Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 4


__ADS_3

"Bertemu orang baru? Mungkinkah dapat menyembuhkan lukaku yang perih bagai tersayat sembilu?"


-


-


-


Hati yang menangis itu sedikit demi sedikit sudah mulai terlupakan. Kini yang ada hanyalah seorang gadis yang sedang belajar untuk bangkit dari kesakitannya beberapa minggu yang lalu. Beruntung setelah pensi kelulusan siswa kelas 12, semua siswa sudah memasuki masa liburannya. Hanya guru piket dan penjaga ruang tata usaha saja yang masih berangkat untuk mengisi absensinya sebagai PNS.


Aisha duduk berhadapan dengan layar laptopnya di sebuah caffe yang sudah menjadi langganannya beberapa bulan ini. Ia sedang menuliskan kisah tragis percintaannya di pertama kali ia jatuh cinta. Ia mencurahkan perasaannya pada sebuah blog yang sudah di kelolanya setahun lalu.


Jika kecantikan yang kau jadikan pedoman,


Lalu bagaimana jika rupaku tak lagi menawan?


Jika harta yang kau jadikan pilihan,


Lalu bagaimana jika hartaku hanya iman?


Jika tubuhku yang kau jadikan impian,


Lalu bagaimana jika tubuhku sudah lemah tak bisa bertahan?


Jika keindahan yang selalu kau pandang,


Lalu bagaimana kau membawaku ke dalam dekapan?


Kakanda..... Terimakasih telah mencintaiku tanpa alasan dan maaf telah mencoba mengkhianati perasaan.


Ya, begitulah sekiranya yang dituliskan Aisha dalam laman blognya. Ia mengucapkan terimakasih kepada sosok Rian yang mau mencintainya tanpa alasan. Ia pun juga meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena tidak bisa membalas ungkapan cinta gurunya itu meski hatinya berkata lain.


Tanpa sadar tetesan kristal bening keluar dari mata indah Aisha. Ia masih menyayangkan penolakannya atas pernyataan cinta Rian beberapa hari lalu. Namun ia juga sadar apabila yang ia lakukan adalah hal yang terbaik untuk saat ini.


Aisha menyibukkan diri dengan membaca komentar-komentar dari pembaca setianya. Ia merasa bahagia dengan antusiasme penggemarnya terhadap tulisan-tulisan yang ia buat selama ini.


Mereka yang memberikan komentar positif lah yang bisa membuat Aisha tersenyum dan merasa senang. Sementara yang berkomentar negatif hanya akan Aisha jadikan sebagai penyemangat untuk menjadi penulis yang lebih baik lagi.


Sementara itu di meja paling sudut dalam ruangan itu, seorang pria mengepalkan tangannya dengan sangat kuat melihat Aisha menitikkan air mata karena satu hal yang belum ia ketahui.


“Siapapun yang berani membuatmu meneteskan air mata, maka ia akan berhadapan denganku, Qia!” ucap pria itu pada dirinya sendiri.


*


*


*


Aku melihat jam dan tersadar akan sesuatu. Aku pikir sudah terlalu lama aku berada dalam kafe ini, terhitung kini sudah memasuki jam ke-3 aku terduduk dengan secangkir green latte kesukaanku yang hanya tinggal setengahnya. Ide untuk melanjutkan novel yang tengah ku garap pun menguap entah kemana. Aku kehilangan inspirasi untuk berimajinasi dan menuangkannya dalam tulisan.


Hingga tak lama aku melihat sebuah keluarga yang baru memasuki kafe ini dengan sang ayah yang menggendong putri kecilnya, serta sang ibu yang menggandeng tangan putra mereka.


Melihat hal itu membuatku kembali mengingat dengan sahabat masa kecilku. Aku juga sering diajak mereka untuk jalan-jalan dengan posisi yang hampir sama. Sahabat yang aku panggil dengan sebutan kakak itu selalu merasa cemburu ketika aku berada di gendongan Ayahnya, sedangkan ia yang lebih tua 3 tahun dariku di genggam tangannya oleh sang Ibu.

__ADS_1


Kini, sudah lebih dari 10 tahun aku tidak bertemu dengannya karena mereka yang pindah untuk mengurusi perusahaan mereka. Aku dan keluargaku tidak tahu dimana mereka tinggal saat ini.


Aku baru tersadar dari lamunanku setelah seorang pemuda duduk tepat di depanku dengan secangkir kopi yang masih mengepul. Aku mengerutkan dahi bingung, kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya kepadaku sembari mengucapkan namanya.


“Hai. Aku Elang.” Ucapnya yang tidak aku gubris. Aku tidak terbiasa berkenalan dengan orang baru secara tiba-tiba seperti ini.


*


*


*


“Hey! Kenapa kamu tidak menerima uluran tanganku?” Tuntut laki-laki itu masih dengan tangannya yang terulur di depan Aisha.


“Karena aku tidak mengenalmu.”


“Huh! Makanya aku mengajakmu berkenalan kan tadi?”


“Tapi aku tidak mau.” Ucap Aisha singkat dan kembali berpura-pura sibuk dengan laptopnya meski ia hanya menggeser-geser cursor laptopnya saja.


“Oh ayolah! Aku tidak jahat! Aku baru pindah ke Jogja. Kebetulan aku melihat kafe yang cukup menarik perhatianku. Lalu aku masuk dan bertemu denganmu. Salah kalau aku ingin berteman denganmu?” Jelas laki-laki yang mengaku bernama Elang tersebut panjang lebar.


Aisha menggeleng sebagai jawaban.


Memang tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun karena ia yang tidak suka diajak berkenalan oleh laki-laki tengil di depannya di tambah ia yang sedang dalam mood yang sangat buruk membuatnya terlihat seperti seorang gadis yang sangat intovert. Meski pada kenyataannya Aisha adalah seorang teman yang sangat cerewet jika sudah bersama dengan orang-orang yang membuatnya nyaman.


“Lalu? Kenapa tidak mau?”


“Menarik.” Ujarnya sepelan mungkin. Namun sayangnya hal itu masih di dengar oleh telinga super peka milik Aisha.


“Maaf?”


“Ah tidak! Maksudku kafe ini sangat menarik. Tapi kenapa kamu datang sendiri?”


“Karena aku ingin sendiri.” jawabnya acuh tak acuh. Membuat Elang lama-lama merasa geram juga dengan jawaban gadis di depannya yang tidak nyambung sama sekali.


“Aku mohon! Aku hanya ingin berteman saja. Apa tidak bisa?” Pinta Elang dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. Bahkan jika ia bisa melihat wajahnya sendiri, ia yakin akan merasa sangat jijik atas dirinya.


Sebenarnya Aisha sangat kesal dengan laki-laki di depannya ini. Ia sering berkenalan dengan teman baru yang ia temui saat mengikuti lomba matematika dan lomba lainnya, pun dengan perform-nya saat mengisi acara di berbagai event. Namun ia tidak pernah bertemu dengan makhluk aneh dan tengil seperti manusia di depannya.


“Huh?! Menyebalkan sekali! Baiklah! Kita berteman! Puas!?” Ucap Aisha pada akhirnya. Elang yang mendengarnya pun merasakan kesenangan yang luar biasa. Hingga tak sadar ia memekik kegirangan.


“Kalau begitu boleh aku tahu namamu? Aku sudah mengatakan siapa namaku tadi.”


“Aku tidak meminta.”


“Hey! Kita ini sudah berteman kan? Mengapa untuk mengetahui namamnu saja aku tidak boleh?” protes Elang dengan suara yang sedikit meninggi. Membuat Aisha mendelikkan matanya sengit. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian pengunjung kafe ini. Dan untuk saja Ninety’s Caffe tidak terlalu ramai hari ini.


“Pelankan suaramu! Kamu bisa membuat kita berdua terusir dari tempat ini!”


“Baiklah! Baiklah! Jadi, siapa namamu gadis cantik tapi jutek?” mendapat julukan seperti itu membuat Aisha kembali memberikan tatapan tajam pada pria di depannya ini.


“Maafkan aku! Kamu sendiri yang membuatku menilaimu seperti itu!”

__ADS_1


Aisha hanya memutar bola matanya malas melihat elakkan dari pemuda yang ia yakin usianya berada beberapa tahun diatasnya ini.


“Aisha.” Ucapnya singkat.


“Hah? Apa? Siapa Aisha?”


“Kamu itu pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran? Kamu tadi bertanya siapa namaku, dan aku sudah menjawabnya baru saja. Aku Aqueesha Zahwa Qiandrany. Panggil Aisha saja.” Jawabnya tanpa mengubah ekspresi kesalnya dan tetap mengabaikan uluran tangan Elang yang masih terulur di depannya.


“WOW!! Itu kalimat terpanjang yang kamu ucapkan padaku hari ini. I am glad to hear that, Beauty!”


Aisha tidak mempedulikan ucapan Elang. Namun ia masih bisa mendengarkan dengan jelas apa yang di katakan oleh Elang.


Elang menceritakan mengenai kehidupan barunya di kota pelajar ini. Sementara Aisha hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi jika diminta.


“Aku pindahan dari Bandung, mahasiswa Hubungan Internasional, tapi aku tidak merasa nyaman karena setelah lulus aku akan ditugaskan bekerja di luar negeri. Aku tidak mau. Masih banyak mimpi  yang ingin aku kejar di tanah surga ini. Makanya aku pindah ke Jogja dan mendaftar ke fakultas kedokteran. Dan Alhamdulillah aku ketrima. Kalau kamu?”


“Baru naik kelas 3 SMA tahun ini kak.”


“Panggil Elang aja, usiaku tidak terlalu jauh diatasmu.” Kekeh Elang.


“Eum.. okey, Elang.”


“Nah seperti itu lebih bagus.”


“Maaf, El. Aku harus pulang. Ini sudah sangat sore.”


“Aku antar?”


“Lain kali saja. Aku bawa motor.”


“Oh okey. Hati-hati kalau gitu.”


“Iya, makasih.”


“Ai... boleh aku minta nomor ponselmu? Kita teman kan?” pinta Elang.


“Iya, boleh.” Aisha pun menyebutkan nomor ponsel yang sudah di hapalnya diluar kepala. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan Elang pun mengetikkan angka yang di dikte kan Aisha pada ponselnya. “Tapi hape aku mati, El. Lowbat.”


“Tidak masalah. Aku sudah chat kamu di whatsApp. Sampai rumah buka ya?”


“Iya. Aku pamit dulu.”


Aisha membereskan barang-barangnya dan meninggalkan Elang dengan senyumannya. Elang baru tersadar jika Aisha sudah meninggalkan tempat mereka duduk tadi setelah bel tanda pintu terbuka berbunyi.


Ya, itulah keunikan di kafe ini. Mereka memasang bel diatas lampu sebagai tanda jika seseorang telah masuk atau keluar dari kafe.


*


*


*


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2