Anak Seni

Anak Seni
Aku rasa... ini seperti deja vu


__ADS_3

Di rumah jean, matanya hitam seperti panda akibat tidak bisa tidur.


"Aku terlalu gugup jadinya gak bisa tidur" gerutu jean


"Jean... kau- omg!"


Jean menoleh dengan kaku seperti mayat hidup.


"Oh, kak wulan?" Tanya jean dengan lesu


"Kamu kenapa kayak gitu?!" Tanya wulan dengan heboh


"Aku nggak bisa tidur karena aku terlalu gugup" jawab jean sambil menggaruk rambutnya


"Gugup kenapa memangnya? Bukannya hari ini kamu libur?" Tanya wulan lagi


Jean menguap, ia bangkit dari kasurnya dan pergi menuju ke kamar mandi.


"Nanti aja jelasinnya... aku mau mandi dulu" tukas jean


Setelah beberapa menit berlalu, jean selesai mandi dan memakai bajunya.


"Kamu mau ke mana jean?"


"Aku mau latihan band sama cinta"


"Siapa?"


"Cih!"


Jean berdecak lidah, ia menjelaskan semuanya dari awal.


"Terus kemarin aku nawarin lagi ke si cinta dan dia langsung menerimaku dan bilang kalau besok aku harus pergi ke studio musik buat latihan band"


"Oh... ya udah, pokoknya jangan lama-lama"


"Iya kak..."


Jean pergi dari rumah dengan sepeda motornya menuju studio musik lewat google map yang di berikan cinta.


"Ini dia!"


Jean memarkirkan motornya di parkiran depan studio, cinta langsung menyambut jean.


"Ah, jean, ayo sini!"


"I-iya!"


Jean masuk ke dalam studio bersama cinta.


"Wah... luas sekali tempatnya" puji jean


"Mau coba main satu lagu?" Tanya cinta sambil menyodorkan dua stik drum ke jean


...***...


Riku terbangun dari tidurnya saat alarm di hapenya berbunyi, riku segera mengambil hapenya kemudia mematikan alarm itu.


"Ah! Aku ketiduran di ruko lagi" gumam riku


Riku bangkit dari kursinya, tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan jatuh ke lantai.


"Aww!"


Riku berusaha berdiri dengan bantuan meja di sebelahnya tapi thbuhnya sangat lemas dan kembali jatuh.


"Ugh..."


Pintu ruko di buka ternyata itu adalah rika.


"Oh tidak, kak riku!"


Rika langsung berlari dan membantu riku ke kursi.


"Panas!" Rika memeriksa suhu tubuh riku di keningnya


"Tidak apa-apa... aku bisa-"


"Jangan di paksa.... kakak harus istirahat, biar aku yang jaga ruko" sela rika


"Tapi kamu kan mau malmingan" ujar riku dengan lirih


"Buat apa aku malmingan dan membiarkan kakakku sakit untuk bekerja dan aku yakin restu mengerti" balas rika


Riku tersenyum tipis, rika tahu maksudnya tanpa di ucapkan secara  langsung.


"Ayo pulang"

__ADS_1


Rika membantu bopong riku dan mengantarnya pulang dengan motornya.


Sementara itu, cinta dan jean selesai melakukan latihan.


"O-oh ya cinta, me-memangnya kamu tidak punya anggota lain selain aku, ma-maksudku... ka-kamu... baru pertama kali bikin band?" Tanya jean dengan gagap


"Jangan tegang begitu... santai saja, memang aku baru pertama kali membuat band lagi, soalnya dulu waktu sma aku pernah buat band tapi bubar" jawab cinta sambil menyetem senar gitarnya


"Bu-bubar?!"


"Ya.... waktu dulu aku pernah bikin band tiga orang, dua anggota bangku laki-laki semua dan alasan kami bubar adalah kuliah"


"Temanku yang bermain drum mengundurkan diri karena ia akan pergi kuliah di jakarta dan temanku yang kerbordis memutuskan agar membubarkan band"


Jean mengalihakan pandangannya, ia memilih diam dan terus mendengarkan.


"Ma-maaf"


Cinta mengibaskan tangannya dengan tertawa lepas.


"Ahahaha! Kamu ini... jangan malu-malu gitu... lagipula itu hanyalah masa lalu!" Tukas cinta


Jean tertawa dengan canggung.


"Anu... apa kamu tidak kesusahan bermain gitar sekaligus bernyanyi?" Tanya jean


"Susah sih iya tapi kau tahu, kakak ketigaku pernah bilang, kalau bisa dua kenapa harus satu" jawab cinta sambil menirukan nada suara siraru


"Ah... begitu ya..."


Jean memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut.


"Sekarang yang kita butuhkan adalah pemain keyboard dan bas, tapi selama ini yang aku temukan di kampus cuman pemain gitar" gerutu cinta


"Susah juga ya, mungkin... aku bisa membantumu ikut mencari anggota lainnya" sahut jean dengan malu-malu


"Boleh deh" balas cinta


"Ah, sudah jam dua belas"


"Kamu mau pulang?"


"I-iya soalnya aku harus bantu ibuku di rumah jadinya tidak bisa lama-lama..."


"Oh... ya sudah kalau mau pulang mah"


Sementara itu, sunifa rebahan di kasir sambil memperhatikan foto yang ada di hapenya. Meski fotonya tidak terlalu HD, tapi sosok di foto itu masih terlihat jelas.


Sepasang suami istri yang sudah tua duduk bersama di sofa, sunifa menatapnya dalam diam.


"Ah!"


Seketika perhatiannya teralihkan saat melihat sesosok wajah mengerikan di dekat jendela.


"Kyaaa!"


Sunifa melempar hapenya ke kasur, suara teriakan sunifa terdengar oleh widi, widi masuk ke dalam kamar sunifa dengan panik.


"Ada apa?! Kenapa teriak?!" Tanya widi dengan cepat


"Kak widi!"


Sunifa segera mengambil hapenya yang ia lempar tadi lalu menunjukan gambar itu ke widi.


"Lihat!"


Widi melihat foto itu sekilas, dahinya berkerut dan matanya ikut menyipit.


"Kenapa? Ini cuman foto kakek sama nenek di rumahnya dulu" kata widi dengan santai


"Lihat yang ada di jendelanya!" Bentak sunifa


Widi melihat sosok wajah yang menyeramkan di jendela.


"Uwaah! A-apa itu?!" Tanya widi dengan panik


"Itu juga pertanyaanku, kenapa ada sosok itu di rumah kakek!" Balss sunifa


Widi memejamkan matanya sambil berpikir.


"Aku rasa... ini seperti deja vu" gumam widi


Mata widi langsung terbelalak.


"Oh iya, dulu juga aku pernah mengalami ini waktu sedang selfi di rumah kakek"


"Selfi?"

__ADS_1


Widi mengangguk dengan yakin, sunifa menyipitkan matanya.


"Ah... iya juga, di bawah sebelah kursi kak widi ada wajah hitam yang aneh sedang nyengir ke arah kamera" gumam sunifa


"Jangan bilang kalau rumah kakek beberan ada penunggunya?!" Tukas widi


Sunifa memasukkan hapenya ke saku lalu berjalan pergi dari kamarnya.


"Ayo kita pergi" suruh sunifa


"Mau ke mana?" Tanya widi


"Ke rumah kakek" jawab sunifa


Sunifa masuk ke dalam garasi mobil dan mematikan alarm mobil.


"Kau serius?! Masa mau langsung berangkat-"


"Berisik!" Sela sunifa


Sunifa melemparkan kunci mobil ke widi, dengan tangkas ia mengambil kunci itu hanya dengan satu tangan.


"Dasar, benar-benar gegabah!" Gerutu widi


...***...


Selang beberapa lama kemudian, mobil di parkirkan dekat sebuah rumah besar yang kosong dan penuh dengan tanaman menjalar.


Sunifa dan widi turun dari mobil, mereka berdua berdiri di depan pagar yang sudah tua dan karatan.


"Rumah ini di jual?" Kata sunifa sambil membaca papan tanda di depan pagar rumah


"Memang, ayah bilang karena rumah ini tidak ada yang tinggal lebih baik di jual saja" sahut widi sambil melipat tangannya di dada


"Terus, ada yang beli?" Tanya sunifa sambil mengangkat satu alisnya


Widi menggelengkan kepalanya dengan rasa kecewa.


"Sayang sekali nggak, lagipula siapa yang mau membeli rumah usang begini"


Sunifa tidak menggubris protes widi, ia langsung mendorong pagar dan menobros masuk melewati rumput-rumput hijau yang ada di halaman rumah.


"Woy tunggu!" Teriak widi


"Cicing! Pelankan suaramu!" Balas sunifa


"Ya maaf..."


Sunifa membuka gagang pintu rumah itu tapi pintunya terkunci.


"Sial, apa kakak bawa kuncinya?" Tanya sunifa


"Ya enggak, kamu sih yang nyuruh buru-buru, bukannya persiapan dulu!"


Mata sunifa membelalak begitu melihat seekor ular hijau mendekati widi, refleks sunifa mendorong widi dengan tubuhnya.


"Awas!"


"Aakh!"


Sunifa dan widi terjatuh bersama ke bawah rerumputan, ular hijau itu hanya numpang melewat tanpa menyakiti mereka berdua.


"Hampir saja" gumam sunifa


Widi kembali berdiri lalu mengambil hape di saku celananya.


"Sudah jam setengah sepuluh, ayo ke kampus, nanti telat!"


Sunifa menghela napas panjang.


"Hah.... iya, iya, bawel banget sih!"


"Sudah, sudah..."


Sunifa dan widi masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepala sunifa.


"Itu dia!" Sahut sunifa dadakan


"Hah? Apa?" Tanya widi dengan heran


"Aku akan jelaskan nanti di kampus, buruan!"


"Cih"


Meskipun begitu, widi tetap menjalankan perintah sunifa dengan sedikit kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2