setempat dengan teman-temannya.


Tapi pada suatu titik, ia menyadari dirinya tidak bisa lagi menanganinya. Ini terjadi selama masa hidupnya ketika ia adalah bintang cilik sibuk yang bertindak atas kemauan orang tuanya, jadi ini mungkin ada hubungannya dengan itu. Apapun penyebabnya, bagaimanapun, datanglah suatu hari, ketika ia masih kelas enam sekolah dasar, di mana Seiya tiba-tiba menyadari ia bahkan tidak bisa membawa dirinya sendiri mendekati pagar di sekitar atap sekolahnya.


Itu tidak terjadi dalam semalam. Untuk beberapa waktu sebelum itu, ia sudah menyadari bahwa jantungnya akan mulai berdetak lebih cepat setiap kali ia memanjat ke tempat tinggi. Tanah jauh di bawah akan tampak terdistorsi di penglihatannya, dan naik ke arahnya. Ia akan kehilangan perasa keseimbangannya.


Hari itu di musim semi ketika kelas enam sekolah dasar, pada saat itulah, ia tahu pasti.


Bahkan setelah keluar dari bisnis pertunjukan, phobia itu belum hilang, dan ia sudah takut dengan tempat tinggi sejak saat itu. Ia bahkan ragu untuk menaiki roller coaster bodoh itu dengan Sento Isuzu ketika pertama kali ia datang ke sini.


Seiya menjelaskan semua ini ke Latifah, sementara dia hanya mendengarkan dan sesekali memberi dorongan untuk melanjutkan. “—Dan begitulah, Aku… Aku masih takut dengan hal-hal seperti ini. I-Ini bukan panik attack… Selama aku menutup mataku dan tetap bicara, aku bisa menahannya, jadi… jadi… kau tahu. Guh, seberapa jauh kita sekarang? Sial…” Terlepas dari apa yang ia nyatakan, ia masih tidak bisa membuka matanya.


“Saat ini… jika ini adalah sebuah jam, kita akan berada di sekitar pukul dua.” dia memberitahunya.


“Begitu…” ucapnya dengan lemah, dan kemudian “K-Kau bisa tahu?”


“Ya. Aku bisa tahu dari suara yang dibuatnya dan bobot badanku,” jelasnya. “Jangan khawatir. Kita sedang turun.”


Dengan lemah lembut, tangan lembutnya meraih tangan Seiya; itu dingin dan halus. Untuk beberapa alasan, hal itu membuat sebuah sensasi yang menembus dirinya, lebih hebat daripada yang ia rasakan saat ia menciumnya.


“Kau aman.” ulangnya. Suaranya, begitu baik, seperti meresap ke dalam dirinya.


Ia menyadari bahwa kakinya sudah berhenti gemetar.


“Ambil napas panjang dan buka matamu,” dia menasihatinya. “Semuanya akan kembali seperti semula.”


“……” Ia melakukan apa yang diperintahkan.


Dia benar; ia tidak merasa takut lagi. Ia melihat keluar jendela dan melihat bahwa gondolanya sekarang cukup rendah ke tanah.


“Apa kau merasa lebih baik?” dia bertanya dengan lembut.


“Ya… Aku baik-baik saja.” Seiya merasa agak malu, tapi ini jauh melampaui rasa leganya. Ia merasa seperti orang bodoh karena pernah berlagak hebat di sekitarnya.


“Aku harus meminta maaf,” Latifah meminta maaf. “Aku meminta sesuatu yang sangat egois, tidak menyadari ketidaknyamananmu.” Suaranya sunyi.


Kenapa ia jadi yang ingin meminta maaf padanya? “Tidak apa-apa,” ucapnya. “Kupikir aku bisa tersenyum dan menahannya, jadi… Jangan biarkan ini mempengaruhimu.”


“Aku akan coba,” dia memberitahunya dengan penuh sesal. “Dan lagi… ah…”


“…?” Seiya menunggunya untuk menyelesaikan.


“Tidak,” ucapnya pada akhirnya. “Bukan apa-apa.”


“Hei, ayolah,” ia memprotes. “Sekarang aku harus tahu. Beritahu aku!”


“Baiklah. Jangan marah padaku karena mengatakannya…” Senyumnya malu, tapi dengan ujung yang ceria. “Kupikir kau terlihat cukup imut seperti itu, Kanie-sama.”



“……” Untuk beberapa alasan, ia tidak membencinya. Ia sedikit merasa seperti anak laki-laki yang ditepuk kepalanya oleh seorang wanita beberapa tahun lebih tua darinya.


...----------------...


Mereka berkeliling ke beberapa atraksi lagi, lalu ia mengucapkan selamat tinggal pada Latifah dan kembali bekerja.


Mereka pasti merespons permintaannya untuk perbaikan dengan segera, karena Seiya mendapati setiap atraksi jauh lebih bisa diterima daripada hari Minggu.


Keramahtamahan yang Moffle dan yang lainnya tunjukkan pada para tamu juga jelas membaik. Mereka bertindak karena putus asa, tapi para tamu tampaknya tidak menyadarinya sama sekali. Itu adalah pertanda bagus lainnya; bahkan jika mereka putus asa, penghibur yang baik semestinya tidak pernah membiarkan itu terlihat.


Taman sudah sangat membaik selama beberapa hari terakhir.


Tapi tunggu—benarkah itu? Apakah taman sudah membaik, atau apakah itu hanya perasaannya tentang taman yang sudah berubah? Dengan kata lain, apakah ia berprasangka? Kali pertama ia datang ke taman, ia terlibat dalam segala hal dengan enggan karena Isuzu menyeretnya. Hari ini, investasinya di taman jauh lebih tinggi karena tanggung jawab yang diambilnya.


Apakah ini perasaan subjektif, atau fakta objektif? Saat ini, Seiya tidak bisa yakin.


Ia menyelesaikan pembukuannya, dan baru akan pulang ketika Isuzu datang untuk memberitahunya angka kedatangan hari ini: “2,928.”


“Apa?”


“2,928,” ucapnya lagi. “Hampir dua kali lipat dari kemarin.”


Hari ini Kamis. Itu bukanlah hari ketika kau mengharapkan gelombang besar pengunjung—kau akan mengharapkan jumlah yang kira-kira sama dengan yang kau peroleh pada hari Rabu. Sebaliknya, kedatangannya menjadi dua kali lipat.


“Kebetulan,” dia berkomentar, “ini juga kedatangan terbaik kita untuk hari Kamis dalam beberapa tahun.”


“Ya, aku tahu.” Seiya sudah menelusuri data dari tahun sebelumnya. Itu memang angka yang luar biasa.


“Sepertinya promosi 30 yen berpengaruh.” Isuzu menyimpulkan.


“Pastinya. Tapi… bahkan untuk itu…” Seiya ragu-ragu.


Bahkan untuk itu, angka-angka ini lebih tinggi dari yang kukira, pikir Seiya. Aku mengharapkan peningkatan sejauh 50% paling banyak—apakah ada sesuatu yang berperan selain kampanye 30 yen?


“Ada apa?” dia bertanya.


“Tidak… bukan apa-apa.” ia mengakhiri.


Peningkatan kinerja di antara para pemeran tidak akan meningkatkan kedatangan begitu cepat. Bahkan jika itu menyebabkan para tamu untuk berpikir positif tentang waktu yang mereka habiskan di sini, mendorong mereka untuk kembali dan merekomendasikannya ke yang lain, itu akan butuh berbulan-bulan bagi suatu perkataan untuk tersebar. Itu tidak akan terwujud hanya dalam beberapa hari. Lebih baik mencatat bahwa kampanye 30 yen menjadi lebih efektif dari yang diharapkan.


Meski begitu, Seiya terpaksa bertanya pada Isuzu. “Sento—?”


“Ya?”


“Apa kau menyadari perubahan etos kerja… tikus itu dan teman-temannya, beberapa hari terakhir ini?”


Isuzu mendengus, seolah jawabannya sudah jelas. “Tentu saja. Aku belum pernah melihat mereka bekerja sangat keras sebelumnya. Dan…”


“Dan—?” ia mendesak.


Isuzu ragu-ragu. “Aku tidak bisa menjelaskan sepenuhnya. Tapi perasaan yang paling kurasakan adalah… mereka menikmati pekerjaan mereka.”


[Pengunjung taman hari ini: 2,928. (92,922 dari target) / 10 hari tersisa.]


...----------------...


Kedatangan hari selanjutnya adalah 3,411. Bahkan dengan mempertimbangkan bahwa hari itu adalah Jumat, itu tetap saja kedatangan terbaik mereka selama bertahun-tahun.


Video promosi yang mereka letakkan di internet juga memiliki ekor yang lebih panjang daripada yang Seiya harapkan, dan pada Jumat siang itu mendekati 90,000 klik.


Pagi itu, stasiun berita setempat di Tokyo mengirimkan tim bisnis mereka untuk membuat kabar berita. Mereka mengambil beberapa rekaman keramaian dan hiruk pikuk di AmaBuri, yang mereka harapkan untuk digunakan malam itu dalam kabar berita tentang kampanye 30 yen mereka.


“Untuk berpikir kita bisa diliput oleh acara itu… Aku terkejut.” Tricen dari departemen PR merenung begitu tim berita pergi.


“Aku sedikit menggunakan koneksiku,” Seiya bergumam dengan enggan. “Ada satu produser di tempatku bekerja dulu yang cukup ternama di industri, saat ini. Aku tidak pernah peduli untuk melihatnya lagi, tapi… masa putus asa dan semuanya. Kuputuskan untuk meneleponnya.”


“Ahh. Begitukah?” Tricen bertanya, suaranya dengan teliti tanpa perasaan apapun.


“Aku punya desas-desus tentangnya,” Seiya mengangkat bahu. “Kehidupan romantisnya dan semacamnya.”


“Oh-ho.” Tricen tidak tahu tentang masa lalu Seiya, tapi ia mungkin sudah menyadari bahwa itu rumit, karena ia tidak menekannya lebih jauh lagi.


Seiya melanjutkan, “Kita juga akan kedatangan beberapa tim berita lagi besok, mulai dari pagi. Kau punya jadwal lengkapnya, kan?”


“Ya, aku punya, dan aku siap memberikan yang terbaik pada semua tim yang datang,” Tricen menegaskan. “…Khususnya pukul 11:00, ketika sang presenter Oishi-san datang dengan gantungannya yang menakjubkan. Aku, Tricen yang rendah hati, harus membungkuk lebih dari sebelumnya.”


“Mungkin aku sebaiknya meletakkanmu di tempat sampah…” Seiya melirik.


[Pengunjung taman hari ini: 3,411. (89,511 dari target) / 9 hari tersisa.]

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2