Amagi Brilliant Park

Amagi Brilliant Park
V1 - Chapter 4 Part 3


__ADS_3

Hari berikutnya, segalanya menjadi lebih kacau. Pergantian tempat pertandingan sudah diumumkan di semua platform yang ada pada malam sebelumnya, dan tidak ada jalan untuk kembali sekarang.


Area belakang panggung penuh sesak, tidak hanya dengan staf negosiasi, tapi juga dengan para pekerja yang membawa bahan-bahan untuk persiapan sehari sebelumnya. Juga tidak ada cukup tempat parkir untuk semua kendaraan yang dibutuhkan, yang mana menyebabkan isu kemacetan.


Terlepas dari semua kekacauan itu, taman masih harus tetap bekerja dalam urutan normal. Bahkan para pemeran yang sudah menghabiskan sebagian besar waktu mereka di atas panggung dikerahkan ke stadion sebagai ‘bala bantuan’ setiap mereka punya waktu bebas.


Setelah membagikan balon untuk para tamu yang sampai di Alun-Alun Masuk, Macaron kembali ke belakang panggung, hanya untuk segera diperintah, via radio, untuk menuju sayap-B stadion dan membantu Konstruksi Nakamura. Ia berlari terburu-buru, dan salah satu pekerja memanggilnya dan memintanya membantu kios yang mereka bangun.


“Kenapa aku harus melakukan hal ini?” ia bergumam pada dirinya sendiri, selagi menaiki tangga dengan alat yang berat. Ada antrian untuk lift layanan, jadi ia diberitahu untuk menggunakan tangga jika bisa.


“…Kau tahu, aku senang dengan bantuannya, bocah. Tapi tidak bisakah kau melepas kostummu?” pekerja lansia yang membawa alat itu bersamanya bertanya.


Ah, benar juga. Aku lupa memakai Amulet Lalapatch. Jika ia memakainya, ia akan muncul sebagai staf manusia biasa, tapi sayangnya ia meninggalkan amulet itu di ruang loker. Yah, itu tidak penting sekarang.


“Motto taman,” jawabnya singkat. “Tidak ada siapapun di dalam kostum, ron.”


“Mendengarkanmu, berbicara seperti kau itu hebat,” sang pekerja mencibir. “Ini bukanlah Digimaland dan kau bukanlah Mackey, kau tahu?”


“Aku sangat benci mendengar nama itu, ron.”


Ia baru saja selesai mengangkut alat berat dengan beratnya ke kios ketika ia melihat Tiramii terhuyung-huyung. Maskot merah muda kecil membawa sebuah gulungan kabel listrik besar, dan tampak siap tumbang kapan saja. “Mii… mii… sangat berat, mii!”


Dari arah lain datanglah Wanipii, yang sedang mendorong gerobak. Itu dipenuhi dengan kotak kardus, yang, gantinya, penuh dengan barang untuk dijual. “Minggir, minggir! Minggir atau kubunuh kau, pii!”


Wajar bagi Wanipii untuk membantu—ia tidak pernah punya banyak hal untuk dilakukan di atas panggung, bagaimanapun. Tapi bagi bintang utama seperti dirinya dan Tiramii membagi waktu mereka… apa semua akan baik-baik saja di taman ini?


Saat itu juga, Moffle berjalan lewat. Segalanya sangat kacau hari ini sehingga ini adalah pertama kalinya Macaron melihatnya. “Hei,” ucapnya, dengan salam.


“Moffu.” Moffle membawa papan klip, dan terlihat sedang menjalankan semacam pemeriksaan. Mungkin ia ditugaskan untuk mengarahkan personil pendukung yang disediakan taman? “Hanya itu yang kami butuhkan darimu, Macaron,” ucapnya. “Kembali ke atas panggung, fumo.”


“Aku berlari jauh-jauh ke sini, membawa satu benda, dan sekarang kau mau aku kembali? Yang benar saja, ron…” Macaron mengeluh, tapi Moffle tidak terpengaruh.


“Segalanya kacau saat ini, fumo. Bertahanlah sampai besok.” ucapnya, dengan mudahnya seperti seseorang yang membicarakan cuaca.


“Kau tampaknya agak pendiam, ron.”


“Benarkah, fumo?”


Stadion AmaBuri menggantikan Stadion Kajinomoto, yang sudah dibuat tidak bisa digunakan karena kebakaran. Jika orang-orang yang menghadiri pertandingan dihitung sebagai pengunjung taman, mereka akan mendapatkan puluhan ribu pengunjung dalam satu malam. Sebuah keajaiban seolah telah jatuh ke pangkuan mereka. Seluruh pemeran merasa senang. Bahkan Macaron tidak bisa menghentikan jantungnya dari berdebar dalam kegembiraan.


Namun, Moffle tampaknya tidak memiliki perasaan yang sama. Ia sepertinya hanya menjalankan pekerjaan yang diberikan padanya, benar-benar tanpa perasaan. Itu tidak masuk akal.


Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama, tentu saja, jadi Moffle tampaknya menebak apa yang Macaron pikirkan, dan mengangkat bahu.


“Yah, kita bisa bicara tentang ini lain waktu, fumo. Untuk sekarang, fokus saja pada pekerjaanmu.” ucapnya sederhana, lalu pergi.


Pekerjaan berlanjut bahkan setelah taman tutup untuk hari itu: rumputnya terawat dengan teliti; pasokan medis disimpan di rumah sakit yang sebelumnya kosong; berbagai poster iklan sponsor digantung, di sini dan sana; pencahayaan dan uji tempat penampungan bencana dilakukan; rute untuk lalu lintas pejalan kaki ditinjau; dan pekerjaan serta negosisasi lain berlanjut sepanjang malam.


Kedatangan taman adalah 3,573, sebagian besar karena hari Jumat. Hampir tidak ada yang memperhatikan bahwa angkanya sedikit lebih tinggi daripada Jumat yang lalu.


[Pengunjung taman hari ini: 3,573. (59,137 dari target) / 2 hari tersisa.]


...----------------...


Hari ini adalah Sabtu, hari pertandingan.


Upaya para staf yang tak kenal lelah, disertai dengan dukungan sepanjang malam dari taman, entah bagaimana telah menyiapkan semuanya untuk menerima orang banyak sebelum tengah hari. Setiap anggota pemeran tetap menginap. Isuzu sendiri hanya tidur selama dua jam, dan belum mandi setelah dua belas jam. Dia benar-benar merasa seperti ingin mati.


Taman dibuka, dan kedatangannya bagus. Cuacanya juga bagus. Moffle dan yang lainnya menemui para tamu di Alun-Alun Masuk, dan tersenyum penuh.


Jika kau hanya melihat atas pangung, itu akan tampak seperti Sabtu pagi yang lebih sibuk dari biasanya bagi taman, dan tidak lebih. Sulit dibayangkan kalau puluhan ribu orang akan segera membanjiri masuk melalui gerbang itu.


Tepat setelah makan siang, kemudian, sesuatu yang aneh dimulai:


Sekelompok orang berseragam kuning dan biru turun dari bus. Ini pasti para penggemar Melody Shibasaki. Mereka melihat sekeliling, melihat tanda-tanda panduan yang ditandai dengan jelas, lalu menuju gerbang depan dan ke arah taman kedua.


Beberapa tampak mengeluh tentang perubahan tempat yang tiba-tiba, tapi seseorang bisa terdengar, berkata dengan senyum, “Ini lebih baik daripada membatalkannya.”


“Mereka di sini…” ucap Muse sambil berlari menghampiri Isuzu, yang sedang menunggu di dekat gerbang.


“Akan datang lebih banyak,” Isuzu memberitahunya. “Kita butuh mereka.”


Lebih banyak penggemar memang datang. Jumlah mereka bertambah dengan cepat, lebih dan lebih cepat. Mereka melewati gerbang, dan kemudian mengikuti rute yang sudah ditandai menuju taman kedua.


Puluhan menjadi ratusan. Ratusan menjadi ribuan. Setiap bus yang bisa mereka dapatkan dari kota ada di sini, membawa berbondong-bondong penggemar dari tempat parkir khusus. Sekelompok orang dengan baju berwarna-warni turun, terbagi dalam kelompok berdasarkan tim mereka, dan berteriak senang saat mereka melewati gerbang. Bus juga sudah dikirim ke Stadion Kajinomoto untuk menjemput penggemar yang belum mendengar tentang pergantiannya. Memindahkan segalanya dengan jarak satu kota sudah terbayarkan, karena hampir tidak ada kebingungan sama sekali.


“Luar biasa.” ucap Muse.


Para staf dan pemeran yang bertugas mengatur kerumunan berteriak, dan tim penggeledahan barang (dikerahkan untuk taktik penjenuhan) menyaring para penggemar dengan cepat. Gerbang depan, cukup tenang pagi itu hingga kau bisa mendengar kicauan burung, sekarang dikonsumsi dengan suara deru seperti gempa.


Dia tercengang. “Aku belum pernah melihat kerumunan seperti ini di luar Ariake…”


“Aku tidak akan bertanya acara apa yang kau hadiri di sana,” ucap Isuzu padanya, “tapi… taman ini mungkin belum melihat kerumunan seperti ini selama lebih dari 20 tahun.”


Penghitung di gerbang mendetik dengan kecepatan luar biasa. Banyak penggemar yang memutuskan untuk menghabiskan waktu sebelum pertandingan dengan berkeliling taman, dan jumlah tamu yang belum pernah terjadi sebelumnya membuat para pemeran sangat kebingungan hingga tak tahu apa yang harus dilakukan. Berbagai warung makanan, menjual makanan dan minuman dengan cepat karena kampanye 30 yen, dipaksa memanfaatkan cadangan untuk besok.


Setiap jalan dipenuhi orang. Atraksi berjalan dalam ayunan penuh, dengan tiada waktu bagi siapapun untuk beristirahat. Pusat kesehatan—untuk tamu yang merasa tidak enak badan—hampir mencapai kapasitasnya. Hal ini juga menyebabkan peningkatan keluhan yang sebanding, dan upaya untuk menanggapi mereka menyebabkan kekacauan besar.


Isuzu terus bergerak. Dia sudah berharap untuk mendapatkan cukup waktu bebas untuk mandi, tapi momen itu tidak pernah muncul. Dia merasa sangat sakit hingga ingin mati, tapi—dia juga merasa termotivasi untuk hidup!


Sebuah band kuningan bermain di jalan raya. Muse dan yang lainnya menari untuk sorakan liar. Anak-anak menghajar Macaron. Tiramii telah pingsan. Wanipii di pojok, membolos kerja. Pemeran yang lain berlarian, bergembira.


Hal-hal di atas panggung sangat sibuk hingga sebagian besar staf taman tidak punya waktu untuk mampir ke stadion. Kemudian, tiba-tiba, orang-orang berbaju sepak bola menghilang, tanda bahwa pertandingan akan dimulai.


Matahari sudah rendah di barat, dan langit timur sudah gelap, ketika mereka mendengar suara sorakan dan drum pertama bergema dari taman kedua. Stadion itu, yang sudah duduk diam dan gelap di hutan selama dua puluh tahun, sekarang berkobar dalam senja. Pertandingan pasti sudah dimulai tanpa halangan.


Akhirnya punya waktu bebas, Isuzu berdiri di jalan raya yang sekarang kosong, menyaksikan stadion yang dipenuhi kehidupan dari jauh. Dia tidak tahu bagaimana cara melukiskan apa yang dia rasakan. Itu bukanlah kelegaan sederhana, atau kegembiraan. Itu adalah perasaan yang lebih rumit—terasing, mungkin?


Seperti seorang anak dipaksa untuk menonton dari kejauhan sementara anak-anak lain bermain; itu adalah hal terdekat yang bisa dia pikirkan.


“Semua orang itu sangat menikmati hidup di luar sana… kita bukan alasan mereka datang, fumo.” Tiba-tiba, Moffle ada di sebelahnya. Ia begitu sibuk dengan penampilan panggung dan foto cendera mata di Rumah Manisan hingga dia belum melihatnya seharian.


Ia juga menatap stadion yang jauh itu. “Kalau ini adalah sebuah konser, kita adalah pertunjukan pembuka. Saat ini, itulah yang terbaik yang bisa kita tawarkan pada siapapun. Tidak ada yang berubah. …Tidak ada yang berubah sama sekali, fumo.”


Hal selanjutnya yang dia tahu, para pemeran lainnya juga ada di sana.


Mereka semua menghentikan apa yang mereka lakukan untuk menatap stadion dalam diam. Di mata mereka bersinar cahaya kesepian yang sama dengan Isuzu.


...----------------...


Pertandingan berakhir seri, 2-2: itu, tampaknya, adalah pertandingan yang bagus. Para penggemar pulang dengan puas, dan taman tutup. Itu sekitar tengah malam mereka pada saat mereka selesai membersihkan stadion.


Semua orang kelelahan, tapi sebagian besar pemeran tetap bertahan. Itu bisa dimengerti; tentu saja mereka tidak bisa tidur sampai mereka tahu angka kedatangan hari itu.


Mereka menggunakan kantin karyawan sebagai area pementasan hari itu, dan para pemeran menyeret diri mereka ke sana sekali lagi, kelelahan. Latifah bersama mereka.


Keheningan menyelimuti ruangan saat Seiya masuk.


“Aku punya hasilnya,” ia memulai, lalu memeriksa lagi tulisan di secarik kertas yang ia tulisi hanya untuk memastikan. “53,449. Dengan kata lain, kita hanya kekurangan 5,688 orang. Besok adalah Minggu, dan peluang hujan sebanyak nol persen. Mengingat kedatangan kita minggu terakhir ini… hampir pasti kita akan mendapatkan apa yang kita butuhkan.”


Begitu Seiya menyimpulkan, rombongan itu tetap diam. Itu seperti mereka belum sepenuhnya menangkap maksud dari perkataannya.


“Ada apa dengan kalian semua?” ia menuntut. “Itu artinya taman akan tetap beroperasi.”


Ada keheningan selama beberapa detik, dan kemudian hampir semua orang melompat berdiri, bersorak kegirangan. Sorakan mereka terdengar seperti jeritan.


“Kita berhasil! Kita berhasil! Kita berhasil!” Muse dan Latifah berteriak, berpegangan tangan dan menangis sambil melompat ke atas dan ke bawah.


“Keajaiban, ron! Ini benar-benar keajaiban, ron!” ucap Macaron, air mata lelaki mengalir dari matanya.


“Aku tidak perlu mengucapkan selamat tinggal pada para gadis, mii!” Tiramii berteriak sambil mengetuk smartphonenya.


“Kanie-san! Aku, Tricen, dipenuhi dengan kekaguman! Aku terpaksa membungkuk menangis!” Tricen membungkuk padanya, bahunya bergetar.


Wanipii menatap langit-langit, air mata mengalir di pipinya. Wrenchy-kun menepuk bahunya dan mengangguk dengan sungguh-sungguh. Para pemeran lainnya sangat gembira: bertepuk tangan, menggedor kursi mereka, menari di atas meja… beberapa bahkan melakukan backflip.



“Kebetulan, kedatangan stadion hari ini menunjukkan 43,217 dari mereka adalah penggemar sepak bola. Artinya 10,232 orang datang ke sini untuk taman,” Seiya berkomentar begitu saja. “Bahkan jika harus menghargai tiket sangat murah, kalian tetap memecahkan 10,000. Kalian tahu… itu adalah kerja yang bagus untuk sebuah taman hiburan jelek.”

__ADS_1


Tepuk tangan yang baru dan lebih keras, serta sorakan memenuhi kantin. Dalam kegembiraan mereka, seseorang menyarankan melempar Seiya ke udara. Seiya dengan canggung menolak mereka, kemudian memanggil rombongan itu lagi: “Oke, itu cukup! Kalian semua dibubarkan! Kita masih punya sehari lagi, jadi pulang dan beristirahatlah!”


Ia melambai, tapi sebelum meninggalkan kantin dengan benar, ia mendekati Latifah. Dia berdiri di sana dengan bantuan Isuzu, dengan senyum tenang di wajahnya. “Kanie-sama. Aku sungguh… Aku sungguh harus berterima kasih padamu.”


“Ayolah,” cibirnya. “Itu hanya kebetulan.”


“Tidak,” dia menyanggah, “Aku yakin itu adalah—”


“Keajaiban? Tentu, itulah yang akan kita sampaikan pada orang-orang,” ucap Seiya, lalu dengan segera menyesalinya.


Senyum Latifah menghilang dengan segera. Keningnya mengkerut dalam kesedihan yang sunyi, seolah ia sudah menemukan sesuatu… tapi kemudian dia langsung kembali ke senyuman aslinya. “Ya, mari kita sampaikan pada mereka itu.”


“Lebih baik aku pergi sekarang,” ia mohon diri. “Kerja bagus hari ini.”


“Ya,” ucap Latifah lembut. “Aku sangat menghargai semua yang telah kau lakukan.”


Mata Isuzu dan Seiya bertemu untuk sejenak. Dia kelihatannya ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih untuk menahan diri untuk saat ini.


“Kalian dengar aku? Kalian semua perlu pulang dan tidur!” Seiya berteriak pada para pemeran. Ia membalikkan badannya pada kantin yang masih bersemangat, tapi begitu ia melanjutkan ke lorong yang gelap, ia menabrak Moffle.


Sang maskot sedang bersandar di dinding, ada aura sedih di sekitarnya. “Ini sudah berakhir, huh, fumo?”


“Ya. Nasib taman ada di tanganmu lagi,” catat Seiya. “Lakukan apapun yang kau mau dengan itu.”


“Maaf.” ucap Moffle.


“Hei, tidak masalah…”


Dua pria yang menghabiskan dua hari terakhir termenung dan lesu. Dua pria yang sedang tidak dalam suasana hati untuk merayakan ‘keajaiban.’ Mereka berdua saat ini berdiri di lorong yang kosong, berwajah pucat.


Siapapun yang melihat kami seperti ini akan menebak kebenarannya dengan segera, pikir Seiya. Yaitu bahwa ini bukanlah keajaiban sama sekali.


Seiya memikirkan kembali apa yang terjadi tiga hari sebelumnya.


...----------------...


Tidak ada cara untuk mencapai angka target mereka. Seiya segera sampai pada kesimpulan itu di pagi hari setelah ia mengambil peran sebagai manajer pelaksana.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubah apapun. Bahkan jika ia membuat semuanya gratis, bahkan jika ia membuang seluruh anggaran mereka untuk iklan, itu tidak akan terjadi. Tidak ada cara untuk membawa angka-angka yang mereka butuhkan hanya dalam dua minggu.


Ia bisa melakukan perlawanan yang bagus, tapi hanya itu yang akan terjadi; kau akan butuh sihir untuk membuat sesuatu seperti itu terjadi dalam waktu yang singkat.


Satu-satunya alasan ia tetap bertahan, meraba-raba kemungkinan, adalah karena ia tidak berinvestasi secara emosional di taman, belum. Jika ia sudah, ia akan menyerah dengan segera.


Sinar harapan pertamanya muncul pada hari di mana Muse mengajaknya melihat stadion itu. Itu adalah simbol dari gelembung ekonomi pemboros;


sebuah monumen yang menjulang tinggi, yang masih tersisa pada masa kemerosotan.


Ia tidak tahu seperti apa administrasi taman sebelumnya, tapi tampak aneh bahwa mereka mempertahankan dan menjalankan stadion selama ini.


Ia kembali ke kantornya untuk melihat dokumen-dokumennya, dan menemukan sebuah kontrak lama dengan Stadion Kajinomoto. Itu hanya berisi beberapa baris teks—mudah diabaikan, dalam keadaan normal:


“Dalam hal terjadi penutupan paksa yang tak terduga dari Stadion Kajinomoto, kami dengan ini menawarkan penggunaan stadion yang terletak di taman kedua Amagi Brilliant Park (yang direncanakan) secara gratis.” tertulis di sana.


Bulan apa sekarang? Maret.


Apa acara Stadion Kajinomoto yang akan datang? Pertandingan pembuka J1. Melody Shibasaki, tim yang baru saja ke J1 League, akan melawan Kurawa Mets, salah satu tim yang menempati peringkat tinggi pada musim sebelumnya. Itu adalah pertandingan yang akan menarik banyak perhatian.


Setidaknya mereka akan menarik 40,000 orang. Jika Seiya ingin taman bertahan, ia harus mengambil keuntungan dari itu.


Itulah kenapa ia menugaskan Wrenchy-kun untuk mulai memperbaiki stadion lama, tidak peduli terhadap semua keberatan. Ia butuh stadionnya siap untuk menahan antara 40,000 dan 50,000 orang kapanpun.


Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah ‘penutupan paksa’ di Stadion Kajinomoto, tapi ia tidak bisa mengandalkan kebakaran untuk terjadi begitu saja.


Sebagian besar konflik internal Seiya selama minggu berikutnya menanyakan seberapa jauh ia rela pergi—pertempuran dengan sedikit nuraninya yang tersisa. Di dapur, ketika Latifah membuat kroket-kroketnya, ia sudah menyingkirkan keraguannya yang terakhir.


Pada Rabu malam, Seiya kembali ke rumah, memasukkan alat-alat yang sudah ia siapkan sebelumnya ke dalam ranselnya, lalu menuju Stadion Kajinomoto.


Ia menghabiskan seminggu menghafal tata letak stadion, sistem kelistrikannya, dan banyak lagi. Ia sudah melewati berbagai rute penyusupan, lalu memilih lokasi dan metode yang paling bisa diandalkan. Akan ada beberapa kunci antara dirinya dan tujuannya, tapi itu akan cukup mudah untuk diterobos dengan peralatan lock pick yang dijual bebas.


Kemudian, hanya sedikit campur tangan dengan sistem kelistrikan akan membuatnya terlihat seperti kebakaran terjadi secara alami. Apakah itu akan membodohi seorang penyelidik profesional atau tidak, tentu saja, akhirnya akan bergantung pada keberuntungan undian.


Ia bergerak setelah tengah malam. Ia menghabiskan lebih dari satu jam, beringsut melewati pagar yang tidak diawasi, di stadion gelap gulita—satu jam yang terasa seperti selamanya.


Setelah berpegang erat pada pagar, ia akhirnya sampai di pintu menuju ruang kelistrikan… ketika, saat itu juga, ia mendengar suara Moffle di belakangnya: “Sepertinya kau menghadapi banyak masalah, fumo.” Pada dasarnya, itu hanya murni keberuntungan yang mencegah Seiya dari menangis karena syok.


Apa yang Moffle lakukan di sini? Ia bertanya-tanya. Apa yang ia mau? Bagaimana ia sampai di sini? Saat mulut Seiya mengirap heran, Moffle menusukkan tangan hewan padanya. “Aku mengikutimu, fumo. Perkara mudah untuk seorang mantan anggota regu pengintai serangan Maple Land.”


Kau benar-benar punya sejarah… pikir Seiya. Dan regu macam apa itu?


“Wrenchy-kun memberitahuku tentang pekerjaan rahasiamu pada stadion di taman kedua, fumo. Lalu aku mengingat kontrak lama itu,” Moffle menjelaskan. “Aku punya firasat tentang apa yang kau rencanakan, tapi aku tidak pernah berpikir kau benar-benar sebodoh ini…”


“Tidak ada yang bertanya padamu.” Seiya memberitahunya.


Seiya mengeluarkan peralatan lock pick dari ranselnya dan meringkuk di dekat pintu menuju ruang kelistrikan. Ia membeli semacam kunci silinder, dan sudah menghabiskan beberapa hari terakhir berlatih menggunakannya. Itu mungkin butuh sedikit waktu, tapi ia seharusnya bisa menerobos…


“Hentikan ini,” Moffle memberitahunya. “Apa yang akan kau lakukan adalah kejahatan sungguhan, fumo.”


“Aku tahu itu.” ucap Seiya dengan sembrono.


“Bukan hanya stadion yang akan terkena dampaknya,” Moffle menuduhnya. “Sejumlah perusahaan, dan banyak orang. Mereka akan kehilangan banyak uang karena ini. Mereka tidak akan membiarkanmu pergi, fumo.”


“Aku tahu.” Seiya berhenti sebentar, lalu tertawa melalui hidungnya.


“Tidak ada yang akan senang ketika tahu kalau taman diselamatkan dengan cara ini. Kami akan lebih baik di jalan, fumo!”


“Lalu apa yang akan terjadi padanya?!” Seiya meraih dasi kupu-kupu Moffle dan menariknya mendekat, bertatap muka.


Moffle tampak terkejut dengan serangan mendadaknya.


“Dia memberitahuku semuanya,” Seiya menggeram padanya. “Dia tidak bisa terus hidup tanpa taman. Kalau ini hanya tentang mencegah suatu taman hiburan jelek dari kehancuran, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini. Aku sudah menyiksa diriku sendiri tentang ini. Aku mencoba memikirkan cara lain. Tapi tidak ada satu pun yang akan berhasil, jadi inilah yang harus terjadi!”


“Moffu…”


“Kau mengatakan padaku untuk tidak melakukan ini,” Seiya melanjutkan, “tapi apa hanya itu yang seharusnya kau katakan? Kau bilang kau juga peduli padanya, tapi apa yang sudah kau lakukan untuk mencegah semuanya sampai pada titik ini? Heh… mengerjakan karya senimu? Berusaha sebaik mungkin untuk para tamu? Itu tidak berhasil. Itu tidak cukup!”


Ia pasti sudah mengenainya di bagian yang sakit, karena Moffle dengan segera kehilangan kepercayaan dirinya. Ia mengambil langkah mundur dengan goyah, dan menundukkan matanya.


“Trik kotor adalah apa yang kita butuhkan sekarang,” ucap Seiya datar, lalu kembali ke garapan kuncinya. “Aku melakukan hal busuk ini atas kehendak bebasku sendiri, tanpa meminta izin siapapun.”


“Kenapa kau sangat peduli, fumo?” Moffle menanyainya.


“…Aku ingat.”


Sepuluh tahun lalu, Seiya datang ke Amagi Brilliant Park. Ia mungkin berusia sekitar lima atau enam tahun. Ia mengunjungi taman hiburan itu bersama orang tuanya—dulu ketika mereka masih akur—dan menikmati berbagai atraksi. Ia tidak mengingat Moffle, tapi ada satu orang pemeran yang dirinya ingat. Latifah. Dia adalah gadis berusia 14 atau 15 saat itu, sama seperti sekarang. Seiya terpisah dari orang tuanya, dan entah bagaimana akhirnya hilang di belakang panggung. Kemudian, secara kebetulan, ia berakhir tersesat ke taman atap.


Dia berada di sudut, menangis. Kenapa kau menangis? Ia bertanya padanya. Ia tidak bisa mengingat apa balasannya. Mungkin sesuatu tentang kutukannya, atau tentang kesepian… Lalu, ia melakukan tarian yang baru ia pelajari untuk membuatnya tersenyum, dan ia berkata padanya: Aku bersamamu. Aku akan menyelamatkanmu…


“…Aku bertemu Latifah dulu sekali.” ucap Seiya, masih menggarap kunci. “Aku hanya anak kecil. Dia di taman atap itu, terlihat persis seperti dirinya yang sekarang, untuk beberapa alasan… Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi intinya, aku bertemu dengannya. Dan aku berjanji kalau aku akan menyelamatkannya.”


“Begitu, fumo…” Moffle menarik napas. “…Aku memang mengingat sebuah insiden dulu. Seorang anak berkeliaran ke taman atap… Kami meningkatkan keamanan sejak saat itu, tentu saja…”


“Kalau begitu sepertinya memoriku tidak salah.” ucap Seiya datar.


Hampir, pikirnya. Kuncinya hampir terbuka. Ia merasakan klik yang memuaskan, dan kemudian memutar perkakas dengan hati-hati. Setelah perlawanan sesaat, silindernya terbuka.


…Oke. Seiya membereskan peralatannya, dan kemudian mengeluarkan diagram pengkabelan dan senter yang ia bawa bersamanya. Substrat papan distribusi di belakang ruangan seharusnya sudah tua dan usang. Seharusnya tidak perlu banyak campur tangan untuk memulai sebuah kebakaran…


Tapi, tepat sebelum ia memasuki ruangan, ia merasakan serangan keras dari tangan hewan Moffle di belakang kepalanya, dan ia terjatuh. “Kanie Seiya. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini, fumo.”


“Ngh…” Seiya mengerang. Orang bodoh sialan, pikirnya. Apa kau hanya akan mengabaikannya, kalau begitu? Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Lengan dan kakinya kesemutan, tapi ia tidak bisa menggerakkannya.


“Biar kuberitahu satu hal, fumo,” ucap Moffle. “Kutukan Latifah tidak hanya membuatnya semakin lemah. Itu sesuatu yang jauh lebih buruk, fumo.”


Kutukan yang lebih buruk dari itu? Tapi apa—


“Kutukan itu mengulang perkembangan fisik dan ingatannya setiap tahun, fumo. Dia sudah berumur 14 tahun selama lebih dari sepuluh tahun sekarang,” jelas Moffle. “Setiap musim semi, dia kehilangan semua ingatan dari tahun sebelumnya, fumo. Jadi tidak peduli apa yang kau lakukan, dia akan segera melupakanmu.”


Ah… Seiya tersadar. Jadi itulah kenapa Latifah yang ia ingat dari masa kecilnya terlihat sama seperti dirinya yang sekarang…

__ADS_1


Moffle menghela napas. “Kupikir bahkan jika taman ditutup, aku bisa membawa Latifah denganku dan mencari nafkah sebagai pengamen jalanan,” ia mengakui. “Mungkin kami tidak akan bertahan lama, tapi… bagiku, mungkin itulah takdir, fumo.” Seiya tidak berkata apapun, dan menunggu Moffle untuk menyelesaikan pikirannya.


“Tapi, aku berubah pikiran. Memudar dengan anggun memang bagus… tapi sedikit berjuang dengan cekatan bukanlah hal terburuk di dunia. Sebelumnya, kau bertanya padaku… tidak ada lagi yang bisa kulakukan sebelum semuanya sampai pada titik ini? Kau benar. Tepat sekali. Aku seharusnya… kami seharusnya melakukan sesuatu, fumo.”


Moffle mengambil peralatan Seiya dan cetak birunya. “Kanie Seiya. Salah jika membuatmu membayar hutang kami untuk kami, fumo. Jadi kalau ‘trik kotor adalah apa yang kita butuhkan sekarang’… maka aku harus menjadi orang yang melakukannya.”


Moffle menuju bagian belakang ruangan kelistrikan.


Pekerjaan itu bukan sesuatu yang terlalu sulit. Kau hanya perlu mengikuti tanda-tanda yang ia buat pada diagramnya, menghidupkan beterai yang dihubungkan seri untuk menyebakan kelebihan muatan. Lalu, vinil sirkuitnya yang berdebu akan mulai terbakar, dan kerusakannya akan menyebar dengan cepat. Percikan mulai beterbangan di belakang ruangan, dan bau terbakar busuk mencapai hidung Seiya.


“Baiklah. Ayo pergi dari sini, fumo.” Moffle mengangkat Seiya yang tidak bergerak ke atas bahunya, lalu melarikan diri dengan kecepatan yang mengejutkan.


...----------------...


Para pemeran, mengabaikan perintah untuk pulang, masih merayakan di aula makan. Tidak ada dari mereka yang memperhatikan Seiya dan Moffle—mitra dalam kejahatan—berbicara di lorong gelap.


“Ide untuk beralih ke trik kotor… Aku takut itu akan merusak seniku, fumo.” Moffle mengaku.


“Yah… itu bisa dimengerti.” ucap Seiya, bersimpati.


“Tapi apa yang sudah terjadi maka terjadilah, fumo. Aku hanya harus terus melakukan yang terbaik,” ucap Moffle, lalu mengangkat bahu. “Yah, apa hari ini akan jadi akhirnya, fumo?”


Ia merujuk pada waktu Seiya sebagai manajer pelaksana. Ketidakhadiran Seiya tidak akan mempengaruhi jumlah kedatangan besok sama sekali; pekerjaannya di sini sudah selesai.


“Pertanyaan bagus,” Seiya termenung. “Mungkin besok akan kuhabiskan di kamarku dengan memainkan tumpukan gameku… Tidak, tidak. Aku sudah sejauh ini; Setidaknya aku harus ada di sini untuk bagian akhirnya.”


“Benar,” Moffle setuju secara netral. “Aku yakin mereka semua akan senang melihatmu, fumo.”


Seiya mendapati dirinya meringis. “Yah, kerja bagus hari ini.”


“Moffu. Terima kasih, Seiya.”


Mereka saling melambai, menghindari bertatap mata, dan kemudian berpisah.


[Pengunjung taman hari ini: 53,449. (5,688 dari target) / 1 hari tersisa.]


...----------------...


Hari berikutnya adalah Minggu, dan Seiya tidur hingga sore.


Bibinya, Aisu, sudah bangun, untuk sekali, jadi mereka memakan pasta dan melamun, menonton golf di TV. Seiya sudah berpikir untuk memainkan beberapa video game, tapi ia tidak bisa mengumpulkan antusiasme untuk melakukannya.


Cuaca di luar cerah. Masih agak dingin, mengingat musimnya, tapi sinar matahari terasa hangat.


Sekitar waktu ‘anime keluarga klasik’ petang ditayangkan, Seiya bersiap pergi. Aisu, mengunyah kerupuk nasi, bertanya padanya, “Kemana kau pergi jam segini?”


“Kerja.” ia memberitahunya pendek.


“Ahh.” bibinya membalas, tidak menunjukkan tanda ketertarikan lebih lanjut.


Ia tidak yakin jika ia bisa naik bus lagi atau tidak, jadi ia memutuskan untuk mengendarai sepedanya ke sana; hanya butuh sekitar 30 menit. Ia melewati pintu masuk pegawai dan menyapa penjaga keamanan yang wajahnya sekarang sudah familiar. “Bagaimana kedatangannya?”


“Ini bagus,” penjaga keamanan memberitahunya. “Tampak lebih tinggi dari minggu lalu, kataku.”


Seiya lega mendengarya. Ia punya ketakutan yang mengganggu bahwa mereka sudah membuat beberapa kesalahan yang akan menahan kedatangan mereka.


Ia berkeliaran di belakang panggung, melambai ke berbagai anggota pemeran yang menyapanya, tersenyum. Ini adalah dua minggu yang aneh, kan? Ia merenung. Kami sangat membenci satu sama lain sebelumnya, tapi lihatlah kami sekarang…


Seiya tidak pernah cocok di sekolah. Tapi saat ini, setelah banyak cobaan dan kesengsaraan, ia merasa, untuk pertama kalinya, bahwa ia menemukan tempat di mana ia bisa merasa di rumah.


Waktu tutup akan segera tiba. Kedatangan hari itu adalah 12,430 yang luar biasa, memecahkan 10,000 untuk hari kedua berturut-turut. Setelah semua tamu pergi, berita itu disiarkan melalui pengeras suara internal taman. Semua pegawai bertepuk tangan dan bersorak.


Anggota pemeran yang bahkan namanya saja Seiya tidak tahu, tapi yang kebetulan berdiri di dekatnya, memintanya untuk berjabat tangan. Ia menurut, dan memberitahu mereka “kerja bagus,” dengan senyuman cangung.


Misi secara resmi selesai, pikirnya setelah itu, saat ia berjalan sendiri menyusuri lorong bawah tanah. Pada saat itu, suara tepuk tangan yang dibuat-buat terdengar di belakangnya. Prok, prok, prok, datang suara kosong dan hampa.


“Yah, yah. Kerja bagus.” Seiya berbalik untuk melihat Kurisu Takaya dari Pengembang Amagi berdiri di lorong; ia pasti datang untuk mengkonfirmasi kedatangan hari terakhir untuk dirinya sendiri. Ada ID pengunjung tergantung di lehernya.


“Aku tidak percaya kau sungguh membawa masuk 100,000 orang,” Kurisu berkomentar. “Aku terkejut.”


“…Kenapa kau bicara padaku tentang itu?” Seiya bertanya padanya dengan curiga. “Kau seharusnya bicara pada siapapun yang bekerja keras.”


“Oh, tolonglah.” Kurisu tersenyum. “Kau bisa menghentikan aktingmu. Kerja keras ada padamu, kan? Kanie Seiya-kun… Atau harus kubilang… manajer pelaksana yang dipilih oleh ramalan?”


“……!” Mustahil bagi Seiya untuk menyembunyikan keterkejutannya.


Ia tidak terlalu terkejut bahwa Kurisu tahu dirinya adalah manajer pelaksana; jika ia punya seorang informan di dalam taman, ia pasti mendengarnya. Tapi untuk tahu tentang ramalannya…


Sepertinya mendapat kesenangan dari reaksi Seiya, Kurisu bicara lagi. “Kau sudah berhasil memperpanjang umur taman satu tahun. Tapi hanya itu yang kau lakukan… Kau tidak bisa mempertahankan kampanye diskon selama setahun penuh. Yang kau lakukan hanyalah memberikan suntikan adrenalin pada pasien yang sekarat.”


“…Apa yang kau maksud?” Seiya bertanya padanya datar.


“Taman akan menjumpai takdirnya pada akhirnya, dengan satu atau lain cara,” ucap Kurisu mencemooh. “Dan putri yang dikutuk, yang sangat dekat denganmu, akan mati dengan menyedihkan.”


Ia tahu tentang kutukan Latifah? Seiya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa? Siapa pria in—


“Siapa kau ini?” ia bertanya keras-keras. Seiya berdebat dengan dirinya sendiri sampai detik terakhir tentang apakah ia harus memakai sihir pembaca pikiran miliknya. Tapi tidak, ini belum waktunya—memakainya sekarang adalah pilihan yang salah, pikiran logisnya bersikeras.


“Oh?” Kurisu mengejeknya. “Tidak akan memakai sihirmu, hmm? Kau punya penguasaan diri yang mengesankan.”


Seiya nyaris tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari mengeluarkan erangan. Apa yang terjadi di sini? Ia tahu tentang sihirku!


Pria itu tertawa. “Kalau kau tahu tentang kutukannya, maka pasti bisa kau bayangkan… ‘Penyihir yang jahat, dipojokkan oleh jenderal mulia, menjatuhkan dirinya sendiri ke jurang…’ Tapi tidak ada yang pernah mengatakan bahwa penyihir itu mati.”


“Maksudmu…” Seiya mulai bertanya.


Kurisu tersenyum. Itu adalah sebuah senyum yang licik dan jahat. “…Sejujurnya, aku berharap untuk memberikan serangan terakhirnya tahun ini,” ia mengaku. “Tapi sekarang, aku berubah pikiran. Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang insiden stadion. Untuk sekarang, aku ingin duduk, menonton dan mengamati… seberapa jauh taman hiburan lapuk ini akan pergi dengan tambahan satu tahun?”


“Ini gila! Dia tidak melakukan sesuatu yang salah! Kau hanya—” Seiya berteriak marah, mencoba meraih kerah Kurisu. Saat ia melakukannya, gambaran pria dalam jas menjadi kabur.


“Kalau itu membuatmu semarah ini, kenapa tidak tetap di sini?” Udara di sekitar mereka melengkung, dan di langit-langit, lampu berkedip-kedip.


“Kemunduran dan keruntuhan yang menyakitkan mata,” suaranya melengking rendah. “Aliran era yang tak bisa diubah di mana kita tinggal. Kau bisa mencoba menentang mereka kalau kau mau… tapi ager yang kau lindungi ditakdirkan untuk layu dan mati—dan aku ingin menyaksikan itu terjadi.”


Benda yang meliuk di depannya, saat ini, bukanlah administrator perusahaan. Itu adalah sesuatu yang lain, menyeringai dan mengejeknya—dan itu.


“Kanie-kun, mundur.” sebuah suara familiar memerintahnya.


“Sento?” tanyanya, benar-benar kebingungan.


Pada suatu titik, Isuzu sampai. Dia mendorong Seiya keluar dari jalan dan membidik dengan senapannya. Dia menembak, dan ada tembakan yang menyilaukan. Ketika sudah memudar, Kurisu Takaya hilang tanpa jejak.


“Ugh…” Seiya melihat sekeliling, mengusap kepalanya yang berdenyut.


Mereka sendiri sekarang, tapi Isuzu menahan musketnya dalam posisi siap, indranya dalam siaga tinggi. “…Ia melarikan diri.” sesalnya.


“Siapa orang itu?” Seiya bertanya-tanya dengan lantang.


“Setidaknya, ia sepertinya bukan manusia.” Isuzu merenung serius.


Dia pasti juga memanggil bantuan, karena Moffle sampai segera setelah itu, menjatuhkan tempat sampah dan mengamuk. “Jadi itu dirinya!” sang maskot marah. “Sial! Lain kali, aku akan membunuhnya, fumo!”


...----------------...


Beberapa jam kemudian, Seiya mengobrol dengan Latifah di taman atap. “Aku akan tetap dengan itu,” ia memberitahunya.


Dia memiringkan kepalanya tanda tak mengerti. “…Boleh aku bertanya apa maksudmu?”


“Posisi manajer pelaksana,” jelasnya. “Aku akan tetap dengan itu sampai tahun depan. Dan, sebenarnya… Kupikir aku akan berkeliaran sampai masalahnya selesai.”


Kemungkinan kutukannya dijelaskan padanya setiap tahun, karena dia tampaknya menyadari apa maksudnya. “Kanie-sama…”


“Jangan melihatku seperti itu,” ia memberitahunya. “Ini karena aku membuat sebuah janji.”


“Sebuah… janji?” tanyanya, suaranya samar.


“Ya. Kuharap kau ingat suatu hari.” Senyum kesepian muncul di wajah Seiya


[Pengunjung taman hari ini: 12,430. (6,742 melebihi target) / Tujuan tercapai.]

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2