Anak Seni

Anak Seni
tteok... bokki, pfft!


__ADS_3

"Eh?!"


Jean dan selena sama-sama terkejut, jawaban cinta berbanding terbalik dengan ekspektasi selena.


"Di tolak..."


Di tengah keheningan yang genting itu, tawa cinta pecah.


"Ahahahaha! Aku hanya bercanda... kamu di terima kok..." tukas cinta dengan puas


"Beneran? Jangan-jangan ini prank lagi" ujar selena dengan ketus


"Beneran kok, kalau di pikir-pikir lagi... memiliki seorang dj dalam band bukan ide yang buruk" sahut cinta


"Fufu... sudah kubilang juga apa" balas selena


"Jadi sekarang yang kita butuhkan hanyalah seorang bassist" gumam cinta


"Hee... memangnya harus ya?" Tanya selena


Cinta menjawab dengan sekali anggukan.


"Bass itu penting, dalam band peran bass cukup besar, kau tahu kenapa?" Tanya cinta sambil tersenyum


Selena menggelengkan kepalanya.


"Ah, aku tahu! Dalam format band, bass elektrik tidak hanya sebagai pemberi fondasi kepada melodi, tapi juga kepada semua instrumen secara keseluruhan. Bass berfungsi sebagai pemberi nada rendah baik kepada melodi maupun harmoni"


"Dan untuk drum, bass berfungsi sebagai 'pemberi nada' terhadap beat yang dimainkan oleh drum" tambah jean


"Kau nyontek dari gulugulu ya" tukas cinta


Jean tercekat, ia langsung memalingkan wajahnya dengan panik.


"Se-sebenarnya aku sedang belajar tentang band akhir-akhir ini di gulugulu..." ujar jean dengan gelagap


"Boleh juga, aku suka dengan niatmu yang sungguh-sungguh" balas cinta


"Btw, kamu sudah nentuin nama bandnya?" Tanya selena


"Aku pakai nama bandku waktu masih sma dulu, move on" jawab cinta


"Hee... move on, jangan bilang kalau band ini karena kamu habis putus dari pacarmu" sahut selena sambil senyum


Cinta sedikit terkejut, ia pun berdeham dan kembali serius.


"Tebakannya ngena banget" batin cinta


.


.


.


.


.


Di sisi lain, kartika pergi ke ruang latihan tari sendirian.


"Ah"


Kartika terkejut sesaat saat melihat ada seorang perempuan berkulit coklat sedang latihan menari sendirian.


"Oh, hei kartika"


"Ah, iya... btw diva, kamu latihan dari jam berapa?" Tanya kartika sambil menaruh tasnya di lantai


"Barusan kok, aku harus latihan dari sekarang satu minggu lagi perlombaan tari tunggalnya tinggal satu minggu" jawab diva sambil melakukan pendinginan


Kartika hanya tersenyum tidak tahu harus beekomentar apalagi.


"Aku tidak tahu harus menyapanya gimana di tambah lagi aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi bingung harus ngobrol gimana" batin ketika


Diva memakai kembali jaketnya yang ada di atas tas dan pada saat itu juga teman-teman kartika datang.


"Kartika..."


"Ngelamain ih..." protes kartika

__ADS_1


"Sorry, sorry"


Diva langsung pergi keluar dari ruangan tanpa pamit, salah satu teman kartika menyindir.


"Dingin banget dah"


"Iya"


"Hei... kenapa jadi ngegosip sih, gak bakal jadi nih latihannya?" Tanya Kartika


"Sabar kek"


"Tau tuh nih!"


...Setelah selesai latihan menari, kartika mengambil minuman untuk istirahat sejenak....


"Eh, eh, kalian tau gak?"


"Apaan?" Tanya kartika


Perempuan berkuncir dua itu mencodongkan badannya dan berbisik dengan suara pelan.


"Akhir-akhir ini sering ada kejadian mistis di ruang tari"


"Hah? Masa?!"


"Iya, aku dengar dari mahasiswa sebelah, katanya dia pernah dengar suara orang yang lagi nari di ruang tari sekitar jam sepuluh malam"


Seketika bulu kuduk kartika berdiri, ia menelan ludah.


"Jangan-jangan... itu adalah arwah gentanyan perempuan kebaya merah" celetuk kartika


"Emangnya dia bisa nari?"


"Ntah, aku nggak tau"


"Yee...."


"Ah... udah ah, jangan cerita yang angker-angker lagi. Hayuk lanjut latihan lagi" sahut kartika


"Cih, nggak seru ah"


Kartika dan yang lain kembali latihan menari.


Tiba-tiba saja seorang pria paruh baya bertubuh kekar keluar dari sungai.


"A-ayah!?"


"Sudah kubilang... ja-ngan... membuat... band..."


Pria itu merangkak dengan susah payah mendekati cinta, tubuh cinta membeku sehingga ia tidak bisa lari ke mana-mana.


Jarak cinta dan pria itu kurang dari seinci, tangan pria itu memegang kaki cinta.


"Ah!"


"Kau... terkutuklah..."


"TIDAAAKK!!"


Cinta tersentak, ia terbangun dari mimpi buruknya, debaran jantungnya berdetak sangat cepat.


Tubuhnya tidak bisa di gerakan sama sekali, suaranya seperti tertahan di tenggorokan.


"Hah... hah... hah... hah..."


Beberapa menit kemudian, napas cinta kembali teratur.


"Entah kenapa... rasanya aku seperti pernah bermimpi seperti itu sebelumnya. Tapi kapan ya?" Batin cinta


Keesokan harinya, saat tia akan pergi berangkat ke kampus, motor aria berhenti di sebelahnya.


"Mau naik?" Tanya aria sambil membuka helmnya


"Ah, iya..." jawab tia dengan sungkan


Tia duduk di jok belakang motor.


"Tapi nanti kalo di tilang gimana, aku gak pake helm" tukas tia

__ADS_1


"Santai... aku bakal pake jalan pintas kok..." ujar aria sambil tersenyum


"Hah?"


Baru saja akan duduk, aria langsung tancap gas tapi untungnya tia sudah pegangan di jok belakang jadi tidak jatuh.


"Aria!!" Teriak tia


Aria tidak menggubris, ia tetap melajukan kecepatan motornya meski harus melewati gang sempit dan banyaknya polisi tidur.


Setelah itu, mereka berdua pun tiba di parkiran motor kampus, tia segera turun dari motor dengan bad mood.


"Lebih baik aku naik ojol daripada sama si aria" batin tia


"Lihat? Kita jadi lebih tiba di kampus limat menit lebih cepat" sahut aria dengan pede


"Terserah!" Balas tia


Tia dan aria pun pergi dari tempat parkiran menuju kelas.


"Hei tia, kamu emang gak ada baju yang lain apa? Bajunya itu-itu terus!" Protes aria


"Aku pake baju ada jadwalnya, wajar aja kalau setiap hari aku pake baju yang sama" ujar tia sambil fokus main hape


"Kayak anak sekolahan aja" tukas aria dengan sinis


"Mulutnya ini gak bisa diem" batin tia


Aria terus menyindir tia tapi tia tidak mempedulikan, lalu perhatian mereka teralihkan ke putri dan kania yang sedang mengobrol di kantin.


"Oh, mereka datang" sahut kania


Aria dan tia duduk di kursi kosong dekat meja mereka berdua.


"Hei kania, kau bawa motorkan, Anter pulang ya nanti" pinta tia


"Haik" ujar kania sambil menatap layar hapenya


"Nih bocah bawa motor segala pake ngebut mana jalannya banyak polisi tidur pula" tukas tia sambil melirik sinis ke aria


"Oh ayolah... kayak yang gak terbiasa ngebut aja" balas aria


Tia tidak membalas, ia pun mengalihkan topik pembicaraan.


"Mau makan apa?" Tanya tia sambil menopang dagunya


"Seblak weh..." jawab putri sambil mengambil uang di dompet


"Tteok bokki dong, seblak mulu!" Sahut aria dengan ketus


"Tteok... bokki, pfft!"


Kania tertawa cekikikan sambil membayangkan wajah kira yoshikage yang ngomong bokki.


"Pfft! Hahahahaha! Bokki, hahahaha!"


Mereka bertiga menatap kania dengan heran, tapi kania terus tertawa tanpa henti.


"Oke, kita beli seblak aja" usul tia


.


.


.


.


.


Saat sore tiba, kelas sudah selesai, putri numpang naik motor aria untuk pulang sedangkan tia pulang dengan motor kania.


"Dah..."


Putri melambaikan tangannya kepada kania dan tia, begitu motor sudah menyala aria langsung tancap gas.


"Wohoo!" Teriak putri dan aria


"Bokki, hihihi..." gumam kania

__ADS_1


"Berhentilah tertawa!" Bentak tia


"Hai, hai..." balas kania


__ADS_2