
Di perjalanan pulang, farhan masih memikirkan kejadian di kampus tadi.
Flashback
"Mau ya..." pinta cinta
Farhan cuman tersenyum lalu melepaskan tangannya dari genggaman cinta.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa" tukas farhan dengan pelan
"Ke-kenapa?" Tanya cinta
"Ya... hanya saja aku tidak ingin berkecimpung di dunia musik lagi, aku rasa menjadi seorang satpam di kampus sudah cukup untukku" jawab farhan
Keheningan menyelimuti ruangan itu, keduanya saling menundukkan kepala dan diam.
"Baiklah kalau begitu..."
Cinta menggigit bibirnya, ia pun bersungkem di hadapan farhan.
"Tolong jadikan aku sebagai muridmu, sesepuh!"
"A-apa? Se-sepuh?!"
"Iya, aku mohon, aku membutuhkan pengalaman langsung dari seorang mantan gitaris band. Jadi izinkankan aku menjadi muridmu, sepuh!"
"W-woy... bisa gak jangan pake sepuh..."
"Jadikan aku muridmu!"
Farhan memperbaiki posisi kacamatanya di iringi helaan napas.
"Oke... oke... sekarang pulanglah"
"Hee..."
"Kamu emang mau tinggal di kampus seharian? Sekarang pulanglah dulu"
"Y"
Flashback end
"Hah... aku harap, aku tidak telat untuk perlombaan sepak bola malam ini" gumam farhan
Kemudian hari berikutnya, widi masih kesulitan dalam memperagakan akting orang kesurupan.
"Cut"
Widi terlonjak karena kaget dan membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Ugh..."
"Widi!"
Aktor wanita yang berdiri di sebelahnya membantu widi kembali berdiri.
"Terima kasih" tukas sunifa
"Iya" balasnya
"Kita istirahat dulu sepuluh menit" suruh sunifa
Di saat para aktor pergi keluar, sunifa berjalan menghampiri widi dengan tangan di lipat di dada.
"Widi..."
"Aku tahu..."
Widi membuang mukanya, sunifa mengibaskan poninya
"Dengarkan aku dulu, ada kabar baik untuk kita" sahut sunifa
"Kabar baik? Apa itu?" Tanya widi dengan penasaran
__ADS_1
"Aku dengar pak satpam farhan, neneknya sangat ahli dengan hal-hal mistis dan kita bisa memintanya untuk membuatmu kesurupan!" Jawab sunifa dengan sumringah
"A-apa?! Kau gila ya?" Protes widi
"Aku masih waras tolol, lagipula merasakan kesurupan langsung bulannya itu pengalaman yang bagus untukmu, jadi aktingmu saat kesurupan akan terlihat sangat sungguhan" ujar sunifa menjelaskan
Widi diam sesaat, lalu ia mengangguk mengiyakan dengan pasrah.
"Baiklah... aku akan melakukannya"
"Bagus, sekarang bantu aku membujuk pak satpam"
"Harus aku?"
"Iya bawel!"
Sunifa dan widi mendatangi farhan yang sedang bermain game di hapenya di dalam gardu satpam.
"Pak farhan" panggil widi
Farhan langsung keluar mendekati widi.
"Ada a-"
"Nenekmu dukun ya..." sela widi
Wajah widi mendekati wajah farhan dan membuat farhan tersipu malu.
"K-kok tau sih?" Tanya farhan dengan gelagapan
"Aku tidak sedang menggombal, aku beneran nanya serius!" Jawab widi dengan ketus
"O-oh... ki-kirain..." ujar farhan
"Nenekku memang memiliki ilmu-ilmu ajian tapi bukan berarti dia itu dukun" tambah farhan
"Ini penting, aku membutuhkan bantuan nenekmu!" Tukas widi dengan mimik serius
Farhan memutar bola matanya, ia pun bicara lagi.
"Aku tidak peduli, aku akan tetap menemuinya" ujar sunifa dengan ketus
"Nenekku tidak akan mau beurusan dengan yang tidak penting apalagi tentang teater, orang awam seperti nenekku tidak bisa mengerti di tambah dengan sifatnya itu" sahut farhan
Sunifa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya, ia menatap tajam farhan.
"Tidak masalah, jika harus berdebat dengan orang tua sekalipun" tukas sunifa
"...baiklah, baik... aku akan membantu kalian menemui nenekku" sahut farhan dengan enggan
"Bagus, cepat antarkan kami sekarang" sunifa tersenyum lebar
"Oke..." balas farhan
...***...
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sangat sunyi, sesekali farhan bicara untuk menunjukkan arah jalannya.
"Stop!" Seru farhan
Widi langsung ngerem mendadak dan membuat sunifa terbangun dari tidurnya yang berada di kursi belakang.
"Apa? Kita sudah sampai?!" Teriak sunifa
"Belum, tunggu dulu di sini" tukas farhan sembari keluar dari mobil lalu membanting pintu
Tak berselang lama kemudian, farhan kembali ke dalam mobil dengan sebungkus rokok djarum hitam.
"Kau merokok?" Tanya widi
"Nggak, ini buat nenekku" jawab farhan sambil memakai sabuk pengamannya
"Oh" ujar widi sambil menyalakan mesin mobil
__ADS_1
Matahari mulai terbenam, tapi widi tetap terus menyetir dan akhirnya mereka tiba.
"Kita sudah sampai, di sini rumahnya" kata farhan sambil keluar dari mobil
"Rumah yang cukup sederhana" ujar widi sambil membanting pintu mobil
Sunifa pun ikut keluar dari mobil dan membanting pintu.
"Di mana nenekmu?" Tanya sunifa
"Ada di dalam kok..." jawab farhan sambil memasukkan tangannya ke saku celana
Farhan berjalan ke sebuah rumah bertembok warna hijau, ia mengetuk pintu itu tiga kali.
"Assalamualaikum..."
Pintu pun di buka, seorang wanita tua bertumbuh ramping dan berkeriput menyahut.
"Wa alaikumsalam... mari masuk dulu"
Farhan, widi dan sunifa masuk ke dalam lalu duduk di kursi, wanita tua itu pun duduk di kursi.
Di meja sudah di siapkan dengan gorengan dan teh.
"Oh iya nek, perkenalkan ini sunifa, sutradara dari teater merah dan itu widi, seorang aktor sekaligus kakak sunifa" kata farhan dengan kikuk
"Nggak usah basa basi, apa mau kalian ke sini?" Tanyanya dengan sinis
"Begini... kami akan mengadakan pesta drama horor dan widi ingin mendalami peran aktingnya saat keserupan dengan merasakannya langsung" jawab sunifa dengan dingin
"Kan yang nyuruh kamu sunifa" batin widi
"Tadi... namamu sunifa ya?"
Sunifa mengangguk mengiyakan, wanita tua itu memejamkan matanya.
"Lalu kamu ingin aku membuatnya kesurupan begitu?"
Matanya memelotot, sunifa menelan ludah dan mulai merinding.
"I-itu benar" tukas sunifa dengan gentar
"Cih, kau datang jauh-jauh hanya untuk akting, bego!"
Sunifa mengepalkan kedua tangannya di atas paha, widi menegakkan punggungnya.
"Bagimu itu terlihat sepele dan tidak penting, tapi akting sandiwara sejati itu sangat penting bagi seorang aktor sepertiku! Untuk itu... izinkan aku untuk mendalaminya!" Bentak widi
"Wow, aktingnya di hadapan nenek benar-benar hebat, dasar aktor!" Batin farhan
Farhan meneguk setengah teh yang ada di meja lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.
"Sudahlah... ini, untuk nenek. Satu bungkus rokok djarum hitam kesukaan nenek" sahut farhan dengan senyum penuh arti
"...baiklah" balasnya dengan datar
Wanita tua itu mengambil sebatang rokok ke mulutnya, farhan menyalakan korek api ke batang rokok tersebut.
Ia menghela napas, asap rokok keluar dari mulutnya. Kemudian ia bangkit, lalu berbalik badan pergi.
"Mari ikut denganku" suruhnya
Widi dan sunifa berjalan mengikutinya, farhan pun ikut menyusul.
Mereka terus berjalan sampai ke dalam kebon pohon nangka yang sudah banyak berbuah, wanita tua itu berdiri sambil menatap sebuah pohon besar dan tua.
"Jadi... apa?" Tanya widi
"Kapan kita akan memulainya?" Tanya sunifa
Wanita tua itu berbalik lalu menunjuk ke arah widi dengan batang rokok di kedua jarinya.
Tiba-tiba saja, tubuh widi terlonjak dan jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Wi-widi?!"