Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 13


__ADS_3

"Pipi chubby dan kulit putih. Senyum manis gigi kelinci. Membuatku tersadar, bahwa cinta itu......... ya kamu."


-


-


-


Mereka berdua keluar dari mobil dan memasuki sebuah supermarket yang cukup ramai di pagi menjelang siang ini.


Elang mengambil trolly dan mendorongnya untuk memilih belanjaan yang sudah di catatkan oleh Maminya. Sementara Aisha, gadis itu hanya mengikuti kemana Elang berjalan tanpa banyak berbicara.


Namun karena bosan juga hanya muter-muter sedari tadi, Aisha pun bertanya pada Elang.


“Belanja apa aja sih, El? Muter-muter aja dari tadi,” tanya Aisha geram


“Aku nyari yang ada di catatan Mami ini. Nggak ketemu-ketemu perasaan.” Keluhnya dengan wajah yang memelas.


Kemudian Aisha memeriksa catatan kecil yang ditulis oleh Ibu dari laki-laki di sampingnya. Ia membacanya seksama. Setelahnya, Aisha mengehembuskan nafas kesal karena kebodohan Elang. Bagaimana mungkin Elang bisa mengajaknya ke tempat rak berisi bumbu masakan instan jika yang diminta maminya adalah bumbu masakan yang masih mentah.


“Ikut aku!” Titah Aisha kemudian.


Tanpa banyak protes, Elang pun mengikuti Aisha. Ia melihat bagaimana cekatannya gadis itu saat memilih bumbu masakan. Pun ketika ia membaui daging sapi untuk mencari kualitas terbaik.


Elang merasa beruntung karena ia pergi bersama dengan Aisha. Karena jika ia belanja sendirian, ia pasti akan terlihat seperti orang aneh yang masuk ke supermarket hanya untuk ngadem.


Tak lama troli belanjaan yang di dorong oleh Elang sudah sepenuhnya terisi. Mereka pun berjalan menuju kasir untuk membayar semua belanjaan mereka kali ini.


Pegawai kasir pun menghitung total yang harus dibayar oleh Elang. Setelah menyebutkan nominalnya, Elang mengeluarkan dompetnya dan membayarkan uang sebanyak 5 lembar kertas berwarna biru.


Mereka pun keluar dari supermarket setelah pegawai kasir memberikan belanjaan yang sudah di letakkan dalam kantong plastik beserta uang kembaliannya. Kemudian mereka memasuki mobil dan pergi menjauh dari supermarket menuju kediaman Elang.


*


*


*


Sesampainya di rumah Elang, mereka di sambut meriah oleh suara wanita paruh baya yang sedang bercengkerama dengan suaminya. Ya, wanita itu adalah Garnetha, Mami tercinta dari Elang.


“Ini Ica? Ya ampun cantik banget ya.” Serunya heboh. Ia bahkan sudah menyentuh wajah putih Aisha.


“Makasih Tante," ucap Aisha. Wanita itu bahkan sudah mencubit pipi Aisha saking gemasnya. Aisha hanya bisa tersenyum diperlakukan seperti ini. Hal seperti ini sudah terjadi sejak dulu. Orang yang baru mengenalnya pasti akan merasa gemas dengan pipi bakpaunya.

__ADS_1


“Mami jangan di gituin pipinya Ica! Ntar tambah gede!”


“Nggak papa! Lucu tau, Lang. Mami tu dulu pengen punya anak cewek setelah Abangmu. Eh tapi malah yang lahir kamu. Bandel, tengil, nyebelin pokoknya. Untung Mami sayang banget sama kamu,” ucapnya. Elang yang mendengarnya pun merasa kesal. “Ica bisa masak? Bantuin Tante masak yuk!” Ucapnya mengalihkan perhatian kepada Aisha.


“Nggak jago, Tante. Tapi saya suka bantuin Mama masak di rumah,” jawab gadis itu.


“Bagus dong! Ayo! Ayo! Kita ke dapur sekarang!” Ajaknya sembari merangkul pinggang Aisha yang lebih tinggi darinya ini.


Kedua wanita beda usia itu pun menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang untuk mereka semua. Meninggalkan Elang dan Ayahnya serta Rajawali yang baru bergabung bersama mereka.


Sesampainya di dapur, Aisha diberikan sebuah apron berwarna pink dengan gambar tokoh kartun disney, mickey mouse tepat di depan perutnya. Gadis itu menahan senyuman gemasnya karena melihat kartun favoritnya saat kecil dulu.


Garnetha yang melihatnya pun mengerutkan alisnya bingung. Pasalnya, ia tidak tahu apa yang membuat gadis belia di depannya tersenyum setelah ia memberikan apron lucu tersebut.


“Ica kenapa senyum-senyum?” Tanya Nilam saking penasarannya.


“E-eh? Nggak kok, Tante. Saya cuma gemas aja lihat gambar kartun di apron yang Tante kasih. Dulu waktu kecil ini adalah kartun favorit saya,” jawab Aisha dengan senyuman lebar. Membua Nilam tertawa keras karena keimutan gadis itu.


“Hahahhaa..... Itu apron punya anak teman Tante. Dia juga suka banget sama Mickey Mouse.”


“Lucu sih abisnya,” gumam Aisha yang masih di dengar oleh Nilam. Wanita paruh baya itu pun mengelus puncak kepala Aisha dengan sayang. Entah mengapa ia bisa menyayangi Aisha di pertemuan mereka pertama kali.


“Kamu juga lucu! Tante heran ih! Kamu imut gini masa kata Elang kamu judes? Berani banget dia bohongin Tante, ya! Setiap ceritain kamu pasti dia kaya kesel gitu.” Ceritanya panjang lebar. Mengungkapkan kekesalannya kepada putra bungsunya.


Mereka pun tertawa bersama. Menertawakan satu objek yang sama, yaitu Elang. Sang putra bungsu wanita berusia empat puluhan tahun juga sahabat baru seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun.


“Kamu bohongin Tante ya, Ca?” tanya Nilam yang lebih mengarah ke sebuah pernyataan. Menimbulkan kerutan di dahi Aisha karena tidak paham dengan maksud ucapan wanita paruh baya di depannya.


“Hah? Maksud Tante? Saya nggak bohong apa-apa.”


“Iya kamu bohong!” Nilam tetap kekeuh dengan argumennya. Kemudian ia pun melanjutkan ucapannya tadi. “Kamu bilang nggak jago masak! Tapi ini enak banget loh sop ayam buatan kamu.”


Aisha menghembuskan napasnya lega karena ternyata ia hanya di kerjai oleh Nilam.


“Tante bikin saya deg-deg an,” ucapnya. Nilam pun tertawa keras karena berhasil mengerjai gadis yang menjadi sahabat dari putra bungsunya ini.


“Hahahahaa... Kamu lucu banget sih abisnya! Tapi Tante serius loh, Ca! Masakan kamu benar-benar enak. Waaaah! Ini mah udah pasti Mama kamu juga jago masak. Iya kan?”


“Tante bisa aja,” jawabnya singkat.


Mereka pun telah selesai dengan semua masakannya tanpa memakan waktu yang lama. Biasanya Nilam sendiri akan menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk memasak. Namun kali ini karena di bantu oleh gadis berbakat seperti Aisha, ia hanya memerlukan waktu sebanyak empat puluh lima menit saja.


Aisha membantu Nilam untuk menata masakannya di meja makan persegi panjang. Sedangkan Nilam memanggil suami dan anak-anaknya untuk menuju meja makan.

__ADS_1


“Waaaaaah! Mami masaknya cepet banget!” komentar Elang.


“Iya lah! Kan di bantuin sama Ica. Ya kan, Ca?” Nilam melontarkan pertanyaan pada Aisha. Sedangkan Aisha hanya tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan itu.


“Kok tumben Mami masaknya banyak?” tanya Rajawali yang sedari tadi terdiam.


“Mami juga nggak tahu! Tiba-tiba aja pengen masak banyak. Hehe,” cengir Nilam.


"Malah bicara terus. Ayo dimakan!" ajak suami dari Nilam.


Mereka memakan masakan yang sudah dimasak oleh kedua wanita berbeda usia itu dengan lahap. Nilam yang melihatnya pun merasa sangat bahagia. Percayalah wahai para suami dan anak! Bahwa melihat kalian makan dengan lahap seluruh masakan yang sudah di masak oleh istri dan ibu kalian adalah hal sederhana yang sangat membahagiakan untuk wanita-wanita hebat seperti mereka. Jadi jangan sekali-sekali menghina masakan mereka jika tidak ingin menyakiti perasaannya.


Haih! Apa yang aku bicarakan sebenarnya. Sok tahu sekali.


*


*


*


Di hari Sabtu seperti ini, baik papi maupun kakaknya selalu berada di rumah sepanjang hari. Kecuali jika memang mereka memiliki kepentingan lain yang sangat mendesak. Inilah yang menyebabkan keharmonisan di keluarga Elang sangat terjaga.


Aisha merasa memiliki keluarga baru bersama Elang dan keluarganya. Sikap hangat mereka sama persis seperti keadaan keluarganya sebelum kakak Aisha bersekolah ke luar negeri dan adiknya yang memilih untuk tinggal bersama neneknya di kampung halaman papanya, Padang.


Mereka berlima duduk di sofa yang berada di ruang keluarga rumah tersebut. Dengan Aisha yang sudah di monopoli Garnetha untuk duduk di sampingnya. Sedangkan Elang hanya bisa mengelus dadanya melihat kakaknya yang tersenyum mengejek ke arahnya.


"Abang pergi aja sono! Kemana gitu! Bete banget aku lihat muka Abang!" ucap Elang yang sudah kepalang sebal dengan kakak satu-satunya ini.


"Loh, emang Abang ngapain coba?" tanya Rajawali dengan tampang tak berdosanya.


"Abang dari tadi ngejek aku terus kan?!" sentak Elang.


"Lah? Apaan sih kamu? Sensi amat! Kaya anak perawan PMS aja! Abang nggak ngapa-ngapain kok!" balas Raja yang senang sekali menggoda adik yang berusia 5 tahun di bawahnya ini.


Sedangkan Elang hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyesal telah membawa Ica-nya ke rumah. Jika ia tau Maminya akan memonopoli Aisha, dan tak.membiarkannya mengobrol dengan gadis itu, ia bersumpah tidak akan pernah mengajak Aisha untuk main ke rumah papinya lagi.


Aih! Tidak mungkin juga dirinya sanggup menolak permintaan Mami tercintanya jika suatu saat menginginkan Aisha untuk menjadi menantunya.


Ehm... Maksud Elang, dia tidak mampu menolak permintaan sang ratu jika suatu saat menginginkan Aisha untuk kembali bertandang ke rumah besar mereka. Ya! Se-seperti itu maksud Elang tadi.


-


-

__ADS_1


-


To be continued


__ADS_2