Anak Seni

Anak Seni
panas banget sih...


__ADS_3

Pagi hari sekitar jam sembilan, seorang perempuan berbaju kemeja dengan rok plisket keluar dari kamar kosan sambil memperhatikan hapenya.


Ia berjalan keluar dan membuka pagar lalu menutupnya kembali.


"Tukang ojeknya mana sih?"


Perempuan itu menoleh ke kanan kirinya menunggu tukang ojek online yang ia pesan.


"Ah, tukang ojeknya datang"


Motor tukang ojek itu berhenti di depan perempuan itu.


"Putri ya?" Tanya tukang ojek


"Iya"


Tukang ojek itu memberikan helm ke putri, putri pun memakai helmnya dan duduk di kursi belakang motor.


Sepanjang perjalanan, putri terus memperhatikan hapenya.


Baru saja tiba di kampus seseorang menutup matanya dari belakang.


"Eh? Eh? Siapa ini?"


"Coba tebak..."


"Ih... kania..."


Putri melepaskan tangan kania dari pandangan matanya.


"Hehe.. ohayo" sapa kania dengan senyum manisnya


"Ohayo matamu! dasar wibu!" balas putri dengan ketus


"hidoi" ujar kania dengan sedih


Putri tak menggubris, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kelas tapi perhatian mereka teralihkan oleh sekumpulan mahasiswi di kantin.


"Hei lihat, di kantin ada yang rame tuh" tukas kania


"Biar kutebak, pasti itu si widi" ujar putri dengan datar


"Yoi, dia kan memang populer di kampus" sahut kania


"Sudah ah, nanti telat!" balas putri


"Hai hai..." kania menurut dengan patuh


Mereka berdua pun pergi ke kelas.


"Tia! aria!" sapa putri


Tia dan aria menoleh ke belakang.


"Oh, kalian"


Putri duduk di sebelah tia sedangkan kania duduk di sebelah aria.

__ADS_1


"Hei aria, katanya manhwa l***** bakal di jadiin drakor loh..." sahut kania


"Barusan juga aku lihat berita drakor yang akan rilis bulan ini dan judul drakornya itu l*****" ujar aria dengan penuh semangat


"Sekarang banyak manhwa yang di jadiin drakor ya" balas kania


"Mm-hmm..." aria mengangguk mengiyakan


Tapi obrolan mereka berhenti begitu seorang perempuan muda berambut hitam panjang dengan pakaian kemeja putih dan rok hitam masuk ke dalam kelas.


"Eh? Siapa itu?" Tanya putri


"Asdos kali" jawab tia dengan tatapan datar


"Bukannya dia itu riska yang dari jurusan seni rupa" sahut aria


"Karena hari ini ibu winda tidak bisa hadir jadi saya riska, yang akan menggantikan beliau selama dua minggu" ucap riska dengan lantang


Semua murid saling berisik dan protes tapi itu tidak membuat riska panik ataupun gugup.


"Hee... nandayo koitsu!" gerutu kania


"Baiklah, mari kita mulai pelajarannya"


Sementara itu...


Widi pergi ke tempat panggung drama teater sendirian, ia berlari menghampiri seorang gadis kecil yang sedang memeriksa perlengkapan dengan para staf.


"Sunifa!" panggil widi


"Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan panggil aku sunifa saat di kampus, panggil aku ibu sutradara!" ujar sunifa dengan ketus


"Ah iya, maaf aku lupa... ibu sutradara..." sahut widi sambil menggaruk kepalanya dengan canggung


"Oh iya ini naskahnya"


Sunifa memberikan beberapa lembaran kertas naskah ke widi, widi membaca isi naskah itu sebentar.


"Cerita horor lagi?" Tanya widi


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya sunifa


"Ng-nggak..." jawab widi sambil memalingkan wajahnya


"Kita akan latihan sepuluh menit lagi, jadi cepat hafalkan naskahnya" perintah sunifa


"Oke..."


Begitu sunifa pergi, widi duduk di salah satu kursi dan mulai menghafalkan naskahnya tapi seseorang memanggilnya dari belakang.


"Widi..."


"Iya? eh, rika, ada apa?" Tanya widi


"Apa kau melihat sunifa?" Tanya rika


"Ah, tadi sih kalau tidak salah dia pergi ke belakang panggung" jawab widi

__ADS_1


"Begitu ya, terima kasih"


Rika langsung pergi ke belakang panggung tanpa pamit.


"Dia benar-benar tidak suka basa-basi ya" batin widi


Sepulang dari kampus, putri langsung kembalu ke kosan dan mulai membereskan kamarnya.


"Baiklah... saatnya bersih-bersih" gumam putri pada diri sendiri


Putri mulai mencuci baju, menyapu, mengepel dan menjemur bajunya.


"Hadeuh... panas banget sih..."


Putri langsung berbaring di kasur dengan lemas, ia mengambil hapenya dan melihat ada banyak notifikasi pesan.


"Banyak banget dah"


Putri pun duduk dan bersandar di tembok sambil bermain hape.


"Eh? Ada pesan dari jean!"


Putri langsung membuka isi pesan tersebut.


Jean: p


Jean: aku boleh ke kosan kamu ga?


Putri: boleh


Jean: otw


"Hmm? Kenapa dia tiba-tiba mau ke kosan?" Tanya putri pada diri sendiri


Tak berselang lama kemudian, jean tiba di kosan putri dengan motor maticnya.


"Oh, jean..."


Putri berdiri di dekat pintu, jean turun dari motor dan melepaskan helmnya sebelum masuk ke dalam kosan.


"Aku bawa martabak untukmu..." tukas jean sambil membawa plastik berisi martabak


"Wah... terima kasih, kebetulan hari ini aku sedang bokek jadi aku hanya punya air putih saja" ujar putri dengan sungkan


"Gak papa..."


Mereka berdua mengobrol dan berbasa-basi sambil makan martabak.


"Ahahahaha!"


"Oh ya putri, ada yang ingin... kutanyakan" sahut jean


Suasana berubah menjadi serius, jean meremas tangannya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"A-ada apa?" Tanya putri dengan cemas


"Itu..."

__ADS_1


__ADS_2