
"Saatnya kembali ke realita, tempat semestinya aku mendapat cinta sekaligus luka.”
-
-
-
Hari libur pun telah usai. Kini Aisha kembali di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya. Entah itu kegiatan belajar mengajarnya, hobinya bermusik, bermain dengan sahabat-sahabatnya, pun dengan pertemuannya dengan seorang pria yang masih mengusik hatinya.
Aisha melalui hari pertamanya di kelas XII dengan semangat yang berkobar. Ia berjalan di koridor sekolah dengan senyuman yang begitu menawan. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpana dan secara otomatis ikut tersenyum juga.
Biasanya, Aisha akan mampir ke kelas IPS sebelum menuju kelasnya. Namun karena letak kelasnya sekarang berada di lantai dua, sedangkan kelas IPS ada di lantai tiga, Aisha pun tidak mampir terlebih dahulu.
“Aishaaaaaa! I miss you! Teriak Adel saat Aisha memasuki kelasnya.
“Lebay, Del!” komentar Rahayu pedas.
Aisha hanya terkikik melihatnya. Ia juga merindukan suasana sekolahnya. Apalagi dengan sahabat-sahabatnya ini.
Mereka pun berjalan bersisian untuk menuju kelas mereka, yaitu kelas XII MIPA 1. Keceriaan tak pernah luntur di wajah gadis-gadis itu. Membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri karena ketulusan persahabatan mereka.
Anggota D-And-Cook Gengs termasuk ke dalam murid-murid populer di sekolahnya. Masing-masing dari mereka mempunyai prestasi dalam bidangnya. Ya, mereka memang ber-geng namun dalam artian yang positif.
Gadis-gadis itu sampai di kelasnya beberapa saat kemudian. Lalu tak lama, suara bel pertanda pelajaran akan segera di mulai pun berbunyi. Aisha dan teman-temannya serius menyimak apa yang di sampaikan oleh gurunya.
Hingga jam menunjukkan pukul 10.00, jam istirahat pertama berbunyi. Membuat seluruh siswa berhamburan untuk keluar dari kelas mereka. Tak terkecuali Aisha dan teman-temannya.
Seperti biasa, mereka pun berkumpul di sebuah meja di tengah kantin dengan formasi yang lengkap. Kemudian mereka memesan makanan yang akan mereka makan kali ini. Sembari menunggu makanannya datang, Aisha izin untuk ke kamar kecil terlebih dahulu.
Teman-temannya pun menawarkan untuk menemani Aisha, namun rasanya ia tidak perlu di temani. Toh ia sudah sangat hafal dengan letak kamar kecil di sekolahnya.
Sementara itu, seorang pria yang melihat Aisha dari sudut kantin pun beranjak mengikuti kemana Aisha pergi.
*
*
*
Aisha berjalan dengan santai dan sesekali bersenandung kecil sebelum akhirnya sebuah tangan menariknya untuk memasuki ruang kesehatan yang ada di samping kirinya.
“Awww!” rintihnya kaget. Ia semakin kaget saat melihat siapa gerangan yang sudah menariknya kemari. “Ba-bapak?” Ia terkejut bukan main setelah melihat pria itu ada disini.
Aisha berusaha melepaskan cekalan tangan Rian di tangannya. Namun genggaman tersebut sangat kuat. Hingga yang terjadi justru Aisha merasa kesakitan dilihat dari tangan putihnya yang memerah.
“Pak, sakit!” Cicitnya pelan. Rian yang tersadar pun segera mengendurkan cekalannya tanpa melepaskan tangan Aisha.
“Maaf.” Sesalnya. Aisha tidak menanggapi ucapan Rian. Gadis itu justru mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak melihat pria di depannya. “Kamu kenapa menjauhi saya, Sha? Kamu bahkan tidak membalas chat saya!” Sambungnya karena tidak melihat penolakan dari Aisha saat tangan gadis itu masih berada dalam genggamannya.
“Itu hak saya.” Jawab Aisha singkat.
“Sha.... saya mohon! Saya sungguh mencintai kamu. Saya tidak bisa melihat kamu menjauhi saya, Sha!”
“Mencintai saya? Hahahahaha! Bapak bercanda!”
Rian mengerutkan dahinya bingung. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran gadis di depannya ini. Gadis itu tertawa namun wajahnya menyiratkan kesedihan, dilihat dari matanya yang sudah mengeluarkan bulir-bulir air yang menyakitkan untuk dilihat Rian.
“Hey! Kamu kenapa menangis? Saya menyakiti kamu?” Tanya Rian dengan lembut. Ia menghapus air mata di pipi Aisha dan mencoba untuk memberikan elusan lembut pada tangan Aisha yang memerah tadi. Gadis itu tidak menolak, ia justru terpejam menikmati sentuhan lembut Rian yang penuh perhatian itu.
Aisha masih tidak membuka suaranya. Sedangkan Rian tengah berusaha mati-matian menahan hasratnya untuk tidak memeluk gadis cantik di depannya.
“Saya melihat bapak bersama dengan seorang wanita dan balita menggemaskan dalam gendongan bapak beberapa hari lalu. Dan sekarang bapak masih mengatakan jika bapak mencintai saya? Bapak jahat!” sungutnya. Ia pun mengungkapkan kekesalannya pada pria di depannya.
“Kamu lihat saya?”
“Ya! Saya lihat bagaimana romantisnya dua orang dewasa dan seorang balita di tengah-tengah mereka. Saya tidak bodoh untuk tahu jika terjadi sesuatu antara bapak dan wanita itu!”
Rian yang mendengarnya pun terdiam tak dapat bersuara. Ia terkejut saat mengetahui Aisha melihatnya bersama dengan wanita itu. Namun sebuah kenyataan membuatnya penasaran.
__ADS_1
“Sha.... Kenapa kamu marah melihat saya bersama wanita lain?” tanya Rian cukup mengejutkan untuk Aisha. Ia tak menyangka jika Rian akan bertanya tepat sasaran.
“Ka-karena....” Aisha bingung akan menjelaskan yang sebenarnya atau tidak. Sebuah kenyataan membuatnya mengurungkan niatnya namun hati kecilnya berbisik untuk segera memberitahu Rian pasal isi hatinya selama ini. “Karena pria yang ada dalam catatan Aisha itu Pak Rian!” ucapnya dalam sekali nafas.
Aisha merasakan jantungnya berpacu lebih cepat saat ini. Ia takut mendengar jawaban dari pria yang dicintainya ini. Namun ia sudah bersiap untuk menerima resiko apapun.
Sedangkan Rian yang mendengar pengakuan dari Aisha pun terkejut luar biasa. Pasalnya ia tidak menyangka jika gadis di depannya juga memiliki rasa yang sama sepertinya.
Tak urung Rian pun menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Ia mengelus surai panjang milik Aisha sembari mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah membuat gadis di depannya merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
“Terimakasih, Sha! Terimakasih karena kamu juga merasakan apa yang saya rasakan. Saya bahagia, Sha. Sungguh!” Aku Rian kemudian. Ia menjauhkan tubuh Aisha darinya tanpa melepas pegangan pada pundak Aisha.
“Tidak!” Aisha tiba-tiba mendorong tubuh Rian untuk menjauh darinya hingga pegangannya di pundak Aisha pun terlepas.
“Hey! Kamu kenapa?”
“Wanita itu-“
“Dengarkan saya dulu!” potong Rian sebelum Aisha menyelesaikan ucapannya. “Wanita itu bernama Meidia, dia wanita yang akan di jodohkan dengan saya. Dan balita yang kamu maksud itu adalah keponakan saya, namanya Clarissa.” Jelas Rian. Membuat Aisha bukannya lega justru merasa lebih terpukul mendengar kenyataan jika pria yang dicintainya justru sudah di jodohkan dengan wanita lain.
Aisha tidak menolak saat Rian menggenggam tangannya kembali.
“Kamu harus tau, Sha! Saya tidak mencintai Meidia. Saya pergi dengannya hanya karena ia yang kebetulan di minta Ibu saya untuk berbelanja keperluan rumah. Kamu harus percaya sama saya, Sha! Saya hanya mencintai kamu. Dan akan seperti itu selamanya.” Rian kembali menarik Aisha dalam dekapannya. Dan untung saja ia tidak menolaknya.
Aisha terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Rian. Ia mendengar kejujuran pada nada suara pria yang dicintainya ini. Segaris senyuman pun terbit di bibir merah muda Aisha.
Mereka terus berpelukan tak mempedulikan dimana mereka berada saat ini. Kemudian Aisha yang tersadar pun melepaskan pelukan hangat mereka terlebih dahulu.
“Sekali lagi terimakasih, Sha! Saya mencintai kamu.” Ucap Rian setelah pelukan mereka terlepas.
Aisha tak mampu untuk membalasnya. Ia hanya menampilkan senyuman yang sangat manis seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun keluar dari ruang kesehatan setelah sebelumnya melihat keadaan dari jendela untuk memastikan jika tidak ada orang yang akan melihat mereka keluar bersama dari dalam ruang kesehatan.
Aisha pun mengurungkan niatnya untuk ke kamar kecil dan memutuskan untuk kembali ke kantin. Di ikuti oleh Rian yang berjalan jauh di belakangnya sembari memperhatikannya.
*
*
*
Sesampainya Aisha di kantin, ia sudah ditodong oleh tatapan heran dari sahabat-sahabatnya. Aisha pun menduduki bangku kosong di sebelah Hendra sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Daffi.
“Toilet di lantai 1 penuh semua sama adek kelas yang ganti baju habis olahraga. Terus aku ke lantai 2. Makanya lama.” Bohong Aisha dengan sangat meyakinkan. Membuat sahabat-sahabatnya percaya saja dengan alasan yang di berikan oleh Aisha.
“Segera di makan punyamu, Sha! Udah dingin itu.” Ingat Ningrum.
“Maaf kita ninggalin kamu. Habis kamu lama.” Ucap Rahayu yang merasa tidak enak.
“Hey... santai aja! Kalian ini kaya sama siapa aja sih! Yaudah yuk lanjut makan!” Jawab Aisha.
Kemudian mereka pun melanjutkan kegiatan makan yang sempat tertunda tadi.
Rian di sudut ruangan mencuri-curi pandang ke arah Aisha. Yang menyebabkan pipi putih gadis itu menampakan rona kemerahan. Sedangkan Rian yang melihatnya pun sampai menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
Tanpa mereka ketahui, Irul memperhatikan keduanya. Ia pun sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan sahabatnya dan sang guru. Irul segera mengeluarkan ponselnya diam-diam dan mengetikkan pesan untuk seseorang di sertai sebuah video amatir yang menunjukkan keduanya.
Setelah terkirim, Irul kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam dan bersikap seolah-olah tidak mengetahui apapun.
Mereka melanjutkan makan dengan sesekali bercanda. Setelah bel tanda masuk berbunyi pun, mereka serempak beranjak dari bangku kantin untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
*
*
*
Seorang pria menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Ia baru saja selesai membaca sebuah pesan berisi video mengenai kabar terbaru gadis yang dicintainya dalam diam.
“Jadi aku terlambat, Qia?” Tanya nya seorang diri. Pria itu meremas ponselnya dengan erat, yang setelahnya membanting ponsel tersebut ke sembarang arah. Tak peduli lagi bagaimana wujud ponselnya setelah itu. Ia yang di selimuti oleh rasa sakit pun menggeram marah.
__ADS_1
“Aku disini, Qia! Mengapa kau tak mengingatku?” ucapnya lagi.
Pria itu tak sanggup menahan luka yang ditimbulkan karena keterlambatannya mengambil kembali apa yang masih menjadi miliknya. Ya, ia masih berpikir bahwa gadis bernama Qia adalah miliknya selama ini.
Dan ia sangat tidak rela ketika seseorang mengambilnya.
Pria itu beranjak dari duduknya dan menyambar jaket kulit yang tersampir di balik pintu kayu berwarna putih. Ia pun keluar dari ruangan tersebut dan pergi ke suatu tempat yang akan selalu mengingatkannya akan gadis itu.
*
*
*
Aisha POV
Aku sudah sampai di rumah beberapa jam yang lalu. Kini aku sedang berbaring di ranjang sembari terus memperhatikan layar ponsel yang menunjukkan chat terakhirku dengan Pak Rian. Ah! Aku bingung harus memanggilnya seperti apa. Apakah tetap dengan sebutan ‘Pak’? Atau aku harus menggantinya? Tapi jika mengganti, aku harus menggantinya dengan apa?
Mas? Ck! rasanya lidahku kelu untuk menyebut kata itu.
Kak? Tapi dia bukan kakakku.
Bang? Tapi aku juga memanggil saudara sepupuku dengan sebutan ‘Abang’.
Ah, sudahlah! Biarkan ini berjalan seperti air saja. Aku akan tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’ agar teman-temanku tidak curiga jika sampai aku keceplosan memanggilnya dengan sebutan lain.
Aku memikirkan akan dibawa kemana hubungan kami ini nantinya. Tunggu! Hubungan? Aku baru sadar, hubungan apa yang sedang aku jalani bersama pria itu?
Bahkan saat kami berada di ruang kesehatan tadi ia tidak mengatakan apapun selain mengatakan cinta kepadaku.
Hemmm..... jadi aku sedang menjalani hubungan tanpa status dengannya?
Baiklah! Tidak masalah!
Yang penting aku mencintainya dan ia pun juga sama. Aku sudah sangat bahagia untuk saat ini.
Jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Kali ini seperti di pompa ratusan kali lipat lebih cepat. Dan aku sadar bahwa semua itu karena pria dewasa bernama Rian. Pria yang sangat aku cintai. Dan ia pun juga mencintaiku. Bukan begitu?
Pak Rian adalah cinta pertamaku. Selama tujuh belas tahun aku hidup, belum pernah aku mendapatkan perasaan yang seperti ini. Dan aku harap hubungan yang kami jalani dengan cinta ini mampu membawa kami berdua menuju kebahagiaan. Serta mematahkan argumen orang jika cinta pertama pasti berujung dengan perpisahan. Aku tidak mau itu terjadi!
Aku pun meletakkan kembali ponselku setelah Pak Rian mengabari jika ia harus menghadiri acara MGMP di salah satu SMA negeri untuk membahas rencana pembelajaran tahun ini. Setelahnya aku mencoba untuk tertidur dengan senyuman yang terus terpatri di wajahku.
*
*
*
Hari ini Rian sedang menghadiri sebuah Musyawarah Guru Mata Pelajaran atau yang sering disingkat MGMP. Hal ini bertujuan untuk membahas rencana pembelajaran selama setahun ke depan. Dan Rian dengan laptop dan alat tulis lainnya sudah siap di salah satu meja di dalam ruangan tersebut.
Sebelum acara di mulai, Rian terlebih dulu mengirimi gadisnya pesan jika dirinya tengah berada di tempat ini sekarang. Bukannya apa-apa, Rian tahu jika gadis yang dicintainya masih merupakan remaja yang baru merasakan cinta. Ia hanya tidak mau Aisha merasa tidak di hargai sebagai kekasihnya.
Tunggu!
Kekasih?!
Rian baru ingat jika dirinya tidak menanyakan hal itu kepada Aisha. Ia hanya mengatakan bahwa ia mencintai Aisha tanpa mengajaknya berkomitmen. ‘Bukankah remaja saat ini sangat membutuhkan sebuah status?’pikir Rian.
Namun ia tak memikirkannya terlalu dalam. Ia berpikir positif jika Aisha bukan merupakan salah satu dari gadis dengan banyak tuntutan seperti itu. Ia rasa mengatakan cinta sudah cukup untuk membuat Aisha terus berada di sisinya.
Ia pun memasukkan kembali ponselnya setelah melihat checklist berwarna biru, menandakan jika gadisnya telah membaca pesan yang dikiriminya. Kemudian ia pun mencoba untuk fokus dengan rekan sejawatnya yang sedang melakukan presentasi di depan semua orang yang ada di ruangan itu.
*
*
*
To Be Continued
__ADS_1