
Cinta diam mematung.
"E-eh? Apa?" Tanya cinta heran
"Namamu siapa?" Tanya mia balik
"Namaku mia, dari jurusan penyajian musik, kalau kamu" jawab cinta
"Aku mia, dari jurusan pendidikan musik" tukas mia dengan datar
"Mia? Kamu... mia si pemain biola dari amerika itu kan!?" Balas cinta
Mia hanya mengagguk dengan kaku.
"Gila... tidak kusangka aku akan bisa bertemu denganmu!"
"Sudah berapa lama kamu bermain gitar?"
"Eh?"
Cinta memasang tampang polos, mia menghela napas panjang.
"Hah.... sudah berapa lamu kamu bermain gitar?" Tanya mia lagi
"O-oh, i-itu... aku belajar pertama kali bermain gitar waktu smp dan sekaligus bernyanyi tapi aku berhenti bermain selama satu tahun sebelum kuliah" jawab cinta dengan kikuk
Mia menganggukan kepalanya dengan mata terpejam.
"Pantas saja, permainan gitarmu menjadi lebih buruk" kritik mia
"A-apa?" Sahut mia sembari mengerutkan dahinya
"Aku memang tidak pandai dalam bermain gitar elektrik tapi untuk bass aku lumayan mahir" mia berjalan maju melewati cinta
Mia mengambil ssbuah bass yang ada di ruang musik dan mulai memainkannya.
Seketika, jantung cinta berdebar-debar dan terpana dengan permainan bass Mia.
"Sangat... keren..." puji cinta
"Tidak, ini masih belum bisa di bilang bagus, aku tadi sudah bilang kalau aku-"
Cinta langsung menggenggam tangan mia dengan tatapan berbinar.
"Aku mohon... tolong, jadilah anggota bandku, aku sangat membutuhkan pemain bass dan aku ingin kamu menjadi anggota bandku!" Pinta cinta dengan mimik serius
"Tidak, terimakasih" tolak mia sambil melepaskan tangannya dari mia
Tetapi mia segera berdiri dan menghalangi jalan mia.
"Jangan pergi, tolong jadilah pemain bass untuk gameku! Aku sangat membutuhkanmu mia!" Paksa mia
"Tapi aku tidak cukup ahli dalam bermain bass, dan aku ini adalah seorang pemain biola" ujar mia dengan dingin
"Aku tidak peduli meskipun kemampuanmu dalam permainan bass tidak terlalu bagus tapi... kita bisa pasti bisa saling melengkapi sebagai anggota band"
Cinta tidak melepaskan tatapan matanya dari mia, mia memutar bola matanya.
"Dasar keras kepala!" Gerutu mia
"Kalau begitu... begini saja, kita akan bermain game musik ritme, jika aku menang maka kamu harus menjadi anggota bandku tapi... jika aku kalah aku akan membiarkanmu" jelas cinta dengan panjang lebar
"Berapa ronde?" Tanya mia
"Cukup satu kali saja, yang paling banyak perfectnya dia yang menang, setuju?" Usul cinta
Mia diam beberapa saat kemudian ia membuka matanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku terima" ujar mia dengan dingin
"Hmph, bagus" balas cinta
...***...
Selesai pemotretan, riku melihat hasil gambar yang ia tangkap.
"Kerja bagus" tukas riku
"Sungguh? Coba aku mau lihat?" Pinta farhan
Farhan mendekati riku dan melihat ke arah hape riku.
"De-dekat sekali!?" Batin riku
"Hee... boleh juga, aku benar-benar terlihat tampan" lugas farhan
"Pede banget, ya sudahlah, ayo kita pulang!" Balas riku
"Kita?" Tanya farhan
"Ma-maksudku, antar aku pulang, masa aku harus jalan kaki" jelas riku dengan wajah memerah
Farhan tersenyum menahan tawanya, ia pun mengantar pulang riku dengan motornya
...***...
Seusai pembelajaran berakhir, tiara dan indri keluar dari kelas.
"Oh tidak, ada panggilan tak terjawab dari lily berkali-kali" ujar tiara dengan panik
"Coba lihat pesan, siapa tau dia ngirim pesan" usul indri
"Oke" tanggap tiara
"Dia bilang temui aku di kafe belakang kampus pulangnya" ucap tiara sambil melihat layar hapenya
"Kalau begitu ayo kita pergi" sahut indri
Mereka berdua pun pergi ke kafe belakang kampus, di sana sudah ada lily dengan tiga minuman berada di mejanya.
"Ah, indri... tiara..." celetuk lily
Indri dan tiara duduk di kursi meja dekat lily.
"Hah.... aku minta maaf..." ujar lily sambil menutupi wajahnya
"Nggak papa... aku paham kok..." tukas tiara
"Aku sudah bilang berkali-kali, jangan pernah melampiaskan emosi ke orang lain... kamu harusnya beruntung karena kami bisa memakluminya tapi tidak dengan orang lain" sanggah indri sembari melipat tangannya di meja
"Iya... maafkan aku..." balas lily
"Sudahlah... jangan marah-marah terus indri..." sahut tiara
"Nih, aku sudah beliin es boba buat kamu" tukas lily sembari menyodorkan minuman ke indri
Indri menyuruput es boba yang sudah ada sedotannya tersebut.
"Makanannya mana?" Tanya indri
"Hei... aku belum punya uang lagi bulan ini..." protes lily
Indri dan tiara tertawa bersama.
...***...
__ADS_1
Kania sibuk menggambar di tabletnya, namun seketika pen tab yang ia pegang terjatuh.
"Aakh!" Pekik kania
Tangan kiri kania menahan tangan kanan kania.
Kania mengernyit kesakitan, ia segera mengambil hapenya dan menelepon.
Suara sambungan panggilan masih berbunyi tapi panggilan itu tidak di jawab.
"Kisama!"
Sementara itu...
Rika berdiri di depan cermin meja rias, ia memakai lipstik lalu ******* bibirnya dengan lembut.
Setelah memberi fondation, rika juga menaburkan bedak ke wajahnya.
Kemudian ia menambahkan blush on ke kedua pipinya, dan tidak lupa memakai pensil alis.
Kemudian rika memakai ayeshadow dan soflens, rika tersenyum manis ke cermin.
"Hihi! Aku sudah cantik sekarang!" Gumam rika
Rika pun pergi ke kamar riku dan mengetuk pintunya.
"Riku? Do yo wanna build snowman..." rika bernyanyi
"Di indonesia mana ada salju bego" balas riku
Riku membuka pintu kamarnya dengan kesal.
"Hehehe... ayo berangkat" ajak rika sembari tersenyum
"Iya" sahur riku acuh tak acuh
Riku baru saja keluar dari kamarnya dan akan pergi tapi rika segera menghentikannya.
"Tunggu dulu! Kamu bahkan belum dandan!" Protes rika
"Oh ayolah... berdandan itu lama..." lugas riku merengek
"Tenang saja... aku akan membuatmu cantik dalam lima menit" bujuk rika sambil mendorongnya masuk ke dalam kamar riku
"Lima menit apanya, lima jam kali!" Balas riku
Pada akhirnya riku menuruti rika untuk di dandan.
"Lihat... aku bilang cuman lima menit saja, gak percaya banget sih" kata rika sambil melihat ke arah cermin
Riku menatap lama wajahnya di cermin.
"Ya... aku pikir bakal lama karena harus pakai ini dan itu ternyata hanya dengan foundation, bedak, blush on, sama lipstik" ucap riku
"Itu bukan lipstik kak... tapi liptin!" Bentak rika
"Sama saja" balas riku dengan datar
"Berarti kain sutra dan katun sama saja, kan sama sama kain!" Sahut rika sambil menutup satu natanya
"Nggaklah, dari bahannya saja sudah beda!" Balas riku
"Ya begitu juga dengan alat make up ku!" Teriak rika dengan sewot
Riku bangkit dari kursi dan melangkah pergi keluar.
"Sudahlah, sebaiknya kita berangkat sebelum telat" imbuh riku
__ADS_1
"Kak riku tunggu..." sahut rika sambil mengambil alat make up di mejanya lalu memasukannya ke dalam tas