
Raka mengingat kejadian dimana diva melakukan tendangan ke tembok dan menatapnya dengan tajam.
Raka ingat saat ia di gendong oleh diva, raka mengendus aroma wangi baju diva.
"Wangi..." gumam raka
Raka merogoh uang dua ribu di celengannya dan membuat cincin dari uang dua ribu tersebut.
Keesokan paginya, raka berangkat ke sekolah dengan jalan kaki.
"Aku harus bisa, seperti yang kak diva kemarin bilang, aku harus diam!" ucap raka dengan pede
Saat mau masuk, raka menghentikan langkah kakinya saat melihat diva sedang menunggu di motor dekat pintu gerbang sekolah.
"Ka-kak diva?!"
"Oh, hei raka, untunglah kamu masuk sekolah. Kakak pikir kamu beneran gak bakal pergi ke sekolah" ujar diva sambil melambaikan tangan
"Hmph, kalo aku ga sekolah nanti aku di marahin sama ayah!" raka membuang wajahnya ke samping sembari melipat tangannya di dada
"Ahahaha, dasar bocah! Oh ya, ini celana yang kemarin" diva menyodorkan gudibag ke raka
"Cepat sekali?!"
Raka mengambil gudibag dari diva, ia mengambil celananya dan menciumnya.
"Wangi... seperti aroma kak diva" tukas raka
"Ahahaha... aku suka pake pewangi kalo mencuci makanya wangi..." sahut diva sambil membuang mukanya
"Pantesan!" gerutu raka
"Baiklah, aku pergi dulu-"
"Tunggu dulu!" sela raka
Raka memberikan cincin dua ribu yang ia buat kepada diva.
"I-itu hadiah dariku, terima kasih karena sudah membantuku kemarin" sahut raka dengan malu-malu
"Cincin? Kau beneran cuman ngasih hadiah atau mau melamarku?" tanya diva sembari senyum menggoda
"H-hah... tentu saja itu hadiah, kalau kak diva gak suka, aku akan belikan cincin asli saat aku sudah besar nanti!" ujar raka dengan sewot
"Bukannya gak suka... tapi apa kamu tau? Kalau ada undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang rupiah" balas diva dengan mimik serius
"Ada undang-undangnya?!"
"Iya dan kamu bisa di tuntut loh..." tukas diva sembari tersenyum
"Nggak... aku ga mau di penjara!!" Teriak raka panik
"Ahahaha.... lucu banget sih kamu ini"
Diva tersenyum dan mencium kening raka, wajah raka langsung memerah padam.
"A-apa!?"
"Jadi jangan di ulangi lagi ya raka..."
"Ka-kak diva curang!!"
Raka langsung pergi begitu saja ke dalam sekolahnya tanpa pamit.
Diva tersenyum puas, ia memakai cincin dua ribu itu di jari manisnya.
__ADS_1
"Meski masih anak-anak tapi dia sudah bisa membuat cincin dari uang dua ribu, dasar"
Diva segera pergi ke tempat kampusnya dan meninggalkan sd.
...***...
Di sisi lain, sunifa mendapat email masuk di hapenya.
"Wah... wah... lagi-lagi ceritamu di tolak ya"
Seorang perempuan kecil memiliki paras dan sosok yang mirip dengan sunifa muncul tiba-tiba di sebelah kiri sunifa.
Sunifa berkeringat dingin, ia menelan ludahnya.
"Aku rasa aku tau"
Mata sunifa melirik, perempuan itu berbisik.
"Ibaratnya seperti seorang maba kerdil yang masuk ke klub theater untuk menjadi seorang sutradara"
Mata sunifa membelalak, kedua tangannya di kepal.
"Jangan menghinaku!!" Jerit sunifa
Pintu terbuka, widi berdiri di dekat pintu dengan panik.
"Ada apa sunifa!?" Tanya widi
"Nggak ada, aku... aku cuman sedang latihan akting aja!" Jawab sunifa dengan cuek
"Oh... oke" balas widi
Widi pun pergi sembari menutup pintu kamar sunifa.
"Ahahahaha!"
"Kenapa tidak jujur saja, apa kau takut... kau akan di sangka gila oleh kakakmu...?"
Perempuan itu tersenyum lebar, sunifa memejamkan matanya.
"Jangan dengarkan dia, kalau aku meladeninya, dia akan terus memprovokasiku" batin sunifa
Hari esoknya
"Pagi girls..."
Cinta masuk ke dalam studio dan menaruh gitarnya di kursi.
Mia, uke dan jean sudah berkumpul di dalam studio sebelum cinta datang.
"Oke, sebelum gue mulai latihannya, kita kenalan dulu"
"Nama gue cinta, gue yang bertanggung jawab dalam band ini sebagai ketua, juga sebagai gitaris dan vokalis"
Cinta menoleh ke arah jean sembari mengarahkan telapak tangannya.
"Eh, ah, i-itu... na-namaku jean, aku berperan sebagai drummer"
"Selanjutnya"
Cinta menoleh ke arah uke di susul tatapan yang lain.
"Namaku uke, berperan jadi seorang dj"
Uke langsung menoleh ke arah mia, mia melipat tangannya di dada dan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Namaku mia, sebagai bassist"
"Nah, perkenalannya cukup sampai sini, untuk lagunya..."
Cinta pergi ke belakang dan mengambil buku dari tasnya, ia pun kembali duduk dan menaruh bukunya di meja rapat.
"Judul lagunya adalah tersenyum, ini adalah lagu pertama yang pernah gue bikin bareng band gue dulu, gue juga udah remake liriknya"
Mia langsung mengambil buku itu, dan membacanya di dalam hati.
"Hmph, boleh juga" gumam mia
"Hei... aku juga belum lihat..." protes uke
Mia menyodorkan bukunya ke uke dengan dingin, uke pun membacanya, jean mengintip untuk membaca.
"Sepertinya ini akan sulit" batin jean
"Aku suka, sepertinya lagu ini akan cepat viral, ayo kita latihan!" Teriak uke
"Sip, yok langsung latihan!" Sahut cinta tidak kalah seru
Di saat melakukan pelatihan, di pertengahan lagu.
"Apa yang kau lakukan jean, jangan langsung terburu-buru!" Tukas uke dengan ketus
"Ma-maaf, maaf..." ujar jean dengan kepala menunduk
"Santai... ayo ulang"
Dan setiap latihan berikutnya, jean melakukan kesalahan lagi.
"Jean! Jean! Jean!!" Jerit uke
"Maafkan aku..." sahut jean ketakutan
"Gak usah ngegas gitu napa uke" balas cinta
"Tapi ini udah kebangetan, kalo ga bisa main drum yang bener ga usah ngeband!" Bentak uke
Jean tercekat, kepalanya menunduk dan air matanya jatuh.
"Uke!!" Teriak cinta
Jean bangkit lalu pergi keluar dan mengambil tasnya.
"Jean! Tunggu dulu!!"
Sebelum sempat mengejar jean, jantung cinta terasa sakit dan ia memegangi kepalanya.
Ingatan masa lalu bandnya terlintas, cinta bertekuk lutut di lantai.
"Ti-tidak... tidak mungkin..." gumam cinta
"Sudah kubilang, masa depanmu akan suram, sebesar apapun perjuanganmu... takdir tidak akan merestui"
Sosok ayahnya muncul di hadapan cinta, cinta mendongak ke atas.
"W-woy, cinta..."
"Pergi! Pergi dari hadapan gua setan!!" Jerit cinta
Mia segera pergi keluar dan mengambil tasnya, di susul dengan uke.
Setelah semuanya pergi, cinta menangis tersedu-sedu sembari menutup wajahnya.
__ADS_1
"Hiks... hiks... hiks... huu... huu... huu..."
bersambung...