Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 9


__ADS_3

“Dan, BOOMM! Semuanya hancur seketika!”


-


-


-


Tiga puluh menit kemudian Elang dan Aisha sampai di pusat perbelanjaan ternama di Jogja. Aisha mengerutkan keningnya bingung. Elang bilang ia tidak tahu menahu tentang tempat-tempat di Jogja kan? Lalu bagaimana bisa ia membawanya kemari yang notabene nya adalah tempat paling hitz bagi kalangan anak muda masa kini.


“Kamu bilang nggak tahu tempat bagus. Kenapa bisa ngajak aku kesini?” tuntut Aisha. Elang pun merasa kelabakan mendengarnya, ia lupa bahwasanya Elang mengaku seperti itu kepada Aisha.


“E-em. I-itu, ca!...” Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa bodoh karena sudah melupakan hal ini sebelumnya. Sekarang ia tidak tahu lagi harus berkata apa pada gadis di depannya.


Aisha yang mengetahui jika Elang hanya berbohong pun memutar bola matanya malas. Ia tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan Elang dan berjalan menuju lift yang menghubungkan basement dengan bagian dalam Mall tersebut.


“Ica! Jangan tinggalin aku dong!”


“Makanya jalan yang cepet!” Sentak Aisha tanpa menghentikan langkahnya.


Pintu lift pun terbuka, mereka memasuki lift dan memencet angka satu pada tombol. Kemudian kotak besi tersebut bergerak naik menuju gedung utama Mall tersebut.


*


*


*


“Kamu bohong, kan?” Ucap Aisha tiba-tiba. Elang yang berjalan di sampingnya pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa sedang menjalani intograsi dengan Aisha sebagai penyidiknya.


“Heee... Maaf, Ca! Habis kalau nggak gini kamu pasti nggak mau aku ajak jalan.” Aku Elang pada akhirnya.


“Dasar!” Sungutnya tanpa menolehkan wajah ke arah Elang. Aisha berjalan tanpa mempercepat langkahnya. Elang sedikit bersyukur akan hal itu. Setidaknya Elang tidak harus membujuk Aisha yang sangat pelit bicara ini.


“Maaf deh, Ca! Sebagai gantinya aku traktir kamu deh! Mau makan apa? Mau nonton? Atau mau belanja? Hayuukk!”


“Uang masih minta orangtua aja gaya banget mau traktir anak orang.” Protesnya. Ya beginilah Aisha. Apapun yang orang lain katakan pasti selalu di debat. Dan entah mengapa lawan bicaranya seolah tidak memiliki rasa bosan untuk mengobrol dengan Aisha. Hingga mereka rela mencari banyak topik pembicaraan tak berbobot hanya agar argumennya di debat oleh Aisha.


“Aku kan rajin menabung, Ca! Uang jajan yang di kasih orang tua aku tabung. Makanya sekarang bisa jajanin kamu. Bebas deh! Asalkan nggak beli satu isi Mall ini mah uang aku juga masih cukup. Nggak papa lah kalau harus merelakan uang jajan aku selama 3 bulan.”


“Gila.” Hanya itu komentar yang di berikan oleh Aisha.


Elang tersenyum tipis tanpa di ketahui oleh Aisha. Ia tidak menyangkal penilaian Aisha terhadapnya. Bukan karena membenarkan. Hanya saja mendapat julukan ‘gila, tengil, sinting, manja’ dan julukan lain dari Aisha malah membuatnya bahagia. Entah mengapa.


Sebenarnya ia adalah anak kedua dari pasangan Sulaiman Prayudha dan Garnetha Ayudia. Ayahnya adalah seorang pengusaha nomor 1 di Asia dan Ibunya adalah mantan penyanyi internasional yang sangat hitz di jamannya.


Bahkan sebenarnya Elang sudah bisa membiayai hidupnya sendiri. Hal ini di karenakan ia yang berotak sangat cerdas mampu membuat sebuah penelitian yang mendapatkan royalti begitu besar dari negara tempat Mantan Presiden B.J Habibie ini bersekolah. Ya, di usianya yang baru menginjak 15 tahun kala itu, Elang mampu membuat penelitian yang sangat hebat hingga di lirik oleh pemerintah di Jerman. Hingga saat ini ia masih mendapat aliran dana di rekeningnya.


Di tambah usahanya sebagai pemilik distro yang sangat populer di kalangan anak muda pun sangat menambah pundi-pundi rupiah dalam rekeningnya. Omsetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. Belum lagi dengan saham nya yang ada di perusahaan Ayahnya beserta hak warisnya suatu hari nanti.


Bisa bayangkan betapa kaya nya pangeran tengil ini?


Namun, ia tidak ingin jujur mengenai siapa dirinya yang sebenarnya untuk saat ini. Biarkan saja Aisha dan teman barunya yang lain hanya mengenalnya sebagai Elang saja tanpa embel-embel keluarganya, ataupun kekayaannya.


“Nonton yuk, Ca!”


“Nonton apa?”


“Apa aja deh! Kamu yang nentuin film-nya.”


“Oke.”


Aisha mendahului Elang berjalan menuju bioskop yang sudah terdapat banyak pengunjung yang sedang mengantri untuk mendapatkan tiket. Elang pun mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua berdiri di antrian yang paling belakang menunggu untuk gilirannya membeli tiket. Biasanya Elang akan bosan dan batal menonton jika terlalu lama mengantri. Namun kali ini sama sekali tidak merasakan bosan. Ya, hal itu dikarenakan teman mengantrinya yang merupakan gadis cantik bernama Aisha.


Tiba giliran mereka untuk membeli tiket. Aisha sudah menyebutkan judul film yang akan mereka nonton. Namun betapa tidak beruntunganya mereka, ketika petugas mengatakan jika tiket untuk film itu di jam sekarang sudah sold out. Sementara ia tidak ingin menunggu terlau lama hingga pemutaran selanjutnya di mulai.


“Tapi tiket VIP nya masih kan?” Tanya Elang yang melihat raut kecewa di wajah Aisha meski hanya sebentar.


“Masih, kak. Kakaknya mau booking tiket VIP?” tanya petugas.


“Iya.” Jawab Elang santai. Mendengar hal ini, Aisha sontak saja melebarkan matanya. Ia terkejut bukan main dengan ide yang muncul di kepala Elang. Oleh karena itu sebelum petugas menanyakan lebih lanjut, Aisha sudah menyelanya terlebih dahulu.

__ADS_1


“Eh nggak usah, Mbak. Kita nonton lain kali aja.” Setelah mengatakan itu Aisha segera menarik tangan Elang untuk meninggalkan tempat itu.


Aisha berhenti berjalan setelah sampai di dekat sebuah tempat bermain untuk anak-anak.


“Kok nggak jadi sih, Ca? Itu tadi ada loh tiketnya.”


“Kamu gila apa?! Tiket VIP itu mahal! Dengan uang segitu kamu bisa kasih makan banyak orang! Kamu memang kaya, El. Tapi apa nggak bisa kamu menghargai mereka yang kesulitan mencari uang?!” Marahnya, namun tetap dengan suara yang tidak berteriak demi menjaga kenyamanan pengunjung lain.


“O-oke. Maafin aku, Ca! Aku cuma nggak mau kamu kecewa karena batal nonton. Itu aja, Ca. Maafin aku. Please.” pintanya memelas. Ia sedikit takut juga dengan kemarahan gadis di depannya. Namun ia tak menampik jika ia merasa kagum dengan kepribadian Aisha yang begitu sederhana. Ia yakin suatu hari nanti jika Aisha menjadi istrinya, ia akan kebingungan bagaimana membuang uangnya yang melimpah di karenakan ia memiliki istri yang sangat cinta kesederhanaan. Tanpa sadar ia pun terkikik geli.


“Kenapa ketawa?!” Sentak Aisha. Eh? Apa tadi ia menyuarakan suara hatinya lagi? Atau sebenarnya Aisha ini cenayang sehingga bisa membaca pikiran Elang setiap saat?


Tidak ingin memikirkannya, Elang pun mengatupkan kedua tangannya di depan wajah sembari menundukkan kepalanya. Hingga ia terlihat seperti seorang yang sedang memohon ampunan kepada rajanya.


“Maaf deh, Ca. Janji nggak akan aku ulangi lagi.”


“Aku nggak akan mau kamu ajak jalan lagi kalau kamu masih mengandalkan uang-uangmu itu!” putusnya final.


‘Tunggu! Ini maksudnya Aisha bersedia di ajak jalan lagi bukan ya?’ batin Elang berbicara. Elang merasa senang bukan main. Karena Aisha sudah mau sedikit lebih terbuka dengannya.


“Iya, Ca! Janji! Lain kali aku ajak kamu main buat lihat pemandangan deh! Sekalian biar kamu bisa mencari ide untuk novelmu.” Ucapnya dengan suara yang sedikit keras. Membuat Aisha segera menutup bibir Elang dan menariknya menjauh dari pengunjung Mall yang mulai penasaran dengan kata-kata yang keluar dari bibir Elang.


Elang ingin berbicara namun suaranya tidak terdegar jelas karena bibirnya yang masih di bungkam dengan tangan Aisha.


Setelah cukup jauh, Aisha baru menurunkan tangannya kembali.


“Kamu apa-apaan?! Jangan keras-keras ngomongnya!”


“Kenapa sih? Kan aku punya niat baik buat bantuin kamu cari ide. Kok malah kamu marah-marah?”


“Tadi orang-orang lihatin kita gara-gara suaramu!”


“Lah terus?”


“Ya pokoknya jangan bilang kalau aku penulis di tempat umum!”


“Huh! Dasar penulis tanpa identitas. Yaudah oke! Aku nggak akan ngomogin itu lagi. Sekarang ayo kita beneran  jalan. Udah setengah jam lebih kita debat unfaedah gini loh, Ca!”


“Kamu yang mulai.” Ketusnya.


“Nah itu tau.” Responnya cuek.


“Gemes banget aku Ca sama kamu!” kesalnya. Namun ia hanya bisa mengepalkan tangannya gemas di depan tubuhnya. Mana berani ia menyentuh Aisha. Apalagi melakukan kekerasan karena kekesalannya. Prinsipnya selama ini adalah, ‘Menyakiti perempuan sama dengan ia menyakiti maminya’. Dan karena ia sangat menyayangi Ibu Ratu di rumahnya, ia jadi tidak berani untuk menyakiti perempuan barang sedikitpun.


Aisha memimpin langkah untuk menuju sebuah toko baju yang sangat besar dan dipadati oleh banyak pengunjung. Sementara Elang hanya mengikuti saja di sampingnya.


Aisha mulai memilih-milih pakaian untuk wanita. Yang Elang herankan adalah, Aisha sedang memilih pakaian dengan model dewasa. Emm, maksudnya blus dengan potongan yang tidak sewajarnya gadis remaja sukai. Ini terlihat seperti model pakaian yang sering di pakai Maminya.


“Ca.... Ini kamu serius mau beli baju kedodoran gini? Kamu pakai ini kaya pakai daster kali, Ca!”


“Bawel!” komentarnya. Aisha terus memilih meninggalkan kerutan di dahi Elang. “Ibu kamu suka warna apa?”


“Mami aku? Lah kenapa jadi nanyain Mami?”


“Jawab aja sih!”


“Mami suka warna kuning.”


Tanpa menjawab lagi perkataan Elang, Aisha mengambil satu buah baju berwarna kuning cerah yang memiliki motif bunga namun tidak terlihat norak. Justru siapapun yang memakainya akan terlihat lebih bercahaya.


Tak lupa ia juga mengambil baju berwarna ungu muda. Warna kesukaan mamanya.


Aisha berjalan menuju kasir diikuti oleh Elang. Ketika petugas kasir menyabutkan harga yang harus di bayar, Elang pun segera mengeluarkan dompetnya. Namun di cegah oleh Aisha.


“Kalau masih mau aku ikut kamu jalan. Jangan bayarin belanjaanku!” Ucap Aisha. Elang yang tidak ingin mengambil resiko pun kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku.


Setelahnya mereka keluar dari toko tersebut dan berkeliling sebentar sebelum akhirnya mereka memasuki tempat makan yang menjual pempek paling hitz di Jogja untuk mengisi perutnya. Kemudian saat sudah selesai mereka pun memutuskan untuk pulang.


Elang sangat menikmati kebersamaannya dengan Aisha hari ini. Dengan Aisha yang sudah mulai terbuka dengannya. Juga kesederhanaan yang ada pada diri Aisha. Elang pun merasa kagum akan hal itu.


Saat baru sampai di ujung tempat parkir, Elang di kejutkan dengan langkah Aisha yang tiba-tiba berhenti dengan tubuh yang menegang.


“Kenapa, Ca?” tanyanya. Namun tidak mendapatkan respon apapun dari Aisha. Elang yang penasaran pun mengikuti kemana arah pandang Aisha. Dan ia menemukan seorang laki-laki yang tengah menggendong balita perempuan dengan seorang wanita dewasa di sampingnya. Elang kembali menatap Aisha dan menemukan raut wajah Aisha yang memancarkan aura kesedihan yang begitu kentara.

__ADS_1


“Kamu kenapa melihat kesana terus sih, Ca? Ada apa emangnya?”


“Nggak papa. Ayo pulang!” ajak Aisha setelah lama berdiam diri.


Elang hanya menuruti kemauan Aisha. Ia pun menggenggam tangan Aisha saat mereka melanjutkan langkah untuk menuju motor Elang di parkirkan. Dan Elang cukup terkejut karena Aisha tidak menolaknya atau bahkan mendebatnya.


Sudahlah! Bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Kini yang terpenting adalah membawa pergi Aisha dari ‘sesuatu’ yang membuatnya menjadi pendiam seperti ini.


“Mau kemana kita, Ca?” Tanya Elang setelah mereka keluar dari area Mall.


“Terserah.” Jawabnya singkat.


Elang hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah. Mungkin Aisha butuh istirahat sekarang. Dan Elang pun berniat untuk mengantarkan Aisha pulang ke rumah gadis itu.


*


*


*


“Makasih untuk malam ini ya, Ca! Jangan kapok kalau aku ajak jalan lagi.” Ucapnya tepat setelah Aisha turun dari motormya.


“Iya.” Jawab Aisha singkat.


“Aku pulang dulu ya, Ca!”


“Iya.”


“Ica kamu kenapa sih? Kenapa setelah di parkiran tadi kamu jadi dingin lagi sama aku? Bukannya tadi kamu sudah berbicara panjang lebar sama aku?”


“Nggak papa kok.” Jawab Aisha. Ia bukannya ingin kembali mendiami Elang. Hanya saja, pemandangan yang dilihatnya di parkiran Mall tadi begitu mengusik pikirannya sekarang.


“Huh... Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya.”


“Tunggu!” Cegah Aisha.


“Kenapa, ca?” Elang berharap Aisha akan menawarinya masuk terlebih dulu. Namun mengingat Aisha yang berada di rumah sendirian membuatnya sadar diri dan mengurungkan keinginannya.


“Titip ini buat Mami kamu.” Ucap Aisha singkat sembari menyerahkan sebuah papper bag berlogo toko baju yang ada di Mall tadi.


“Loh? Ini kan baju yang kamu beli tadi.”


“Iya. Aku beli dua. Satu buat Mama aku, satu buat Mami kamu.”


“Ih serius, ca?”


“Hm.”


“Ini maksudnya sebagai buah tangan dari calon mantu gitu?”


“Calon mantu gundulmu! Aku cuma keinget aja sama Mami kamu yang udah melahirkan anak se-tengil kamu. Pasti banyak banget cobaannya.” Sungut Aisha.


Elang pun di buat melongo karenanya. Iya sih! Ia memang berharap Aisha kembali menjadi Aisha yang cuek-cuek cerewet seperti tadi saat mereka masih di Mall. Dan kini harapannya terwujud meski ia yang harus di jadikan tumbal hanya untuk sederet kalimat pedas milik gadis itu.


“Ya Allah, ca! Kamu tega bener deh! Gini-gini aku itu anak yang paling bisa membuat Mami aku tertawa. Coba kamu kalau kenal sama Abangku, pasti kalian cocok deh! Sama-sama ngeselin irit bicaranya.” Komentarnya sembari membayangkan bagaimana rupa kakak kandungnya saat ia ajak bercanda. Yah, sama seperti Aisha. Datar.


“Eh tapi jangan deng! Ntar bisa-bisa Abang ku yang suka sama kamu.”  Lanjutnya.


“Apaan, sih! Udah sana pulang! Udah malam.”


“Iya, Mbak Ica... Kalau gitu Bang Elang pulang dulu ya? See you tomorrow, Mbak Ica cantik!”


“ELANG!!!” teriak Aisha karena mendengar Elang yang memanggilnya dengan sebutan ‘Mbak’ padahal ia sudah melarangnya.


Elang pun terkikik dan buru-buru menyalakan mesin motornya sebelum akhirnya ia meninggalkan halaman rumah Aisha.


Sementara Aisha hanya mendengus kesal dan memasuki rumahnya dengan tanpa semangat.


Aisha akui, berteman dengan laki-laki tengil itu setidaknya membuat ia sedikit banyak bisa melupakan permasalahan hatinya.


*


*

__ADS_1


*


To Be Continued


__ADS_2