
Putri yang baru saja selesai mandi mengambil hapenya yang sedari tadi bergetar.
"Halo kania"
"Ojou-chan... tasukete..."
"A-ada apa?"
"Tanganku... kambuh lagi... kamu bisa ke sini..."
"Eh, ah, i-iya! Aku akan ke sana!"
Putri segera memakai bajunya lalu pergi menggunakan sepeda motornya ke rumah kania.
...***...
"Kania!"
Putri langsung membuka pintu dengan keras dan berjalan masuk ke dalam kamar kania.
"Ya ampun!"
Putri segera membantu kania untuk duduk di ranjangnya.
"Apa sakitnya parah?"
"Tidak terlalu..."
"Mau aku antar ke rumah sakit"
Kania menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Tapi ini tidak bisa di biarkan, bagaimana kalau nanti semakin parah!" Protes putri
Kania hanya diam menunduk, ia menggenggam tangan putri lalu tersenyum.
"Daijobu ojou-chan, aku hanya perlu istirahat saja, sebenarnya aku mau minta tolong kamu buat bantuin aku beresin rumah"
Putri menghela napas berat, ia pun menjitak dahi kania.
"Nggak gratis loh ya"
"Hai, hai, nanti aku bayar"
Di sisi lain, cinta dan mia bermain game anime ritme.
"Hahaha! Aku menang!"
Mia menatap layar hapenya agak lama lalu beralih ke cinta.
"Baiklah, aku akan menjadi bass di bandmu, latihan di mana? Sampai kapan dan berapa lama latihannya? Apa kamu punya studio musik sendiri? Sudah pernah membuat album sebelumnya?"
"W-woy... satu-satu napa pertanyaannya!"
Cinta menaruh ponselnya ke saku dan membereskan gitarnya.
"Teman kakakku punya studio musik jadi kita akan latihan di sana, oh iya, apa aku boleh minta kontak nomormu"
Mia memberikan nomor hapenya ke cinta.
"Oke, nanti aku kabarin lagi untuk latihannya kapan, dan pertanyaanmu nanti akan kujawab lewat chat dah..."
Kaki cinta terkilir saat turun dari panggung, ia berjalan dengan pincang.
"Aaakh..." rintih cinta
"Ceroboh" batin mia
Cinta berjalan menuju gerbang depan kampus, tak sengaja ia melihat satpam sedang bermain hape di gardunya.
"Eh, itu kan, pak satpam? Sedang main apa dia?" Tanya cinta
Cinta menghampiri satpam dari belakang, ia melihat satpam itu sedang bermain game.
"Wah! Main game kandori juga?!"
"Eh? Kamu tahu game kandori?"
"Yoi, tapi gua masih belum bisa main di level expert"
"Masa...?"
"Kalo gak percaya ayo mabar sama gua"
__ADS_1
"Oke, yang kalah harus traktir makan"
...***...
Setelah ronde pertama, score pak satpam lebih unggul dari cinta.
"Full combo..." kata farhan dengan sumringah
"Lihat, main di level hard itu susah, di tambah lagu yang di pilih lagu keramat" ujar cinta dengan kesal
"Mau lanjut mabar lagi?" Ajak farhan
"Iya deh" balas cinta
Di satu sisi, setelah selesai latihan menari, kartika bersama teman-temannya mengobrol.
"Makan-makan dulu yuk" ajak salah seorang lelaki
"Di restoran itu lagi yuk" sahut perempuan lain
"Boleh deh, diva, apa kamu mau ikut?"
Diva mengambil tasnya lalu menoleh.
"Maaf, aku tidak bisa, lain kali saja" ujar diva dengan datar
Kartika memandang diva yang mulai menjauh dengan tatapan sendu.
Di perjalanan pulang, diva melihat seorang anak sd sedang berjalan sendirian.
"Dek, mau kakak anterin?"
Anak laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya dan berlari ke dalam gang.
"Hmm?
Anak sd itu melihat ke sekeliling, ia berlari melewati gang tapi sepasang tangan membekap mulutnya dan ia di bawa pergi.
Dari balik tembok, diva melihat kejadian tersebut.
Anak sd itu di lempar ke tembok, dua orang preman membawa anak laki-laki itu ke sebuah kontrakan kosong dan kotor.
"Hei nak, sudah gua bilang jangan macam-macam dengan adek gua, masih aja ngeyel!"
"Bacot!"
Anak sd itu menangis tak bersuara dan mengompol di celana.
"Hahahaha! Dia sampe ngompol dong..."
"Cowok cemen- guagh!"
"Eh?!
Diva menendang bokong preman itu dan menyikut hidung preman satunya lagi.
"Aargh!"
Diva menginjak area ************ preman itu dengan satu kaki kiri.
"Hmph, sekarang siapa yang cemen"
Diva menginjaknya lebih keras dan membuat preman tersebut menjerit.
"AAAAKH!!!"
Diva menghampiri anak sd itu dan menggendongnya.
"Ah?"
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu"
Wajah anak lelaki itu memerah, ia memalingkan wajahnya.
"Ma-makasih"
Diva tersenyum tipis, ia membawa anak sd itu ke rumahnya dan memberinya celana ganti.
"Nanti akan kucuci celanamu, mungkin besok baru bisa kukembalikan"
Anak sd itu hanya diam dan menunduk.
"Mari aku antar kamu pulang"
__ADS_1
"Nggak!"
"Eh?"
"Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau sekolah! Aku... aku takut"
Diva menghela napas panjang, ia jongkok di hadapan anak lelaki itu.
"Kenapa kamu takut? Coba cerita ke kakak"
"...aku tidak punya teman"
"Hmm?"
"Dari dulu, mereka semua menyebalkan, sepatu, buku, tas, selalu mereka sembunyikan. Dan yang paling menyebalkannya lagi, mereka selalu membuang sampah ke kolong mejaku!"
Diva hanya diam mendengarkan.
"Kalau aku membalas menjahili mereka, mereka malah mengadukannya ke guru atau ke orang tua mereka. Tapi... kalau aku yang mengadukannya ke ayah, ayah pasti... ayah sangat menyeramkan! Ayah hanya akan memperparah keadaan dan guru pun juga sama saja, tidak ada yang bisa menolongku" ucap raka dengan panjang lebar
Raka mulai meneteskan air mata, diva merasa iba.
"Tapi kamu harus tetap sekolah, apa kamu-"
"Daripada harus pergi sekolah lebih baik aku mati saja!" Sela raka
Diva langsung melayangkan tendangan T ke tembok dan membuat raka tersentak, diva mendekatkan wajahnya ke wajah raka.
"Coba ulangi apa yang kamu bilang tadi"
Nada suara diva berubah menjadi rendah, raka menelan ludahnya.
"A-a-aku..." kata raka dengan gagap
"Dengarkan aku bocah, jika kau mati memangnya kau sudah menyiapkan bekal untuk di akhirat nanti?" Tanya diva dengan mimik serius
"I-itu... itu... aku..."
"Kau harus bisa menerimanya, jika kau tidak bisa membalasnya maka diamlah" sahut diva dengan tegas
"Tapi... aku tidak bisa, aku ini cengeng" ujar raka dengan pesimis
"Jangan ragu, kamu harus bisa melakukannya, atau kamu akan terus menjadi mangsa para pembully" lugas diva
Raka menghapus air matanya, diva menurunkan kakinya dan memeluk raka.
"Ah?"
"Aku tahu ini susah tapi kamu harus bisa karena dunia orang dewasa akan lebih kejam, jadi percayalah pada dirimu sendiri"
"I-iya..."
"Oh ya, siapa namamu?"
"A-aku raka"
"Aku diva, salam kenal ya..."
Diva mencium kening raka dan membuat wajah raka memerah merona.
"A-apaan itu?!" Celetuk raka
"Hihi, bukan apa-apa... mari, aku antar kamu pulang ke rumah" tukas diva sambil tersenyum m
"I-iya deh..." jawab raka dengan pasrah
Sesampainya di rumah, ibunya menyambut raka pulang.
"Raka!!" Teriak ibu
"Ibu" sahut raka dengan datar
"Kenapa baru pulang?!" Tanya ibu dengan khawatir
Raka hanya diam, diva menghampiru ibu raka.
"Begini bu..."
Setelah bicara cukup lama, ibu raka tersenyum lega.
"Terima kasih banyak ya neng..."
"Sami-sami... saya pamit pulang ya bu"
__ADS_1
"Iya..."