Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 1. Aqueesha Zahwa Qiandrany


__ADS_3

“Karena jika lisanku tak mampu berkata, tulisan indah yang akan menyampaikan isi hatiku padamu, Kanda.”


-


-


-


Menulis adalah hal yang sudah dilakukan gadis ini sejak lama. Menurutnya, bermain dengan kata adalah sebuah ketenangan jiwa. Dengan menulis ia dapat menyampaikan apa yang terjadi pada hatinya selama ini. Aqueesha Zahwa Qiandrany, atau yang kerap disapa Aisha ini merupakan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri Favorit di Yogyakarta.


Meski masih berada di kelas XI namun pemikirannya sudah sangat dewasa. Ia begitu dicintai sahabat-sahabatnya karena ucapannya yang selalu menenangkan. Ia pun disayangi para guru karena prestasi akademik maupun non-akademiknya.


Kini, Aisha masih berada di kamarnya, berhadapan dengan laptop hadiah dari Papanya di ulangtahun yang ke 16 beberapa bulan lalu. Ia masih berkutat dengan novel garapannya yang belum rampung. Ya! Aisha bekerja sampingan pada sebuah perusahaan sebagai penulis tidak tetap. Dan alhamdulillah penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekundernya.


Aisha sudah menggarap banyak novel selama satu tahun ini. Dia menyimpan semua arsip cerita di laptopnya. Namun ada satu karya yang ditulis tangan olehnya. Karya yang berisi curahan hati berbentuk sajak miliknya. Ia memberinya nama “Sajak Lukisan Hari itu”. Entah darimana ia mendapatkan ide tersebut.


Suatu hari, Aisha sedang berada di kantin sekolahnya bersama sahabat-sahabatnya.


“Sha? Kamu kenapa ke kantin bawa-bawa buku segala?” tanya salah satu sahabatnya, Daffi.


“Kamu tahu kan daff, kalau di kelas itu ada dua manusia yang buandelll banget. Udah banyak buku aku yang di baca mereka tanpa seizinku.”


“Siapa?” Ningrum pun ikut penasaran.


“Siapa lagi kalau bukan duo curut itu. Fian sama Hendra. Asli! Mereka jahil banget sumpah!”


Aisha menumpahkan segala kekesalannya pada dua laki-laki yang sebenarnya anggota dari D-And-Cook Geng. Aneh kan namanya? Itu juga duo curut itu yang mengusulkannya.


“Dasar upin-ipin.” Rahayu ikut menimpali. Dan mereka pun tertawa karena berhasil menertawakan salah dua sahabat mereka sendiri.


Tak lama berselang, makanan yang mereka pesan pun tiba. Aisha dan yang lainnya memilih untuk memesan soto ayam dan juga es teh. Sementara Daffi, dia sendiri yang memesan mie instan rasa rendang. Daffi ini sangat sulit di nasehati. Padahal dia ini seorang atlet taekwondo yang pastinya di tuntut untuk memiliki tubuh yang atletis. Tapi setiap kami memperingatinya, ia selalu menjawab “Nggak papa. Ntar kan bisa diet.”


Inilah yang tidak disukai Aisha dan sahabat-sahabat mereka. Di satu sisi mereka khawatir akan kesehatan Daffi. Di satu sisi mereka juga iri dengan Daffi yang begitu gampangnya menurunkan berat badan. Huhh!! Ini membuat para gadis di D-And-Cook Geng emosi.


Mereka menghabiskan makanan mereka dalam beberapa waktu. Dasarnya mereka ini memang bandel semua, hingga saat bel masuk sudah berbunyi pun mereka masih betah bersendau gurau di kantin tersebut. Mereka tertawa begitu kencangnya hingga membuat salah seorang guru datang menghampiri mereka.


“Kalian kenapa belum masuk!? Pelajaran siapa?!” Hardik seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia bernama Bu Tari.


“Eheeee... baru selesai makan, Bu.” Cengir Aisha yang dijadikan tameng oleh sahabat-sahabatnya.


“Kalau begitu cepat masuk ke kelas kalian!”

__ADS_1


“Baik, Bu...”


Mereka pun dengan tergesa-gesa meninggalkan kantin karena takut oleh kegalakkan Bu Tari. Hingga membuat seorang guru muda tersenyum dalam diamnya.


Seorang pria muda tengah menikmati secangkir kopinya di kantin sekolah tempatnya bekerja. Pria ini adalah seorang guru honorer di sekolah ini. Sebenarnya pekerjaan sebagai guru hanya pekerjaan sampingannya. Pekerjaan sebenarnya adalah seorang pengusaha sepatu dengan brand ternama di Indonesia.


Saat ia akan beranjak dari kursinya setelah menghabiskan secangkir kopi tadi, ia melihat segerombolan anak yang sudah terkenal persahabatannya hingga seantero sekolah mereka yang luas ini. Beberapa diantara mereka, ia mengenalnya. Karena ia yang notabene adalah guru di kelas IPS sekolah tersebut. Sedangkan satu gadis lainnya, ia juga sangat mengenalnya.


Gadis itu adalah gadis dengan segudang prestasi yang disumbangkan untuk sekolah mereka, dan gadis ini pulalah yang cukup menarik hatinya jika tak mengingat bahwa gadis itu adalah muridnya. Sedangkan 3 anak lain ia hanya tahu rupanya namun tidak ingat namanya.


Pria dengan nama Rian ini mengurungkaan niatnya untuk pergi dari kantin tersebut.


Ia terus memperhatikan murid-muridnya yang terus tertawa meski makanan mereka belum habis seluruhnya. Ia kemudian terfokus pada satu titik, Aisha. Gadis yang dimatanya memiliki tawa yang begitu indah. Hingga tanpa ia ketahui banyak orang yang akan ikut tersenyum atau bahkan tertawa ketika melihat tawa lepasnya.


Bahkan hingga bel tanda jam istirahat berbunyi pun mereka masih enggan untuk beranjak dari meja mereka. Rian yang melihatnya juga tidak berniat untuk menegur mereka. Karena energy saver miliknya belum sepenuhnya terisi. Hm. Akhir-akhir ini ia selalu menganggap ketika ia melihat gadis itu, ia seperti tengah men-charge energinya.


Hingga mungkin karena suara mereka yang begitu kencang membuat seorang guru galak di sekolah ini keluar dari ruangannya.


Setelah guru itu memarahi mereka, mereka pun terbirit-birit untuk meninggalkan kantin. Ah ada-ada saja tingkah remaja masa kini.


Tunggu! Rian melihat sesuatu di atas meja yang mereka gunakan tadi. Bukankah itu buku gadis yang di kaguminya? Buku yang ia sembunyikan dari sahabatnya namun justru ia tinggal sembarangan. Pelupa sekali gadis itu!


Rian yang ikut penasaran apa isinya pun mengambilnya. ‘Maafkan saya, Aisha! Saya hanya ingin tahu apa yang sekiranya hati remaja sepertimu pikirkan.’ Ucap Rian dalam hatinya.


Setelah mengambil barang pribadi yang paling dijaga Aisha. Rian bergegas untuk memasuki kantornya dan membereskan semua peralatan mengajarnya. Ia berniat pulang sesegera mungkin untuk membaca catatan harian gadis pujaannya. Beruntung setelah ini Rian tidak ada jadwal mengajar, hingga ia diperbolehkan untuk pulang lebih awal.


RIAN POV


Aku sudah sampai dirumah beberapa menit lalu. Seusai menyapa ibuku, aku pun memasuki kamarku. Kamarku tidaklah besar. Hanya terdapat single bed, lemari pakaian, dan lemari khusus untuk menyimpan alat musik koleksiku. Meskipun aku seorang guru, namun sedari kecil ayahku sudah mengajariku cara bermusik. Dan hingga saat ini Aku semakin senang untuk berkarya dalam industri permusikan.


Aku menyetel lagu yang baru selesai ku garap dari ponselku. Kemudian aku mengeluarkan buku diary milik Aisha. Aku membuka lembar demi lembar halaman buku yang disampul dengan cantik tersebut.


Halaman 1


Ketika rembulan meninggalkan malam,


Hadirkan kehangatan dari sinar surya...


Ketika dedaunan meninggalkan rantingnya,


Menyisakan kegersangan yang menyiksa...

__ADS_1


Lalu bagaimana jika ia yang meninggalkanku?


Akankah bahagia atau justru teriris sembilu?


Love,


AZQ


Halaman 2


Salahkah ketika hati mulai memilih kepada siapa ia berlabuh?


Salahkan ketika ia membisikkan kata-kata yang begitu memaksaku untuk tetap memandangnya meski ribuan luka telah aku terima?


Entahlah, bahkan daun yang gugur enggan memberitahuku jawabannya.


Love,


AZQ


Halaman 3


Demi dedaunan yang berjatuhan,


Demi langit dan bumi yang berjauhan,


Aku mengatakannya dari dasar kalbu,


Bahwa Rembulan Biru,


Begitu menginginkan kehadiran sang Banyu


Love,


AZQ


Oh... jadi gadis itu sedang mencintai seseorang? Ah betapa beruntungnya anak laki-laki itu! Ia bisa dengan mudah mengambil hati Aisha, namun malah ia sia-siakan dengan begitu banyaknya luka yang tertoreh di hati Aisha. Bukan! Aku bukan cenayang yang bisa tahu apa yang terjadi kepada Aisha. Aku hanya seorang penggemar yang dengan lancangnya mencintai idolanya, bahkan membaca kisah cinta dia dan laki-laki lain.


Oh astaga! Bagaimana bisa aku tertarik dengan seorang gadis yang usianya terpaut 10 tahun denganku? Sedangkan semua mantanku paling muda hanya berjarak satu tahun dibawahku. Lalu bagaimana jika selentingan komentar orang lain dapat menghancurkanku, terutama Aisha jika sampai berita ini menyebar.


Ya Tuhan! Apa aku tidak pantas memiliki rasa yang lebih untuk muridku sendiri? Apakah kekaguman yang mungkin sedang bermetamorfosa menjadi cinta ini patut dipersalahkan? Entahlah! Otakku belum juga menjumpai titik terang dari masalah hati yang begitu rumit ini.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2