
Ia tidak akan mengatakan, tepatnya, bahwa kroket itu sudah memikatnya, tapi Seiya memutuskan untuk bersama dengan Isuzu sedikit lebih lama.
Setelah melalui pintu bertuliskan ‘Hanya Personil Yang Berwenang,’ ia dituntun berkeliling bagian belakang panggung Amagi Brilliant Park oleh Isuzu. Tampaknya dia memiliki kunci untuk pintu ‘khusus pegawai.’
“Aku tahu kau ada hubungannya dengan tempat ini,” tuduh Seiya.
“Aku belum memberitahukannya?” Isuzu membalas tanpa peduli.
“Belum,” ia mengomel. “Walaupun itu cukup mudah untuk menebaknya dari caramu membicarakannya…”
“Pakai ini di lehermu,” ucapnya, dan memberinya sebuah kartu dengan tali penyandang. Itu adalah kartu tamu bertuliskan ‘LEVEL 4’ yang tercetak dalam huruf besar.
“Apa arti dari ‘LEVEL 4’ ini?” tanyanya.
“Itu adalah izin keamananmu,” dia memberitahu. “Pekerja paruh waktu terbaru hanya dibatasi sampai level satu. Level tertingginya adalah lima.
Area berbahaya—seperti pembangkit listrik dan rahasia perusahaan penting—butuh izin level lima.”
“Kalian punya keamanan yang ketat di sini,” ucapnya, menahan keinginan untuk menambahkan. “…untuk sebuah taman bermain payah.”
“Sebenarnya ini cukup standar,” Isuzu menjelaskan. “Kartu level empat yang kuberikan padamu bisa mengantarmu ke sebagian besar tempat ini.”
“Kau mempercayakan keamanan utama ke orang luar sepertiku…” Seiya terdengar curiga.
“Itu karena kau membutuhkannya untuk mencapai tujuan kita—menemui manajer taman.”
“Manajer?”
Isuzu melanjutkan menuntunnya ke bagian belakang panggung.
Ia belum pernah ke belakang panggung taman bermain sebelumnya, tapi ia seharusnya tidak terlalu terkejut ketika melihat bahwa itu hanyalah jalan terusan pegawai biasa yang membosankan: Hambar, tidak berwarna maupun menarik. Tumpukan alat kebersihan dan kardus ada di mana-mana, di samping tanda pedoman penanganan bencana dan jadwal pergantian pemeran. Kalau ia menunjukkan foto area ini saja pada seseorang dan bilang padanya bahwa ia ada di markas militer, mereka mungkin akan percaya.
Mereka menuruni tangga menuju lorong bawah tanah. Setelah sedikit berjalan, mereka sampai di lift. Pada titik ini, Isuzu mulai berbicara lagi: “Kita sekarang ada di pusat taman, tepat di bawah Kastil Maple. Kita bisa memakai lift ini untuk mencapai lantai teratas kastil.”
“Kastil Maple?” Seiya bertanya-tanya. Ia tiba-tiba teringat kastil yang sangat mengesankan yang ia lihat dari pintu masuk taman. Itu tidak mungkin sebuah kastil dalam dongeng, itu adalah benteng yang dirancang untuk kepraktisan, dengan celah dan parit. Kastil itu memancarkan kekuatan. Rasanya seperti sebuah tempat di mana musuh yang menyerang akan bertemu hujan tinju dan kuali berisi minyak panas.
Mereka menaiki lift menuju lantai teratas, melewati lorong pendek lurus ke depan, dan sampai di sebuah taman atap.
Sebuah taman atap. Itu adalah satu-satunya cara untuk mendeskripsikan di mana dirinya berada.
Di atasnya terbentang langit yang berpijar diwarnai oleh semburat pertama cahaya matahari terbenam. Di depannya ada bebungaan yang mulai menguntum dengan kehangatan musim semi. Dan di tengah semuanya terpasang sebuah kolam kecil yang tenang. Ada paduan mempesona antara cahaya dan bayangan di taman, didampingi oleh rasa tentram dan murni yang berlimpah. Sejauh ini, itulah pemandangan paling menakjubkan yang pernah ia lihat di taman bermain.
Di pinggir taman berdiri seorang gadis. Rambut peraknya memiliki warna putih semu, yang berkilau di bawah langit merah yang berkobar, dan bahan yang mudah tertiup angin dari gaun putih panjangnya mendekap lemah lembut sebuah tubuh yang halus. Dia mengusap jarinya di atas bunga yang tidak ia ketahui namanya, kemudian membisikkan sesuatu pada seekor burung kecil yang turun di dekatnya.
Seiya dikejutkan oleh perasaan aneh dari déjà vu; rasanya seperti ia sudah pernah ke sini sebelumnya. Saat ia melihatnya, terlalu terpesona hingga tak bisa bertindak, Isuzu berbicara dari sebelahnya. “Lanjutkan. Aku akan menunggu di sini.”
“Huh? Tapi…”
“Pergilah.”
Dengan enggan, ia melangkah keluar menuju taman. Gadis tak dikenal berbalik menghadapnya, dan si burung, yang bertengger di jarinya, terbang menjauh.
Umur berapa dia, empat belas? Lima belas? Semakin Seiya mendekat, semakin ia bisa melihat wajahnya. Ada sesuatu yang misterius dari wajahnya—sesuatu yang membangkitkan rasa kasih sayang kuat dalam dirinya. Ia sangat terpesona hingga pemikiran lain terbang dari benaknya. Pernahkah ia merasa sangat terpikat dengan orang lain sepanjang hidupnya?
Hanya saat ia berada beberapa langkah darinya, ia sadar: Dia tidak sedang melihatnya. Matanya terfokus pada suatu titik di atas kepalanya—sebuah ruang kosong yang ada di langit senja. Mungkinkah… dia buta?
Ketika Seiya bersusah payah memikirkan apa yang harus dikatakan, dia berbicara. “Apakah kau kebetulan Kanie Seiya-sama?”
“Huh?” gugupnya, terkejut dengan pertanyaannya. “Oh… ya, benar…”
Tebakannya benar. Dia buta.
“Aku sangat senang kau ada di sini, Kanie-sama. Aku Latifah… Latifah Fleuranza. Aku adalah manajer taman hiburan ini. Aku harus berterima kasih padamu karena sudah datang ke sini.”
Nama asing? Aku tidak menduganya… kalau dipikir-pikir, dia memang terlihat asing. Dan… dia manajernya? Gadis muda ini?
“T-Tentu… Aku tidak paham secara keseluruhan, tapi… em, senang bertemu denganmu,” jawabnya, masih kebingungan.
Gadis bernama Latifah tersenyum dan mengeluarkan suara lembut berisi kegembiraan. Itu seperti dia mengucapkan “Aku sudah menunggu sangat lama untuk bertemu denganmu.”
“Kuharap Isuzu-san tidak melakukan apapun yang menyinggungmu,” Latifah meminta maaf atas nama pegawainya. “Jika dia membuatmu kesal, kuharap kau mau memaafkannya—dia hanya punya sedikit pengalaman berinteraksi dengan pria.”
“Oh. Yah… aku sudah takut akan hidupku,” Seiya mengakui, “tapi aku masih utuh.”
“Begitu.” Ada sebuah jeda diplomatis, lalu Latifah melanjutkan, “Aku harus mengaku… bahwa akulah yang memintanya untuk membawamu ke sini.
Karena ada sesuatu yang harus aku mintai darimu.”
“Mintai dariku?” ucap Seiya penuh keraguan.
__ADS_1
“Ya,” tegasnya. “Ikuti aku, dan akan kujelaskan.” Gaunnya berdesir di belakangnya, Latifah berjalan menuruni jalan batu ubin besar, dan lebih jauh ke dalam taman. Meski dia jelas buta, dia pasti sudah mengenal baik taman itu seperti punggung tangannya sendiri—tidak ada keraguan dalam caranya berjalan.
Turun sedikit, mereka mendapati sebuah beranda. Ada sebuah meja marmer bermotif mosaik menunggu di sana, diapit oleh kursi dari besi tempaan yang elegan. Di atas meja terduduk satu set perlengkapan minum teh porselen.
“Silakan duduk.” Latifah mempersilakan.
“T-Tentu…”
Latifah membuatkan teh. Setiap gerakannya melambangkan keanggunan. Dia menuangkan air panas ke dalam cangkir, lalu dengan hati-hati mengukus daun teh sementara menunggunya menghangat. “Kau berbau seperti gorengan.” ucapnya.
“Huh?”
“Apa kau kebetulan memakan kroket dari Dapur Maple? Aku sangat berharap kau menyukainya.” ucapnya dengan nada ceria.
“Apa kau yang membuatnya?” Seiya ingin tahu.
“Ya, aku yang membuatnya,” Latifah mengakui dengan rendah hati. “Aku membuatnya setiap hari, berharap para tamu akan menyukainya.”
Begitu. Jadi dia yang membuatnya…
“Kroket-kroket itu benar-benar…” suaranya mengecil, sejenak mengingat rasa dan teksturnya, “…enak.”
“Terima kasih,” ucap Latifah, dengan anggun menerima pujiannya. “Seperti yang mungkin sudah kau sadari, aku buta, tapi aku bisa tahu kapan mereka matang dengan mendengarkan suara dari minyak goreng.”
Seiya prihatin. “Kau memasaknya sendiri? Bukankah itu berbahaya?”
“Tidak sama sekali,” dia tertawa. “Kroket-kroket itu adalah kebanggaan dan kegembiraanku. Meski aku takut jika tehku agak kurang mengenakkan… silakan.”
Dia meletakkan sebuah cangkir di depan Seiya. Cangkir itu mengepulkan uap harum dengan aroma yang menenangkan. Ia meniupnya sedikit, lalu menyesapnya.
Enak. Ia bukanlah seorang ahli dalam teh hitam, tapi menurutnya, itu luar biasa.
“Apakah sesuai dengan seleramu?” dia ingin tahu.
“Ini luar biasa.” balas Seiya.
“Aku sangat senang mendengarnya.” Latifah tersenyum tenang. Itu adalah senyum bak matahari di balik gunung saat senja.
Terpesona, Seiya menatap senyuman itu untuk beberapa saat, sebelum berdeham. “…Aku tidak terlalu paham keseluruhannya. Apa yang mau kau mintai dariku? Dan siapa kau?” tanyanya. “Aku sudah terhuyung-huyung karena fakta bahwa adanya tempat seperti ini di tengah-tengah taman bermain yang sangat… kau tahu.”
“Tentu saja,” ucapnya menenangkan. “Sudahkah kau melihat Amagi Brilliant Park kami?”
“Bagaimana menurutmu?”
Ini adalah taman hiburan terburuk yang pernah kukunjungi… Akan mudah baginya untuk mengatakan itu, tapi untuk beberapa alasan, kata-katanya tersangkut di lidahnya.
Meski begitu, pandangan sayu muncul di wajahnya, menunjukkan bahwa dia bisa mengetahui isi pikirannya dari perilakunya. “Kau tidak merasa puas. Menurutmu tidak mengenakkan?”
“Yah… Aku…” suaranya mengecil, tidak yakin apa yang harus dikatakan selanjutnya.
“Inilah yang mau kutanyakan, Kanie-sama: Maukah kau mengambil alih taman hiburan yang berada di ambang kehancuran ini, dan menghidupkannya kembali?” Itu adalah permintaan yang sungguh-sungguh.
“Ap…?” Seiya tidak bisa percaya telinganya. Apa-apaan? Membangkitkan kembali taman hiburan payah ini? Aku?
“Aku ingin mau kau menjadi manajer Amagi Brilliant Park.” jelas Latifah.
“Aku secara resmi meminta ini padamu, Kanie Seiya, sebagai anggota keluarga kerajaan alam magis, Maple Land.”
Apa yang kau celotehkan? Itulah yang akan dikatakannya pada kebanyakan situasi—menguji kewarasannya—tapi gadis ini, Latifah, tampaknya terlalu rasional dan beradab. Hanya itu penjelasan yang mungkin.
Ketika Seiya masih berpikir apa yang harus dikatakan, dia berkata lagi. “Kau pikir aku gila?”
“Yah, aku…”
“Tapi aku bersumpah padamu,” katanya sungguh-sungguh, “ini adalah masalah yang sangat serius. Aku memintamu untuk menyelamatkan taman hiburan kami, karena aku percaya kau bisa melakukannya.”
“Oke,” Ia berhasil merespons, “tapi… semua ini sangat tiba-tiba. Aku tidak bisa bilang ‘oh, baiklah’ seperti itu saja… kau tahu?”
“Ya… tentu saja, kau benar.” Gadis itu tersenyum damai, wajahnya tertunduk. “Ini pasti terdengar seperti omong kosong bagimu, penghuni dunia manusia. Tapi taman hiburan ini adalah Argel, dibangun di sini, di duniamu, oleh alam magis, Maple Land.”
Jadi taman hiburan ini… dibangun oleh… ‘alam magis?’ Dan apa itu Argel?
“Sebuah… alam magis, ya?”
“Ada banyak alam lain yang seperti ini,” Latifah memberitahunya, dan mulai menjelaskan lebih lanjut. “Kerajaan Mimpi, Regnum Somni; Republik Hewan, Polytear; Kekaisaran Schubert dengan pedang dan sihirnya; daratan masa depan Avenir… Ada banyak alam, dan Maple Land adalah salah satunya. Itu ada di ambang batas antara lautan dan daratan. Banyak dari alam ini membangun Argel di sini, di dunia manusia—Argel adalah kata yang berarti ‘ladang’ dalam bahasamu—Digimaland adalah salah satu yang terkenal, Cosmic Studio dan Highland Fujimi juga merupakan Argel.”
“Uhh…”
“Sebuah Argel adalah peternakan kebahagiaan. Argel membolehkan kami bersama mengumpulkan rasa senang dan kegembiraan dari mereka yang datang ke taman lalu merealisasikannya menjadi Animus, yang merupakan sumber energi penting bagi kami.”
__ADS_1
“……”
Latifah tampaknya menyadari reaksi tercengang Seiya. “Semuanya pasti terdengar tak bisa dipercaya… Itu bukan pengetahuan umum di antara penghuni dunia manusia. Karena itu… pertama, aku akan memberimu karunia sihir.”
“Sihir?” ulang Seiya dalam kebingungan.
“Aku tak tahu jenis sihir apa yang akan muncul,” Latifah termenung. “Itu terserah keinginan Dewi Libra. Tapi barangkali sihirnya akan memungkinkanmu untuk mengerti…”
“Huh?”
Gadis itu membungkuk di atas meja dengan pipinya yang sedikit memerah. Perasaan malu dan keraguan muncul di matanya. “Kanie-sama. Tolong, tetaplah di tempatmu.”
“Huh?”
“N-Nah… maaf…”
“Huh?” Ia bahkan tidak punya waktu untuk menyingkir.
Bibir kecilnya yang cantik menyentuh bibirku. Itu adalah sensasi yang lembut. Sensasi yang hangat. Hanya itu saja, jadi kenapa itu menghantamnya begitu keras? Kenapa ia merasakan aliran lisrik kuat ini menyambar lehernya ke bawah?
Sebuah ciuman dari seorang gadis yang benar-benar murni—Pikirannya kosong. Rasanya sulit untuk bernapas. Saat sensasi lembut itu mulai hilang—perlahan, tak kunjung hilang, prihatin—Seiya merasakan sesuatu yang lain mengalir masuk ke dalam pikirannya. Emosi tanpa batas—sesuatu yang kuat dan tak dapat dijelaskan yang dikubur jauh, sangat jauh di dalam salah satu bagian kemanusiaannya.
Aku tidak mengerti, pikir Seiya. Aku hanya ke sini dalam kencan mencurigakan ini karena seorang gadis aneh mengancamku. Bagaimana ini bisa menjadi seperti ini? Kenapa ini terjadi?
Sesuatu datang. Sihir—sihir misterius yang seseorang, di suatu tempat, sudah siapkan untuknya yang tujuannya ia tidak akan pernah tahu.
“Jangan lupa—” seorang gadis memberitahunya dari seberang jurang putih yang luas. “Perasaanku—yang pertama dan terakhir kalinya kau mengenal mereka…”
Perasaan pertama yang ia rasakan adalah cinta, diikuti oleh kepiluan yang tak tertahankan, lalu nostalgia lama. Seorang bocah kecil, berjalan menjauh ketika senja. Ia melihat ke belakang dan berkata: “Aku bersamamu. Aku akan menyelamatkanmu—”
Tunggu, tunggu… ini memang suasana yang indah tapi… setidaknya beri aku sejenis penjela—
Dengan perasaan seperti tersambar petir, Kanie Seiya kehilangan kesadarannya.
...----------------...
Alunan Hotaru no Hikari melayang di udara saat taman hiburan tenggelam dalam senja.
Moffle menghibur 28 tamu dalam atraksinya hari ini. Hanya tiga dari mereka yang mengambil foto cenderamata bersamanya, salah satunya adalah anak angkuh itu, Kanie Seiya.
Sangat sedikit, dan di hari Minggu… Dulu, mereka punya banyak tamu hingga tak terhitung jumlahnya, semuanya saling panjat menuju Rumah Manisan Moffle. Kerumunan anak-anak dengan wajah tersenyum… perasaan bahagia, jeritannya, gelak tawanya… Itu semua hanya ada di masa lalu.
“Moffu…” Dia mematikan lampu atraksi, kemudian melakukan sedikit pembersihan. Mereka tidak punya uang untuk mempekerjakan kru pemeliharaan untuk lembur, jadi mendesinfeksi laser penunjuk berbentuk pistol air menggunakan alkohol, memastikan mereka masih berfungsi, dan mengganti baterai adalah hal yang dia lakukan sendiri. Memperbaiki animatronik yang rusak dari waktu ke waktu, serta mengecek sistem kebakaran dan mengunci semua pintu setelahnya.
Setelah semua pekerjaan selesai, Moffle, Sang Peri Manisan, akan mampir bersama dengan pemeran paruh waktu yang bekerja bersamanya. “Waktunya tutup, fumo.”
“Terima kasih, pak.” para pekerja paruh waktu akan menjawab dengan kasar, lalu langsung menuju pintu layanan pemeran.
Tidak ada sepatahpun obrolan. Bocah itu mendapat kesan bahwa Moffle adalah pegawai perusahaan yang bekerja dalam kostum maskot karena mereka kekurangan tenaga kerja. Ah, sudahlah. Biarkan ia berpikir sesukanya. Apa gunanya memberitahunya kalau manajer di tempatnya bekerja paruh waktu adalah seorang peri asli dari alam magis bernama Maple Land?
Moffle berjalan lamban menuruni lorong bawah tanah, mengembalikan kunci Rumah Manisan Moffle ke pusat keamanan, menandatanganinya beserta waktu pengembalian, lalu menekankan kartu tanda hadirnya.
“Moffle-san. Bagaimana para tamu hari ini?” Seorang penjaga keamanan tua—yang ini tahu dirinya yang sebenarnya—bertanya padanya dengan suara yang ramah.
“Biasa, fumo. Meski ada satu yang mendendam, dan kami terlibat perkelahian kecil.”
“Ah, begitu,” sang penjaga keamanan bersimpati. “Aku tahu ini sulit, tapi cobalah untuk bertahan.”
“Terima kasih, fumo.”
Normalnya, saat ini adalah momen di mana dia meninggalkan taman dan pergi mengenyangkan dirinya di restoran yakitori bersama teman-teman maskotnya. Tapi hari ini dia terpikirkan sesuatu yang lain, jadi Moffle berbalik.
Sang penjaga keamanan tua, yang sudah bersiap mengecek barang bawaanya seperti biasa, memanggil Moffle saat ia berjalan menjauh. “Kau tidak pulang?”
“Nggak.”
Biasanya, setelah pegawai selesai bekerja, mereka harus menjalani pemeriksaan barang bawaan. Lagipula ada banyak sekali dari mereka, dan mereka tidak mempercayai bahwa tidak ada orang di taman yang mungkin menyelundupkan barang dagangan atau peralatan lalu menjualnya di tempat lain. Pemeriksaan seperti itu adalah standar di kebanyakan mall dan taman hiburan. Tentu saja, pegawai yang berdedikasi membencinya, tapi—
“Aku akan bicara dengan manajer, fumo.”
“Latifah-san, ya?” ucap penjaga keamanan dengan senyuman. “Bisa kau sampaikan halo padanya untukku?”
“Baiklah.” Moffle ingat kalau sang penjaga keamanan adalah penggemarnya. Bukan hal aneh di antara para pekerja penuh waktu—itu adalah satu dari sedikit hal yang menjaga semangat juang yang memudar tetap bertahan pada seutas benang.
Moffle tidak bilang dirinya adalah seorang penggemar. Dia menyayangi Latifah, tentunya cukup—tapi itu karena dia adalah keponakannya. Dan karena dia juga peduli padanya, perasaan itu sepenuhnya murni tanpa hasrat seksual.
...----------------...
__ADS_1