Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 5


__ADS_3

“Terkadang melihat senyuman sederhana mereka menyadarkan kita, jika selama ini Tuhan telah memberikan yang teraik untuk kita.”


-


-


-


Keesokan paginya, di hari yang cukup cerah ini, Aisha sudah siap dengan setelan kasualnya. Ia sudah memiliki janji dengan para sahabatnya untuk pergi ke sebuah panti asuhan yang akan mereka berikan bantuan. Ini sudah merupakan kebiasaan yang mereka lakukan setahun yang lalu. Setiap sebulan sekali, Aisha dan D-And-Cook gengs akan berkunjung ke Panti Asuhan Setulus Kasih Bunda untuk berbagi sedikit kegembiraan dengan anak-anak disana, yang mungkin hidupnya tidak seberuntung mereka.


“Hendra sama Aisha udah ready kan gitarnya?”


“Sudah dong!” jawab Hendra dan Aisha serempak.


“Sip! Daffi, proyektor sama LCD udah di cek kan?”


“Udah kok. Semalem keluargaku nobar pakai proyektor.”


“Good! Irul, Rahayu, Fian, Melia, nasi box sama snack gimana?”


“Udah masuk bagasi, Rum.”


Ningrum bertugas untuk meng-cross check persiapan mereka sebelum berangkat. Mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Ninda yang letaknya berada di tengah-tengah. Mereka akan berangkat menggunakan mobil kelurga Adel dan Irul yang juga sudah memiliki lisensi untuk menyetir.


“Okey! Semua persiapan sudah lengkap. Sekarang saatnya berangkat!”


“Yeay!”


Mereka memasuki mobil dengan pembagian yang sudah cukup rata. Hendra, Amira, Fian, Melia dan Adel di mobil Adel yang di sopiri oleh kakak Adel sendiri serta Aisha, Daffi, Ningrum, Ninda, dan Rahayu yang berada di mobil Irul dengan Irul sendiri yang menjadi sopirnya.


Di dalam mobil mereka di isi dengan perbincangan yang begitu mengasyikkan. Daffi menghubungi Amira melalui panggilan video, mereka mengobrol dengan sesekali bercanda tanpa melupakan keselamatan mereka dalam berkendara.


Sesampainya di panti asuhan yang mereka tuju, para remaja laki-laki menurunkan semua perlengkapan yang mereka bawa hari ini, sementara para perempuan langsung masuk untuk menemui pengasuh panti ini.


“Terimakasih ya, Mbak dan teman-temannya sudah mau berkunjung ke panti asuhan kami. Maaf jika tempatnya kurang nyaman.”


“Ah, Ibu! Tidak perlu berbicara seperti itu. Kami senang bermain disini, Bu. Anaknya baik-baik dan juga menggemaskan.”


“Iya, Bu! Kami tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. mereka dimana ya, Bu?”


“Mereka bermain di halaman belakang. Ada juga seorang pemuda yang datang kemari tadi pagi-pagi sekali. Orangnya ganteng lho, Mbak. Siapa tau diantara mbak-mbak ini ada yang kepincut.”


“Ah, Ibu! Kalau saya, Adel, Melia, Rahayu, dan Ninda kan sudah punya pacar. Tuh tinggal Aisha sama Ningrum aja yang belum. Ya kan, Sha? Rum?” Mereka pun terkikik mendengar ucapan dari Amira. Tak terkecuali si empunya nama yang sudah disebut oleh Amira tadi.


Mereka melanjutkan perbincangan sembari berjalan menuju halaman belakang panti asuhan tersebut. Para laki-laki yang sudah selesai meletakkan barang bawaan mereka sesuai dengan intruksi dari pengasuh panti lainnya pun juga ikut serta dalam obrolan kali ini.


Hingga sesampainya di halaman belakang, mereka di sambut oleh teriakan beberapa anak yang menggema memanggil nama mereka.


“Mbak icaaaaa!”

__ADS_1


“Mas Apiiiiii!”


“Mbak iyuum!”


“Mas iyuuuull!”


“Mbak miyaa!”


“Mas Heeeen!”


“Mbak Ayuuk!”


“Mas Iyaaann!”


“Mbak Idaaa!”


“Mbak Deeel!”


“Mbak Meyyy!”


Begitulah mereka mengabsen semua nama dari D-And-Cook gengs dengan panggilan kesayangan mereka. Mereka mengikuti cara para balita yang belum fasih bicara memanggil Aisha dan teman-temannya.


Aisha tidak keberatan dengan panggilan itu, pun dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Mereka malah senang karena itu artinya mereka berharga di hidup anak-anak panti ini.


“Heeeyyy!! Kalian apa kabar?” tanya Aisha pada anak-anak yang sudah menghambur dalam pelukan Mas dan Mbak idola mereka.


“Maaf ya Winda sayang! Mbak ica dan teman-teman kemarin sibuk sekolah. Baru beberapa hari ini kami libur.”


“Iya, Mbak! Nggak papa! Yang penting sekarang kita udah ketemu. Raihan kangen sama Mbak ica.” Ucap anak laki-laki yang juga ada dalam pelukan Aisha.


“Mbak juga kangen banget sama kalian semua. Seharian ini Mbak ica mau main sama kalian. Nanti kita nyanyi bareng ya! Mas iyan juga punya film bagus untuk adek-adek lho! Terus nanti Mbak ica sama yang lain juga mau bantuin adek-adek Mbak ica yang lucu-lucu ini mengerjakan PR. Boleh kan?”


“BOLEH BANGET!!” Teriak mereka bersamaan.


Aisha tak memperhatikan seorang pemuda yang tengah menatapnya sambil tersenyum tipis. Pemuda itu menghampiri Aisha dan ikut berjongkok menyejajarkan tingginya dengan Aisha.


“Halo, Mbak ica! Tidak ingin menyapaku juga?”


“Elang?” tanya Aisha yang sedikit terkejut hingga ia terjatuh ke belakang dengan pantatnya yang langsung teduduk di lantai. Winda dan Raihan yang tadi ada dalam pelukan Aisha sudah berlari ke arah Hendra dan Fian yang sedang memainkan gitar untuk menghibur anak-anak panti lainnya.


“Kok bisa ya kita bertemu disini tanpa di sengaja? Kamu mengikuti aku apa gimana?”


“Jangan ge-er ya kamu! Aku tidak pernah mengikutimu!”


“Hahahahaa... aku hanya bercanda, Mbak Ica!”


“Jangan memanggilku seperti itu! Terdengar sangat menggelikan ketika kamu yang mengucapkannya.”


“Oh. Kenapa tidak boleh? Padahal aku suka memanggilmu seperti itu. Kamu terlihat lebih imut dengan panggilan Ica.”

__ADS_1


“Kamu lebih tua dariku, El! Aku tidak suka kamu memanggilku, Mbak!”


“Oh jadi itu masalahnya? Hahaha.... Okey! Okey! Aku hanya akan memanggilmu ica saja. Boleh kan?”


“Hm.”


Aisha meninggalkan Elang yang masih terus menggodanya. Sedangkan Elang, pemuda itu tidak lelah sama sekali untuk mengganggu gadis cantik di depannya ini. Ia tetap mengikuti kemanapun perginya Aisha.


Gadis itu sebenarnya merasa risih karena terus diikuti oleh pemuda menyebalkan yang sayangnya sudah menjadi temannya ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin beradu mulut dengan Elang. Ia tidak mau anak-anak panti yang sudah di anggapnya adek sendiri mencontoh perilakunya.


Aisha pun berjalan mendatangi kerumunan anak-anak dari usia TK hingga SD yang sedang duduk bersila sembari bernyanyi mengikuti alunan gitar yang dimainkan Hendra dengan suara fals Fian dan Daffi yang juga ikut bernyanyi.


Anak-anak yang mendengarnya pun menertawakan tingkah lucu mereka. Sedangkan para gadis menutup mukanya menahan marah yang bercokol di hati karena mendengar suara sumbang dari lagu yang mereka nyanyikan.


Lalu seolah menyadari sesuatu, Raihan pun menengok ke belakang dan menemukan Aisha yang sedang berjalan berdua dengan Elang. Ia pun beranjak dan menghampiri keduanya.


“Mas iyan! Raihan mau dinyanyiin sama Mbak ica!”


“Boleh! Sini, sha! Nyanyi sama aku!” tawar Fian.


“Raihan nggak mau kalau Mbak ica nyanyinya sama Mas iyan. Mas iyan suaranya jelek!” protes Raihan dengan bibirnya yang mengerucut. Membuat semua remaja disana tertawa terpingkal melihat muka pias Fian setelah diejek habis-habisan oleh anak laki-laki berumur 7 tahun.


“Gimana kalau Mbak ica nyanyi sama Bang Elang aja? Bang Elang juga bisa main gitar lho!” tawar Elang. Menerbitkan binar bahagia di wajah anak-anak panti. Namun juga menimbulkan kerutan di wajah sahabat-sahabat Aisha karena mereka bingung siapa pemuda itu.


Sedangkan Aisha sudah menatap Elang dengan tatapan tajamnnya. Ingin menolak, namun tidak tega dengan ekspresi memohon yang ditunjukkan oleh wajah-wajah menggemaskan tersebut.


“Okey! Kalian mau Mbak Ica nyanyi apa?” tanya Aisha setelah menghembuskan nafasnya cukup kasar.


“Kemarin Ilham denger lagu bagus banget di toko roti nya Bu Eka. Pokoknya ada yang liriknya ‘nana nana nanananaaa Ayah,’ gitu, Mbak. Mbak Ica tau?”


“Oh iya.. Mbak Ica tau. Kalau gitu adek-adek duduk yang rapi ya!”


“Okee!”


“Lagunya seventeen itu bukan, Ca?” tanya Elang yang mengikuti Aisha untuk duduk di bangku panjang depan mereka.


“Iya.” Jawabnya singkat. Kemudian Elang pun mengambil alih gitar yang ada dalam pangkuan Fian dan mulai memetik senarnya untuk mengetes stem atau tidaknya gitar tersebut.


“Siap?” tanya Elang pada Aisha yang duduk di sebelahnya. Aisha hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan teman-temannya mengikuti anak-anak panti untuk duduk di hadapan mereka dengan beralaskan tikar yang dibawa Hendra dari dalam panti.


Elang mulai memetikkan beberapa senar untuk memainkan bagian intro dari lagu tersebut. Dan Aisha menyusul dengan menyanyikan bait awal lagu berjudul ‘Ayah’ milik band seventeen itu.


*


*


*


To be continued

__ADS_1


__ADS_2