Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 8


__ADS_3

“Kencan? Tidak untuk hari ini. Entah apa yang terjadi esok hari.”


-


-


-


Sementara itu seorang laki-laki di awal kedewasaannya menyunggingkan senyuman yang sangat lebar. Ia senang karena akhirnya Aisha mau untuk berinteraksi lebih banyak dengannya. Apalagi Aisha juga sudah mulai percaya dengan ketulusan pertemanan yang ia tawarkan sejak beberapa hari yang lalu.


“Gue mau kencan!”


“Gue mau malmingan!”


“Gue mau jalan sama cewek!”


“Gue mau jalan sama Aisha dong!”


“Uhuyyy! Aye-aye!! Ah gilaaaaa! Gue seneng banget, *****! Hahahahaa... Icaaaaa! Bang Elang oteweh!!”


Teriak laki-laki bernama Elang itu sembari melompat kegirangan diatas ranjangnya. Hingga menimbulkan suara decitan yang cukup mengganggu telinga jika saja di dalam kamar tersebut ada orang selain dirinya.


Elang turun dari ranjangnya lalu membuka lemari untuk mencari pakaian yang pantas untuk ‘kencannya’ nanti malam. Meskipun mereka hanya berteman tapi mereka harus nampak serasi bukan di mata orang-orang yang melihatnya?


Setelah mengambil kaos berwarna biru dongker, celana jeans dan juga jaket levi’s dari dalam lemarinya, ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar.


Elang menuruni tangga dan melihat kedua orangtuanya sedang duduk saling bermanja-manjaan di depan televisi. Elang sudah tidak heran dengan kegiatan kedua orangtuanya ini. Sejak jabatan di perusahaan di pegang oleh Rajawali, kakaknya, sang raja sebenarnya di rumah mereka pun memanfaatkan waktu pensiunnya dengan bermesraan dengan sang ratu tercinta. Uuughh! Betapa irinya Elang melihat kemesraan kedua orang tuanya ini.


“Yuhuuuuu! Mamiiiiii! Anak perjaka Mami mau ngapel nih!”


“Dih! Kaya punya pacar aja!” sungut Papinya karena kemesraannya yang di ganggu oleh si bungsu.


“Papi sirik aja! Yang penting Elang mau jalan sama cewek dong!”


“Aduuuh! Anak Mami udah dapet kenalan cewek aja. Bawa sini dong! Mami mau kenal sama dia.”


“Ntar deh, Mi. Dia itu masih belum percaya sama Elang. Dia masih ngira kalau Elang itu orang jahat. Dia mau Elang ajak jalan aja udah syukur, Mi. Ya meskipun dengan alasan minta bantuin cari kado buat Mami sih. Hehee.” Cengirnya.


“Lah? Sejak kapan Mami ulang tahunnya bulan Maret? Perasaan kalau belum ganti Mami itu di lahirin Oma bulan September deh.” Komentar Mami Elang yang tentu saja membuat suaminya alias Papi Elang terkikik geli.


“Mami ih! Ini kan cuma biar Ica mau Elang ajak jalan, Mi.”


“Oh... Jadi namanya Ica?” Sahut Papi.


“Namanya Aisha, tapi Elang ngikutin anak-anak manggil dia Ica.”


“Anak-anak?! Jangan bilang kamu mau ngapel ke janda beranak, Lang?! Papi nggak setuju.”


“Ho-oh! Mami juga.”


“Ish... Mami sama Papi apaan sih! Orang Ica itu masih SMA, mana mungkin dia jadi janda. Yang Elang maksud anak-anak itu, anak-anak di panti tempat Papi jadi donatur. Tadi pagi pas Elang gantiin Papi, Elang ketemu dia dan teman-temannya. Ternyata Ica sering dateng kesana.”


“Oh syukurlah.” Mami merasa lega mendengar penjelasan dari anak bungsunya ini.

__ADS_1


“Kamu suka sama anak SMA? Pedofil banget kamu, Lang. Hahahahaa...” Tawa Papi menggelegar mengetahui jika putranya menyukai seorang gadis yang masih berseragam putih abu-abu.


“Alah papi sok-sok an ngejek Elang. Sendirinya lupa kalau nikahin Mami yang umurnya lebih muda tiga belas tahun dari Papi.”


“Uhukkk! Uhukkk!” Papi pun terbatu mendengar sindiran telak dari sang istri. Ia lupa dengan kenyataan yang ada, bahwa ia mempunyai istri yang jauh lebih muda darinya.


“Hahahahahahaaa... Makanya, Pi! Jangan suka men-dzolimi anak sendiri. Di bales kan sama bidadari kesayangannya Elang.”


Papi terdiam merasakan malu yang luar biasa besar setelah istri dan anaknya mengingatkan akan betapa pedofilnya ia setelah menikahi gadis yang masih berusia tujuhbelas tahun saat usianya sudah menginjak awal kepala tiga dulu, duapuluh tujuh tahun yang lalu.


Sementara itu, Elang dan Maminya bertos-ria sembari terus tertawa melihat wajah pria paling berkuasa di rumahnya yang sudah merah padam.


“Kamu mau ngapel naik apa, Lang?” Tanya Papi kemudian untuk mengalihkan keadaan yang ada.


“Pinjam mobil Papi dong! Kan biar kelihatan keren.”


“Ih kamu gimana sih?! Ngajak jalan anak orang malam minggu gini masa naik mobil!?”


“Lah emang kenapa, Pi?”


“Malam minggu kan jalanan macet, Lang! Harusnya kamu ajak dia naik motor! Biar bisa selip sana selip sini. Keuntungan tambahannya kamu bakal bisa modusin dia tuh dikit-dikit!”


“Papi ih ngajarin anaknya yang jelek-jelek!”


“Hahahaa... bercanda, Mi. Tapi Papi serius soal kamu yang harusnya ngajak dia naik motor, Lang. Dalam keadaan macet pasti gadis itu akan bosan. Akhirnya malah kapok jalan sama kamu.”


“Ah, iya! Aaaaaaaa!! Terimakasih Papi tercinta! Papi memang da bes! Kalau gitu Elang mau nyuci motor dulu ah! Biar kinclong! Bye Mi! Bye Pi!”


Kedua orangtua Elang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah tengil putra bungsu mereka yang begitu berbeda dengan tingkah laku kakaknya yang begitu dingin dan hampir tak tersentuh.


*


*


*


Deru motor yang baru sampai di depan rumahnya terdengar di telinga Aisha meski ia sedang berada di kamarnya. Ia pun mengambil tas selempang diatas nakas dan juga ponsel yang sempat ia charge tadi. Setelahnya ia keluar dari kamar untuk menghampiri si pemilik motor bersuara bising yang tak lain adalah Elang.


Aisha membuka pintu tepat sebelum Elang mendaratkan kepalan tangannya untuk mengetuk pintu kayu di depannya. Dan mendapat sambutan cengiran lebar dari Elang.


“Sekarang udah jam 19.03... Kamu telat 3 menit! Aku nggak mau pergi sama kamu!”


“Astaga, Ca! Tiga menit doang lho ini! Nggak tiga jam. Ya Ampuuunn! Jangan batalin dong! Please......” Elang sudah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah demi memohon ampunan kepada Aisha karena sudah datang terlambat. Ya... Meskipun hanya terlambat tiga menit saja sih sebenarnya.


“Bercanda. Udah ayo berangkat!” ucap Aisha kemudian. Elang pun dibuat melongo melihat kejadian kilat baru saja.


‘Ini serius Aisha bercanda? Dengan wajah sedatar itu? Please! siapapun tolong tabok pipi gue!’ batin Elang berkomentar.


“Awww! Kok pipi aku di tabok, Ca?”


“Lah? Situ sendiri tadi yang minta.” Jawab Aisha enteng. Elang terkejut bukan main mendengar jawaban dari Aisha. Minta? Minta di tabok gitu maksudnya? Bukannya tadi Elang hanya membatin saja? Apa Aisha bisa membaca pikiran orang? Tapi bagaimana bisa? Tap-


“Jadi pergi nggak sih, El?! Kok malah melamun?”

__ADS_1


“Eh? Oh! I-iya! Jadi dong! Ayo!” ajak Elang. Ia menggandeng tangan Aisha menuju sebuah motor yang di parkir dengan sangat gagah di depan pagar rumah Aisha.


“Naik motor?”


“Iya. Kenapa? Nggak suka naik motor ya? Yaudah deh kita naik taksi aja gimana?”


“Kamu tu gimana sih?! Katanya mau ngajak jalan sambil nyari kado! Masa naik taksi!?” ucap Aisha dengan ketusnya.


“Lah terus gimana, Ca? Kamu nggak suka naik motor, aku ajak naik taksi juga nolak. Maunya gimana sih? Dasar cewek!” Keluh Elang. Tentu dengan memelankan suaranya di dua kata paling akhir yang sudah ia ucapkan.


“Sinting!” Ucap Aisha singkat namun pedas. Aisha kembali memasuki gerbang rumahnya. Elang pikir Aisha marah karena ia mengendarai sepeda motor untuk menjemputnya. Kalau benar begitu, Elang akan mengajukan protes pada Papinya yang sudah memberikan saran yang sesat. Huh!


“Ca..... Jangan ngambek dong! Masa kita batal pergi? Atau gini aja, aku pulang dulu ambil mobil, ntar kesini lagi jemput kamu. Gimana?” Tawar Elang yang tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa jalan-jalan dengan gadis ini. “Ica, ih!” Elang menghentakkan kakinya di lantai teras persis seperti anak kecil yang tidak di belikan balon oleh ibunya.


“Apa sih?! Orang aku mau ambil helm! Kamu bawa motor tapi nggak bawain helm buat aku!”


“Oh jadi kamu nggak marah karena aku bawa motor?”


“Hm.”


“Jadi aku cuma salah paham ya? Ah **** banget aku! Hahahaa..”


“Indeed.” Jawab Aisha sembari memakai helm-nya.


“Wah jahat ini! Katanya kamu mau masuk ke universitasku sekarang kan? Ih sama kakak angkatan kok nggak ada sopan-sopannya! Awas aja pas OSPEK aku kasih hukuman!” Ancam Elang. Tentu saja hanya bercanda.


“Adek angkatan jauh kali!” Sungutnya.


“Oiya. Kamu masih kecil deng ya? Hahaha.... lupa aku! Maaf ya anak kecil!”


“Hm orang tua!” Jawab Aisha dengan kalimat yang terus membalas Elang meski masih dengan ekspresi yang..... datar.


Setelah obrolan cukup panjang, Aisha terlebih dulu keluar dari gerbang dan menunggu Elang yang tengah menalikan sepatunya.


Elang pun mengikuti Aisha setelah berhasil menalikan sepatunya dengan benar. Dan menunggangi kuda besinya dengan gagah. Aisha yang bertubuh tinggi pun tanpa kesulitan duduk di belakang Elang tanpa memegang pinggang Elang.


“Pegangan, Ca! Aku mau ngebut lho!”


“Nggak mau!”


“Ya sudah terserah kamu saja!” Ucap Elang santai. Setelahnya tanpa bertanya kesiapan Aisha, Elang menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi. Sehingga Ica pun memukul pundak Elang dan memakinya. Sedangkan Elang hanya terkekeh di balik helm full face nya.


Mau tidak mau Ica pun memeluk pinggang Elang cukup erat. Ia tentu masih sangat menyayangi nyawanya. Dan belum siap jika harus kehilangan nyawa secepat ini.


Elang pun tidak berusaha untuk membuka pembicaraan. Karena ia yakin Aisha enggan untuk menjawabnya. Di tambah angin yang berhembus cukup kencang mungkin saja dapat menerbangkan suaranya ke udara begitu saja.


-


-


-


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2