
Seiya mendapat pekerjaan malam itu juga. Ia memutuskan tidak perlu repot pulang; ia hanya menelepon Aisu supaya dia tahu kalau ia akan tidur di luar malam ini, itu saja.
Isuzu menyiapkannya ruang kerja di lantai empat gedung administrasi tua, di belakang panggung. Itu adalah ruangan biasa dengan sedikit lebih dari meja kantor biasa, kursi lipat, dan beberapa rak buku; itu kurang terlihat seperti ruang kerja, dan lebih terlihat seperti ruang interogasi dari film drama polisi.
“Ini adalah semua dokumen yang kau minta.” ucap Isuzu, saat dia menaruh tumpukan kertas tebal di atas mejanya. Seiya, yang sedang membaca dokumen-dokumen keuangan, menjawab, “Tentu.” dan tidak lebih.
“Ada hal lain yang kau butuhkan?” tanyanya.
“Tidak.”
“Kalau kau mau istirahat—”
“Ada sofa di lorong, kan? Tinggalkan selimut atau apalah untukku.” ucapnya tanpa terganggu, dan dalam diam membalik halaman.
Ia ingin benar-benar mengerti tenytang keadaaan taman—keadaan keuangannya, fasilitasnya, atraksinya, kinerja para pemeran—sebelum besok pagi. Kemudian, entah bagaimana, ia harus datang dengan rencana.
Kedatangan taman kurang lebih sesuai dengan apa yang Seiya duga. Selama musim ini—awal Maret, ketika masih terlalu dingin untuk pantas disebut musim semi—rata-rata kedatangan adalah 1,400. Ia membandingkan data itu dengan rata-rata tahunan, dan tampaknya tak peduli seberapa keras mereka bekerja, yang terbanyak yang bisa mereka peroleh dalam dua minggu adalah sekitar 25,000.
Namun, mereka butuh 100,000!
Tidak ada ide yang muncul. Pasti, meski begitu, seharusnya ada jalan keluar di suatu tempat… Ia merasa seperti pria yang terjebak di dalam terowongan yang runtuh, mencari lubang dari mana udara segar datang.
Sebelum Isuzu meninggalkan ruangan, dia bicara lagi. “Kanie-kun.”
“Ya?”
“…Terima kasih.”
“Tentu.” balasnya tanpa perhatian. Ia terlalu terpaku pada bacaannya hingga ia bahkan tidak melihat wajahnya.
__ADS_1
[Pengunjung taman hari ini: 1,332. (98,789 dari target) / 13 hari tersisa.]
...----------------...
Restoran keluarga di sepanjang Jalanan Fujo
Moffle, Macaron, dan Tiramii tiba di restoran keluarga, ‘Goonies,’ di kota. Secara alami, setelah pertemuan seperti itu, tidak ada yang berminat pergi ke bar yakitori untuk minum. Sebagai gantinya, mereka memakan kroket krim kepiting, kari keema, dan daging doria mereka masing-masing, meminum kopi yang cukup buruk dengan gratis isi ulang, dan mendiskusikan situasi mereka dengan ekspresi suram.
“…Hmm. Sepertinya tidak ada banyak harapan bagus, mii…” Tiramii berbisik saat ia mengetuk dan menggesek smartphonenya. Maskot Pomerania kecil sudah menjelajah dengan sungguh-sungguh di ‘Plush Navi,’ situs pencari pekerjaan untuk para maskot, untuk sementara waktu.
“Kau hanya mencari di dalam kota, kan? Coba di seluruh negara, ron.” maskot domba Macaron menimpali.
“Tapi aku mau tetap di dalam kota, mii… Aku tidak mau pindah terlalu jauh.”
“Maksudmu, kau tidak mau meninggalkan wanita yang emailnya baru saja kau dapat, ron?”
Kecenderungan perayu Tiramii sudah menjadi bawaannya. Itu adalah satu-satunya alasan Macaron bisa membayangkan untuk apa ia ingin tetap di dalam kota.
“Ada banyak taman hiburan bagus di luar sana kalau kau lihat, ron. Mereka menyewa situs pameran lama dengan sangat murah, sedikit menyelinap di bawah meja ke para pemerintah setempat, dan pada dasarnya berakhir dalam kekayaan.”
“Benarkah? Wow, Macaron, kau sangat pintar tentang uang, mii.”
“Hanya contoh dari penyakit yang menembus ekonomi Jepang, ron.”
“Itu terdengar sangat mematikan, mii!”
Macaron melirik Moffle.
Moffle nyaris tidak mengucapkan dua kata sejak insiden di taman—sejak perdebatannya dengan Kanie Seiya—dan sekarang hanya menatap dalam diam keluar jendela. Ia tampak cemberut dan lesu. Bahkan setelah menerima kroket-kroket itu, makanan favoritnya, ia hanya memakannya sekitar setengah sebelum mendorong piringnya menjauh.
__ADS_1
Macaron ingin mengucapkan sesuatu padanya, tapi tidak ada hal cerdas yang datang ke pikirannya. Jadi, dengan tanpa pilihan lain, ia melanjutkan pertukarannya yang hambar dengan Tiramii.
“…Bagaimanapun,” ia menasihati Tiramii, “lupakan wanita itu dan carilah perbatasan baru.”
“Hmm… tapi aku juga tidak mau kehilangan pantat indah Takami…” Tiramii memprotes.
“Kapan tepatnya pantat Takami menjadi milikmu, ron?”
“Maksudku, dalam hal cita-cita masa depan… Aku mau puff dengannya suatu hari, mii…”
‘Puff’ adalah kata Maple Land yang merujuk pada suatu tindakan tertentu. Kami tidak akan mengungkapkan rinciannya di sini, tapi cukup katakan, itu bukanlah sesuatu yang akan kau lakukan di perusahaan yang beradab.
“…Oh! Aku juga penggemar Melody, mii… Jadi aku sungguh ingin tetap di sekitarnya.”
‘Melody’ yang dimaksud adalah ‘Melody Shibazaki,’ sebuah tim sepak bola yang berasal dari kota di sebelah Amagi. Mereka pergi cukup jauh di pertandingan penentuan tahun lalu, jadi mereka cukup populer.
“Itu benar, pertandingan pembuka segera dimulai, ron… Tiramii, kalau aku mendapat tiket, berapa banyak kau akan membayar?”
“Macaron, kau selalu melakukan ini, mii. Kau juga menjual tiket AK47 ke Wanipii dengan harga yang akan membuat scalper tersipu.”
“Itu biaya penanganan. Kompensasi yang sah untuk usahaku, ron.”
Saat itu juga, Moffle berdiri. “…Aku akan pulang, fumo.”
“Oh? Tapi Moffle, apa kau baik-baik saja, mii?”
“Apa aku baik-baik saja? Aku tidak terlalu tahu, fumo…” Moffle meninggalkan pembayarannya di atas meja, kemudian meninggalkan restoran keluarga itu sendiri.
...----------------...
__ADS_1