Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 6


__ADS_3

"Kisahnya masih sama, hanya tentang segaris senyum, yang membawa beribu tawa bahagia."


-


-


-


***Engkaulah nafasku


Yang menjaga di dalam hidupku


Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik


Kau tak pernah lelah


Sebagai penopang dalam hidupku


Kau berikan aku semua yang terindah***


Kini saatnya memasuki bagian reff dari lagu tersebut. Aisha membentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan disambut oleh anak-anak yang sudah terbawa suasana dengan lagu Ayah ini meski mereka tidak benar-benar memahami isinya. Mereka terisak dalam pelukan Aisha yang tidak seberapa. Aisha dan Elang mengajak anak-anak panti untuk ikut bernyanyi dengannya.


***Aku hanya memanggilmu ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah


Jika aku tlah jauh darimu


Kau tak pernah lelah


Sebagai penopang dalam hidupku


Kau berikan aku semua yang terindah


Aku hanya memanggilmu ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah


Jika aku tlah jauh darimu


Aku hanya memanggilmu ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah


Jika aku tlah jauh darimu


Aku hanya memanggilmu ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu ayah


Jika aku tlah jauh darimu***


*


*


*


Setelah lagu selesai mereka nyanyikan, D-And-Cook Gengs yang ikut terharu pun memeluk beberapa anak yang tidak kebagian pelukan dari Aisha. Para gadis yang notabene-nya begitu sensitif sudah berusaha menghapus air matanya sedari tadi. Sementara para lelaki hanya bisa menyembunyikan rasa haru yang timbul akan kejadian ini.


Mereka merasa tertampar oleh kejadian mengharukan ini. Anak-anak panti begitu merindukan sosok Ayah dan Ibunya yang tidak pernah menemuinya untuk sekedar mengucapkan selamat atas keberhasilannya mengerjakan ujian. Atau bahkan hanya untuk memberikan pelukan penuh kerinduan kepada anak-anak menggemaskan ini.

__ADS_1


Sementara mereka?


Masih sering menyakiti perasaan orang tua mereka hanya karena sarapan yang tidak sesuai selera. Atau uang jajan yang sudah menipis.


Terimakasih adek-adek!


Kalian telah menyadarkan kami bagaimana cara bersyukur akan apa yang kami miliki saat ini. Semoga kelak kalian mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kalian impi-impikan.


Lalu, saat jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh, anak-anak diajak untuk menonton film yang sudah disiapkan oleh Fian. Mereka lalu duduk dengan rapi di halaman panti dengan layar putih besar yang sudah terpampang di depan mereka.


Aisha dan teman-teman perempuannya menyiapkan camilan untuk menemani acara menonton mereka kali ini. Elang dan para laki-laki hanya duduk di barisan paling belakang untuk mengawasi anak-anak panti tersebut.


Kain putih di depan mereka sudah mulai menunjukkan gambar pertanda film akan di mulai. Hendra yang menjadi operator pun menanyakan kesiapan anak-anak panti. Dan mereka dengan kompak menjawab.


“SIAP, MAS!!!”


Lalu Hendra menekan ikon ‘mulai’ pada layar laptopnya. Mereka pun begitu menikmati film yang mereka tonton kali ini. Film bertajub nasionalisme ini begitu menyita perhatian mereka. hingga tanpa mereka sadari Aisha dan teman perempuan yang lain sudah meninggalkan area halaman panti untuk membantu para pengurus menyiapkan makan siang untuk mereka.


*


*


*


Bel tanda makan siang telah tiba pun berbunyi. Seperti biasa, sorak gembira menyambut makanan yang sudah anak-anak panti tunggu sedari tadi pun terdengar begitu merdu. Aisha dan teman-temannya juga di ajak untuk makan siang bersama dengan mereka.


Mereka digiring menuju sebuah ruangan yang sudah terdapat banyak meja panjang beserta kursi panjang pula. Hampir mirip dengan yang ada di sekolah mereka.


Pengasuh panti menginstruksikan anak-anak yang sudah dianggap besar untuk mengambil makanannya sendiri, sementara anak balita diambilkan makanannya oleh salah seorang pengasuh yang bertugas. Amira, Rahayu, Ningrum dan Adel membantu para pengasuh panti.


Aisha celingukan mencari seorang anak yang tidak terlihat sedari tadi. Aisha kemudian bertanya pada salah seorang pengasuh.


“Bunda... Ilham mana ya? Kok nggak kelihatan dari tadi.”


“Waduh! Bunda nggak tahu, Mbak Ica. Coba bunda lihat ke kamarnya dulu.”


“Bunda disini aja. Biar Ica yang kesana.”


Aisha melewati lorong yang menghubungkan antara ruang makan dan gedung utama panti tersebut agar bisa sampai ke kamar yang dituju.


Sesampainya ia di depan kamar dengan pintu coklat yang ditempeli nama beberapa anak, ia mendengar isakan mungil dari dalam sana. Ia hapal dengan suara itu. Itu adalah suara dari Ilham, anak laki-laki yang sedang dicarinya.


Aisha pun memasuki kamar tersebut dan terkejut ketika mendapati Ilham yang duduk meringkuk di samping ranjang dengan wajah yang ia tenggelamkan dalam lipatan tangannya.


“Ilham?” Panggil Aisha sembari berjalan mendekati anak itu.


Ilham pun mendongak dan Aisha dapat melihat gurat kesedihan yang begitu kentara di wajah menggemaskan Ilham. “Mbak Ica?”


“Iya. Ilham kenapa nangis?” Tanya Aisha setelah ia berhasil mendudukan dirinya tepat di depan Ilham. Aisha pun merengkuh tubuh mungil Ilham dalam dekapannya.


“Mbak Ica... Hiks...”


“Iya, sayang! Mbak Ica di sini. Jangan nangis lagi! Coba cerita ke Mbak Ica. Ilham kenapa?”


“Mbak Ica punya ayah?” tanyanya pada Aisha. Aisha sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Namun sebisa mungkin ia tetap menjaga ekspresinya.


“Punya sayang! Setiap anak punya ayah.” Jawabnya.


“Tapi kenapa Ilham nggak punya.” Tanya Ilham yang lebih mengarah ke sebuah pernyataan pedih. Aisha pun mengutuk mulutnya yang tidak bisa menjaga kata-katanya barusan, sehingga jawaban yang ia lontarkan malah membuat Ilham semakin sedih.


“Ilham punya kok. Percaya sama Mbak Ica! Ayahnya Ilham lagi kerja yang jauuuuhh sekali. Makanya Ilham dititipkan disini.”


“Tapi kapan Ayah jemput Ilham, Mbak?”


“Nanti. Suatu hari nanti Ayah pasti akan jemput Ilham. Kalaupun enggak, Ilham sendiri yang harus menemui Ayah di tempat kerjanya.”


“Bisa, Mbak?”


“Sangat bisa, sayang! Makanya Ilham harus belajar yang rajin biar jadi orang yang sukses. Kalau udah sukses, Ilham jentikkan jari saja Ilham pasti bisa tahu dimana Ayah kerja.”

__ADS_1


“Bener, Mbak?”


“Iya, sayang! Tapi janji dulu sama Mbak Ica kalau Ilham nggak akan nangis lagi saat Ilham rindu sama Ayah. Oke Boy?!”


“Oke, Mbak. Tapi kalau Ilham pas kangen banget sama Ayah Ilham gimana?”


“Ilham berdoa sama Allah. Ilham minta supaya Ayahnya Ilham sehat terus sampai Ilham bisa bertemu sama Ayah.”


“Makasih, Mbak Ica! Ilham sayang banget sama Mbak Ica.”


“Mbak Ica juga sayang sama kamu, Ilham.”


Ilham menubruk tubuh Aisha dan memeluknya sangat erat.


Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata yang menatap mereka dengan senyumannya. Orang itu adalah Elang. Yang sedari tadi mengikuti Aisha juga mendengarkan pembicaraan keduanya.


“Nah sekarang Ilham makan ya! Mbak Ica sudah membawakan makanan untuk Ilham.”


“Iya, Mbak Ica.”


Aisha memberikan sepiring makanan yang di bawanya tadi kepada Ilham, sementara ia hanya melihat saja betapa lahapnya Ilham makan.


Kemudian terdengar langkah seseorang yang memasuki ruangan. Aisha menolehkan kepalanya dan melihat Elang berdiri di belakangnya.


“Kamu juga harus makan.” Ucapnya. Ia pun duduk di samping Aisha.


“Nanti aja. Aku tidak lapar.”


“Lapar tidak lapar harus tetap makan! Aaaaa!” Perintahnya. Elang mengasongkan sesendok penuh makanan kepada Aisha.


“Aku bisa makan sendiri!”


“Akunya pengen nyuapin kamu kok! Gimana dong?” Ucapnya jahil. Elang masih tidak menjauhkan tangannya dari depan wajah Aisha.


Dengan kekesalan yang luar biasa, Aisha terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Elang.


“Nah, pintar!” puji Elang dengan mengusap puncak kepala Aisha.


Aisha mencebikkan bibirnya kesal namun tetap menerima suapan dari Elang hingga makanannya pun tersisa setengah.


“Udah kenyang.” Aisha menolak suapan yang ke sekian kalinya dari seorang Elang.


“Tanggung, ca! Sedikit lagi!”


“Kamu aja yang habiskan! Itu porsi nasi cowok kali, El. Aku mana kuat habiskan semuanya! Hih!”


“Huh! Yasudah aku aja yang habiskan. Suapin!”


“Aku? Suapin kamu? Ogah!”


“Kamu curang! Aku dah suapin kamu loh, Ca!”


“Aku mana ada minta di suapin sama kamu! Wleeek!” Ejeknya pada Elang. Elang pun mencebikkan bibirnya. Dalam hati Aisha tertawa karena berhasil mengerjai ‘sahabat’ barunya ini.


“Mbak Ica sama Bang Elang lucu. Hihihihi...” komentar Ilham yang memperhatikan mereka sedari tadi. Ternyata Ilham sudah selesai dengan makanannya.


“Mbakmu ini lho nyebelin. Bang Elang minta suap masa nggak mau? Padahal tadi sudah Bang Elang suapi.”


“Abangmu itu yang nyebelin. Mbak Ica kan nggak minta disuapi.”


“Hahahahahaaa.... “


Ilham terus tertawa dengan tingkah konyol kedua kakak yang sangat disayanginya ini. Aisha dan Elang saling pandang, dan mereka pun salin melempar senyum karena berhasil menghilangkan raut kesedihan di wajah Ilham. Meski mereka tidak yakin hal ini akan bertahan lama.


*


*


*

__ADS_1


To be continued


__ADS_2