Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V1 - Chapter 2 Part 2


__ADS_3

Ada bangunan di atas tanah di sisi lain taman hiburan.


Ruang konferensi tiga terletak di lantai tiga, dan terlihat biasa, tanpa ciri khas. Ruangan itu diisi oleh meja konferensi luntur, yang dikelilingi oleh kursi lipat, dan sebuah papan tulis yang tampak kotor.


‘Musuh’ yang Isuzu bilang sudah sampai.


Ada tiga dari mereka: Dua orang tua yang biasa-biasa saja, dengan seorang pria muda berdiri di antara mereka. Pria muda menarik yang berada di tengah tampaknya ada di pertengahan dua puluhannya, dan kemungkinan besar seumuran dengan bibi Seiya, Aisu.


Ketiganya memakai jas abu-abu seragam dan berselera tinggi, yang tampaknya sangat mahal. Pembawaan mereka tidak seperti pengusaha, melainkan lebih seperti sepasukan tentara yang baru saja menguraikan rencana untuk musuh mereka. Senyuman mereka sombong dan angkuh.


Si pria muda melirik Seiya, lalu memperkenalkan dirinya: “Aku Kurisu Takaya dari Pengembang Amagi,” ucapnya sembari mengeluarkan kartu bisnisnya. Itu sederhana.


Sayangnya, Seiya tidak memiliki kartu bisnis. Ia memperkenalkan dirinya dan menunduk dengan sopan.


Senyum Kurisu tetap tegas di sana ketika ia memperhatikan Seiya. “Senang bertemu denganmu. Apa yang pelajar ini lakukan di sini?”


“Ia seorang magang. Ia di sini untuk laporan,” jelas Isuzu.


“Begitu,” ucap Kurisu. “…Seorang magang, ya? Di mana manajermu, Latifah-san?”


Isuzu adalah satu-satunya perwakilan taman di ruangan itu. Tidak ada orang lain di sini. Seiya mengasumsikan bahwa si (pria di dalam?) maskot sombong Moffle akan ada di sini, tapi sepertinya tidak.


Isuzu membalas dengan sopan. “Seperti yang telah saya sebutkan di email, manajer kami sedang sakit dan tidak dapat hadir hari ini. Sebagai pengganti manajer, saya dengan rendah hati akan mewakilinya.”


“Begitu,” ucap Kurisu dengan dinginnya. “Baiklah kalau begitu.”


Seiya terkejut melihat Kurisu Takaya menyetujui ini dengan siap—bukan sebuah ketidakpantasan baginya untuk mengadu tentang datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk terpaksa berurusan dengan orang seperti Isuzu dan Seiya. Dua pria lainnya tampaknya berpikiran sesuatu semacam itu, tapi satu lirikan dari Kurisu dan mereka menelan keluhan mereka.


Kurisu tampaknya yang memimpin di sini, dan setelah jeda sesaat, ia berbicara: “…Jadi, pengganti manajer, Isuzu-san. Aku yakin kau sadar tentang keadaan yang membawa kami ke sini hari ini? Jika kalian tidak bisa mencapai kuota pengunjung dalam dua minggu, kepemilikan Amagi Brilliant Park akan berpindah ke Pengembang Amagi.”



“…Ya,” Isuzu membalas tanpa secuilpun emosi.


“Menurut kontrak kepentingan kita yang ditandatangani tahun 1982, jika dalam lima tahun kalian memperoleh pengunjung kurang dari sejuta, hak manajemen taman berpindah ke Pengembang Amagi. Karena itu—”


Kurisu Takaya melanjutkan penjelasannya sambil membolak-balik salinan kontrak dan jumlah pengeluaran dalam beberapa tahun terakhir. Ia terus berbicara tentang hukum dagang dan kebijakan sektor ketiga, dan sementara itu cukup panjang dan membosankan, Seiya berhasil memahami situasinya: singkatnya, taman hiburan ini ada di ambang penutupan.


Pengembang Amagi adalah pemegang saham utama yang diinvestasikan oleh kota dan berbagai perusahaan. Mereka ingin menutup taman hiburan ‘mencurigakan’ ini, dan menurut kontraknya, jika jumlah pengunjung taman jatuh di bawah angka tertentu, hak manajemen taman akan jatuh pada mereka.


Batas akhirnya dua minggu dari sekarang, dan taman kekurangan 100,000 orang.


Meski mereka masih bimbang akan mengganti taman dengan lapangan golf atau perumahan, yang manapun, taman pasti akan diruntuhkan.


100,000 orang hanya dalam dua minggu? Itu adalah tugas yang tidak bisa diselesaikan. Amagi Brilliant Park akan tutup dalam dua minggu, hanya itu, dan pria ini, Kurisu Takaya, datang untuk mendiskusikan proses pemindahannya berjalan lancar.


“Nah, sejauh yang kutahu… kalian belum bersiap untuk penutupan taman,” ujar Kurisu. “Kalian belum mengumumkan penutupan ini dan kalian belum memutus telepon, internet, dan kontrak air. Kami bertanya-tanya apakah kalian benar-benar bertindak dengan itikad baik di sini… Bisakah kau memberi penjelasan untuk ini?”


“Yah…” Isuzu bergumam. “…Itu karena kami belum tahu pasti kalau taman tidak akan memenuhi kuotanya.”


Sebuah senyum tegang muncul di wajah Kurisu. “Belum tahu pasti? Kau pasti bercanda; kalian punya banyak tagihan. Kalian sudah menyia-nyiakan finansial kalian, dan kalian menyeret yang lainnya bersama kalian. Waktunya telah tiba, itu saja. Kalian harus berhenti mensuplai bantuan ke anakronisme sekarat ini, lalu fokus menyiapkan barang-barang kalian dan membuat kerugian kalian sebagai sesuatu yang produktif.”


“Kami… menyadari situasinya,” ucap Isuzu tegang.


“Benarkah?” Kurisu terdengar ragu. “Aku tahu banyak tentang sejenismu—maaf, tentang orang sepertimu. Kau berpikir ‘akuntansi itu membosankan, siapa peduli?’ kan? Kau berpikir hanya usaha ‘artistik’ saja yang berharga. Kau berpikir peduli dengan keuntungan adalah sebuah kejahatan.”


“Kami tidak mengatakan itu,” dia memprotes.


“Kalian secara efektif melakukannya. Bahkan taman hiburan juga sebuah usaha, kau tahu. Apa kalian sadar seberapa besar beban yang ditanggungkan oleh usaha kalian pada orang-orang? Haruskah aku menjelaskan padamu dalam skala besar? Ya, mari kita ambil contoh—” Kurisu mengambil sebuah pulpen dan menekankannya ke kalkulator.


“Mari kita ambil keluarga empat orang yang berkunjung ke taman hiburan kalian pada suatu Minggu. Mereka punya pendapatan tahunan sekitar empat juta yen—benar-benar keluarga biasa yang hanya akan bisa pergi ke taman hiburan beberapa kali saja dalam setahun.”


“…Jadi?” Isuzu mencemooh.


“Itu adalah dasar pemikiran kita. Nah, berdasarkan jumlah pengunjung Amagi Brilliant Park tahun lalu, berapa banyak yang akan dihabiskan oleh keluarga ini per kunjungan agar kalian bisa membayar tagihan? Mari kita lihat—” Ketukan pada kalkulator bergema ke seluruh ruangan.


Merasa bosan, Seiya mulai menghitung secara kasar angka-angkanya di kepalanya. Lalu, seperti sedang menonton acara kuis, ia membisikkan hasilnya keras-keras: “85,000 yen.”


Kurisu, yang baru saja menyelesaikan hitungannya, melebarkan matanya. Pria yang disampingnya juga sama.


“Maaf?” ia bertanya pada Seiya.


“85,000 yen,” renung Seiya. “Itu hanya dugaan kasar.”


Kurisu melihat Seiya dengan tatapan baru yang menusuk. “Hampir benar. Lebih tepatnya 83,200 yen.”


“Huh…” Ia sudah sangat dekat, kalau saja ia tahu apakah taman menghasilkan tenaga sendiri, ia bisa menghasilkan angka yang lebih akurat.


“Tidak terlalu tepat sasaran, tapi tetap saja mengesankan, pelajar,” Kurisu memujinya. “Kenapa tidak berhenti magang di sini dan bergabung saja dengan kami?” Ia mengatakannya dengan cara yang membuatnya sulit untuk mengetahui apakah itu candaan atau bukan. Pria di kedua sisi mengernyitkan keningnya, ketika Isuzu merengut.


“Tidak,” ucap Seiya pelan, “Kupikir aku tidak ingin…”


“Sayang sekali. Kami bisa membantumu memanfaatkan semua bakatmu.” Kurisu mengangkat bahu. “…Yah, bagaimanapun, itulah hitungannya. Berapa banyak yang harus dibayar oleh pelangganmu untuk menunjang hiburan kecil kalian? Jawabannya 83,200 yen per keluarga. Kurasa kau akan setuju bahwa itu adalah jumlah yang mustahil.”


Seiya harus setuju; kau bisa berjalan-jalan ke luar negeri dengan uang sebanyak itu. Tidak ada keluarga yang akan menghabiskan 80,000 yen dalam sehari di taman hiburan yang mencurigakan seperti ini.


“Kau pasti gila jika memberi tanggungan sebesar itu pada keluarga biasa,” tuduh Kurisu. “…Sekarang, inilah pertanyaanku selanjutnya—apa kau memberi pelayanan yang pantas untuk uang sebanyak itu?”


Jawaban untuk yang itu sudah jelas… Seiya hendak bergumam, tapi ia bisa menahannya tepat waktu. Sento Isuzu menatap ke bawah, tampak tidak dapat menjawab.


“Yah… jika saja kami… punya sedikit lebih banyak waktu, satu kesempatan terakhir…” setidaknya dia berbisik, dengan tersendat-sendat.


Seiya memeriksanya dan melihat ekspresinya adalah ekspresi masamnya yang biasa. Suaranya tidak bergetar, tapi juga tidak menunjukkan emosi. Untuk beberapa alasan, itu mengingatkan Seiya pada seorang panglima di lapangan yang dimarahi habis-habisan oleh jenderalnya: “Kenapa kau tidak bisa menghancurkan barisan musuh?”


“…Yah, kalau kau bersikeras,” Kurisu akhirnya bicara. “Lagipula orang-orang yang datang ke sini adalah orang bodoh.”


“……!” Isuzu terkesiap. Dia tampaknya ingin membalas dengan keras, tapi entah bagaimana dia bisa menahan dirinya. Sebagai gantinya, dia hanya menurunkan suaranya dan mengembalikan pertanyaannya. “Apa kau bilang… orang bodoh?”


“Apa aku salah?” Kurisu membalas.


Ya, ini tidak tampak bagus sama sekali… Saat pemikiran itu memasuki kepala Seiya, tangan Isuzu mengarah ke roknya; dia pasti mau mengambil musket aneh miliknya. Sebelum dia bisa mengambilnya, Seiya menggenggam pergelangan tangannya dan mencondongkan ke depan.


“Begitu. Kami sangat mengerti dengan apa yang Anda ucapkan,” Seiya membalas dengan senyum ramah di wajahnya. “…Anda benar bahwa kami belum bersiap untuk penutupan kami. Itu karena kami baru akan mulai. …Bukankah begitu, Sento-san?”


Ekspresi Isuzu tetap kosong sesaat, tapi dia kembali, dan nyaris tidak bisa mengangguk.


Kurisu memperhatikan ekspresi mereka dengan saksama untuk sesaat, lalu menghela napas kecil. “Sepertinya bukan itu masalahnya, jadi aku hanya ingin memastikan. …Yah, permisi.”


Tiga pria dari Pengembang Amagi merapikan dokumen-dokumen mereka, lalu pergi meninggalkan ruang konferensi.


...----------------...


Begitu para pria pergi, Isuzu berbicara. “Kenapa kau menghentikanku?”


“Menghentikanmu dari apa?” tanya Seiya, walaupun ia cukup yakin bahwa ia tahu.

__ADS_1


“Pria itu menghina tamu kami,” ucapnya dengan marah. “Aku mencoba menarik keluar senapan sihirku, tapi kau menghentikanku.”


“Ya,” balasnya singkat, “itu hal yang masuk akal.” Apa yang kau bicarakan?


“Ah… Sudah kuduga aku terlalu gegabah. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain meledakkan kepala orang-orang Pengembang Amagi itu.”


“Kita akan benar-benar berada dalam masalah jika kau melakukannya.”


“Ya…” Isuzu mendesah. “…Akan jadi masalah kalau harus membersihkan ruang konferensi dari pecahan tengkorak dan otak tiga orang itu. Aku bersyukur tidak membunuh mereka.”


“Itu yang kau ambil dari semua ini?” tanyanya tak percaya. Apa yang salah denganmu? Selain itu, sulit untuk membayangkan apa tepatnya yang membuatnya sangat marah.


“Kesampingkan itu semua,” Isuzu mengakui, “kau membuatku penasaran.”


“Bagaimana bisa?”


“Angka yang kau dapatkan. 85,000 yen—itu cukup akurat. Apa kau membaca pikiran Kurisu Takaya?”


“Tentu saja tidak,” Seiya tersenyum sambil berkedip. Tentu saja ia tidak menggunakan ‘sihir’ meragukan itu. Ia hanya menempatkan angkanya berdasarkan hal-hal yang sudah ia dengar sebelumnya.


Ia tidak tahu angka kehadiran taman tahun lalu, maupun biaya tahunan berjalan mereka, jadi ia jatuh pada metode yang dikemukakan oleh fisikawan Enrico Fermi; itu adalah eksperimen pikiran yang disebut ‘Estimasi Fermi.’


Kau bisa menggunakannya untuk mendapatkan perkiraan kasar dengan melempar angka-angka yang kau tahu bersamaan. Berapa banyak tuner piano yang ada di ibukota tertentu, misalnya—kau tidak bisa tahu angka pastinya, tapi kau bisa membuat tebakan berpendidikan.


(Kita akan meninggalkan penjelasan terperinci tentang dari mana ia mendapat angka-angka itu, karena itu akan memakan delapan halaman, dan juga membosankan.)


“Aku melakukan perkiraan kasar, itu saja; hanya beruntung saja kalau ternyata itu sangat dekat dengan perhitungannya.”


“…Begitu.”


“Toh, kalau aku akan membaca pikiran seseorang seperti itu, aku akan menggunakannya untuk sesuatu yang lebih penting. Karena aku hanya bisa menggunakannya sekali pada setiap orang.”


“Begitu… Tentu saja, kau benar.” Isuzu berbisik, matanya tertunduk. Ada sesuatu yang takut-takut di dalam suaranya.


“…Jadi? Kenapa kau mau aku bertemu dengan mereka?” Seiya bertanya.


“Aku mau kau… mengenal musuhmu.”


“Kalau begitu kau masih berasumsi konyol bahwa aku akan jadi manajer kalian?”


“Ya. Itulah kenapa aku membawamu ke sini.”


“Cukup.” Seiya sudah mencapai batas kesabarannya. Ia menggebrak meja konferensi dan menatap lurus ke mata Isuzu. Dia tidak mau menatapnya, tapi matanya tetap memandang lurus, menatap tempat acak di dinding.


“Kau mengancamku dengan senapan konyolmu, kau mencuri waktu luangku yang berharga, termasuk satu hari Minggu penuh…” tuduhnya. “Kau bahkan tahu seberapa merepotkannya dirimu, tapi kau masih berani memintaku untuk membantumu? Apa kau tidak sadar seberapa menghinanya itu?”


Isuzu tidak punya apapun untuk dikatakan.


“Kalau begitu, ayo ungkapkan semuanya,” ucapnya datar. “Apa yang akan terjadi kalau aku bilang tidak? Kau akan membunuhku?”


“Yah…” Suaranya rendah dan sulit didengar, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan mengambil senjatanya.


Keheningan canggung menggantung di ruang konferensi. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara gemerincing roller coaster.


Akhirnya, Isuzu bicara. “Aku tidak pernah… berencana untuk membunuhmu.”


“Oh?” Tentu saja dia tidak. Konyol jika membunuh seseorang hanya karena sesuatu seperti ini.


“Aku lahir di garis keturunan panjang dari tentara Maple Land,” ucapnya kaku. “Aku menghabiskan seluruh hidupku menjalani latihan yang sangat melelahkan agar aku bisa bergabung dengan pengawal kerajaan dan melindungi keluarga kerajaan.”


“Oh?”


“Karena itu senapan?”


“Ya. Kebetulan, namanya adalah…” Dia menggapai roknya lagi dan mengeluarkan musketnya kembali. “Senapan sihir, Steinberger. Ini sudah diturunkan dari generasi ke generasi di keluargaku. Ini bisa menembakkan peluru api sihir yang punya berbagai macam efek; saat ini, senapan ini terisi dengan amunisi yang dikenal sebagai ‘Pain Bringer.’ Terkena satu tembakan akan menimbulkan dua kali rasa sakit daripada menyandungkan jari kelingkingmu ke meja rias.”


“Jadi, itu hanya menyakitkan?”


“Ya. Apa kau mau mencobanya?”


“Tidak.” Seiya mundur ketika moncongnya diarahkan padanya lagi.


“Tidak apa-apa,” dia menyemangatinya. “Kau tidak akan mati.”


“Aku tetap tidak mau merasakan sakit!” Seiya memprotes. “Menyandungkan jari kelingkingmu ke meja rias terasa sangat sakit!”


“Intinya, aku tidak pernah berencana untuk membunuhmu.” Isuzu menyimpan senapannya kembali. “Taman sudah sangat putus asa mencari seseorang yang mampu hingga mereka terpaksa mempekerjakanku sebagai negosiator.”


“Kenapa kalian tidak mempekerjakan seorang pengacara atau ahli administrator?” Ia ingin tahu.


“Sudah, tapi kami kehilangan mereka. Mereka semua berhenti.”


“Kenapa?”


Isuzu tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke bawah. “Karena… aku mengancam mereka dengan senapan sihirku.”


“Hei!”


“Aku menyesali perbuatanku,” akuinya. “Satu-satunya alasan kenapa polisi tidak dipanggil adalah karena aku menggunakan peluru sihirku, ‘Forgotten Realm.’ Itu membuat mereka lupa bahwa aku mengancam mereka.”


Peluru itu sepertinya berguna, pikir Seiya. Kuharap kau bisa menghapus ingatanku beberapa hari terakhir.


“Ramalan Latifah-samalah yang memilihmu, tapi kupikir kau punya potensi lebih besar daripada yang dia kira. Tolong pikirkanlah.”


Seiya mengeluarkan ******* panjang, lalu berdiri.


“Kau mau pergi?” tanyanya.


“Ya,” ucapnya terus terang. “Ada masalah dengan itu?”


“Aku ingin jawabanmu,” Isuzu menuntut.


“Kau tahu jawabanku. ‘Tidak.’” Apa yang bisa kulakukan sebagai manajer taman hiburan dalam dua minggu? Menata buku sesuai urutan adalah batas terbaiknya. Ia meninggalkan ruang konferensi dan berjalan menyusuri lorong, dengan Isuzu yang mengejarnya.


“Meskipun aku memohon padamu?” tanyanya.


“Kapan kau memohon padaku?”


“Kami memberimu sihir.”


“Yang tidak pernah kuminta,” ucapnya dengan masam. “Oh, jangan khawatir—Aku tidak akan menyalahgunakannya. Paling-paling aku hanya menggunakannya di kereta untuk menghabiskan waktu.”


Ia mengucapkan itu dengan tulus; ia tidak menginginkan maupun membutuhkan kekuatan itu. Mungkin ia tidak bisa mencapai angka 85,000 yen itu, tapi bahkan tanpa sihir, ia cukup pintar hingga mendekatinya.


“Kanie-kun, kaulah harapan terakhir kami,” ia memohon. “Tolong selamatkan kami.”

__ADS_1


“Tidak akan.” Seiya menekan tombol panggil lift di ujung lorong, kemudian berbalik. “Tutuplah taman secepatnya. Pecat semua staf. Gunakan berapapun uang kalian yang tersisa untuk membuka toko kroket atau apalah dengan gadis itu. Itu adalah pilihan kalian yang paling berguna.”


Lift-nya sampai.


“Tunggu,” pintanya. “Setidaknya temuilah Latifah-sama untuk kali terakhirnya sebelum kau pergi.”


Senyuman itu. Senyuman cantik dan lembut gadis itu… Harum teh hitam muncul di belakang pikirannya dan ada rasa yang tiba-tiba muncul di dadanya.


“…Berapa kali harus kubilang? Tidak.” Ia menekan tombol B2 untuk lorong bawah tanah, lalu menahan tombol ‘tutup pintu’.


Pintu lift yang menutup seperti membentuk dinding antara Seiya dan Isuzu.


...----------------...


Menolak permintaan seseorang seperti itu rasanya tidak enak. Dengan keraguan yang masih menggantungi pikirannya, Seiya berjalan-jalan menyusuri lorong bawah tanah taman dan sampai di pintu masuk pegawai. Ia menyerahkan ID pengunjung ke pusat keamanan, menandatangani lembar keluar taman, lalu meninggalkan taman.


Ia baru menemukan halte bus yang menuju ke Stasiun Amagi ketika ia menyadari ada seorang pria yang berdiri di depan tanda halte. Ia adalah Kurisu Takaya, salah seorang yang ia temui di ruang konferensi—salah seorang dari Pengembang Amagi. Dua pria lainnya yang bersamanya sudah pergi; ia pasti sudah mengirim mereka kembali.


Ia memegang rokok di satu tangan dan asbak portabel di tangan lainnya. Dasinya ditarik longgar, dan ia tampaknya sedang menatap suatu titik di kejauhan. Saat ini, ia tampak seperti pengusaha biasa lainnya yang bisa kau temukan di manapun.


Seiya tidak terlalu ingin berada di dekatnya, tapi hanya ini halte bus di sekitar sini. Mereka juga sudah berkontak mata, jadi ia hanya memberinya sebuah anggukan kecil lalu berdiri di sampingnya. Menurut jadwal di halte, busnya seharusnya sampai dalam lima menit.


Mereka berdiri di sana selama semenit sebelum Seiya sadar bahwa Kurisu sering melemparkan lirikan penuh pertanyaan ke arahnya. Pada awalnya, ia berpura-pura tidak sadar, tapi itu mulai mengganggunya, sampai akhirnya ia membentak, “Apa?”


“Oh, yah…” Kurisu menatap lebih dekat ke wajah Seiya. “Ini mungkin hanya imajinasiku, tapi pernahkah kita bertemu sebelumnya?”


“…Tidak,” Seiya akhirnya membalas. “Itu pasti hanya imajinasimu saja.”


“Hmm, yah, mungkin kita belum pernah bertemu, tapi aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat. …Oh, Aku tahu! Kodama Seiya! Dramawan cilik yang pensiun lima atau enam tahun lalu!”


“……” Seiya merasa gelisah.


Ia sudah tumbuh sejak anak-anak, dan wajahnya sudah banyak berubah. Ia lebih tinggi, dengan gaya rambut yang berbeda dan watak yang lebih buruk. Suaranya sudah berubah (secara alami) dan ia sudah pindah dari distrik perumahan berkelas tinggi ke kota komuter Tokyo kelas menengah di Amagi. Ia bahkan mengubah nama keluarganya.


Tapi mengesampingkan itu semua, ia terkadang masih dikenali.


Bahkan setelah masuk SMA, ia sudah mengalami ini dua atau tiga kali. Biasanya seorang wanita tua di belakang konter makanan cepat saji, atau petugas pemeriksa di supermarket, atau penyebar agama baru dari pintu ke pintu… tidak pernah seorang pun dari sekolahnya; selalu wanita paruh baya. Mungkin membesarkan anak mereka sendiri memberi mereka insting untuk tahu bagaimana perubahan wajah bocah laki-laki setelah bertahun-tahun.


Lalu, ini, adalah kali pertamanya dikenali oleh seorang pria seperti Kurisu.


“Kau keliru,” ucapnya acuh tak acuh, tapi Kurisu menggelengkan kepalanya.


“Tidak, tidak, aku tidak keliru. Kau Kodama Seiya. Aku bahkan berpikir kau terlihat familiar saat kita bertemu sebelumnya. Jadi itu kau!”


“Bukan,” Seiya menolaknya, tapi ekspresi keyakinan pria itu tidak goyah. Sadar bahwa itu konyol jika ia melanjutkan aktingnya, Seiya memutuskan berhenti menolaknya. “…tapi asumsikan aku adalah dirinya, apa kau punya urusan dengan selebriti yang gagal?”


“Tidak, tidak ada yang khusus,” Kurisu mengakui. “Hanya memuaskan keingintahuanku.”


“Kalau begitu, tinggalkan aku sendiri.”


“Hmm, maafkan aku. Tapi… dia bilang kau magang, kan? Apa yang kaulakukan di sini?”


“Pertanyaan bagus. Itulah yang mau kuketahui,” ia balik membentak, tapi Kurisu tidak terpengaruh. “Mereka bilang mereka ingin aku melihat kalian, orang-orang Pengembang Amagi… Kuduga mereka ingin aku bekerja di sana, tapi aku sudah menolak mereka. Aku menghargai privasiku. Jadi bisakah kau tinggalkan aku sendiri?”


Ia tidak berbohong tentang merasa seperti itu.


Ia tidak peduli dengan seluk beluk taman hiburan yang gagal. Bukan masalah baginya apa yang akan terjadi pada Latifah atau Isuzu. Yang ia inginkan sekarang adalah pulang dan membenamkan dirinya pada video gamenya.


Bus yang menuju Stasiun Amagi berhenti.


“Yah, aku yakin kau punya alasanmu sendiri. Tapi satu hal yang perlu diperhatikan, jika kau mendapat ide bodoh—jika kau menghabiskan terlalu banyak waktu bersama pecundang, kau akan jadi seorang pecundang. Berhati-hatilah.”


“Tentu, terima kasih,” Seiya membalas acuh tak acuh. Pada saat yang sama, ia tidak bisa menahan dirinya dari menyuarakan argumen balasan. “…Kau akan tahu apa yang kau bicarakan, sebagai orang yang bertanggung jawab dalam melikuidasi taman hiburan gagal di bagian belakang Tokyo.”


“Hmm, menyentuh.” Kebalikan dari ekspektasi Seiya, Kurisu merespons dengan senyuman lebar. Itu tidak seperti senyum sopan yang selalu ia pakai hingga saat ini; sebuah senyuman rumit, dengan kesan tuduhan pada diri sendiri di dalamnya.


Bus berhenti di depan mereka, dan pintunya terbuka. Kurisu naik, tapi Seiya tetap di tempatnya.


“Kanie-kun, kan?” Kurisu bertanya. “Kau tidak naik?”


“Aku akan naik yang selanjutnya. Aku lebih suka tidak melihat wajahmu lebih lama.”


“Oh, ya ampun. Apa aku melukai perasaanmu? Ah sudahlah, hati-hati.” Pintu tertutup. Bus berjalan pergi, lalu menghilang di sekitar tikungan lembut jalanan umum.


...----------------...


Seiya melihat bus Kurisu Takaya pergi, lalu kembali mengecek jadwal; sepuluh menit sampai bus selanjutnya tiba.


Bahkan untuk taman hiburan yang gagal, konyol bagi bus jika hanya mengantar hingga ke gerbang depan setiap sepuluh menit, pikirnya. Ini adalah pinggiran kota Tokyo, bukan tempat terpecil di negara ini. Di samping itu—mungkin itu adalah laju yang sesuai, mengingat pengunjung biasa mereka…


Ia melihat sekeliling apakah ada tempat untuk duduk. Tidak ada apapun di dekatnya, bahkan bangku tua polos. Ia hanya harus menunggu bus dengan berdiri. Tak ada tempat duduk untuk orang tua dan anaknya, lelah berkeliling taman seharian…


Sebenarnya—


Agak jauh dari halte, di sudut area terbuka dekat dengan gerbang taman, ada beberapa bangku buatan tangan. Mereka berada lebih dari sepuluh meter dari halte.


Ahh, jadi begitu…


Itu karena halte busnya ada di jalanan umum. Bahkan jika taman mau menaruh bangku dekat dengan halte bus, kota mungkin tidak akan mengizinkannya. Itulah kenapa taman harus menaruh beberapa bangku sangat jauh—di atas tanah mereka sendiri.


Seiya berjalan menuju salah satu bangku. Saat ia duduk, bangkunya mengeluarkan decitan aneh. Siapa yang membuat semua ini? Semua terlihat sangat murah; kemungkinan dibuat oleh pengrajin hobi di waktu luangnya.


Tepiannya membulat, dengan sudutnya yang diamplas dengan baik. Pertimbangan untuk anak-anak yang bermain di sekitarnya, kemungkinan besar—kalau-kalau mereka membentur kepala mereka. Lalu, mungkin untuk menghibur anak-anak yang bosan menunggu, mereka melukis seni yang ceroboh dari maskot di dinding belakang bangku.


Kalau kalian punya waktu untuk membuat sesuatu seperti ini, kenapa kalian tidak bisa menjaga pintu masuk plaza tetap bersih? ia bertanya-tanya.


Tetap saja, hati mereka ditempatkan di tempat yang tepat. Itu adalah sedikit pertimbangan sederhana bagi pengunjung taman, sama seperti kroket-kroket itu.


Apa yang pria menyebalkan itu—Kurisu Takaya—katakan? Pengunjung mereka adalah orang bodoh. Dan beberapa menit lalu, ia juga mengatakan hal lain: jika kau menghabiskan terlalu banyak waktu bersama pecundang, kau akan jadi seorang pecundang.


Aku tidak bisa sepenuhnya menyangkalnya…


Ya, ia tidak bisa menyangkalnya. Komentar pria itu, mengenai hal-hal dari sisi bisnis, sepenuhnya benar. Biasanya, Seiya akan ikut tertawa bersamanya, dan itulah yang akan terjadi.


Orang-orang Amagi Brilliant Park tidak melakukan usaha yang diperlukan. Mereka mendapatkan apa yang layak mereka peroleh. Mereka tidak punya hak untuk mengeluh tentang apa yang terjadi pada mereka. Tapi…


Kenapa aku duduk di bangku buatan tangan jelek ini, merasa marah dengan situasinya? Apa aku marah karena mereka menyebut para pengunjung sebagai orang bodoh dan orang lain sebagai pecundang? Apa aku merasa tidak nyaman dengan pemikiran bahwa orang-orang seperti mereka bebas menyombongkan diri di dunia ini?


Dalam dua minggu, taman ini akan ditutup. Itu adalah hal yang alami. Tapi apakah itu benar-benar tidak apa-apa? Apakah benar-benar tidak ada yang bisa dilakukannya?


Sekitar sepuluh menit berlalu saat pikirannya berputar-putar mengejar satu sama lain di kepalanya. Hal berikutnya yang ia tahu, busnya sudah sampai. Beberapa orang naik. Dia cukup dekat sehingga jika ia mulai berjalan sekarang, ia bisa menaikinya.


Tapi Seiya tidak melakukannya. Ia berpaling dari bus, dan berjalan kembali ke pintu masuk pegawai yang ia tadinya keluar dari sana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2