Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 3 Arian Arda Dinata


__ADS_3

"Emmm.. Mencintai tapi tak bisa memiliki rasanya sakit, ya?"


-


-


-


Waktupun berlalu begitu cepatnya, hari ini adalah hari dimana kelas XII melangsungkan prosesi wisuda. Acara resmi sudah rampung beberapa saat yang lalu, kini saatnya acara pentas seni dimulai. Aisha yang di minta untuk menjadi bintang dalam acara yang di gelar begitu megah itupun tengah mempersiapkan dirinya.


Dalam performance nya nanti, Aisha akan membawakan 2 lagu bersama band-nya, dan beberapa lagu request an dari teman dan guru yang menonton.


Amira dan Hendra, sahabat Aisha yang ditunjuk menjadi MC pun sudah mulai membacakan susunan acaranya. Kini diatas panggung sedang dipentaskan sebuah drama komedi dari kelas 10, dilanjutkan dengan beberapa penampilan lain dari kelas lainnya.


“Better Band, 5 menit lagi kalian tampil ya!” ucap Ningrum yang menjadi sie acaranya.


“Oke.” Jawab Aisha singkat.


Dia masih sibuk dengan pekerjaannya untuk memoles sedikit riasan di wajah Zahwa, vokalis dalam band-nya. Sementara anggota laki-lakinya, Hendra, Ahmad dan Izza sudah berada di backstage sedari tadi.


Better Band sudah berada di atas panggung kala itu, kemudian mereka mulai menyanyikan beberapa lagu yang sudah di aransemen, setelah sebelumnya sedikit berbasa-basi.


“Terimakasih semua! Dan selamat untuk kakak-kakak yang berhasil lulus 100%!” Ujar Zahwa untuk menutup penampilan mereka kali ini.


Entah siapa yang mengubah acara itu, Aisha tidak dibiarkan untuk turun dari panggung. Hendra dan Amira mengajak Aisha mengobrol sementara teman-temannya sudah berada diantara penonton lain.


“Waaaah! Sepertinya teman-teman masih kurang nih sama penampilan Aisha. Ya nggak?!” Ucap Amira. Mendapat sambutan antusias dari penonton. Mereka kompak mengatakan YA dengan teriakan yang menggema.


“Gimana kalau Aisha kita kasih waktu perform lagi, Ra?” Sambung Hendra.


“Ide bagus, Hen! Aisha mau kan menghibur kami kembali? Kami ini fans berat kamu lho!”


Aisha yang diberi pertanyaan seperti itu justru menatap Amira dan Hendra bergantian dengan alis mengerut, menandakan bahwa ia sedang bingung.


“Udah sih nggak perlu ditanya lagi, Ra. Dia pasti mau kok!”


Amira dan Hendra tampak tengah menahan senyumannya. Entahlah apa arti dari senyuman itu. Kemudian beberapa panitia yang menjadi tim perlengkapan pun masuk ke panggung dengan menggotong sebuah piano besar. Aisha pun cukup terkejut. Jadi dia disini diminta untuk menyanyikan sebuah lagu dengan piano? Astaga!


*


*


*


Aisha POV


Apaaaaaaaa?! Siapa yang mengubah susunan acara ini? Bukannya saat aku melihat rundown-nya tadi, aku hanya akan tampil satu kali? Mengapa aku disuruh tampil lagi? Lihat saja orang yang mengganti acara ini! Akan kupastikan dia membayar biaya tambahan untuk jam manggung dadakanku ini!


Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Melihat antusiasme teman-teman dan guru memang sangat melegakan hatiku. Oleh karena itu, demi agar tidak mengecewakan mereka, aku bersedia menyanyikan lagu dengan iringan piano.


Akupun mulai menekan tuts piano dari intro sebuah lagu yang sedang disenangi saat ini. Jeritan dan sambutan meriah aku dapatkan dari mereka.


“There goes my heart beating. Cause you are the reason.”


Aku pun mulai menyanyikan lagu milik Column Scott yang berjudul You Are The Reason. Entahlah, lagu ini seperti mengingatkanku akan dia yang menjadi alasanku bertahan di sekolah ini dan menolak beberapa tawaran pertukaran pelajar ke sekolah lain.


Saat lagu yang aku mainkan akan memasuki bagian reff, aku dikejutkan dengan suara lain yang ikut bernyanyi denganku. Aku penasaran siapa pria itu, namun demi menjaga kestabilan nada dari tuts yang aku mainkan, aku tidak berani menoleh ke arahnya. Aku hanya merasa mengenal suara itu.


“I’d climb every mountain. Swim every ocean.”


“Just to be with you. And fix what I’ve broken.”


“Oo Cause I need you, to see.”


“That you are the reason.”


Sampai di bagian akhir lagu ini, aku akui aku cukup takjub dengan penampilanku dan orang itu. Apalagi mendengar tepukan meriah dari penonton di kursi VIP maupun yang berdiri di dekat panggung. Aku yang diselimuti rasa penasaran pun berdiri dari kursi dan membalikkan tubuhku guna melihat pasangan duetku. Setelahnya, akupun sangat terkejut.


Oh tidak! Jantungku!!


*

__ADS_1


*


*


Rian POV


Katakanlah aku licik! Dengan nekad mengganti susunan acara saat semuanya sedang berjalan dengan sangat baik. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan ini. Dan sekarang saatnya aku mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada gadis itu di depan banyak murid dan juga teman sejawatku.


Aku meminta Hendra dan Amira untuk menahan Aisha agar ia mau menyanyikan sebuah lagu dengan piano. Aku tahu jika permainan pianonya sangat baik. Aku pernah melihatnya di ruang musik saat aku tanpa disadarinya sedang tertidur di sudut ruangan.


Diapun mulai menyanyikan lagu tersebut. Beruntungnya aku karena ternyata dia menyanyikan sebuah lagu yang pas untuk duet. Akupun mulai menaiki panggung saat ia akan memasuki bagian reff.


Aku tahu ia terkejut. Terbukti dengan suara yang keluar dari bibirnya terdengar sedikit gemetar. Namun hal itu tidak bertahan lama. Ia cukup mahir untuk menguasai permainan musiknya. Dan aku takjub akan kemampuannya ini.


“I’d climb every mountain. Swim every ocean.”


“Just to be with you. And fix what I’ve broken.”


“Oo Cause I need you, to see.”


“That you are the reason.”


Menurutku lirik yang baru saja kami nyanyikan tidak hanya sebuah ungkapan semata. Aku pun akan melakukan hal yang sama untuk gadis ini, mendaki seluruh gunung, menyebrangi seluruh samudra, semuanya akan aku lakukan. Karena ia lah alasanku bertahan menjadi guru di sekolah ini meski penghasilanku sebagai pengusaha lebih menjamin kehidupanku.


Setelah ia selesai memainkan koda pada tuts nya, ia berdiri dan membalikkan tubuhnya. Aku melihat keterkejutan itu. Tiba-tiba ia memegangi dadanya dengan wajah yang sudah pucat pasi. Aku khawatir sekali. Akupun mendekatinya guna memastikan ia baik-baik saja. Namun responnya malah membuatku merasa sedih, ia berjalan meninggalkan panggung dengan langkah yang begitu cepat.


O-ow... Jadi rencanaku gagal?


Hufffttt...... Baiklah tidak apa! Aku yakin kesempatan itu akan datang lagi.


*


*


*


Aisha masih mencoba untuk menormalkan kembali detak jantungnya di kamar mandi wanita. Jika sebelumnya kalian mengira Aisha sedang mencintai teman kelasnya, kalian salah besar. Aisha mencintai Rian, guru muda yang bahkan tidak pernah mengajar di kelasnya. Ia mulai mencintai Rian saat pria itu menjadi guru musik dadakan di kelasnya, karena guru yang mengajar sedang cuti melahirkan.


Tepat sekali!


Masing-masing dari mereka memiliki cinta yang sama besarnya, namun keduanya sama-sama tidak tahu menahu tentang perasaan satu sama lain.


Saat dirasa jantung Aisha sudah berdetak dengan normal, ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Namun ia begitu terkejut ketika ternyata pria yang sudah berhasil membuat hatinya bergetar tidak karuan sedang berdiri di depannya.


Catat! Di depannya!


*


*


*


Aisha POV


D-dia? B-bagaimana bisa ia ada disini? Bukankah ini kamar mandi wanita? Atau jangan-jangan ia sedang mengikutiku? Tidak! tidak! Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Aku takut jika kepercayaan diriku justru akan menjatuhkanku begitu dalam.


“B-bapak kok disini?” Tanyaku tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku.


“Mencarimu.” Jawabnya ambigu. Mencariku? Untuk apa?


“A-ada apa, pak?”


“Bisa kita bicara di tempat lain? Ini kamar mandi wanita, saya tidak mau ada yang salah paham.” Pintanya.


“I-iya, pak.” Aku yang tidak punya nyali untuk bicara terlalu panjang hanya mengikuti saja permintaannya. Aku mengikuti ia yang berjalan mendahuluiku. Dan tanpa aku sadari, kini kami berdua sudah memasuki aula musik sekolahku. Yah kalau boleh sombong sekolahku memang sangat besar. Ada beberapa aula di dalamnya. Salah satunya aula musik, yang saat ini tengah aku masuki bersama Pak Rian.


“Ada apa ya, pak?” tanyaku yang sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin dia katakan.


Pak Rian terdiam cukup lama. Dengan posisinya yang menjulang di depanku, aku dapat dengan jelas melihat ekspresinya yang seolah menunjukkan sebuah kekhawatiran. Tapi khawatir akan apa?


“Saya mencarimu karena ada sebuah hal yang ingin saya bicarakan. Boleh?”

__ADS_1


“T-tentu, pak. Silakan!”


Oh Tuhan! Kenapa aku jadi gugup seperti ini. Tolonglah jangan buat aku mati kutu seperti ini. Aku tidak ingin terlihat konyol di depannya.


Aku melihat Pak Rian menghembuskan nafas sebelum memulai pembiacaraan denganku. Akupun melakukan hal yang sama. Menghembuskan nafas untuk menetralkan detak jantungku yang berdetak tidak karuan.


“Apa kamu sedang mencari buku ini?” tanyanya kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya. Aku mengenali barang tersebut. Itu adalah buku harian milikku! Tapi bagaimana bisa buku itu ada di tangan Pak Rian.


Oh!


Apakah... A-apaka Pak Rian sudah membacanya? Ah tidak!


“Ba-bagaimana bisa buku Aisha ada di Bapak? Aisha sudah mencarinya terlalu lama.”


“Sebelumnya maafkan saya karena menyimpan bukumu terlalu lama. Sebenarnya buku ini saya temukan saat kamu dan sahabat-sahabatmu sedang berada di kantin. Kamu meninggalkannya saat bu Tari memergoki kalian masih bersendau gurau meskipun jam pelajaran sudah di mulai. Ingat?”


“Iya, Pak. Aisha ingat.”


Aku melihat Pak Rian yang kembali memasukkan bukuku ke dalam jasnya.


“Pak? Mengapa bapak tidak mengembalikannya ke Aisha? Dan malah menyimpannya.”


“Maaf untuk itu. Dan maaf juga karena saya sudah membaca semua isinya.”


“A-apa? S-semua?”


“Iya. Dan bisa saya simpulkan kalau kamu sedang mengagumi seorang laki-laki. Bisa saya tahu dia siapa?”


“Ti-tidak! Bukan siapa-siapa.”


“Sha... Maaf jika apa yang akan saya katakan mengganggu kamu. Tapi, saya tidak bisa lagi menahannya terlalu lama. Saya mencintaimu, Sha. Sangat. Izinkan saya untuk menggantikan laki-laki yang ada dalam catatanmu itu.”


Aisha tercengang dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia bahkan sampai mencubit lengannya cukup keras, hingga ia pun mengaduh cukup keras dan tersadar jika semua ini bukanlah mimpi.


“Mak-maksud Bapak?”


“Mungkin ini terdengar menggelikan, Sha. Tapi saya sangat serius. Saya mencintaimu sejak pertama kali saya mengenal dirimu. Dan saya ingin menjadi pria di dalam catatanmu itu. Bisakah?” tanya Rian dengan tatapannya yang tajam menyorot Aisha.


Aisha bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya pria yang ada dalam catatan hariannya adalah pria itu sendiri. pria di depannya yang kini menggenggam tangannya erat. Aisha merasakan kehangatan itu. Batinnya memberontak meminta ia untuk berkata jujur tentang perasaannya selama ini. Namun sesuatu hal masih mengganjal di hatinya.


“Kenapa bapak memilih saya? Masih banyak perempuan lain yang lebih pantas untuk mendapatkan cinta bapak.”


“Karena Aisha adalah Aisha. Gadis yang dengan kepolosannya mampu membuat saya memikirkannya setiap hari. Gadis yang entah dengan apa mampu membuat saya terperosok jatuh ke dalam pesonanya. Dan gadis itu adalah kamu Aisha, saya benar-benar tulus mencintai kamu. Apa kamu tidak merasakan ketulusan saya?”


Setelah lama berkutat dengan pemikirannya sendiri, Aisha pun melepaskan genggaman Rian di lengannya. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah tampan pria dewasa di hadapannya.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa.”


“Kenapa? Apa kamu tidak bisa belajar untuk mencintai saya juga? Saya berjanji akan menjagamu.”


“Alasannya mudah, Pak. Bapak ini seorang guru dan saya seorang murid. Kita berada di sekolah yang sama. Akan terasa tidak etis jika sampai warga sekolah mengetahui hal ini.”


“Kita bisa menjalani hubungan tanpa diketahui orang lain, Sha. Saya janji akan menjaga rahasia ini.”


“Saya tetap tidak bisa, Pak. Toh jarak usia kita cukup jauh. Sepuluh tahun! Saya rasa bapak bisa mendapatkan wanita lain yang sudah dewasa, Pak.”


“Lalu apa cinta yang saya punya ini salah, Sha? Salah jika seorang pria mencintai seorang gadis tanpa memandang usianya?”


“Tidak! Bapak tidak salah.”


“Lalu?”


“Saya tetap tidak bisa, Pak! Maafkan saya.” Ucap Aisha pada akhirnya. Aisha pun meninggalkan Rian dengan kesakitan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Perasaannya terkoyak hanya dengan mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Ia menolak seorang pria yang sangat dicintainya hanya karena ia yang tidak ingin lelaki yang dicintainya terlibat masalah.


*


*


*


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2