
BAB 1: Tidak Cukup Orang!
...----------------...
Malam setelah konferensi, Sento Isuzu bermimpi aneh. Mereka mewawancarai para pelamar paruh waktu, dan setiap dari mereka adalah wanita cantik. Pewawancaranya adalah Isuzu dan Seiya—untuk beberapa alasan, hanya mereka.
Pelamar pertama adalah seorang mahasiswi. Dia lebih tinggi dari Isuzu, dengan senyum keibuan dan tubuh yang menggairahkan.
“Posisi yang saya inginkan adalah menjadi sekretaris Anda,” ucap sang wanita dengan manis pada Seiya. “Terlepas dari kesan yang diberikan penampilan saya, saya sudah melewati tes kecakapan sekretaris tingkat dua. Saya pasti bisa berguna bagi Anda dalam banyak hal…”
Kanie Seiya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya bersinar tertarik. “Aku paham, aku paham. Kau diterima, kalau begitu. Pesona ‘kakak perempuan’ milikmu akan menghiburku di saat-saat tergelapku.”
Isuzu berusaha memarahi Seiya karena keputusannya yang sembrono, tapi dia tidak bisa. Dia hanya mengirapkan mulutnya dengan sia-sia karena tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Seolah-olah dia mencoba berbicara di ruang hampa udara.
Seiya mencap ‘Diterima’ pada resumenya. Lalu, bukannya meninggalkan ruang wawancara, sang wanita mengitari meja dan menggantungkan dirinya ke bahu kiri Seiya.
“Hmm, bagus,” ia mengomentari. “Aku menikmati tekanan dari dadamu di bahuku. Rasanya enak. Sungguh wawancara bertekanan tinggi! Bwahahaha!”
“Anda luar biasa, Kanie-san.” dia meringis. “Sungguh cerdas!”
“Hentikan, kau membuatku malu. Bwahahaha!” Ia tampaknya memperhatikan tatapan memarahi Isuzu, tapi ia menepisnya dengan sebuah seringai. “Apa yang kau pandangi, Sento? Teruskan, panggil yang berikutnya.”
Dengan enggan, dia menuntun pelamar selanjutnya menuju ruang wawancara.
Yang berikutnya adalah siswi SMA yang tampak bersemangat. Dia memiliki rambut pendek berwarna cokelat kemerahan, mata besar dan wajah nakal. Dia memiliki tubuh atletis dan—hampir wajib—dada yang besar.
“Um… terima kasih atas kesempatannya! Posisi yang kuinginkan adalah menjadi sekretarismu!” dia menyatakannya dengan berani, terlepas dari ekspresi gugupnya.
“A-Aku sabuk hitam tingkat pertama dalam sertifikasi sekretaris! Aku yakin aku akan berguna!”
Sejak kapan sertifikasi sekretaris punya tingkatan sabuk? Isuzu yang bermimpi bertanya-tanya.
Alis Isuzu mengkerut saat Seiya memberi resume sang siswi SMA sebuah cap.
“Diterima! Nah, kemarilah. Ayo beri dada itu rumah baru yang bagus! Bwahahaha!”
“Y-Ya Pak…” Dia berlari cepat mengitari meja dan menggantungkan dirinya ke sisi kanan Seiya.
“Wawancara bertekanan tinggi ganda!” ia terkekeh.
“Kau sangat mengagumkan, Kanie-san.” semburnya.
“Sungguh cerdas!” gadis pertama menimpali lagi.
Apa yang sedang terjadi? Isuzu bertanya-tanya. Aku ingin mereka semua mati. Aku ingin pulang.
Seiya, di sisi lain, hanya tertawa terbahak-bahak, lalu memerintahkan Isuzu untuk memanggil pelamar berikutnya.
Pelamar berikutnya adalah seorang gadis sekolah dasar. Dia memiliki rambut hitam panjang serta kaki dan lengan yang ramping. Terlepas dari penampilannya yang kerubian, bagaimanapun, matanya bersinar dengan kecerdasan.
“Posisi yang kuinginkan adalah menjadi sekretarismu.” ucapnya, memandang rendah Seiya dan yang lainnya dengan tatapan yang agak sadis. “Aku bisa merevitalisasi taman ini dengan cara yang tidak bisa kalian impikan. Mengerti? Jadi pekerjakan aku sekarang.”
“Ya, kau diterima!” ia memberitahunya.
“Sekarang, duduklah di pangkuanku!”
“Kalau aku harus… tapi hanya kali ini.” Dia, juga, mengitari meja untuk duduk di pangkuan Seiya.
“Aku suka berat bagian bawahmu itu!” ia melirik. “Wawancara bertekanan tinggi rangkap tiga!”
“Kau sangat mengagumkan, Kanie-san!” gadis kedua memberitahunya.
“Sungguh cerdas!” tambah yang pertama.
“Sungguh… bodohnya dirimu…” caci gadis baru itu.
Seiya tertawa terbahak-bahak berdampingan dengan para sekretaris barunya. Isuzu mencoba mengucapkan sesuatu tentang situasi aneh ini, tapi suaranya masih tidak mau keluar. Sementara mulutnya masih menutup dengan sia-sia, Seiya dan ketiga gadis berbalik menatapnya dengan dingin.
“Oh, Sento. Kau masih di sini?” tanyanya.
“Seperti yang kau lihat, pelayananmu tidak lagi dibutuhkan. Tolong segera pergi. Jadilah pelayan untuk putrimu itu, Latifah—seperti dirimu yang seorang figuran tanpa karakteristik.”
Ini tak tertahankan, Isuzu menggerutu. Beraninya kau—
Suara tembakan yang menembus langit-langit membuatnya membuka matanya. Di tangannya ada musket gading dengan garis hiasan emas. Di atasnya ada lubang peluru hitam di langit-langit.
Dia berada di kamar tidurnya di asrama karyawan taman. Dia menyipitkan matanya pada plester yang ambruk menimpanya.
Ahh, sebuah mimpi. Tentu saja…
Ketiga pelamar sekretaris cantik itu palsu. Mereka adalah simbol dari hal-hal yang tidak dirinya miliki—dari hal-hal yang tidak akan pernah dia miliki, tidak peduli bagaimanapun perjuangannya.
Gambaran bahwa ia akan menyanjung mereka seperti itu juga murni fiksi. Dia tidak pernah melihatnya bertingkah seperti itu, dan dia tahu betul bahwa ia bukanlah pria yang seperti itu. Dan lagi—
“Mm…” Dia terduduk di atas kasur dan menjauhkan musketnya.
Senapan magis Steinberger, diturunkan dari generasi ke generasi keluarganya, adalah senjata magis yang sudah melebur dengan tubuh dan pikirannya. Senapa itu bisa ditarik keluar atau disimpan di kulit mana pun yang terbuka di tubuhnya. Karena pahanya adalah area terbesarnya, mengambilnya dari sana adalah yang paling efisien, bahkan jika itu artinya terlihat seperti dia menariknya dari roknya.
Tetap saja, dia belum pernah menembakkan senapannya saat tidur sebelumnya, dan bahkan itu terasa lebih menyebalkan lagi ketika tahu dia menembakkannya dengan marah karena sebuah mimpi yang konyol.
Saat itu pukul 6:00 pagi lebih sedikit. Dia merasa terlalu waspada untuk kembali tidur, untuk suatu alasan, jadi dia memutuskan untuk berhenti berusaha. Sebagai gantinya, dia bangun dari tempat tidur dan mandi.
Jika Isuzu tidak mandi tiga kali sehari, dia akan mulai merasa seperti dirinya akan mati. Dia tidak melebih-lebihkan ketika dia mengatakan itu pada Seiya—dia benar-benar mulai merasa akan mati. Tentu saja, dia tidak akan benar-benar mati…
Dia menanggalkan pakaian dalamnya dan membenamkan tubuh telanjangnya di semburan air panas.
Air mengalir di kulitnya yang memerah dan terjatuh darinya dalam bentuk tetesan. Saat dia menatap ombak kecil yang dibentuk oleh tetesan-tetesan di bawah bak mandi, dia berpikir sendiri: Aku penasaran dari mana datangnya mimpi itu…
Jawabannya meliuk di belakang pikirannya. Mimpi semacam ini biasanya adalah cerminan dari kegelisahanmu, katanya. Apa yang kucemaskan, kekuranganku sendiri? dia bertanya-tanya. Mungkin saja.
Aku diutus ke taman ini tahun lalu untuk membalikkan keadaan, namun aku sama sekali tidak mencapai apa pun dalam waktu yang kumiliki. Aku bertingkah seperti seorang prajurit angkuh, yang mana tidak menghasilkan apa pun selain membuat para pemeran membenciku. Pada akhirnya, Kanie Seiya-lah, manusia yang terpilih oleh ramalan, yang menyelamatkan taman… dan sementara aku senang karena itu, itu memang berbalik padaku dengan buruk.
Meski, dia sendiri tidak keberatan dengan hal itu…
Aku sepenuhnya siap untuk dibebastugaskan dan dipanggil kembali ke Maple Land. Lagi pula, aku sudah terbukti tidak mencukupi untuk tugas itu.
Meringkuk di bak mandi dan bermandikan air panas dari kepala shower, Isuzu lanjut berpikir. Kurasa perasaan kekuranganku tidak akan cukup untuk mewujudkan mimpi seperti itu… Mungkinkah aku iri pada Kanie Seiya, kalau begitu? Terlepas dari bagaimana ia melakukannya, hanya dalam dua minggu ia mendatangkan sejumlah tamu yang dulu kami pikir mustahil. Apa aku iri dengan kemampuannya?
Tidak, itu juga tidak benar…
Sejujurnya, hal utama yang dia rasakan pada kemampuan Kanie Seiya adalah rasa kagum. Jika saja dia tidak terlalu nyaman dengan dirinya sendiri, dia mungkin sudah menariknya ke pelukannya dan berterima kasih sedalam-dalamnya padanya, dengan air mata mengalir dari matanya.
Tapi dia belum melakukannya. Dia tidak bisa.
Kenapa? dia merenungkannya. Kalau aku tidak iri…
Maka pastilah—
Tidak, tidak, tidak… Dia menyingkirkan jawaban yang muncul dengan sendirinya, sedikit menggelengkan kepalanya, lalu mematikan shower.
Aku pasti sudah gila, kata Isuzu dalam hati. Aku tidak mungkin punya perasaan seperti itu. Itu tidak mungkin.
Untuk satu hal, ia akan menertawakanku. Semua orang di taman akan menertawakanku, ulangnya dalam hati, sembari mengeringkan diri dengan handuk bersih.
Lalu, seperti yang biasa dilakukannya, dia memakai stokingnya lebih dulu. Pakaian dalamnya dipakai setelah itu. Ini hanya caranya melakukannya sejak dia kecil; tidak ada alasan khusus untuk itu.
Itu mengingatkannya akan insiden di apartemen Seiya. Dia keluar dari kamar mandi dan berpakaian seperti yang dilakukannya saat ini, ketika ia kebetulan masuk ke ruang ganti.
Pada saat itu, dia menerapkan apa yang dia yakini dikenal di dunia manusia sebagai ‘poker face.’ Apa lagi yang bisa dilakukannya?
Isuzu berpura-pura sangat tenang, tapi tentu saja, dia tidak. Dia hanya memiliki kepribadian yang memungkinkannya untuk tampil lebih berkepala dingin semakin genting keadaan darurat yang dialaminya. Bahkan jika bom meledak di dekatnya, dia akan selalu menjadi gambaran sempurna dari ketenangan.
Setelah mengenakan pakaian dalamnya dan menggunakan pengering pada rambut berkilaunya, dia menyikat gigi, dan kemudian mengintip ke cermin. Dia mencoba tersenyum, lalu mencoba menangis.
Ada gerakan kecil di sekitar sudut mata dan mulutnya, tapi secara umum, wajahnya mempertahankan ketidakpeduliannya yang biasa. Isuzu selalu mengalami kesulitan dalam berekspresi, meski hanya sedikit emosi.
Dia memakai lip gloss-nya yang kurang lebih wajib, lalu mencoba mengerutkan bibirnya; kali ini berhasil. Ada sesuatu yang agak seksi tentang itu.
Isuzu mencoba melakukannya lagi, mengerahkan semua usahanya, tapi kali ini dia gagal. Bibirnya hanya berputar dengan canggung, lalu berakhir dengan cemberut.
...----------------...
Makanan yang disajikan di kafetaria karyawan AmaBuri, AM, sangat buruk.
Tidak ada yang tahu kenapa kafetaria dikenal sebagai AM. Kafetaria menawarkan tiga hidangan spesial—yang belum berubah sekali pun selama tiga tahun dia di sana—seperti gyudon berbau busuk, spageti napolitan kering, dan kari ayam.
__ADS_1
Kari ayam adalah yang terburuk dari semuanya. Penuh dengan wortel dan bawang keras; ayamnya tidak dimasak hingga matang; dan, mungkin karena mereka memakai bubuk kari murah, baunya menjadi aneh dan apek.
Sejujurnya sulit untuk membuat kari yang rasanya tidak enak, namun seolah-olah melewati semacam keajaiban, AM telah sampai pada kari mengerikan ini. Isuzu terkadang ingin tahu jika menjualnya di atas panggung dan mengiklankannya sebagai ‘Amagi Brilliant Park menyajikan kari terburuk di dunia’ mungkin akan menarik.
Pagi itu, sebagai hukuman karena mengizinkan dirinya sendiri bermimpi sekonyol itu dan kehilangan kendalinya, Isuzu membeli tiket untuk kari ayam itu. (Setidaknya, itulah yang dia katakan pada dirinya sendiri—faktanya, harga 240 yen yang rendah mungkin akan lebih berpengaruh.)
“Wow, seseorang sungguh membeli kari, ron.”
Saat dia mengambil kembalian 260 yen dari mesin tiket, Isuzu mendengar suara dari belakangnya.
Dia adalah Peri Musik, Macaron.
Dia adalah maskot domba putih, lembut, dan menggemaskan yang tingginya 2.5 kepala. Dia adalah anggota pemeran lama, dan ia menjalankan Teater Musik Macaron, sebuah atraksi di area Bukit Penyihir AmaBuri.
“Selamat pagi, Macaron.” dia menyapanya.
“Pagi, ron. Isuzu-chan, Aku harus bertanya… apa kau sungguh akan memakan karinya di sini, ron?”
“…Ini murah,” balasnya. “Juga ada alasan filosofis di baliknya.”
“Be… Begitu. Tapi hati-hati, ron. Wanipii memakannya sekali dan ia meletus… dari kedua ujungnya, kalau kau tahu apa maksudku. Ia akhirnya menghabiskan beberapa hari di Rumah Sakit Amagi, mendapatkan kembali cairannya lewat IV.”
Isuzu bertanya-tanya: Kalau benar-benar seburuk itu, kenapa rumah sakit tidak mencoba untuk mencari tahu sumbernya? Tapi bukannya menanggapi, dia hanya berjalan menjauhi mesin tiket.
Dia menukarkan tiketnya untuk kari yang disebutkan, menaruhnya di atas nampan, dan kemudian pergi untuk duduk. Saat itu pagi hari, jadi hampir semua kursi sudah ditempati, kebanyakan oleh anggota pemeran yang tinggal di asrama taman.
Isuzu tinggal di asrama perempuan, jadi dia makan di sini dua kali sehari, pagi dan sore hari. Macaron pasti tinggal di asrama laki-laki juga, kalau begitu, dia menyadari. Meski rekan sebangsanya yang biasa, seperti Moffle dan Tiramii, cenderung menyewa apartemen murah di luar taman.
Semua orang di taman memiliki situasinya masing-masing, bagaimanapun. Dia tidak melihat adanya alasan untuk mencampuri urusan pribadinya.
“Boleh aku duduk di sini, ron?” Macaron berjalan ke kursi di depan Isuzu. Itu tampak wajar, mengingat kurangnya kursi di sekitar mereka, jadi dia mengangguk.
Macaron memilih ikan bakar spesial, yang adalah salah satu pilihan yang lebih bisa dimakan yang ditawarkan oleh kafetaria. Jika bukan karena mimpi konyol itu pagi ini, dia mungkin juga akan memilih ikan. Meskipun harga 480 yen-nya, melawan kari 240 yen, adalah inspirasi lebih lanjut baginya untuk memilih yang terakhir.
Menyedihkan, pikirnya. Bagi seorang anggota pengawal kerajaan elit dari Alam Magis Maple Land untuk memilih antara kari 240 yen dan ikan 480 yen dengan serius…
“Ini adalah pertama kalinya kita bicara saat sarapan, ron.” ucap Macaron.
“Begitu.” ucap Isuzu.
“Kau selalu makan sendirian. Kau punya aura tidak mudah didekati yang nyata, ron.”
“Ah.”
“Yah, itu cukup masuk akal, mengingat posisimu, ron.”
“Kau mungkin benar.” Isuzu setuju.
Tahun lalu, posisi Isuzu di AmaBuri adalah sesuatu yang mendekati manajer pelaksana. Sebelum itu, dia adalah seorang prajurit di pengawal kerajaan Maple Land. Omong-omong, dia seperti tipikal birokrat muda elit yang dikeluarkan dari kantor pusat dan dikirim ke pos terpencil. Dia belum diterima di sini, dan sulit untuk mendapatkan hasil.
Persahabatan di antara staf AmaBuri ternyata sangat kuat, mengingat betapa buruknya taman itu sendiri, namun Isuzu tetap terisolasi di atara mereka.
“Apa aku mengganggumu? Maaf kalau iya, ron.”
Tanggapan Isuzu tetap acuh tak acuh, jadi Macaron berhenti mencoba terlibat dan kembali makan, memakan filet amberjack-nya dan menyeruput sup misonya.
Isuzu tidak berusaha bersikap dingin padanya; dia hanya tidak pernah yakin bagaimana menanggapi komentar seperti miliknya, atau bagaimana cara memperkaya percakapan. Juga seperti itu di pengawal Maple Land.
Dia tidak berusaha untuk mengusir orang lain, tapi itu tampaknya selalu menjadi hasil akhirnya, bagaimanapun juga. Wanita yang dingin, kaku, dan pendominasi yang akan dengan senang hati menggunakan kekerasan pada yang lain untuk mendapat apa yang diinginkannya—begitulah tampaknya bagaimana setiap orang melihatnya, dan orang-orang di sini tidak ada bedanya.
Dia selalu berharap dirinya bisa menangani semuanya sedikit lebih baik, tapi keadaan sepertinya tidak pernah membaik.
Dalam diam, dia membawa sesendok kari ke mulutnya. Seperti yang diharapkan, itu kurang matang, ada sisa rasa, dan mengerikan dari semua sisi.
“Isuzu-chan,” ucap Macaron. “Kalau itu menjijikkan, kau harus mengatakannya, ron. Kejujuran itu baik untuk jiwa.”
Dia seharusnya mengakuinya, tapi sebaliknya, dengan ekspresinya yang terkunci pada ketidakacuhan, dia hanya berbisik: “Mungkin.”
“Kau melakukannya lagi, ron.” Macaron mengembik rendah dan dalam. “Aku dulu berpikir kau tidak ramah karena kau adalah manajer pelaksana kami… apa itu gangguan komunikasi? Apa kau punya gangguan komunikasi, ron?”
Dia dikejutkan oleh pertanyaannya yang bersifat pribadi. Sebelum dia bisa membalas, bagaimanapun, ia menusukkan kukunya ke depan untuk menghentikannya.
“Sudah kuduga kau adalah tipe yang berpikir terlalu keras hingga akhirnya kau lupa bicara, ron. Kau sungguh harus memperbaiki itu, ron.”
“……” Isuzu bingung apakah harus memberitahunya untuk mengurus urusannya sendiri atau tidak; sarannya cukup masuk akal, tapi itu bukanlah hal pertama yang ingin didengarnya di pagi hari.
Karena tidak ada respons yang lebih baik, dia akhirnya hanya berkata: “Kurasa begitu.”
Macaron tampak jelas kecewa dengan reaksi acuh tak acuh lainnya. “Itu tidak baik, ron. Aku hanya mengatakan ini karena aku mengkhawatirkanmu. …Hei, itu Kanie-kun.”
“……?” Terdorong oleh kata-katanya, Isuzu memandang ke arah pintu kafetaria. Tidak ada siapa pun di sana; itu hanya seorang anggota pemeran tak dikenal yang sedang berjalan keluar.
Dia kembali ke Macaron. Untuk suatu alasan, ia duduk sangat tegak, melihat ke kejauhan, bersiul polos. “Salahku, ron.”
“…Begitu.” Meski meragukan tingkah anehnya, dia membawa sesendok kari menjijikkan lainnya ke mulutnya. Giginya mengunyah sesuatu yang keras, tapi mengasumsikan itu adalah nasi kering, dia memutuskan untuk menelannya. Dia melanjutkannya dengan minum air, lalu melanjutkan siksaannya di bawah pengamatan cermat Macaron.
Apa yang tidak bisa dilihatnya adalah, di bawah meja, Macaron mengepalkan kukunya dengan penuh kemenangan saat ia mengucapkan “ya!” dengan sangat pelan.
...----------------...
Hari itu hari kerja, jadi pemberhentian Isuzu yang berikutnya adalah SMA Amagi, di kota. Dia awalnya dipindahkan ke sekolah itu untuk merekrut Kanie Seiya, jadi kiranya, tugasnya sudah selesai. Tapi wanita itu, Latifah Fleuranza, manajer AmaBuri, mengatakan ini padanya:
“Kanie Seiya-sama adalah penyelamat kita. Adalah tugas kita untuk memastikan bahwa ia tak menginginkan apa pun, bahkan dalam pendidikannya. Mulai saat ini, kau harus tetap di sisinya untuk sepanjang harimu.”
Latifah kehilangan ingatannya di akhir tahun sekolah, jadi dia secara pribadi tidak mungkin tahu tentang perjuangan yang Seiya lalui di bulan Maret. Tapi ketika putri kerajaan Maple Land menyuruhnya melakukan sesuatu, Isuzu nyaris tidak bisa menolak. Dengan demikian, dia dengan enggan melanjutkan kehadirannya di SMA Amagi, kali ini sebagai siswi tahun kedua.
Keanehan pertama dimulai ketika seorang gadis dari kelasnya menyapanya di lorong: “Pagi, Sento-san. Kau kelihatan cukup murung.”
Isuzu sudah berbicara dengan orang ini beberapa kali sejak semester baru dimulai. Dia sedikit berkarakter pemimpin di antara para gadis, dan bahkan mengawasi siswa yang tidak terlalu cocok. Dia menyapa Isuzu adalah sambungan dari peran itu.
Biasanya, Isuzu hanya akan berkata “Kurasa tidak,” dan mengakhiri percakapanya. Tapi pagi ini, balasannya datang dengan segera: “Ya, aku murung. Aku bermimpi buruk, aku memakan kari yang mengerikan, dan aku harus menahan saran dari rekan kerja yang tidak kuminta. Tidak ada yang berjalan baik dalam kerja, semua pemeran malas, dan aku tidak bisa berhenti cemas jika kami tidak akan mencapai kuota kedatangan kami tahun ini.” Dia sampai sejauh itu, kemudian menutup paksa mulutnya.
Gadis itu menatap tak percaya pada logorrhea Isuzu yang tiba-tiba dan tidak disengaja. “Oh… begitu. Kedengarannya berat.”
“Memang berat. Penggantiku, Kanie-kun, adalah orang yang cemerlang entah baik atau buruk hasilnya. Aku tidak iri dengan kemampuannya, tentu saja, tapi aku dalam posisi di mana aku seharusnya mendukungnya, dan aku tidak yakin aku melakukan apa yang diharapkan dariku. Aku juga tidak punya kepercayaan pada diriku sendiri. Jadi—” Isuzu menjepitkan tangannya di mulutnya untuk menghentikan paksa aliran kata-kata yang tumpah.
Apa yang kukatakan? dia terheran-heran. Mengoceh tentang masalah kerjaku pada seseorang yang nyaris tidak kukenal… Aku belum pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya.
“Um, aku tidak terlalu tahu apa yang kau bicarakan, tapi…”
“Kau adalah manusia, tentu saja, jadi ini bukan urusanmu. Tolong, lupakan semua yang kukatakan. Kalau tidak, aku harus menggunakan senapan Steinberger magisku untuk—mmph!” Isuzu meraih rahangnya yang tak terkendali dengan kedua tangan dan menahannya paksa agar tertutup.
“U-Um? Sento-san?” gadis itu memberanikan diri.
“Mm… ah. Maaf.” Isuzu berhasil menahannya paksa, kemudian melakukan putaran balik dan melarikan diri.
...----------------...
“Ngomong-ngomong, Macaron,” ucap Tiramii, saat mereka beristirahat dari latihan menari pagi. “Bagaimana dengan kacang kebenaran yang kuberikan padamu, mii?”
Mereka berada di belakang panggung di Gedung No. 2. Ini adalah struktur tiga babak yang biasa digunakan untuk parade dan latihan tari pertunjukan. Ruangan tempat mereka berlatih saat ini kira-kira seukuran sebuah ruang kelas sekolah, serta mempunyai satu dinding yang ditutupi banyak cermin.
Tiramii dan Macaron beristirahat sejenak, sementara Moffle memberikan tips pertunjukan pada para penari latar pria dan wanita yang mereka sewa dari perusahaan teater lokal.
“Satu, dua! Satu, dua! Oke, sekarang berputar, fumo!” Moffle menepukkan tangan hewannya sembari membentakkan petunjuk pada para penari.
“Satu, dua! Satu, dua! Kau, di sana! Kau terlambat lagi! Kenapa kau selalu terlambat? Kau akan mengecewakan para penonton, fumo!”
Tidak cukup orang dan tidak cukup pendanaan. Sebagai akibat dari masalah ini, Moffle telah melakukan tugas ganda sebagai koreografer AmaBuri dan produser panggung untuk sementara ini. Itu adalah jenis situasi yang biasanya akan menjadi sebab dari kecelakaan cepat dan kebakaran, tapi Moffle secara mengejutkan telah membuktikan dirinya mampu dalam pekerjaan khusus ini.
“Mengerti, fumo?! Saat satu tiba, kalian harus sudah bersiap untuk dua. Ayo kita lakukan dengan perlahan. Satu… sekarang, dua… Kalian mengerti sekarang? Ayo kita coba sekali lagi, fumo. Berbalik… oke, satu! Sekarang di tanah… sekarang, dua!”
Para penari bergerak dengan canggung, tapi serentak.
“Ya, ya, ya! Jauh lebih baik, fumo! Sekarang, ayo kita percepat, sedikit demi sedikit. Oke, satu, dua… Ya, oke! Satu, dua! …Ya, hebat, fumo!”
Melihat Moffle dan para penari berlatih dari jauh, Tiramii dan Macaron terkekeh.
“Apa Moffle sudah… berubah, mii?”
“Yah… ia tampaknya memang sedikit lebih baik dalam pengajarannya daripada sebelumnya, ron.”
Di masa lalu, ia jauh kurang ramah. ‘Kenapa kau tidak bisa melakukannya dengan benar, fumo?! Kalian semua membosankan, fumo!’ ia akan berteriak, melimpahkan caci maki pada para penari yang disewa dan membunuh suasana seluruh teater.
Tapi sekarang hidup taman sudah diperpanjang setahun lagi, ia mungkin bisa santai dan mampu menjadi lebih baik pada para penari.
“Bagaimanapun, kembali ke topik pembicaraan, mii. Macaron, apa yang kau lakukan pada kacang kebenarannya, mii?” tanya Tiramii lagi.
__ADS_1
Macaron mengembik dalam, menatap ke kejauhan. “Ahh, kacang kebenaran? Aku mencoba satu pagi ini, ron.”
“Oh-ho…” Tiramii terkekeh.
“Aku takut mencobanya sendiri,” Macaron mengaku, “jadi kuselipkan satu ke kari Isuzu-chan.”
“Betapa jahatnya dirimu, mii.” Tiramii tersenyum lebar. Ia tahu betul apa efeknya.
Kacang kebenaran adalah jenis kacang magis yang misterius yang tumbuh di pegunungan di belakang rumah masa kecil Tiramii. Kacang-kacangan itu menyebabkan siapa pun yang memakannya segera menjawab pertanyaan apa pun dengan kebenaran yang lengkap dan tidak ditutup-tutupi. Berapa lama efeknya berlangsung akan bervariasi tergantung individu, tapi kisarannya adalah dari beberapa jam hingga setengah hari. Kebetulan, kacang-kacangan itu memiliki rasa yang sangat istimewa, dan bisa menjadi lezat ketika direbus dengan ayam, bawang, gula, dan kecap (meski tidak dianjurkan untuk memakan hidangan ini dengan orang yang tidak akrab denganmu).
“Tidak perlu cemas, ron. Kacang kebenaran itu legal.”
“…Macaron. Aku memberimu kacang itu agar kau bisa mendengar bagaimana perasaan mantan istri dan putrimu yang sesungguhnya padamu, mii. Aku tidak memberinya padamu untuk memainkan lelucon kejam pada Isuzu-chan, mii.”
“Aku tahu! Aku hanya mau menguji keefektifannya, ron. Sayangnya, Isuzu-chan malah akhirnya pergi ke sekolah…”
“Sayang sekali, mii. Aku akan bertanya berapa kali dia jasterboot dalam seminggu.”
‘Jasterboot’ adalah istilah Maple Land untuk suatu tindakan tertentu. Kami tidak akan memberikan penjelasan terperinci di sini, tapi itu bukanlah sesuatu yang akan kau diskusikan di perusahaan yang beradab. Itu terkait dengan hinaan tertentu Maple Land—‘pergi puff dirimu sendiri!’—tapi kami juga akan meninggalkan rincian apa tepatnya artinya.
“Kalau kau menanyainya itu, dia pasti akan membunuhmu nanti, ron.”
“Tidak perlu cemas,” datang sebuah suara. “Aku akan membunuh kalian sekarang juga.”
Mereka berbalik untuk melihat Isuzu berdiri di sana. Dia mengenakan seragam SMA Amagi-nya, dengan musketnya yang biasa di tangan. Ekspresinya tampak kosong, pada awalnya, tapi matanya menyala terang dengan amarah.
“Ohh…” keduanya meratap.
Dia mulai menembak. Keduanya diserang, lagi dan lagi, dengan rasa sakit empat kali lipat lebih buruk dari menyandungkan jari kelingkingmu ke meja rias.
...----------------...
Kanie Seiya tidak pergi ke sekolah hari itu, jadi ia berada di kantornya di AmaBuri sejak pagi itu.
Ia mengadakan pertemuan yang mengecewakan dengan Ashe, kepala departemen akuntansi. Ia telah mendengar laporan terus terang mengenai keuangan mereka yang mengering (dan juga menyebabkan putus asa) dan sekarang ia dengan sabar terlibat dalam diskusi dengannya tentang bagaimana menyeimbangkan rekening mulai saat ini.
“Singkatnya… Pak.” ucap Ashe.
Selain telinga runcing, tanduk, kulit cokelat, dan sedikit sifat kejam, dia terlihat seperti gadis biasa berumur dua puluhan, dengan banyak lekuk tubuh yang tertahan kaku di tempatnya di balik setelan yang agak biasa. Seiya sudah mendengar bahwa dia datang dari alam magis selain Maple Land, tapi hanya itu yang ia ketahui tentangnya—itu, dan fakta bahwa ia nyaris membunuh Tiramii setelah ia melecehkannya secara seksual (dalam suatu insiden yang bahkan meyakinkan maskot yang tidak bisa diperbaiki itu untuk akhirnya diberhentikan).
Ia juga tahu bahwa dia sudah bertanggung jawab atas rekening AmaBuri selama bertahun-tahun. Fakta bahwa tempat itu tetap bertahan selama ini membuatnya jelas bahwa dia adalah salah satu pahlawan rahasia taman ini.
“Kampanye 30 yen bulan lalu adalah gebrakan yang buruk,” dia melanjutkan. “Kita berhasil melewati masalah kedatangan, tapi anggaran kita dalam kondisi buruk. Jika tidak ada perubahan, kita akan mulai mengalami masalah dengan arus kas kita.”
“Yah… itu sudah jelas,” Seiya bergumam dengan suram.
“Kita berada di ambang cek kosong,” dia mengakui. “Satu-satunya jalan untuk bertahan adalah membebaskan dana dengan PHK besar-besaran.”
“Tidak mungkin,” Seiya mendesah. “Kita sudah kekurangan tenaga. Bisakah kita meminta jaminan pada Bank Maple?”
Bank Maple adalah bank dari alam magis Maple Land. Itu adalah salah satu organisasi yang berkepentingan untuk menjaga taman tetap buka—cukup alami, karena kelangsungan hidup putri mereka, Latifah, bergantung pada kelangsungan hidup taman…
“Tidak, mereka tidak bisa,” Ashe mendesah.
“Kenapa tidak?”
“Efek dari strategi pelonggaran kuantitatif Jepang, secara politis memotivasi reformasi personil di sidang Maple Land, kebijakan baru Federal Reserve Amerika mengawasi bank-bank alam magis dengan keras… ini cukup rumit, haruskah aku melanjutkan?”
“Tidak, kau akan membuat para pembaca bosan.”
“Baiklah. Intinya adalah, kita tidak bisa meminta pada bank.”
“Oke.” Seiya mengambil kata-katanya. “Bagaimanapun, cobalah untuk membantu kami melewati bulan ini, setidaknya. Aku mempersiapkan metode terakhir untuk mengumpulkan dana.”
“Apa kau akan merampok bank kali ini?” tanyanya.
Seiya menatap Ashe dengan tajam karena itu. Dia adalah orang yang cerdas, ia menyadari. Dia pasti sudah tahu apa penyebab kebakaran di Stadion Kajinomoto bulan lalu; fakta bahwa dia mengatakan ‘kali ini’ adalah buktinya.
“Aku tidak bermaksud mengkritik,” ucapnya, seolah dia memilah kata-katanya dengan hati-hati. “Aku ingin menjaga taman ini tetap beroperasi sebanyak dirimu. Tapi aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang terlalu gegabah.”
“…Kuhargai kepekaanmu,” ucap Seiya pada akhirnya, “tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Walaupun perampokan bank bukanlah pilihan, setidaknya.”
“Aku senang mendengarnya,” Ashe memberitahunya.
Saat itu juga, telepon di mejanya berdering. Seiya mengangkatnya; itu adalah kepala keamanan mereka, Okuro. “Ada apa?” Seiya bertanya.
“Oh, Kanie-san,” ucap Okuro. “Em, sebenarnya, yah… baru saja di Gedung No. 2, Sento-san, Macaron-san, dan Tiramii-san bertengkar hebat…”
“Mereka bertiga?”
“Yah, itu lebih seperti Macaron dan Tiramii berlari ketakutan ketika Sento-san mencoba membunuh mereka,” Okuro mengaku. “Apa kau pikir kau bisa menghentikannya?”
...----------------...
Seiya berlari ke Gedung No. 2, tapi kekacauan sudah selesai pada saat ia sampai.
Macaron dan Tiramii sudah mati.
Yah, mereka tidak benar-benar mati, tapi mereka tampak cukup dekat dengan kematian: Macaron tidak bergerak, retakan radial muncul dari tempat di mana kepalanya menembus cermin. Tiramii terbaring tengkurap di tanah, setelah menulis ‘pembunuhnya adalah monster berpayudara’ dengan darah di lantai di sebelahnya.
Isuzu berdiri di tengah area latihan, bahunya naik-turun, dan bernapas dengan kasar. Para penari yang disewa meringkuk di sudut ruangan, gemetaran.
“…Kupikir kau berlatih untuk parade,” ucap Seiya menuduh. “Di mana Moffle?”
“Aku tidak tahu pasti. Aku diberitahu ia melihat keributannya dan mencoba menghentikannya, tapi… ah, aku melihatnya. Di sana,” ucap kepala keamanan Okuro, saat ia melirik ke luar jendela yang rusak. Moffle menggantung dari dahan salah satu pohon ceri di luar, dan tampaknya tak sadarkan diri.
“……Jadi, apa yang terjadi di sini?” tanya Seiya, tahu betul bahwa mereka bertiga pasti menggoda Isuzu lagi.
“Pembalasan…” datang balasan cepat Isuzu.
“Mereka memberiku kacang kebenaran, dan mereka berencana untuk menanyaiku pertanyaan vulgar…”
“Pertanyaan vulgar?” ia bertanya.
“Seperti berapa kali dalam seminggu aku jaster—hmmmmmmmgh!!” Isuzu menutup mulutnya dan mencubit hidungnya. Dia tampak seperti sedang mencoba meletupkan telinganya.
“Sento…?” Seiya tampak khawatir.
“A-Aku baik-baik saja…” dia menghela napas.
“Aku pergi ke sekolah hari ini. Meski tampaknya tidak ada gunanya berangkat tanpa dirimu, aku memutuskan bahwa aku setidaknya harus mendapatkan beberapa hari kehadiran. Dan aku merasa canggung melihatmu setelah mimpi aneh yang ku—hmmmmmmmgh!”
“……? Oke, terserahlah. Aku senang kekacauan ini tetap di belakang panggung,” Seiya memberitahunya. “Akan jadi bencana jika para tamu melihatnya. Sekarang, bangunkan para idiot itu, lalu pergi ke gedung administrasi. Wawancara dimulai pukul 1:00 siang.”
“W-Wawancara?!” Isuzu menjadi sangat kaku, matanya melebar.
“Apa, kau punya masalah dengan itu?”
“Ya, aku punya masalah dengan itu,” Isuzu berkata tanpa berpikir. “Aku meluapkan semua yang ada di pikiranku, saat ini. Aku tidak tahu apa yang mungkin kukatakan selama wawancara. Aku mungkin mengungkapkan masalah keuangan taman, atau kondisi kerjanya yang mengerikan, atau sejumlah hal lain yang akan mencegah para pelamar untuk mendaftar. Dan kemudian ada perasaan aneh yang tampaknya timbul untuk—hmmmmmmgh!” Suaranya mengecil menjadi sebuah erangan aneh saat dia menutup rapat hidung dan mulutnya lagi dengan seluruh tenaganya.
“…Apa kau baik-baik saja?” tanya Seiya, setelah beberapa saat.
“Tidak, aku tidak baik-baik saja,” Isuzu berhasil berkata. “Aku butuh cuti sakit. Aku perlu pulang dan tidur. Aku akan berakhir menyebabkan masalah bagimu jika tidak. Bukan sebagai manusia yang dipilih oleh ramalan, tapi sebagai seseorang yang ku—hmmmmmmgh!”
“Ada apa dengan ‘hmmgh’ yang terus kau lakukan itu?” ia ingin tahu.
“Kuberitahu padamu, kacang kebenaran—hmmmmgh!!”
Ini omong kosong, pikir Seiya. Menyimpulkan itu pasti suatu bentuk alergi serbuk bunga, ia berbalik, lalu mulai berjalan menjauh.
“Aku tidak akan memberimu cuti sakit untuk sebuah amukan kecil di belakang panggung. Jangan terlambat, oke?”
“Tapi kau harus membiarkanku pulang—” Isuzu memprotes.
“Tidak,” ucapnya tegas. “Lagi pula, kaulah yang menyaring para pelamar. Kami tidak bisa melakukan wawancara tanpamu.”
“Tapi—”
“Cukup! Kau harus ada di sana! Kalau kau mencoba melarikan diri, kau dipecat!” ia menggerutu. “Dipecat!” Seiya berjalan cepat keluar pintu.
...----------------...
Bahkan selama istirahat singkat seperti ini, Seiya terus memantau keadaan taman: Minggu lalu, ia mengalihkan saluran dari kamera keamanan untuk ditampilkan di laptop miliknya via LAN. Kru pusat keamanan secara keseluruhan gagap teknologi, jadi Seiya harus menangani pengaturan akses dan semacamnya sendiri. Ia berharap menemukan cara untuk mengakses kamera dari mana saja—seperti, di sekolah dan dari rumah—tapi upayanya terus berakhir dengan kesalahan aneh yang tidak bisa ia perbaiki, dan setelah menyadari ia tidak bisa rmenjamin keamanan di browser smartphonenya, ia akhirnya menyerah. Seiya berharap ia bisa memiliki satu saja insinyur untuk menangani tugas-tugas mendasar seperti ini, tapi tentu saja, mereka tidak memiliki dana untuk mempekerjakan satu.
Hari itu adalah hari kerja, jadi kamera menampilkan taman yang nyaris sepi. Ini bisa dimengerti, tentu saja—setiap taman hiburan di Jepang menghadapi kemerosotan di masa-masa ini di bulan April—tapi para pemeran juga tampak bermalas-malasan. Ia harus melakukan sesuatu tentang ini segera. Dalam beberapa hari ke depan, jika memungkinkan…
__ADS_1
...----------------...