Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V2 - Chapter 1 Part 2


__ADS_3

“Kupikir menarik perhatian para orang tua adalah pilihan yang bagus.” Seiya menggumam pada Moffle setelah makan siang selesai. Mereka bertemu satu sama lain di aula di gedung administrasi, dan memulai percakapan.


“Moffu. Yah… Aku tidak bisa bilang kau salah, fumo.”


Walaupun ia tersingkir selama perkelahian sebelumnya, luka-luka Moffle tampaknya hanya sedikit. Ia beristirahat di pusat kesehatan selama tiga puluh menit. Lalu, setelah memakan beberapa camilan kroket (makanan favoritnya), ia bangkit seperti seekor Phoenix dan bergegas menuju gedung administrasi untuk membantu di panel wawancara.


“Memang benar tamu kita akhir-akhir ini hanya orang tua, fumo.” Moffle mengaku dalam bisikan tak senang.


Selama periode ini—tepat setelah semester sekolah baru dimulai tapi sebelum Golden Week dimulai—para siswa dan pekerja sebagian besar terfokus pada penyesuaian dengan jadwal baru mereka. Tidak banyak dari mereka yang bisa keluar bersama teman dan keluarga, khususnya jika itu artinya mengacau keadaan dengan mengambil hari libur untuk bermain-main. Karenanya, pengunjung hari kerja yang paling mungkin untuk waktu-waktu ini adalah orang yang tidak suka mengantre. (Kebetulan, kau bahkan bisa naik atraksi arkeolog pemegang cambuk tertentu dengan menunggu kurang dari lima menit selama periode ini—meski beberapa mengatakan hal ini belum terjadi belakangan ini, jadi berhati-hatilah.)


Karena hal ini, Seiya memutuskan untuk mengincar para orang tua; orang-orang yang paling tidak terkekang oleh belenggu tahun fiskal baru.


Bulan lalu—tepat setelah ia memutuskan untuk tetap menjadi manajer pelaksana, sesudah semua kejadian di bulan Maret—Seiya mulai menekan pelayanan mereka ke pusat lansia dan panti jompo. Ia membagikan kupon, menetapkan pembelian kolektif, dan membuat kios makanan ringan menyiapkan rasa bola nasi ringan, sup miso, warabimochi dan houjicha.


Hasilnya, AmaBuri mempertahankan angka yang lebih tinggi daripada biasanya selama periode kurang produktif pada bulan April, meski itu tidak mendekati jumlah yang mereka peroleh selama kampanye 30 yen mereka di bulan Maret.


“Orang tua tetaplah tamu,” ucap Seiya dengan tegas. “Berhenti menggerutu dan bersyukurlah.”


“Aku tahu aku harus bersyukur, fumo,” Moffle mengaku. “Tapi, hanya saja… sangat sulit untuk bicara dengan mereka.”


“Ya…” Seiya tentu bisa bersimpati pada pernyataannya.


Tahun lalu, selama liburan musim panas, ia sudah melakukan perjalanan seorang diri ke Gunma untuk berkelana. Di halte bus di kota sumber air panas yang tidak jelas, ia terlibat percakapan dengan seorang wanita tua yang benar-benar tak ada hasilnya. Ia berkata “Aku datang dari Tokyo,” dan dia berkata “Oh, sungguh pekerjaan yang bagus.” Ia berkata “Kudengar desa ini akan terendam ketika mereka membangun bendungan,” dan dia berkata, dengan malu-malu, “Oh, dasar genit…” Mereka hanya berbicara satu sama lain. Kenapa sangat sulit bagi pemuda dan yang tua untuk mencapai pemahaman?


“Itu wajar kalau hanya masalah komunikasi. Mereka juga banyak mengeluh, fumo. Mereka tersandung sekali di sebuah atraksi, dan berkata ‘Aku nyaris mati; kau akan membayar untuk ini.’ Kami punya beberapa tuntutan hukum yang diajukan karena keseleo ringan, fumo.”


“Hmm…” Seiya merenungkan teka-teki itu.


“Lalu, ada orang tua mesum yang melihat Muse menari-nari dengan kostum miliknya, mengatakan padanya untuk datang dan mulai menggodanya, fumo. Mereka membuang puntung rokok mereka di tanah; mereka memotong antrean. Para orang tua zaman sekarang di luar kendali, fumo.”


“Oh, benarkah?” Seiya tertarik meskipun tidak bermaksud untuk tertarik.


“Saat ini, ada juga orang tua yang sopan di luar sana, fumo. Tapi aku memberitahumu dari pengalaman: orang tua zaman sekarang tidak baik. Terutama para baby boomer itu—”


“Baiklah, sudah cukup. Berhenti sekarang.” Seiya melambaikan tangannya, menghentikan Moffle sebelum ia bisa mengatakan sesuatu yang terlalu kontroversial.


“Baiklah, fumo. …Jadi? Departemen apa yang kita wawancara untuk hari ini?”


“Semuanya.”


“Moffu?”


“Aku memasang iklan dicari di setiap sektor, tapi aku mendapat pelamar lebih sedikit dari yang kuharapkan,” jelas Seiya. “Jadi meski aku berencana untuk melakukan wawancara selama tiga hari… kita hanya mendapat cukup pelamar untuk diwawancarai selama sehari.”


“Itu mengecewakan, fumo.”


“Ayolah, jangan biarkan hal itu menjatuhkanmu,” ucap Seiya. “Kita juga akan mempertahankan iklan dicari sampai minggu depan.”


Wawancara akan diadakan di ruang konferensi ketiga di lantai tiga gedung administrasi. Seiya dan Moffle mengambil tempat duduk mereka menghadap jauh dari jendela, kemudian menyebar salinan resume yang Isuzu kirimkan pada mereka. Isuzu masuk beberapa saat kemudian; dia mengenakan jas abu-abu gelap polos dengan rok ketat.


“Kau terlambat, Sento.” ucap Seiya.


“Aku mandi dan mengganti pakaianku. Aku memutuskan harus memakai sesuatu yang kesekretariatan, dan aku menghabiskan sepuluh menit mendebatkan apa itu. Lebih spesifik, aku tidak yakin apakah aku harus memakai celana, atau haruskah aku memamerkan kakiku dengan rok mini yang ketat. Aku memutuskan untuk memilih rok mini; bukan untuk para pelamar, tapi untuk mengundang—hmmmmmgh!!!” Isuzu menutup mulutnya dengan tangan dan tersentak ke depan.


“Mengulangi ‘hmmgh’ itu lagi,” tinjaunya. “Serius, ada apa denganmu hari ini?”


“K-Kanie-kun. Apa kau sungguh akan bermain peran karakter tidak peka yang dicint—hmmmmgh!!”


“…? Ah, lupakan. Lakukan saja sesukamu.” Seiya melihat jam tangannya, kemudian menepukkan tangannya.


“Oke, ayo kita mulai. Panggil pelamar pertama.”


Seorang anggota pemeran departemen urusan umum yang menunggu mengangguk dan meninggalkan ruang konferensi.


Seiya, Moffle, dan Isuzu—dua siswa SMA dan satu maskot—adalah yang memimpin wawancara. Itu menghasilkan kombinasi juri yang tampak aneh, tapi mereka tidak punya banyak pilihan. Mereka sungguh tokoh taman yang paling utama.


“Itu mengingatkanku…” Seiya membuka percakapan. “Moffle?”


“Ya?” sang maskot membalas.


“Di mana benda Lalapatch milikmu itu?”


“Ah… aku lupa, fumo.”


“Hei!”


“Aku meninggalkannya di lokerku, fumo. Haruskah aku pergi dan mengambilnya?”


Amulet Lalapatch adalah item magis misterius yang diberikan kepada para pegawai AmaBuri. Itu adalah sebuah jimat perak yang kira-kira seukuran koin 500 yen, dengan ukiran pinggang seorang dewi. Saat penduduk alam magis memakainya, orang-orang di sekitar mereka akan melihatnya sebagai manusia biasa. Meskipun terdengar luar biasa, itu sebenarnya bukanlah artefak yang langka dan sulit dicari; itu adalah barang dasar konsumen, biasa dijual di toserba alam magis. Yang termurah harganya setara dengan 980 yen, tapi ini diproduksi di alam magis Tiongkok (apa pun maksudnya itu) dan memiliki kecenderungan untuk meledak dari waktu ke waktu. Mereka disarankan untuk tidak menggunakannya.


“Kita seharusnya memimpin wawancara,” ucap Seiya jengkel. “Bagaimana mereka akan menganggap kita serius jika kita adalah dua siswa SMA dan pria aneh berkostum?”


“Ah, yah, aku tidak akan cemas, fumo. Mereka akan terbiasa.”


“Hmm, kurasa begitu, tapi…”


“Lagi pula, kita tidak punya waktu. Ayo lanjutkan saja, fumo.”


“Kuharap ini akan baik-baik saja…” Seiya khawatir.


Sementara mereka masih berbicara, pintu ruang konferensi terbuka; orang yang masuk adalah seorang mahasiswa dengan aura santai di sekelilingnya.


“Terima kasih atas kesempatannya.” Sang wanita membungkuk santun, lalu duduk di kursi lipat seperti yang diarahkan.


Dia memiliki rambut panjang dan mata yang agak sayu di sudut-sudutnya, Seiya mengamati. Dia mengenakan setelan yang agak tidak pas yang mungkin tidak sering dikenakannya; dia memilih jaket yang satu ukuran terlalu besar untuk menutupi dada besarnya, yang menghasilkan kerutan aneh di sekitar pinggang dan lengannya.


Dia tidak tampak gugup, dan memiliki senyuman ramah yang tenang. Plus dua poin, pikir Seiya.


Dia tampaknya juga tidak terlalu terganggu dengan salah satu pewawancaranya yang adalah sebuah makhluk berkostum boneka. Sama sekali tidak dapat terganggu? Plus satu poin, ia memutuskan lagi.


Moffle melipat tangannya dan bersandar. Isuzu melihat ke arah lantai untuk suatu alasan dan berkedip dengan cepat, seolah dia menerima kejutan besar. Seiya mendengarnya membisikkan sesuatu seperti “Apa mimpiku jadi kenyataan?” tapi ia tidak tahu apa yang dibicarakannya, jadi ia hanya membiarkannya saja.


“Jadi, ah… Adachi Eiko-san,” ucap Seiya, melihat kembali resume miliknya. Tampaknya dirinya yang akan menangani sebagian besar tanya-jawab. “Terima kasih telah melamar menjadi bagian dari pemeran kami.”


“Oh, tidak sama sekali,” balasnya. “Akulah yang berterima kasih.”


Setelah basa-basi yang sedikit konyol, Seiya melihat bagaimana dia mengisi departemen pilihannya.


“Jadi… pilihan pertamamu adalah pemeran atraksi, begitu, dan pilihan keduamu adalah pemeran pintu masuk. Keduanya merupakan pos penting yang banyak berinteraksi dengan tamu. Pernahkah kau melakukan pekerjaan seperti ini sebelumnya?”


“Ya,” dia menegaskan. “Aku bersama dengan agensi bakat hingga bulan lalu.”


“Oh? Dan agensi apa itu?”


“Aku yakin kau belum mendengar tentang mereka… mereka bernama Quattro Productions.” jelas Eiko.


Dia benar; ia belum pernah mendengarnya. Tentu saja, ada ratusan agensi bakat di luar sana; itu mungkin semacam layanan pendamping atau model.


Agensinya gagal mencarikan kerja bagus untuknya, atau dia tidak mendapat cukup permintaan dan mereka tidak memperbarui kontraknya. Yang mana pun, dia kembali menjadi orang biasa. Itu adalah situasi yang cukup umum.


Meski jika dia merasa sedikit tersinggung tentang hal itu, ada peluang dia mungkin terlibat perkelahian dengan rekan kerjanya. Minus satu poin, Seiya memutuskan.


“Er, yah, sepertinya kau belum pernah mendengarnya,” ucap Eiko-san dengan tawa kecil. Itu tidak terdengar seperti tawa merendahkan diri; dia hanya tampak mencoba untuk memperbaiki keadaan setelah melihat ia tidak yakin bagaimana caranya menanggapi. Dia perhatian, kalau begitu. Plus dua poin lainnya, pikirnya, meningkatkan skornya.


“Ah, maafkan aku. Aku tidak berpendidikan di bidang itu,” Seiya meminta maaf. “Agensi seperti apa mereka? Pemodelan, layanan pendamping…”


“Ah. Mereka memproduksi video, sebenarnya.” Eiko memberitahunya.


“Oh?” tanyanya. “Video, ya? Jenis apa?”


Dengan senyum sopan, dia membalas: “AV.”


“…………apa?”


“…………er?”


“…………fumo?”


“AV.” ucap Eiko.


Ada keheningan panjang. Ketiga pewawancara serempak bergerak mundur, kursi mereka berderak karena kekuatannya. Eiko-san tetap tenang seperti biasa.


“Um…” Seiya tergagap. “I-I-Itu adalah… p-p-pekerjaan y-yang mengesankan… s-s-sangat… mengesankan…”


“Terima kasih.” ucap Eiko dengan senyum berseri-seri.


“Y-Y-Yah… em…” ia kebingungan, “H-h-hanya untuk memastikan, k-kau bilang… AV?”


“Ya,” tegasnya. “Aku membuat sekitar sepuluh.”


“Se-Sepuluh?!” Meski memiliki sejarah panjang sebagai seorang aktor, Seiya tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak menganga, maupun agar suaranya tidak pecah. Apa? pikirnya tidak percaya. Apa dia serius?


AV? Bukan ‘advanced vehicles,’ kan? Wanita muda dan manis ini, dengan aura misteriusnya yang bahkan membuatku merasa tenteram dan nyaman di dalam? Tipe ‘tetangga kakak perempuan’ yang terhormat dan elegan ini yang diimpikan setiap pria setidaknya sekali dalam hidupnya? Tidak mungkin, pikir Seiya.


Wanita seperti dirinya. Membuat video semacam itu?


Tidak mungkin, katanya dalam hati. Itu tidak mungkin. Apa yang salah dengan dunia ini?! Seiya bisa merasakan pandangannya pada dunia hancur berkeping-keping di sekelilingnya.


Isuzu membeku, matanya selebar lepek, sementara Moffle mencolek samping Seiya dengan tangan hewannya dan mendesis dalam bisikan pelan: “Seiya… Seiya!”


“A-Apa?” Seiya balik berbisik.


“Tanya nama panggungnya, fumo. Aku ingin tahu, fumo.”


“Aku tidak bisa menanyainya itu!” Seiya membalas dengan suara tercekik. Ia lalu mulai berpikir rasional lagi dan memberi Eiko-san sebuah senyuman kaku.


“Y-Ya, um… maafkan aku. I-Itu adalah sejarah y-yang cukup tidak biasa… itu s-s-sedikit m-mengejutkanku…”


“Begitu,” ucapnya seolah menyesali. “Aku cukup sering mendengar itu…” Kali ini, ada sedikit kesedihan di dalam senyumannya. Ekspresi itu adalah masalah; ada sesuatu yang samar-samar erotis tentang kerentanan yang diperlihatkannya. Itu membangkitkan keinginan samar untuk melindunginya, dan kemudian meminta berbagai hal sebagai gantinya.


“Oh, tapi tak perlu kuatir… aku sudah terbiasa.”


“T-Terima kasih.” Seiya membalas.


Lalu ia mendengar Moffle berbisik di telinganya lagi: “Seiya.”


“A-Apa?!”


“Kendalikan dirimu, fumo. Kau adalah pewawancaranya. Jangan berterima kasih padanya, fumo!”


“T-Tapi…” Seiya mencoba membela diri.


“Kau harus menekannya dalam hal ini, fumo,” Moffle menasihatinya dengan sangat. “Segera dapatkan nama dan karya debutnya, fumo!”


“Kau diamlah!” Meski begitu, Seiya tidak tahu apa yang harus ditanyakan padanya selanjutnya; apa pun yang ia perlu tahu untuk pekerjaan bisa dengan mudah diartikan sebagai pelecehan seksual. Misalnya…


Contoh satu:


“Jadi kau sedang kuliah sekarang, benar?”

__ADS_1


→ “Dan apa yang teman sekelasmu pikirkan tentangmu, eh? Aku bertaruh mereka selalu menelanjangimu dengan mata mereka… Heh heh heh…”


Contoh dua:


“Upahmu dimulai dari 750 yen selagi kau berlatih, apakah itu tidak apa-apa?”


→ “Aku tahu ini terdengar rendah, tapi aku yakin kau bisa mendapatkan beberapa bonus di sana-sini… Heh heh heh…”


Contoh tiga:


“Apa kau menikmati menunggang kuda?”


→ “Ya, sayang. Aku yakin kau suka ‘menunggang,’ benar? Aku sendiri adalah kuda jantan. Mau mencoba denganku kapan-kapan? Heh heh heh.”


Sialan! pikirnya. Aku benar-benar terkunci! Sebutir keringat menuruni pelipis Seiya.


Eiko-san terus menunggu, dengan tenang, pertanyaan berikutnya. Waktu berlalu dalam keheningan canggung.


Apa yang harus kulakukan? Aku—Aku tahu, aku akan membiarkan Sento Isuzu menangani ini, Seiya memustuskan. Dia seorang wanita, dia selalu tenang, dan dia akan mengajukan semua pertanyaan yang tepat untuk menentang pria bodoh di sekitarnya. Ia menoleh ke arah Isuzu.


“…………” Wajahnya pucat, tangannya menutup mulutnya, bahunya gemetar.


“S-Sento?” ia bicara dengan hati-hati.


“…hmmmmgh!” Dia memandang ke atas, menyingkirkan tangannya, membuka lebar mulutnya seakan berbicara… lalu menutup matanya rapat-rapat, menarik telinga Seiya, dan menariknya dengan kasar ke arahnya.


“Aw!” tolaknya. “Hei, apa yang kau—”


Bibirnya cukup dekat untuk menggigit cupingnya, dan ia bisa merasakan napasnya di lehernya saat dia berbisik padanya, dengan sungguh-sungguh: “Kanie-kun. Jangan meminta bantuanku. Aku berjuang lebih darimu saat ini, untuk tiga alasan ini: Satu, dia terlihat persis seperti pelamar yang kulihat di dalam mimpiku pagi ini. Dua, kau tampak sangat menyukainya. Tiga, ketika dia menyampaikan riwayatnya, kau terguncang lebih parah daripada yang pernah kulihat sebelumnya!”


“A-Apa?” ia balik berbisik.


“Aku lebih baik tidak mengatakan lebih dari itu, tapi aku sepertinya masih berada di bawah pengaruh kacang kebenaran, jadi tampaknya aku harus. Aku menganggapmu sebagai seorang pria kompeten yang tidak mudah terguncang, dan melihatmu menjadi tidak berdaya di depan tipe kakak perempuan berdada besar dengan segala kesopanan dan pengalaman hidup yang tidak kumiliki, juga riwayat seksual sekelas kapal tempur superdreadnought, membuatku sangat marah. Ya, aku bilang marah. Kau akan menerimanya sebagai sekretarismu sementara aku—” Dia tiba-tiba mencubit hidungnya dan mengerang lagi. “Hmmmmmmmgh!!”


“S-Sento?” Seiya kembali terkejut.


Dia terengah-engah, sikunya ditempatkan di meja panjang dan kepalanya tertunduk sementara mereka semua memandang dengan prihatin.


“Kenapa tidak tanya… alasannya melamar?” akhirnya dia berbisik dengan suaranya yang habis.


“Y-Ya… Ya, ide bagus.”


Ya, tanya alasannya melamar, ucap Seiya dalam hati. Itu tidak mungkin menjadi pelecehan seksual.


“Moffu. Segera tanyakan nama panggungnya!”


“Tutup mulutmu!” Seiya berdeham keras, kemudian kembali ke Eiko-san. “Ah… maafkan aku tentang itu, Adachi Eiko-san.”


“Tentu.” dia membalas dengan ketenangan yang teguh.


“Aku tahu ini pengalaman yang agak sulit,” Seiya meminta maaf lagi, “tapi satu pertanyaan terakhir… bisakah aku bertanya kenapa kau mau bekerja di taman ini?”


Ya, itu adalah satu hal yang tidak bisa ia mengerti. Kenapa wanita dengan riwayat sepertinya, yang bisa menghasilkan sekumpulan uang di kehidupan malam jika dia mau, memilih bekerja untuk taman hiburan jelek ini?


“Ah. Coba kulihat…” Eiko-san tampak mempertimbangkan pertanyaannya. Dia meletakkan jari di bibir indahnya dan memandang langit-langit; ada sesuatu yang sangat menggoda tentang tingkah laku ini.


Apa yang dipikirkannya? Ia bertanya-tanya apakah ia harus menggunakan sihirnya. Sihir yang ia peroleh dari putri kerajaan Maple Land, untuk membaca pikiran seseorang sekali saja…


Tidak… Ini bukan waktunya, ia memutuskan. Kalau mereka merekrutnya, dan dia mulai bekerja dengan mereka, akan lebih baik menyimpannya untuk waktu yang lebih menguntungkan. Sebut saja licik jika kau ingin, tapi Kanie Seiya bukanlah seorang pria yang membuang granatnya.


“…erhh,” ia berbisik. Isuzu menatap ke arahnya dengan cemberut. Bisakah dia tahu apa yang ia pikirkan? Tidak, tidak, dia setanggap itu…


Beberapa waktu kemudian, Eiko-san kembali berbicara: “…Aku hanya tidak berpikir pekerjaan terakhirku adalah untukku. Aku memang menikmatinya, tentu saja, tapi aku ingin melihat senyum orang-orang yang kuhibur. Itulah kenapa aku melamar di sini.”


“Ah… hahh.” ucap Seiya tidak pasti.


“Apa itu tidak cukup?” Eiko ingin tahu.


“Yah, U-um…” Ia merasakan air mata terbentuk di matanya, tapi ia menahannya. Wanita yang bisa memberi jawaban yang begitu jelas… bagaimana, kapan, kenapa? Dunia menjadi semakin tidak dapat dimengerti. Frasa ‘Aku menikmatinya, tentu saja’ adalah serangan paling traumatis dari semuanya—dia mengenakan busana sehari-hari ketika mengatakan itu. Untuk suatu alasan, itu hanya membuatnya merasa lebih sengsara. Sungguh, ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, bagaimana ini mungkin? Sialan…


Pokoknya, tenang saja.


Seiya menarik napas dalam-dalam, dan teringat untuk mengatakan: “Terima kasih banyak. Kami akan segera memberitahumu tentang keputusan kami.”


Setelah Eiko-san meninggalkan ruang konferensi, Moffle segera mengecam Seiya. “Kenapa kau tidak menanyakan nama panggungnya, fumo?! Kau adalah manajer terburuk yang pernah kulihat! Aku sangat kecewa! Aku kehilangan harapan karena kau mau menjadi seorang ‘lelaki terhormat’!”


“Aku tidak bisa menanyakannya!” Seiya membalas. “Dan kalau kau begitu kecewa, pergi gantung dirimu!”


“Hah! Lihat tubuhku, fumo. Kau tidak bisa membunuhku dengan hukuman gantung,” Moffle membalas dengan menghina. “Aku hanya akan menjuntai di sana terlihat seperti teru-teru bozu!”


“Kau menyombongkan diri atau menghina dirimu sendiri?” Seiya ingin tahu.


“Moffu…” Moffle mengabaikannya, lalu memotret resume Adachi Eiko dengan ponselnya dan mengirimnya ke suatu tempat, disertai dengan sebuah pesan singkat.


“Bisakah kau tidak memotret resume miliknya?” pinta Seiya dengan tajam.


“Lagipula, ke mana kau mengirimnya?”


“Ke Tricen. Aku bertanya apa ia mengenalinya, fumo. Ia tahu banyak tentang AV.”


Lebih banyak hal yang tidak ingin Seiya ketahui. Jadi karakter triceratops chibi itu tahu banyak tentang AV, ya? Menjijikkan. “Begini, kau…”


“Sekarang aku hanya menunggu balasan, fumo.”


Tidak mungkin ia bisa mengenalinya dari foto kecil di mana dia menghadap kamera tanpa riasan, bagaimanapun. Lagi pula, semua wanita cantik cenderung terlihat sama.


“Hei!” Seiya keberatan. “Sungguh hal yang kasar untuk dikatakan.”


“Meski begitu, aku tidak sepenuhnya marah,” dia termenung. “Mengetahui bahwa kau juga punya ketertarikan pada hal-hal semacam itu… Kalau kau suka, aku bisa menunjukkan padamu—hmmmmmgh!!!” Isuzu mendekapkan tangannya ke wajahnya dengan semua kekuatan yang bisa dikerahkannya, lalu membenturkan dahinya ke meja.


Seiya mundur dengan cepat, merasa terganggu oleh perilakunya. “S-Sento?”


“Jangan… khawatir…” ucap Isuzu lemah.


Dia benar-benar bertingkah aneh hari ini, pikir Seiya curiga. Dia biasanya sangat tenang dan menyendiri—ini sepertinya tidak seperti penyakit fisik dan lebih seperti gangguan emosional.


Tepat saat itu, ponsel Moffle berdengung. “Sudah ada balasan dari Tricen, fumo. Hmm… Ya, aku paham… fumo, fumo…” Moffle menatap lekat-lekat layar LCD dan mengangguk tajam. Kemudian ia menghela napas panjang dan menatap ke kejauhan. “…Yah, panggil yang berikutnya, fumo,” ia menyatakannya sembari menyimpan ponselnya.


“…Apa ia mengenalinya?” tanya Seiya.


“Mengenali siapa?” tanya Moffle polos.


“Yah… Eiko-san.”


“Ya, ia tahu nama panggunganya, fumo. Jadi?”


“Y-Yah…”


“Ia tahu label dan karyanya yang paling terkenal.” Moffle berucap dengan apresiatif. “Tricen itu, fumo. Ia selalu berpengetahuan luas dan cepat bertindak! Nah, ke pelamar berikutnya.” Saat Moffle membalik resume pelamar berikutnya, Seiya menangkapi sudut mulutnya melengkung ke atas.


Dasar bajingan. Ia tahu dan ia tidak berencana untuk memberitahuku, Seiya tersadar. Ia tahu aku tidak bisa menyatakan diri begitu saja dan bertanya padanya! Dan terlebih lagi, ia langsung berpindah ke pelamar selanjutnya! Maskot ini benar-benar busuk!


“Para lelaki dan aku mungkin akan mampir ke kedai penyewaan malam ini, menjadi sedikit mabuk dan waswas, fumo,” Moffle berkomentar pada entah siapa secara khusus. “Ahh, itu akan menyenangkan. Aku tidak sabar, fumo.”


“Ngh…” Seiya mengerang.


“Mau tahu, fumo? Mau tahu, fumo?”


“Guh… tentu tidak! Panggil pelamar berikutnya!” Seiya memerintah sang pegawai urusan umum, mengulurkan tangan kanannya seperti seorang kapten kapal tempur luar angkasa tertentu.


Saat itu juga, Isuzu mengucapkan sesuatu yang luar biasa. “Aku ingin tahu. Tuan Moffle, beritahu ak—hmmmmmmmgh!”


“S-Sento?” Seiya terkejut.


Mata Moffle bersinar dengan keingintahuan. “Oh-ho? Pengawal kerajaan kita menyatakan ketertarikan pada hal yang paling tidak mungkin. Aku ingin tahu kenapa, fumo.”


“J-Jelas, untuk melihat apakah mempekerjakannya akan membawa keluhan tentang taman kita… Maksudku, untuk mempelajari rahasia bagaimana dia memikat pria begitu mudahny—hmmmmmgh!” Untuk kesekian kalinya sekarang, dia mencubit hidungnya dan membenturkan kepalanya ke meja.


Mungkin dia benar-benar tidak enak badan? Dia mengatakan dirinya merasa sakit selama kekacauan sebelumnya… Seiya mulai merasa sangat khawatir. “Hei… apa kau baik-baik saja?”



“Aku sama sekali tidak baik-baik saja.” Isuzu menatapnya, tangannya menekan dahinya yang terluka. Ada air mata di matanya. “Aku belum pernah merasa seperti ini sejak masih TK, harus pergi ke kamar mandi tapi tidak bisa mengatakannya dan dengan putus asa harus mengencangkan—hmmmgh!”


Seiya baru mulai berpikir ia harus memanggil ambulans ketika ada ketukan di pintu.


“Permisi! Maaf aku terlambat!” Pelamar kedua masuk.


Dia adalah gadis seusia SMA, dengan rambut berwarna cokelat kemerahan dan mata besar yang berbinar. Gerakannya lincah dan energik.


Wajahnya memerah dan dia terengah-engah saat dia berjalan ke meja pewawancara. “Aku Bando Biino! Senang bertemu denganmu!”


Dia menyatakan dirinya dengan jelas dan gamblang. Plus dua poin untuk itu, pikir Seiya.


Isuzu membisikkan sesuatu tentang sebuah mimpi lagi, tapi Seiya mengabaikannya. Ia memutuskan lebih baik tidak berpikir terlalu keras mengenai apa pun yang ia ucapkan hari ini.


Bando Biino mengenakan seragam sekolah, sebuah kardigan berwarna kuning kecokelatan di atas model pelaut kuno. Berdasarkan resume miliknya, dia adalah siswi tahun pertama di SMA di kota yang sama tempat Seiya tinggal.


Dia ceria dan imut, dengan lekuk tubuh yang bagus, dan sebuah aura yang mungkin akan disukai oleh para tamu. Plus satu poin.


Masalah utamanya adalah—


“Um… Bando Biino-san. Sebelum kita mulai, bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?”


“Tentu!”


“…Ada apa dengan noda darah itu?”


Ada sebuah noda merah kecil yang membentang dari sisi kiri hingga pinggulnya. Tunggu—itu bukan noda darah. Itu adalah warna gemerlap darah segar yang berkilau. Itu terus merembes, saat ia mengamati, lebih jauh ke dalam kain kardigannya.


Minus 200 poin.


“Ooh, maaf! Aku hanya terburu-buru…” Biino mencoba menutup pinggangnya yang ternodai oleh darah, dengan malu-malu.


‘Malu-malu’ adalah reaksi yang tak terduga… Dan apa hubungannya terburu-buru dengan itu?


“A-Apa kau melukai dirimu sendiri?”


“Ah! Aku baik-baik saja, aku baik! Ini bukan apa-apa, sungguh!” Biino melambaikan tangannya cepat-cepat. Tetesan darah jatuh dari ujung jarinya, membuat bintik merah tidak menyenangkan di lantai ruang konferensi.


Seiya tersentak, Isuzu mengerutkan alisnya, dan Moffle memiringkan kepalanya dengan serius.


“Er… apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Seiya.


Terpikir olehnya bahwa Biino tidak bersemangat seperti yang ia pikir sebelumnya. Napasnya tidak teratur, kakinya sedikit gemetar, dan dia semakin pucat seiring waktu.


Pelamar sebelumnya, Eiko-san, tentu meninggalkan sebuah kesan—tapi Biino-san menghancurkanya dalam arti yang benar-benar berbeda.


“Kalau kau tidak keberatan… menjelaskan bagaimana kau bisa terluka?”

__ADS_1


“O-Oh, tidak perlu! Aku tidak mau membuat… alasan… kenapa aku terlambat! Tolong… hahh… hahh… lanjutkan wawancaranya!”


Itu adalah waktu yang bodoh untuk mulai berlagak seperti pahlawan di manga shonen. ‘Aku tidak mau membuat alasan’ adalah sikap yang mengagumkan untuk dimiliki, tapi pendarahan yang masih berlanjut semacam menariknya keluar dari alam itu.


Ia beralih ke Isuzu dan berbisik, “Bagaimana menurutmu?”


(Aku tidak yakin. Kupikir dia mencoba menggunakan efek jembatan gantung untuk membuatmu peduli padan—hmmmmgh!)


Dan dia melanjutkan ritual anehnya lagi (rincian dihilangkan untuk kenyamanan).


Ya, benar, pikir Seiya. Lupakan saja.


Kemudian ia berbisik ke Moffle, “Bagaimana menurutmu?”


(Bagiku itu terlihat seperti luka tusuk. Dia mungkin kehilangan sekitar satu liter darah. Mempertimbangkan tubuhnya, dia kemungkinan akan tetap sadar dan menjawab pertanyaan selama sekitar sepuluh menit.) Komentarnya praktis namun anehnya tidak membantu.


“A-Ayo panggil ambulans untukmu…”


“Tidak, jangan!” Biino bersikeras.


“Aku tidak mau menyebabkan masalah karena luka kecil bodoh. Hi… hi… Hidupku bergantung pada wawancara ini!”


Oh, demi apa… Bagaimana mungkin hidupnya bergantung pada taman hiburan jelek ini?


(Dia tentu bergairah, fumo. Apa kau pikir ini… kagebara?) Moffle berbisik dengan gemetar.


Kagebara adalah sebuah tindakan di mana seorang samurai akan memperingatkan tuannya dengan menggorok perutnya sendiri, meminta pertemuan dengan seorang pembesar, dan kemudian sekarat di depan matanya.


Itu bukanlah sesuatu yang akan kau lakukan di wawancara kerja paruh waktu. Bahkan kalaupun kau mendapat pekerjaannya, kau akan mati.


(Aku yakin… itu bukan kagebara.)


(Yah, kupikir juga tidak… Hmm?) Saat itu juga, suara panggilan masuk berbunyi dari smartphone Moffle, yang ia letakkan di atas meja. (Ini dari pusat keamanan, fumo. Tunggu sebentar.)


Ia menyodorkan satu tangan hewan untuk membungkam Seiya, lalu mulai terlibat dalam sebuah percakapan sunyi. Sementara itu, Biino membungkuk dan memohon pada Seiya.


“Tolong. Tolong… ngh… wawancaranya… Blugh…” Darah segar mengalir dari sudut bibir indahnya.


(Kelihatannya dia mengalami pendarahan dalam, fumo. Lebih baik bergegas,) ucap Moffle, memotong sebentar panggilan teleponnya untuk memperingatkannya.


(B-Bergegas?!)


“Cepatlah! A-Ajukan pertanyaan padaku… tolong! Selagi aku masih sadar!”


“B-Benar…” Takut dengan kegilaan iblis di mata Biino-san, Seiya mendapati dirinya menurut. Ia berbisik ke Isuzu, “panggil ambulans,” lalu memulai wawancara yang sepenuhnya sepintas.


“Jadi, um… untuk waktu kerja pilihanmu, k-kau bilang setelah pukul 4:00 sore di hari kerja, benar? Kau terutama akan bekerja pada shift penutupan—”


“Blugh!”


“Um?”


“Blugh… khlugh… Aku b-bisa bekerja… setelah pukul 4:00!” dia membenarkan melalui jari-jari bernoda darah yang menutupi mulutnya.


“Ku-Kurasa aku harus bergegas. Pekerjaan yang kau lamar… kontrol tamu dan berdagang. Kenapa kau menginginkan posisi itu?”


Kontrol tamu sebagian besar berarti mengarahkan dan membimbing para tamu, sementara berdagang berarti bekerja di toko. Keduanya merupakan pekerjaan dengan banyak kontak manusia.


“Ya… huff… huff… Aku mau melihat… hurgh… para pelanggan… blugh! Tersenyum…” Butir-butir keringat menempel di wajah pucatnya saat dia membuka giginya dengan putus asa.


Wajah seperti itu tidak akan membuat siapa pun tersenyum—kecuali mungkin musuh bebuyutannya.


“Kau juga menanyakan tentang penitipan anak. Masa percobaan untuk yang satu itu lamanya dua kali lipat dari standar… apa itu tidak apa-apa?”


“T-Tentu… Aku… hlugh… Aku suka melihat… hng… anak-anak… guh… yang bahagia!”


Ekspresinya benar-benar mengerikan. Dedikasinya mengagumkan, tapi melihat wajah Biino saat ini akan membuat 100% dari anak-anak menangis, pasti.


“Di-Dimengerti.” Bahkan untuk memperpanjang percakapannya, ia tidak bisa memikirkan apa pun untuk ditanyakan yang akan memberitahunya lebih dari yang sudah ia ketahui. Ia sungguh berharap ambulans akan segera tiba.


“Kami akan memberitahumu jika kau mendapatkan pekerjaannya atau tidak dalam beberapa hari. Untuk saat ini, tolong dapatkan pengobatan!”


“A-Aku tidak bisa!”


“Dapatkan pengobatan, sialan!”


“M-Maafkan aku… Aku masih punya sangat banyak hal… uhuk! Untuk diceritakan… blugh! Tentang diriku!”


“Uh…”


Biino memegang lututnya, gemetar, bahunya naik-turun. Saat itulah Moffle menyelesaikan panggilannya dengan pusat keamanan dan menepuk bahu Seiya.


(Apa?)


(Menurut keamanan, ada insiden penusukan di Stasiun Amagi sebelumnya. Orang gila menikam seorang gadis SMA di depan stasiun…)


(Apa-apaan!)


(Penyerangnya tampaknya sudah ditahan, tapi gadis yang ditikamnya hanya mengatakan ‘Aku baik-baik saja’ berulang kali, lalu mengendarai sepeda kumbangnya, fumo.)


(Be… Begitu…)


(Ini tampaknya ada di berita saat ini, fumo. Itulah kenapa keamanan menjadi khawatir dan meneleponku…)


Ah, itu menjelaskan semuanya.


Seiya bisa mengagumi keberanian yang diperlukan untuk mengebut menuju sebuah wawancara, bahkan setelah diserang oleh seorang pembunuh. Plus satu poin. Tapi dia bisa sedikit mempertimbangkan tentang posisi di mana dia menempatkan mereka. Minus 100 poin.


Pokoknya, untuk saat ini, mereka hanya perlu berurusan dengan situasi aneh di mana mereka berada.


“Um… Bando Biino-san. Kami paham bahwa kau bersemangat tentang pekerjaannya. K-Kami tidak bisa menjamin kami akan mempekerjakanmu, tapi kau bisa merasa optimis tentang kesempatanmu.”


“Te-Terima… hnn… kasih… gluh!”


“Jadi, tolong naiklah ambulans sekarang juga. Maafkan praduga kami, tapi kami sudah menelepon 119. Ayolah. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Ah… jangan menatapku dengan mata hampa itu, itu akan menghantui mimpi burukku. Oh, ayolah…”


Tidak bisa terus berbicara dengannya dari meja pewawancara, Seiya berdiri. Ia nyaris tidak berhasil menangkap Biino saat dia terjatuh dari kursi lipat.


“Maaf… maaf…” Biino mengulanginya dalam lengan Seiya yang berlumuran darah.


“Apa ambulans itu sudah di sini? Ayo bawa dia keluar. Hei, Moffle, tinggalkan teleponnya dan bantu aku!” ia meneriaki Moffle, yang sedang berbicara di smartphonenya sekali lagi.


“Tunggu, fumo. Aku mendapat telepon lain dari pusat keamanan…”


“Oh, ayolah!”


“Aku tidak… hrr… mau… terlambat…”


“Ya, kau s-sangat mulia…”


“Tapi aku harus meminta maaf… untuk satu hal lagi…”


Saat itu juga, pintu ruang konferensi terbanting membuka.


Orang yang masuk adalah seorang pria setengah telanjang yang membawa pisau dapur.


“Huh? Apa?”


“Fiuh… fiuh…”


Ia terengah-engah. Pisaunya berlumuran darah. Ia tidak mengenakan apa pun selain pakaian dalam dan stoking yang menutupi wajahnya. Ia adalah, untuk lebih mudahnya, orang mesum—dan bukan jenis orang mesum yang halus.


Inikah pelamar mereka yang berikutnya? Tidak, tentunya tak ada seorang pun yang akan datang untuk wawancara berpakaian seperti ini… Apa-apaan—


“Seiya, Seiya.”


“A-Apa?”


“Aku mendapat update dari pusat keamanan. Laporan sebelumnya salah. Pria yang menikamnya masih belum ditangkap, fumo.”


“A-Apa?”


“Dan juga, orang yang mencurigakan baru saja menerobos pintu masuk pegawai, fumo. Yah sebenarnya, penjaganya terlalu takut untuk mengehentikannya…”


Seiya menatap Biino-san. Dia mengangguk lemah.


“Maafkan aku… Ia adalah kakak laki-lakiku…”


“Ka-Kakak laki-laki?”


“Ia tidak… mau aku punya pekerjaan, jadi…”


Dan karena itu dia menikamnya? Itu tidak masuk akal, pikir Seiya. Dan… apa ia memelototiku dari balik stoking itu? Apa ia mendaftarkanku sebagai musuh karena memegang adik perempuannya?


“Fiuh… fiuh…” Bahunya naik-turun, pria setengah telanjang maju selangkah.


“Um, oke, tenanglah. Tenanglah, tolong. Bisakah kau tenang?” Seiya mendesak.


“Fiuh… fiuh…” Pria setengah telanjang mengangkat pisaunya.


“Ah, um, apa kau akan menikamku, kalau begitu? Menikamku? Aku akan memperingatkanmu. Itu akan menjadi kerugian bagi umat manusia… juga aku cukup bagus dalam pertarungan, kau tahu. Yah, aku belum pernah terlibat perkelahian serius, tapi aku alami dalam segala hal yang kucoba. …Aku sangat kuat. Kurasa aku kuat. Aku mungkin kuat. Yah, kau mungkin mau bersiap-siap…”


“Apa kau mengutip lirik Sada Masashi? Kau pasti percaya diri, fumo.”


“Diamlah! Ia datang!”


“Fiuuuuh!” Pria itu menyerbu maju, mengayunkan pisau dapurnya. Ia mengincar Seiya.


“Wow, wow, wow!” Dengan Biino yang digendong di satu tangan, ia menggunakan kursi lipat seperti perisai bersama yang lainnya.


Sedetik berikutnya, ia merasakan sebuah benturan kuat.


Pisaunya telah menembus bagian belakang kursi lipat—beberapa sentimeter ke satu sisi dan itu akan menusuk lehernya.


“Kenapa, kau…” Seiya memutar kursi dan menendang sang pria. Pria itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, terpaksa melepaskan pisau yang tertancap jauh di kursi.


“Akankah kau melakukan sesuatu?!”


Merespons teriakan Seiya, Isuzu mengeluarkan musketnya dan menembakkan empat peluru ‘Rasa Sakit dari Menyandungkan Jari Kelingkingmu ke Meja Rias’ padanya. Saat orang gila itu meringkuk kesakitan, Moffle dengan cepat menutup jarak di antara mereka. Sebuah rangkaian dua pukulan cepat diikuti dengan sebuah uppercut dihantarkan.


“Fiuh…” Pria itu terlontar sangat tinggi hingga hampir menabrak langit-langit, lalu mendarat hingga benar-benar tak bergerak di lantai di bawahnya. Pada saat itu, Moffle sudah membelakangi pria itu dan menyeka tangan hewannya dengan sapu tangan.


Pria dalam pakaian dalamnya terbaring diam.


“Moffu… ia akan makan melalui sedotan untuk sementara waktu, fumo.” Itu adalah pernyataan dalam daftar ‘100 pernyataan teratas yang ingin kukatakan suatu hari nanti’ setiap pria, dan Moffle mengucapkannya dengan sangat keren.


“Kalian tahu… melihat kalian berdua, terkadang aku berpikir kalian seharusnya keluar dari taman hiburan jelek ini dan mulai bekerja untuk kontraktor militer atau semacamnya…” Seiya mendesah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2