Anak Seni

Anak Seni
oke... ayo kita mulai latihannya...


__ADS_3

Sesampainya di kampus, sunifa dan widi pergi ke panggung teater.


"Baiklah, karena semuanya sudah kumpul, pengumuman penting untuk pentas selanjutnya"


Semua aktor anggota teater berkumpul di ruangan sembari duduk sila.


Sunifa berdeham lalu menarik napas dalam-dalam.


"Untuk pentas berikutnya... kita akan mengadakan drama horor, judulnya adalah arwah penunggu. Sepasang suami istri dan seorang anak perempuan tinggal di sebuah rumah besar di desa, beberapa tahun kemudian anak perempuan itu sudah besar dan ia di pindahkan ke pondok pesantren."


"Beberapa tahun kemudian kedua orang tua perempuan itu meninggal dan akhirnya anak perempuan itu kembali ke rumahnya, tapi saat ia membuka foto album keluarganya ada penampakan wajah mengerikan di salah satu foto kedua orang tuanya" tambah sunifa


Widi tercekat, ia menyipitkan matanya.


"Jangan bilang kalau cerita kali ini berdasarkan kejadian di rumah kakek" batin widi


"Untuk tokoh utamanya itu widi lalu untuk tokoh pembantu..."


...***...


Setelah pembagian aktor, para aktor berdiskusi di ruang latihan sembari menunggu sunifa menyelesaikan naskahnya.


Sunifa menulis naskah di laptopnya dengan serius, tiba-tiba pintu di ketuk dan membuat sunifa sedikit terkejut tapi ia matanya tidak lepas dari layar laptop.


"Masuk"


Pintu terbuka, widi masuk ke dalam dan berdiri di samping sunifa.


"Kenapa kamu menjadikan kejadian tadi untuk drama teater kita?" Tanya widi


"Aku baru kepikiran saja tadi" jawab sunifa sambil mengetik keyboard laptop dengan cepat


Widi menghela napas dengan berat.


"Aku... bukannya tidak setuju, hanya saja... ah... bagaimana menjelaskannya" gerutu widi


"Kak widi tenang saja... percaya saja padaku" balas sunifa


Widi memalingkan wajahnya lalu pergi keluar dengan rasa kecewa.


Beberapa menit kemudian, sunifa membagikan kertas naskah yang baru saja di print ke para aktor.


Widi membaca naskah itu dengan seksama.


"Dia membuat ending dari idenya sendiri" gumam widi


"Oke... ayo kita mulai latihannya..." panggil sunifa


Semua aktor berkumpul dan latihan berdialog, tak lama kemudian mereka istirahat sejenak.


Widi menghampiri sunifa yang sedang duduk di kursi sutradara sambil membaca naskah.


"Sunifa" panggil widi


"Ibu sutradara!" Bentak sunifa


"Maaf... maaf... ibu sutradara..." sahut widi dengan tidak ikhlas


"Jadi ada apa?" Tanya sunifa dengan ketus


Widi membuka mulutnya tapi suaranya seperti tertelan, ia pun mengurungkan niatnya.


"Tidak, lupakan saja" tukas widi


Widi berjalan memunggungi sunifa, sunifa mengerutkan dahinya dengan bingung.


30 menit kemudian...


Matahari mulai terbenam, sunifa mengakhiri latihannya dan para aktor yang lain pun pulang.


"Kak widi"


"Hm?"


"Bisa antar aku ke rumah kakek lagi"

__ADS_1


"Tapi ni sudah sore, bentar lagi mau magrib"


"Makanya ayo pergi sekarang sebelum ke buru magrib"


Widi menghela napas panjang, mau tidak mau dia menuruti permintaan adiknya tersebut.


Mereka berdua kembali ke rumah kakeknya yang sudah terbengkalai itu, sunifa berjalan ke belakang rumah.


"Hei... kamu tidak takut?" Tanya widi  sambil melihat ke sekelilingnya


"Tidak, malah rasanya aku ingin menangis, kakek adalah orang yang kusayangi... dan dia juga sangat menyayangiku" jawab sunifa dengan senyum pahit


Widi menginjak sesuatu di bawah kakinya, karena terlalu panik ia langsung berlari dan memeluk sunifa.


"Cih, dasar bodoh, itu cuman sampah  botol!"


"Hehehe... aku pikir apa..."


Widi hanya cengengesan, sunifa kembali berjalan ke depan rumah, widi masih memeluk sunifa sambil memastikan tidak menginjak sesuatu yang ada di bawahnya.


Sunifa menatap rumah itu dengan tatapan menerawang, widi membuka pintu mobil.


"Ayo kita pulang ke rumah" ajak widi


"Iya... iya..." ujar sunifa dengan kesal


Widi dan sunifa masuk ke dalam mobil, mobil pun melesat pergi dari rumah tersebut.


Di satu sisi, rika telah menyelesaikan satu set desain baju.


"Fufufu... aku berhasil" tukas rika


Riku menghampiri rika, rika menoleh dan tersenyum.


"Bagaimana menurutmu, kak?" Tanya rika dengan mata berbinar


Riku memeriksa tiap jahitan dan guntingan baju yang rika buat.


"Kerja bagus" jawab riku datar


"Ih... kok bilangnya cuman itu doang" gerutu rika


"Terus maunya apa?" Tanya riku dengan dingin


"Ah, sudahlah, aku mau ke kampus dulu" balas rika


Belum beberapa langkah rika pergi, riku kembali bicara.


"...terima kasih"


"Eh?"


Rika tercekat, ia langsung menghentikan langkahnya dan menoleh tapi riku segera membuang wajahnya.


"Jangan diam saja, nanti kamu telat" sahut riku


Rika tersenyum lebar.


"Sama-sama...."


Rika berjalan keluar dari ruko dengan suasana hati yang bagus.


Riku mengecek hapenya


Keesokannya, putri pergi ke perpustakaan di kampus sendirian.


"Hmm...."


Karena berjalan sambil membaca buku ia pun menabrak seorang perempuan berjilbab yang baru lewat.


"Aaakh!"


Buku yang di baca putri terjatuh, perempuan berjilbab itu langsung membantu mengambilkan buku yang jatuh tadi ke putri.


"Ma-maafkan aku..."

__ADS_1


"Teu ku nanaon..."


Perempuan berjibab itu pun pergi dengan terburu-buru, tepat setelahnya kania datang.


"Putri-chan..." sapa kania


"Ssst! Jangan berisik!" Balas putri dengan suara pelan


"Gomen, gomen" ujar kania dengan pelan


Kania dan putri duduk di meja dan mulai membaca buku bersama.


Beberapa menit berlalu, keduanya saling diam.


"Hei putri, bagaimana kalau aku panggil kamu ojou-chan saja" usul kania


"Hah?! Ojou... apa?" Tanya putri


"Ojou itu artinya putri jadi biar lebih praktis aku panggil kamu ojou-chan, boleh ya..." jawab kania sambil senyum


"Hmph, terserah, aku gak masalah" ujar putri dengan datar


"Haik, ojou-chan" balas kania


"Gini amat dah punya temen wibu" batin putri


Sementara itu, jean kembali ke studio  musik, di sana sudah ada cinta yang sedang latihan bermain gitar.


"Oh, jean, kau sudah datang"


"I-iya, aku-"


"Hei... cinta..."


Seorang perempuan berambut panjang menerobos masuk ke dalam dan menyenggol bahu jean dengan kasar.


"Aww!"


"Cih, beneran datang ya" tujas cinta dengan sinis


"Fufufu.... tentu saja"


Jean berjalan mendekati cinta.


"E... cinta, dia siapa?" Tanya jean dengan gemetaran


"Oh, dia teman jurusanku. Namanya selena" jawab cinta sambil melipat tangannya di dada


"Dia ingin masuk ke dalam band kita tapi dia seorang dj bukan keybordis ataupun bassist" sambung cinta


"Ya ampun... keybordis itu sudah gak jaman... sekarang tuh dj yang lagi ngetrend!" Balas selena


"Kemarin aku sudah kubilang, kamu harus membuktikan padaku kalau kamu layak untuk jadi anggota band kami" sahut cinta


Selena diam sesaat lalu menyunggingkan senyumnya.


"Akan kubuktikan, lihat dan dengarkan" kata selena dengan percaya diri


Selena mengeluarkan controller dj dan mulai memutarkan satu lagu.


Jean terkesima dengan lagu yang di putarkan selena.


"Keren..." puji jean


Cinta hanya diam mendengarkan dengan serius.


Musik berakhir, selena pun tersenyum dan jean bertepuk tangan.


"Wah... hebat" puji jean


"Bagaimana cinta?" Tanya selena


"Di tolak" jawab cinta


"Eh?!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2