Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V2 - Chapter 2 Part 5


__ADS_3

“Tidak perlu mencemaskan itu, fumo.” Mereka berbalik. Moffle berdiri di bawah beranda. Seiya terakhir meninggalkannya untuk mengawasi Klan Mogute, jadi ia pasti sudah meninggalkan pos itu tanpa izin.


“S-Sudah berapa lama kau berdiri di sana?” ia menuntut untuk tahu.


“Sejak keheningan canggung. Kau bertingkah seperti seseorang baru saja meninggal atau sesuatu, fumo.”


“Te-Terserah. Bukankah kau seharusnya berjaga-jaga?”


“Aku bosan duduk-duduk di gua itu, jadi aku membawa mereka bersamaku, fumo. …Hei, semuanya, masuklah!”


Saat itu juga, anggota Klan Mogute menyerbu masuk melalui pintu masuk menuju taman atap. Mereka melihat sekeliling dengan takjub, menyodok bunga-bunga, dan mengecek kondisi batu ubin besar.


“Mog, mog… sungguh taman yang penuh cita rasa, mog.”


“Hmm, siapa pun yang memasang ubin bukan tukang batu yang ahli, mog…”


“Meski begitu campuran plester di dinding dipasang dengan baik, mog.”


Seiya meledak. “Apa kau membawa mereka semua ke sini?! Para pemeran bahkan tidak seharusnya tahu tentang mereka, ingat?”


“Yah, rahasia sudah terungkap sekarang, fumo.”


“Kurang ajar kau!” Seiya mengutuk. “Kami duduk di sini, memeras otak kami tentang apa yang harus dilakukan dengan mereka, dan kau—dan suara kepakan keras apa i—gwah?!”


Sumber dari kepakan yang Seiya dengar segera terlihat. Naga merah Rubrum, terbang melintasi langit malam, saat ini perlahan mendarat di taman.


《Maaf, aku tidak bisa masuk melalui pintu masuk pegawai. Bukan masalah besar, kan?》


“Ndasmu! Apa kau terbang di atas jalan raya seperti itu? Banyak orang pasti sudah melihatmu!”


《Aw… Aku baru saja diasingkan begitu lama, kupikir akan menyenangkan untuk terbang lagi. Kau setidaknya bisa menunjukkan apresiasi padaku…》


“Diam!” Seiya menggerutu.


“Nah, nah… Kanie-sama,” ucap Latifah menenangkan. “Paman—lebih tepatnya, Moffle-san benar. Kenyataannya mereka ada di sini sekarang, dan itu tidak bisa diurungkan.”


“Hrmm… Kurasa kau benar…”


Saat itu juga, Klan Mogute menyadari bahwa Latifah ada di sana. Mata kancing kecil mereka terbuka lebar dan mereka melambaikan tangan di udara.


“Manajer!”


“Oh! Nona Manajer! Betapa kami merindukanmu, mog!”


“Anda secantik biasanya, mog!”


Klan Mogute berlutut, air mata bersyukur mengalir di pipi mereka saat mereka mencurahkan rasa hormat yang mendalam dan sepenuh hati kepada Latifah. Dia tampaknya tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Meski dia buta, mungkin jelas dari suaranya apa situasinya. Tapi sejauh yang Latifah tahun ini ketahui, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Klan Mogute. “Ah… Aku takut… kalian membuatku bingung.”


“Abaikan saja mereka,” Seiya menasihatinya. “Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. …Hmm?”


Berdiri di belakang rombongan Klan Mogute adalah Isuzu, memegang bendera yang bertuliskan ‘ujung barisan.’ Aneh—ia yakin bahwa dia tetap tinggal di gedung administrasi setelah konferensi untuk merapikan beberapa dokumen.


“Sento. Kenapa kau membiarkan mereka lewat? Kukatakan padamu untuk meninggalkan mereka di gua itu!”


“Pak, aku percaya Moffle memiliki sesuatu untuk dikatakan sehubungan dengan hal itu.” ucap Isuzu, masih memegang bendera.


“Baiklah… aku akan mendengarmu,” ucap Seiya dari sela gigi yang terkatup. “Bicara!”


Moffle, yang sudah menunggu dengan ekspresi netral, sekarang berdeham: “Setelah kau pergi, aku bicara dengan pemimpin klan, Taramo. Kerajaan Polytear-lah yang berusaha mengubur mereka hidup-hidup, fumo.”


“Kami sudah tahu itu.” ucap Seiya.


Kerajaan itu menyewa mereka untuk menggali terowongan pelarian rahasia istana, kemudian mengubur mereka hidup-hidup untuk membungkam mereka. Itu juga adalah kisah umum dalam sejarah manusia.


“Ah, tapi ini bagian pentingnya, fumo. Kerajaan Polytear—Lebih dikenal, saat ini, sebagai Republik Polytear.”


“…?”


“Oh. Maksudmu…” Latifah menempelkan ujung jari kecil ke bibirnya, tampak menyadari sesuatu. Seiya masih sepenuhnya dalam ketidaktahuan.


“Itu benar, fumo. Sekitar empat tahun lalu, ada revolusi di Polytear. Para bangsawan jahat diasingkan dan demokrasi hewan yang damai terbentuk, fumo.”


“Apa?” Seiya bertanya tidak percaya.


“Kau lihat, Facebook menjadi populer di sana, dan itu memungkinkan orang-orang untuk melakukan revolusi,” jelas Moffle. “Ada kerusuhan, pemerintah dan tentara pecah… dan kemudian, istananya runtuh. Tempat itu adalah museum revolusi sekarang, fumo.”


“Tunggu,” ucap Seiya, berusaha mengejar ketertinggalan. “Apa itu berarti orang-orang yang mengejar Klan Mogute sudah tidak ada sekarang?”


“Menurutku itu masuk akal, fumo. Bagaimana menurutmu, Taramo?”


“Aku setuju, mog. Kami bertempur dengan beberapa alam lain… tapi jika Polytear tidak mendendam pada kami, maka kami mungkin aman, mog.”


“Apa?” Ini durian runtuh yang tak terduga.


“Kami telah bersembunyi di bawah tanah sangat lama, kami tidak tahu, mog. Empat tahun terbuang… Aku tidak tahu apakah harus kecewa atau lega, mog…”


“Tampaknya hanya Dornell yang terhubung ke internet manusia, itulah sebabnya tidak ada yang tahu, fumo. Yah, kukira hal-hal yang lebih aneh sudah terjadi…” Moffle melipat tangannya dan mengangguk tegas.


Semua kecemasan itu tidak berguna. Seiya merasa aneh, seperti karpet yang tersapu keluar dari bawahnya.


“Untunglah,” ucap Latifah, nadanya sangat lega. “Aku… benar-benar sangat senang. Apa itu artinya kalian semua bisa bebas?”


“Yah, kupikir kami bisa…” ucap Taramo.


Sekarang, bagaimana cara berurusan dengan mereka? Seiya bertanya-tanya. Salah satu pilihan adalah mengatakan, “Kalian sudah melalui banyak hal, jadi sekarang kalian bisa melakukan apa pun yang kalian suka.” Tapi sebelum ia meninggalkan labirin itu, Seiya sudah memiliki ide. Konstruksi labirin itu benar-benar luar biasa. Dan jika apa yang mereka katakan itu benar, mereka menyelesaikannya dalam waktu yang sangat singkat. Kalau saja—


“Manajer!” Taramo menangis, mengulurkan tangannya ke arah Latifah. “Kami telah berhutang pada Anda selama bertahun-tahun, mog! Tolong, izinkan kami untuk menggunakan atraksi kami demi taman, mog!”


Naga merah Rubrum bergabung. 《Um, bisa kau mempekerjakanku, juga? Aku akan melakukan semua yang kubisa untuk menakuti pengunjung…》


Ah, syukurlah. Mereka sudah berharap untuk tinggal di taman, jadi ia tidak harus mengusulkan ide itu sendiri. Itu akan membuat negosiasi gaji lebih mudah. Ia berharap mempekerjakan mereka semurah mungkin—lebih baik lagi seperti tarifnya sendiri, 850 yen per jam. Mungkin ia bahkan bisa membuat mereka menerima 600 yen sejam selama masa percobaan mereka…


“Ah, Kanie-sama? Bagaimana menurutmu?”


“Benar. Sebenarnya…” Seiya mengusap bagian belakang kepalanya saat ia melangkah maju. “Kami tidak bisa.”


“Ke-Kenapa tidak, mog?!”


“Karena taman kedua dijual.”


Taman mulai gempar. Moffle, dengan sangat marah, berteriak “Beraninya kau! Kau akan membayarnya, fumo!” dan menerjangnya.


...----------------...


Isuzu menghentikan perkelahian dengan Moffle dan Latifah menegurnya. Begitu keadaan sudah tenang, Seiya akhirnya bisa menjelaskan.


Itu adalah kisah yang sepenuhnya masuk akal, jadi semua orang, termasuk Moffle, menerimanya dengan cepat.


Klan Mogute akan tinggal di kafetaria karyawan dan gudang sambil membangun rumah yang lebih permanen di tempat lain di atas tanah. Naga merah besar, Rubrum, akan tinggal di tempat parkir pemeran untuk saat ini, di bawah perintah ketat agar ia memastikan tidak ada orang luar yang melihatnya, apa pun yang terjadi.


Dornell akhirnya bergabung kembali dengan para pemeran setelah sepuluh tahun kepergiannya. Karena Tiramii adalah Peri Bunga saat ini, ia akan menjadi penyambut di atas panggung untuk sementara—meski, sebagian dari dirinya tampak menyesal meninggalkan gaya hidupnya yang tertutup.


Moffle tampaknya tidak sepenuhnya puas dengan penjualan taman kedua, tapi karena Latifah sudah memberi izinnya tentang masalah ini, ia akhirnya pergi (walau tidak senang).


“Manajer, Manajer!” Tepat sebelum ia meninggalkan taman, Kepala Klan Mogute, Taramo, mengeluarkan sebuah amplop tua dan memberikannya pada Latifah. “Ini. Anda memberikan ini pada kami sebelum kami pergi ke bawah tanah.”


“…? Ah, ya… Te-Terima kasih.”


“Saya memberikannya kembali pada Anda, seperti yang dijanjikan. Saya harap kami bisa tetap bekerja bersama Anda!” Lalu Klan Mogute berbaris keluar dan taman kembali sepi, akhirnya.


“Haaahh… 50 karyawan baru, begitu saja.” Seiya, yang tetap di taman, mendesah. Ia bekerja bersama Isuzu untuk membetulkan bangku-bangku dan kursi-kursi yang terjatuh dalam perkelahian, dan berusaha untuk menenangkan kegelisahan yang bergejolak di ususnya.


Baru saat itulah ia menyadari bahwa Latifah berdiri di sana, tanpa menunjukkan emosi, dengan amplop itu di tangannya.


“Haruskah kubacakan itu untukmu?” tanyanya.


“A-Apa?” Latifah tergagap.


“Itu surat, kan? Kalau kau tidak keberatan aku akan melakukannya…” suaranya mengecil. “Atau apa kau lebih memilih Sento?”


“Ah… yah…” Setelah ragu-ragu sejenak, Latifah tampaknya menguatkan diri, dan menyodorkan surat itu padanya.


“Tidak sama sekali. Kanie-sama, aku bersikeras agar kau membacanya.”


Amplop itu sedikit menguning karena usia dan disegel dengan lilin merah. Seiya dengan hati-hati membuka segelnya dan mengeluarkan surat itu dari dalam amplop.


“Oke, kalau begitu. …Mari kita lihat.” Ia mengalihkan pandangannya ke kata-katanya, lalu menggelengkan kepalanya. “…Aku tidak bisa membacanya. Bahasa apa ini?”


“Ah, aku minta maaf… itu pasti dalam bahasa Maple,” ucap Latifah. “Isuzu-san, tolong?”


“Ya, Yang Mulia.” Dia pasti sudah mengantisipasi hal ini, karena dia segera mengambil surat itu dan mulai menelitinya.


“Kalau kau mau, Kanie-sama… Kuharap kau akan tinggal dan mendengarnya.”


“Apa kau yakin?” tanyanya ragu-ragu.


“Ya,” Latifah mengiakan. “Aku memintamu, sebagai manajer pelaksana untuk tinggal. Aku tidak tahu apa isi surat ini… tapi aku tidak ingin menyembunyikan apa pun darimu.”


“Oke.”


“Bolehkah? Sekarang saya akan mulai.” Isuzu membaca seluruh surat itu, menerjemahkan dengan cepat:


Halo. Jika kau membaca surat ini, itu berarti kutukannya masih belum terangkat. Atau barangkali, dengan suatu keajaiban, kutukannya sudah terangkat, namun aku masih mengabdi sebagai manajer taman ini. (Kuharap inilah kejadiannya, tapi aku sadar bahwa itu tidak mungkin. Karenanya, aku menulis ini dengan asumsi bahwa kutukannya masih di tempatnya.) Aku minta maaf atas masalah yang kusebabkan padamu dengan keputusanku untuk menampung Klan Mogute. Aku tidak bisa meninggalkan orang yang tidak punya tempat lain untuk pergi. Aku sudah meminta manajer sekunder untuk menyembunyikan mereka di taman kedua. Karena dirinya pasti akan menentang keputusan ini, karena kedudukanku, aku menyimpan hal ini dari Paman.


Klan Mogute, termasuk ketua mereka, Taramo-san, sangat cinta damai dan baik. Tolong, berbaik hatilah pada mereka.


Aku menulis ini saat bulan Maret. Aku sangat menikmati diriku tahun ini. Satu tahun lalu, aku sangat bimbang bagaimana caranya bersikap di depan yang lain. Itu sangat sulit bagiku. Tapi sekarang, segalanya berbeda. Aku suka semua orang di taman ini.

__ADS_1


Diriku yang sekarang akan segera mengucapkan selamat tinggal pada mereka semua. Tapi aku tidak akan patah semangat. Aku ingin berusaha lagi dan lagi, dan terus mencintai mereka seperti sekarang.


Kepadamu yang menerima surat ini, apa kau mencintai semua orang? Apa kau mencintai dunia ini? Rasanya aneh untuk dikatakan, tapi kuharap kau akan terus menjalani hidupmu sepenuhnya.


Kau tidak perlu khawatir. Karena… kau adalah aku.


Isuzu selesai membaca surat itu, meninggalkan gemerisik tanaman hijau satu-satunya suara yang tersisa di taman.


“Ah… apa kau baik-baik saja?” Seiya bertanya.


Dengan suara yang terlalu pelan untuk didengar, Latifah menjawab: “…Ini tidak adil.”


“……” Seiya menunggunya untuk menjelaskan.


“Dia adalah aku, namun dia jauh lebih kuat daripada diriku. Aku…” Dia berpaling dari Seiya dan Isuzu untuk merosot di pagar beranda, gemetaran. “Apakah aku… akan pernah menjadi seperti ini? Berlama-lama seperti yang kulakukan, di sini di kegelapan yang mengerikan ini—apakah aku akan pernah bisa menyemangati diriku sendiri, seperti yang dia lakukan?”



Isuzu sepertinya tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya melihat Latifah dari belakang, dengan kesedihan di matanya.


“Hei, Latifah…” Seiya maju selangkah. “Mana yang lebih kau suka. Kata-kata kejam atau kata-kata manis?”


“Ah… kata-kata kejam… tidak, kata-kata manis, kalau berkenan. Maafkan aku. Aku tidak bisa mengatasi… kata-kata kejam… saat ini.”


“Aku akan mencoba mengatakannya dengan ramah, kalau begitu,” ia memberitahunya. “Kau akan bisa. Tentu saja kau akan bisa.”


Dia memiringkan kepalanya dengan bingung mendengar pernyataan singkatnya. “Itu saja?”


“Ya.” ucapnya singkat.


“…Apa kata-kata kasarnya, boleh aku bertanya?” Latifah bertanya, penasaran.


“‘Tentu saja kau akan bisa. Berhenti mencemaskan yang sudah jelas, bodoh.’”


“Itu saja?”


“Itu saja.”


Dia berdiri diam di sana selama beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Kau orang yang sangat lucu, Kanie-sama.”


“Benarkah?”


“Tapi kau tidak boleh bicara dengan pacarmu seperti itu,” candanya. “Kata-kata itu kurang sensitif.”


“Hmm… yah, maaf.” Ia tidak memiliki pacar, tentu saja. Atau—tunggu, apa dia mencoba untuk menyiratkan sesuatu yang lain dengan ungkapan itu?


Isuzu menatap mereka, tatapannya diam dan tak terbaca. Tidak yakin bagaimana harus bereaksi, tepatnya, Seiya hanya merespons dengan mengangkat bahu.


“Aku merasa sedikit lebih baik. Kanie-sama, terima kasih banyak.” Latifah berucap, setelah sedikit peregangan.


Tampaknya memang ada sedikit lebih banyak keceriaan dalam suaranya dari sebelumnya.


...----------------...


...Laporan Kegiatan Bulan April 1 (Moffle)...


Moffle berkata ia sedang melakukan beberapa renovasi atraksi, jadi Seiya mampir untuk melihat bagaimana kemajuan pekerjaannya.


Atraksinya adalah, tentu saja, Rumah Manisan Moffle. Itu adalah permainan di mana kau menembakkan laser penunjuk berbentuk pistol air ke tikus nakal, bersaing memperebutkan poin. Para tamu yang mendapat skor bagus akan mendapat hadiah atau foto bersama Moffle.


Itu adalah salah satu yang lebih populer dari banyak atraksi taman yang biasa-biasa saja.


“…Ngomong-ngomong, Rumah Manisan ini dibangun lebih dari sepuluh tahun lalu,” ucap Moffle pada Seiya saat keduanya bertemu..Ia mengenakan pakaian kerja dan helm keselamatan, sabuk peralatan dengan persediaan lengkap tergantung di pinggangnya.


Di belakangnya, Wrenchy-kun dan beberapa staf belakang panggung lainnya bekerja keras, mendorong merombak ke depan. Adachi Eiko-san, yang akhirnya mereka pekerjakan, juga hadir, berlari mondar-mandir untuk membantu. Seiya masih tidak tahu nama panggungnya; Isuzu tampaknya mengetahui sesuatu, tapi apa pun itu, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri.


“Konsepnyalah yang perlu dimodernisasi, fumo. Ah, kau tahu maksudku. Seluruh konsep ‘hajar tikus-tikus nakal!’ ini ditujukan untuk anak laki-laki dan perempuan yang baik… ini tidak menarik bagi generasi baru, fumo.”


“Hmm…” ucap Seiya. “Baiklah, jadi apa perombakannya? Harus kuperingatkan kau, anggaran kita masih terbatas…”


Menjual taman kedua telah memberi mereka dana minimum, tapi mereka masih belum sepenuhnya keluar dari air. Ia tidak bisa menyetujui renovasi total sebuah atraksi semudah itu.


“Ah, aku tahu, fumo. Aku tidak mengubah struktur yang mendasarinya. Orang-orang selalu menyukai elemen permainan Rumah Mainan, jadi aku hanya membuat beberapa perubahan kecil untuk meningkatkan itu, fumo.”


“Oh?”


“Pertama, aku mengganti pistol air yang digunakan para tamu, fumo. Ini adalah purwarupa yang baru.” Moffle menyerahkan laser penunjuk yang baru padanya.


Alih-alih pistol air murahan, itu terasa seperti pistol sungguhan; itu berat dan keras, dengan lapisan logam hitam mengkilap. Bagian slide yang terperinci bertuliskan kata-kata, ‘SIG SAUER.’


“Apa ini?” Seiya bertanya.


“Sebuah P226. Menggunakan bagian logam sebanyak yang bisa kuperoleh, fumo. Ini punya slide yang dioperasikan secara elektrik yang bergerak mundur maju, dan kalau kau melihat ke dalam ejection port-nya, kau benar-benar bisa melihat feed ramp-nya! Battery di magazine—tekan pada tuas untuk melepasnya—dan decocker-nya menjadi sakelar on-off. Semua itu ada di situ untuk meningkatkan mood, fumo.”


Mata Seiya berkaca-kaca waktu mendengar rentetan jargon itu.


Moffle dengan bangga membariskan purwarupa senjatanya, dan masing-masing mengeluarkan suara keras saat ia meletakkannya. Kesemuanya tampak kokoh dan mengintimidasi.


Seiya memperhatikan berbagai item yang panjang dan kecil serta sebuah alat seukuran bola rugby. “Apa ini?” tanyanya.


“Rudal anti-tank, fumo. Dan yang ini adalah senapan runduk. Ini bisa membunuh musuh yang bahkan satu kilometer jauhnya, fumo.”


“Dan ini?”


“Bom neutron,” Moffle menjawabnya. “Untuk bunuh diri.”


Apa yang sebenarnya ia hadapkan pada para tamu? Seiya bertanya-tanya. “…Ini semua sepertinya tidak digunakan untuk menghukum tikus nakal.”


“Yah, tentu saja tidak! Aku memodifikasi lawannya juga, fumo.”


Moffle membimbing Seiya masuk lebih jauh ke dalam Rumah Manisan, ke ruang dapur di mana tikus akan muncul. Kali terakhir Seiya datang, tempat itu adalah dunia panci, wajan, dan keranjang buah yang tidak keruan, tempat dari mana tikus-tikus jail tapi menggemaskan akan menjulurkan kepala mereka keluar dan mencicit menggoda.


Sekarang, tempat itu hancur.


Peralatannya rusak dan terbakar hangus. Di sekitar mereka terbaring mayat-mayat para prajurit yang mati, darah mereka yang mengering menodai lantai. BGM yang suram dan mengganggu diputar dari segala sisi, bercampur dengan suara tembakan dan ledakan yang jauh. Sekali-sekali, jeritan seorang pria yang sekarat terdengar.


“Di sinilah tikus-tikus itu keluar, fumo.” Sebuah animatronik tikus nakal muncul dengan pekikan yang menusuk.


“…?!” Seiya terkejut.


Wajah tikus itu memutar dengan maksud jahat; matanya menyala-nyala dan memerah. Bibirnya melengkung ke belakang, menampakkan taring yang menggantungkan sisa-sisa musuh yang malang.


《Manusia kotor!》


《Bunuh mereka semua!》


《Kami akan memasakmu saat kami luang!》


Tikus-tikus animatronik mengejek Seiya dengan suara mereka yang melengkung dan terdistorsi. Mereka seperti monster yang keluar langsung dari kedalaman Neraka.


“Lihat?” Moffle membual. “Mengesankan, eh? Dan ketika kau mengenai satu dengan laser penunjukmu…” Moffle menembak tanpa pandang bulu.


《Ergh… kyaaaaaaaaaaaaaaaah!!》


Animatronik itu pecah berkeping-keping dalam ledakan tumpahan darah. Bahkan untuk seseorang yang mengetahui bahwa itu palsu, itu tetaplah pemandangan yang menggelisahkan.


“Itulah bagaimana mereka mati, fumo. Tapi perubahan terbesarnya akan muncul. Kalau kau terlalu lama untuk menembak semua tikus-tikus nakal…”


《Balas dendam untuk saudara kita yang jatuh! Matiiiiii!!》


Para animatronik mulai menembakkan sejenis cairan ke arah mereka. Moffle dengan cepat mengelak, tapi Seiya menerima serangan kejutan tepat di wajah.


Rasa sakit yang menusuk dan bau yang membuat perih menyerang hidung Seiya. “Gwuh?!” serunya. “Ma… Mataku!”


Saat Seiya berputar-putar, mencengkeram wajahnya, Moffle dengan cepat menghabisi tikus-tikus nakal. “…Mereka akan melawan balik dengan semprotan gas air mata, fumo. Ada pemancar di dalam pistolnya, jadi mereka bahkan tahu ke mana harus membidik!”


“Mataku!” Seiya meraung. “Gwaaaaaah!”


“Kecepatan reaksi mereka juga cukup cepat, fumo. Tentunya, ini akan terlalu sulit bagi anak-anak dan orang tua, jadi aku memasukkan pengaturan kesulitan. Secara khusus kau akan mendapati tingkat Casual, Normal, dan Hardcore, fumo. Tapi…”


“Raaagh!” Seiya menangis. “Mataku… mataku!”


“…Aku juga sudah menyiapkan mode ‘Insane’ untuk para pengunjung pemberani yang merasa Hardcore tidak cukup menantang, fumo. Pengunjung yang memenanginya bisa memasuki ‘hall of fame’. Kau mendapat medali ‘Prajurit Terhormat’ dengan berlian di dalamnya, dan kami membuat plat emas bertuliskan namamu, fumo.” Moffle terus-menerus melanjutkan dengan senang hati tentang rincian renovasi yang direncanakannya, mengabaikan jeritan kesakitan Seiya.


...----------------...


...Laporan Kegiatan Bulan April 2 (Macaron)...


Sebelum buka hari itu, Seiya pergi memeriksa atraksi Macaron. Ia tidak pernah benar-benar berkunjung ke Teater Musik Macaron sebelumnya—tempatnya selalu tutup, yang membuatnya sulit untuk melakukan bisnis sungguhan. Itu akan menjadi masalah yang nyata, tentu saja, jadi ia memerintahkan Macaron untuk tidak mengambil hari libur tanpa izin lagi. Maskot domba itu menjalankan atraksinya dengan enggan sejak saat itu.


Aliran umum Teater Musik Macaron mengizinkan para tamu menaiki gondola besar berkapasitas 20 orang. Gondola itu akan melakukan perjalanan antara ruangan kecil yang mewakili negara di seluruh dunia, memungkinkan para tamu untuk menikmati musik yang terkait dengan negara-negara itu.


Pengumuman ini diperdengarkan di awal: “Selamat datang di perahu musik, Mezzo Porte! Kami akan berbagi dengan kalian melodi dari seluruh dunia! Berpeganganlah erat-erat, oke?”


Di ruangan yang ditata agar terlihat seperti Wina, para tamu akan menikmati suara Mozart yang mengharukan; di ruangan Istanbul, mereka akan menikmati seruling eksotis; di ruangan Kongo, mereka akan menikmati drum yang penuh gairah. Di Venesia mereka akan menikmati Boat Song milik Mendelssohn; di Las Vegas, rock klasik tua; di Bali, ansambel Gamelan akan dimainkan. Hal semacam itu, mengenalkan para pendengar ke berbagai gaya musik.


Lalu di akhir, ruangan dongeng, Macaron akan muncul dan memamerkan keterampilan serulingnya yang luar biasa. Setidaknya, begitulah adanya.


“…Tapi aku sama sekali tidak peduli dengan seruling, ron!” Macaron berteriak, membelah dua semacam seruling yang tidak Seiya ketahui namanya begitu saja.


Ada juga renovasi yang dilakukan di sini, jadi mereka dikelilingi oleh staf—termasuk para pekerja paruh waktu—yang berlarian sibuk. Chujo Shiina, siswi SMA yang tampak kekanak-kanakan yang akhirnya mereka pekerjakan, berlari ke sana kemari, membantu Macaron. Seiya masih tidak tahu banyak tentangnya, tapi selama dia tidak menyebabkan masalah, ia tidak punya masalah dengannya.


“Kenapa aku harus mengajari anak-anak itu tentang The Magic Flute milik Mozart, ron?” sang maskot mengamuk. “Ia hebat, benar, tapi ia orang mesum! Kau tidak bisa benar-benar memahaminya kecuali kalau kau mempelajari lagu-lagu kotorannya lebih dulu, ron!”


“Er… Aku paham apa maksudmu, tapi apa taman ini benar-benar tempat untuk itu?” Seiya memberi jawaban cermat pada Macaron yang suka berdebat, yang ia temui di belakang panggung.


“Harus! Bahkan Dewa Manga itu memakan sushi dari wanita telanjang selama rapat perencanaan! Seni itu vulgar dan hina, itulah yang membuatnya bebas!”

__ADS_1


“Aku mengakui posisimu di bidang seni,” ucap Seiya dengan hati-hati, “tapi apa, tepatnya, atraksi tertentu ini?”


Seiya dan Macaron saat ini berada di ruangan pertama yang dikunjungi gondola. Biasanya ini akan menjadi Venesia, beresonansi dengan sonatina riang dan optimis, tapi sekarang itu terlihat seperti pinggiran kota Amerika yang kotor. Beberapa pria besar mondar-mandir di serambi, tampak bosan;


mereka sepertinya adalah pengedar narkoba yang menjual kokain. Suara sirene polisi bergema pelan di kejauhan.


Musik yang diputar adalah gangsta rap bass yang menggelegar. Bunuh polisi! Ke neraka, GOP! Tunjukkan rasa hormat padaku atau kau temui AK milikku! lanjut liriknya. Aku keren dan akan memerintah! Mengontrol!


“Ini musik dunia, ron!” Macaron membantah dengan meyakinkan. “Ini tidak keluar topik, ron!”


“Bukan berarti kau harus mempertunjukkannya!” Seiya keberatan. “Dan ada apa dengan para binaragawan itu? Mereka memelototiku.”


“Mereka mungkin mengagumi pantatmu, Kanie-kun.” jelas sang maskot.


“Apa?!”


“Hanya bercanda. Mereka adalah para Mogute, ron.”


“Ayo,” Macaron meneriakkan instruksinya, “lepaskan itu! Kalian menakuti manajer pelaksana.”


Pria itu sedikit menggeliat, lalu membuka, menampakkan sekumpulan Mogute satu lapisan ke bawah. Seiya tidak tahu apakah mereka memakai setelan tubuh atau apa, tapi ilusinya benar-benar mengesankan.


“Macaron-san,” tanya mereka, “apakah tidak apa-apa bagi kami hanya berkeliaran seperti ini, mog?”


“Ya. Tapi kalau kalian melihat wanita seksi di antara para tamu, tidak apa-apa melirik dan meng-catcall, ron.”


“Tidak, itu tidak boleh!” Seiya tidak setuju.


“Kalian mempelajari tentang F-bom, ingat?” Macaron melanjutkan. “Manfaatkan yang satu itu dengan leluasa. Aku mau mendengar semua jenis segs dan pelacur, ron!”


“Kubilang, tidak!” Seiya bersikeras.


...----------------...


...Laporan Kegiatan Bulan April 3 (Tiramii)...


Seiya bergumul dengan tumpukan dokumen di kantornya yang polos ketika telepon model tua di mejanya tiba-tiba berdering. “Ya? Manajer pelaksana di sini.” jawabnya, kesal.


Itu berasal dari penyambut paruh waktu di plaza depan. “Darurat, Kanie-san! Seorang anggota pemeran ditusuk!”


Yang benar saja! pikir Seiya. Ia ingin menangis, tapi ia menghentikan dirinya.


Orang di ujung lain telepon adalah Bando Biino, yang akhirnya ia pekerjakan setelah dia pulih dan keluar dari rumah sakit. Dia saat ini belajar tentang kontrol tamu dengan bertindak sebagai pemandu di plaza depan.


“Tunggu sebentar,” ucapnya. “Tenanglah, lalu jelaskan. Seseorang ditusuk? Siapa, dan oleh siapa?”


“Um… seorang tamu yang melakukan penusukan,” Bando memberitahunya. “Mereka mengeluarkan pisau baja Damascus dan mengayunkannya sekuat tenaga. Itu sangat tiba-tiba, tidak ada yang bisa menghentikan mereka…”


“Siapa yang tertusuk?” Seiya bertanya dengan sabar.


“Um, siapa namanya… maskot Pomerania, T… Ti… Tiramii-san!”


“Aku mengerti. Aku dalam perjalanan.” Ia membanting gagang telepon dan cepat-cepat keluar dari kantor.


Ketika ia sampai di plaza depan, ia mendapati bahwa masalah sudah terselesaikan. Beberapa anggota pemeran menahan seorang wanita berusia tiga puluhan, dan sebuah pisau berdarah tergeletak di tanah agak jauh.


Tiramii terbaring sekitar lima meter di luar, mencengkeram perutnya. “Mii, mii…”


“H-Hei. Apa kau baik-baik saja?” Seiya bertanya.


“Tidak, mii,” rintih sang maskot. “Aku sekarat, mii…”


Sudah berapa kali ia melihat Tiramii pingsan dan berdarah sekarang? Kebanyakan orang tidak akan bernah berpikir untuk menggunakan ‘Peri Bunga’ dan ‘pembantaian’ di kalimat yang sama, dan lagi…


“Kanie-san! Aku sangat menyesal karena ini terjadi… Meskipun aku di sini…” Biino menempel padanya, menangis.


Apa kau yakin bukan karena adanya dirimu yang menyebabkan ini terjadi? Ia bertanya-tanya. Taman hiburan macam apa yang melihat dua orang ditikam dalam urutan yang begitu singkat? Yang bisa ia pikirkan hanyalah bahwa gadis Bando Biino ini berada di bawah semacam kutukan.


“…Bagaimanapun, Aku tidak mengerti,” Seiya berkomentar. “Siapa pelakunya? Salah satu kerabatmu yang lain?”


“T-Tidak, aku tidak mengenalnya…” Biino terus gentar sementara pelakunya menggeliat melawan para penahannya dan mulai berteriak.


“Aku memberinya pelajaran!” teriak wanita dengan rambut hitam yang acak-acakan. “Semua kebohongan yang merayu itu… ‘kaulah satu-satunya untukku, mii!’ Kau berjanji kita akan menikah! Tapi kau mengatakan itu ke semua wanitamu, kan? Dasar anjing kampung!”


“Aku ti-tidak akan pernah mengatakan itu, mii…” Tiramii berbisik, masih berdarah banyak. “Pernikahan adalah satu hal yang tidak kuinginkan, mii… Lagi pula aku tidak ingat semua ini. Siapa kau ini, mii?”


“Kau tidak ingat ratusan kali kita bertemu di mimpi kita?!” tanya wanita itu, dengan rasa hina. “Kau selalu sangat baik. Itulah sebabnya aku memberimu semua hadiah itu! Dan ini caramu membayarku?!”


“Aku sungguh tidak tahu apa yang kau bicarakan, mii…”


“Dasar pembohong! Aku tahu dirimu! Setiap pagi aku berdandan dan mengucapkan ‘selamat pagi,’ tapi kau hanya berdiri di sana di bingkai foto itu dan kau tidak pernah membalas!” omelnya. “Ini kejam. Ini salah! Kau harus membayar! Aku harus membunuhmu!”


“Mii…”


“…Bawa dia pergi.” Atas perintah Seiya, wanita itu dibawa pergi.


Tiramii masih bergulung di tanah, tapi lukanya tidak terlihat fatal. Seiya mengabaikan Biino yang panik dan bicara pada Tiramii. “Kupikir aku paham apa yang terjadi di sini. Tapi biar kutanya kau satu hal: apa yang kau katakan itu benar? Apa wanita itu hanya sakit mental?”


“…Ya, itu benar. Sebagian besar, mii.”


“Jadi ada sedikit kebohongan di dalamnya?” Seiya bertanya dengan skeptis.


“Mii…”


“Katakan padaku.” perintahnya.


“…Maaf. Aku memang mem-puff dia sekali, mii…” Tiramii menjulurkan lidahnya dengan imut dari tengah genangan darahnya.


“Aku memotong gajimu,” Seiya mendesah. “Dan juga, kau bisa berbaring di sana dan matilah.”


...----------------...


...Laporan Kegiatan Bulan April 4 (Isuzu)...


Ada sedikit kekacauan yang berada di luar kendali mereka, tapi para pemeran tampaknya masih bekerja keras. Mereka mendapat penundaan eksekusi selama setahun, dan juga beberapa waktu untuk bersantai.


Isuzu menikmati waktu bersantai mereka yang baru ditemukan setelah mendapat berbagai tekanan. Dia tidak lagi merasakan kejengkelan atau keputusasaan yang merasukinya pada bulan Maret, dan dia tidak membiarkan kebodohan Moffle dan yang lainnya sampai padanya seburuk dulu.


Apa sudah hampir waktunya…? dia bertanya-tanya. Pukul 9:52 malam. Isuzu berdiri di pintu masuk gedung administrasi, memeriksa waktunya. Ah, itu dirinya.


Kanie Seiya turun dari lift dan mulai berjalan menuju pintu masuk, di mana dia berdiri. Ia sudah mengenakan pakaian biasa miliknya, dengan tas modis menggantung dari bahunya.


“…Hei. Kupikir kau sudah pulang.” ucap Seiya saat ia melihat Isuzu.


“Aku punya sedikit pekerjaan untuk diselesaikan,” dia memberitahunya. “Aku baru mau pulang.” Itu bukan kebohongan. Tentu saja, itu adalah pekerjaan rumah dari sekolah dan bukan pekerjaannya di taman…


Seiya mulai berjalan menuju parkiran sepeda, dan Isuzu mengikutinya. Asrama perempuan berada di arah yang sama, jadi itu cukup wajar.



“Benar juga,” ia mengamati, “kau tinggal di asrama?”


“Ya,” jawabnya, “Hanya tiga menit berjalan kaki.”


“Hmm… nyaman. Mungkin aku akan membeli apartemen sendiri…” ucap Seiya, sedikit mengeluh. Ia sering kerja lembur dan menginap; ia mungkin benci menghabiskan waktu dalam perjalanan.


“Aku akan merekomendasikan untuk tidak melakukannya,” Isuzu memberitahunya. “Asrama laki-laki berantakan dan rentetan pengembangan sudah mengubahnya menjadi sebuah labirin.”


“Oh, benarkah?”


“…Lagi pula, bukankah bibimu akan khawatir kalau kau mulai tinggal di asrama?”


Seiya tertawa dengan meringis. “Aku meragukannya. Dia hampir tidak pernah pulang, terima kasih pada pekerjaan editing-nya. Sejujurnya, aku bahkan belum melihatnya minggu ini. Satu-satunya cara aku tahu dia bahkan pulang untuk menukar pakaian adalah fakta bahwa ada lebih banyak cucian di keranjang.”


“Begitu.” Dia tahu bahwa situasi keluarga Seiya sedikit rumit. Orang tuanya masih hidup, tapi bercerai, dan ia tidak berhubungan secara teratur dengan salah satu dari mereka. “…Bukannya menghakimi gaya hidupmu, tapi itu tidak benar-benar terpuji. Kau hidup dari kotak makan siang toserba dan makanan kemasan, kan? Kau harus makan lebih sehat.”


“Apa yang bisa kulakukan?” ia mengangkat bahu. “Aku tidak punya waktu untuk itu.”


“Tidak ada, kurasa, tapi…” Begitu dia sampai di rumah, mungkin dia akan mencari situs memasak di Internet. Apa ia akan menganggapnya aneh jika dia membawakannya makan siang buatan sendiri? Yah, bagaimanapun juga dia adalah sekretarisnya. Di sisi lain, itu mungkin dianggap terlalu ikut campur…


Mereka sampai di parkiran sepeda. Sepeda Seiya adalah sepeda kota yang usang, berkarat di sana-sini. Ia melemparkan tasnya ke keranjang sepeda dan dengan cepat melepas gembok kombinasi. Itu hanya di sana untuk menahan rantainya, jadi ia bahkan tidak perlu memutar tombolnya; itu benar-benar seperti dirinya.


“Ngomong-ngomong,” ia bertanya, “apa yang terjadi dengan Klan Mogute?”


“Mereka tampaknya berbaur dengan cepat,” Isuzu memberitahunya. “Aku belum mendengar adanya masalah.”


Menerima para Mogute bahwa mereka adalah tukang kayu ulung ternyata benar. Hanya dalam beberapa hari, mereka sudah menggali kompleks bawah tanah lain di tepi taman pertama dan membangun asrama mereka sendiri di sana. Mereka menggunakan kembali bahan bangunan dari gua lama mereka, jadi hampir tidak ada anggaran yang dibutuhkan.


“Mereka sepertinya berguna.” ia mengomentari.


“Ya,” dia setuju. “Kurasa mereka bisa berkontribusi pada renovasi taman.”


Kecepatan pembangunan seperti milik mereka akan sangat membantu. Tentu saja, memperbarui struktur akan membutuhkan uang, tapi mereka memiliki kelonggaran keuangan untuk saat ini. Cuaca akan segera menghangat—sekarang adalah waktunya untuk menyerang.


“Kita harus mendatangkan banyak tamu.” dia berkomentar.


“Ya. Banyak… banyak tamu.” Suara Seiya menjadi suram.


Selama penjualan taman kedua, ada satu hal yang muncul yang Seiya belum pertanggungjawabkan. Berlawanan dengan apa yang diharapkan, Pengembang Amagi sangat menentang penjualan itu. Ia berjuang dengan gigih, tapi pada akhirnya, ia dipaksa melakukan revisi kontrak dengan satu syarat yang sangat keras: peningkatan besar-besaran dalam persyaratan kehadiran tahunan.


Di tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya perlu menarik 600,000 orang per tahun. Tapi mulai tahun ini, itu akan berubah.


“Tiga juta orang…” ia merenung. “Apa kita akan benar-benar bisa mendapatkan mereka semua?”



...----------------...

__ADS_1


__ADS_2