Apa Cintaku Salah?

Apa Cintaku Salah?
Bagian 12


__ADS_3

Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria. Tegaskan bahwa kamu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki.” –Anugrah terindah (Sheila On 7)


-


-


-


Akhir pekan seperti ini biasanya seorang Aisha akan menghabiskan waktunya untuk menulis kelanjutan novelnya. Namun hari ini tidak seperti biasanya. Aisha akan pergi bersama dengan Rian ke rumah pria tu.


Ya! Aisha akan di kenalkan kepada orangtua Rian. Pria itu sudah sangat serius dengan hubungannya bersama Aisha


Kini Aisha masih berkutat dengan banyaknya pakaian yang sudah ia keluarkan dari dalam lemari. Gadis itu merasa kebingungan dengan setelan apa yang harus ia kenakan untuk acara penting ini.


Saat tengah disibukkan dengan kegiatannya memilih baju, Aisha mendengar ponselnya berdering. Menandakan jika ada seseorang yang sedang menelponnya. Gadis itu pun mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan melihat nama Manusia Penganggu Hidup Aisha:( tertera di layar 6 inch nya.


“Ya?” Aisha mengangkat panggilan dari Elang dengan sapaan ketus seperti biasanya.


“Assalamu’alaikum, Ica! Masa setiap teleponan kamu lupa terus sih?!” Sungut laki-laki di seberang sana.


“Eh? Ma-maaf lupa.” Aisha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia yang berniat untuk tetap ketus kepada Elang malah merasa malu karena selalu lupa mengucapkan salam setiap kali laki-laki itu menelpon.


“Jawab dulu dong salamnya. Assalamualaikum Ica cantik!”


“Walaikumsalam.” Aisha pun menjawab salam yang diucapkan dua kali oleh Elang


“Nah pinter.” Puji Elang seolah tengah berbicara dengan anak TK yang berhasil menyelesaikan gambar ayam miliknya.


“Ada apa, El?” Tanya Aisha kemudian. Ia teringat jika dirinya sedang kebingungan memilih baju apa yang akan ia kenakan malam ini. Dan gadis itu tidak ingin membuang-buang waktu jika Elang menelpon hanya untuk mengganggunya.


“Ca.... Mami pengen kenal sama kamu. Ke rumah aku yuk!” Ajak Elang. Ia memang mengatakan hal yang sebenarnya. Setelah berminggu-minggu Elang bercerita tentang teman barunya, Mami dari laki-laki itu semakin penasaran dengan sosok Aisha.


“Kapan?” Tanya Aisha. Selalu seperti ini setiap Elang mengajaknya keluar. Gadis itu selalu menanyakan terlebih waktunya.


“Malam ini. Bisa?”


“Nggak bisa. Aku ada janji dengan seseorang.” Tolak Aisha.


“Siapa?” Tanya Elang yang penasaran.


“Kepo.” Jawab Aisha singkat. Menimbulkan gelak tawa dari laki-laki di seberang sana.


“Hahahaha.... Yaudah kalau siang ini gimana? Bisa nggak?”


“Hm.” Gumam Aisha pelan namun masih bisa di dengar oleh Elang.


“Yes!” Girang Elang mendengar persetujuan dari Aisha.


“El?” panggil Aisha. Membuat Elang sedikit kebingungan sekaligus senang karena ini adalah kali pertama Aisha membuka pembicaraan dengan Elang. Sebelumnya bahkan Elang kesulitan untuk mencari bahan obrolan dengan Aisha.

__ADS_1


“Ya?” Jawab Elang.


“Bantuin aku pilih baju untuk nanti malam. Aku bingung.” Pintanya lirih. Bahkan kini ia tengaah menggigiti kuku jarinya karena sadar apa yang telah ia tanyakan kepada laki-laki di seberang sana.


“Ooooooh. Jadi dari tadi kamu kebingungan mau pakai baju apa? Hmm... Ini sih kayanya kamu mau jalan sama cowok nih. Iya kan? Astagaa! Jadi Aisha bisa fall in love juga toh?” Goda Elang sambil cekikikan.


“Kalau nggak mau bantu nggak usah ngejek!” sungut Aisha. Gadis itu sudah akan mematikan sambungan teleponnya andai saja ia tidak mengingat jika ia sangat membutuhkan saran untuk saat ini.


Ia tidak mungkin meminta bantuan ibunya, karena ia sendiri belum berani mengatakan jika ia sedang dekat dengan seorang pria. Ia pun juga tidak ingin meminta bantuan sahabat-sahabatnya yang pasti akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


“Hahahahaa... Gitu aja ngambek ih! Aku bantu, Ca! Video call yuk!” Ajak Elang. Tanpa menunggu balasan dari Aisha, laki-laki itu sudah mengganti panggilannya menjadi mode video.


Aisha pun menjauhkan ponselnya dari telinga dan memegangnya di depan wajah. Sehingga ia bisa melihat wajah laki-laki tengil yang beberapa minggu ini tidak ditemuinya karena kesibukan masing-masing.


“Jadi? Coba tunjukin ke aku baju apa aja yang kamu punya!” Titah Elang.


Aisha menuruti perintah dari Elang. Gadis itu meletakkan ponselnya di meja rias dan mengambil beberapa pakaian yang sudah ia pilih yang terbaik dari semua pakaian yang ada di lemarinya.


Elang pun meneliti satu persatu pakaian yang di tempelkan Aisha di tubuhnya. Namun sudah tiga baju yang di coba Aisha, dan pria itu masih berkomentar pedas tentang baju yang di kenakan Aisha.


“Kamu gimana sih, El! Kenapa semua baju nggak cocok? Aku jadi tambah bingung!” Protes gadis itu.


“Lagian kamu aneh, Ca! Kamu mau kondangan pakai baju gituan?” Tanya Elang. Pria itu menilai Aisha akan pergi ke kondangan dengan pakaian yang sangat formal. Yaitu dress dengan motif batik dan potongan yang sangat rapi.


“Hih! Salah emang aku minta pendapat kamu!” sungutnya kemudian.


Aisha memikirkan kembali perkataan dari Elang. Ia pun merasakan hal yang sama ketika memakainya. Bahkan sebenarnya Aisha bisa dikatakan tidak pernah memakai pakaian seperti ini. Ia lebih senang memakai celana dan kaus jika keluar dengan sahabat-sahabatnya. Dan ketika pergi bersama keluarganya, ia hanya mengganti kausnya dengan blus saja.


“Pakai celana panjang sama blus aja, Ca. Nggak terlalu formal tapi masih kelihatan rapi.”


Nah, bahkan saran dari Elang sama persis seperti apa yang sebelumnya gadis ini pikirkan. Ia pun mengacungi kedua jempol untuk Elang karena sudah mengerti karakter dirinya. Hanya dalam hati tentu saja. Aisha tidak sebaik itu untuk memuji orang lain.


“Oke. Makasih sarannya.” Jawabnya kemudian.


“Sama-sama, Ica cantik! Jalan sekarang yuk! Temenin nyari makan. Aku belum saraoan coba.”


“Ini masih jam 9, El. Aku juga belum siap-siap.”


“Kan masih ada waktu selama perjalananku ke rumahmu.”


“Huh! Yasudah. Terserah.” Putusnya kemudian.


Aisha pun memutuskan sambungan video call nya. Gadis itu membereskan kembali pakaiannya yang berserakn di kasur setelah meletakkan celana jeans putih dan blus berwarna biru dongker di balik pintu kamarnya.


*


*


*

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Aisha turun dari kamarnya. Ia sudah membaca pesan dari Elang jika laki-laki itu sudah di jalan dekat rumahnya. Namun ia sedikit heran ketika mendapati Papanya sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang akan pergi dengannya saat ini.


Sementara itu, Papa Aisha yang melihat putrinya menuruni tangga pun menyapanya.


“Kok lama, sayang? Elang sudah menunggu kamu dari tadi,” ucapnya.


“Dari tadi?” tanya Aisha tak percaya.


“Enggak deng, Ca. Om Arief mah berlebihan. Orang Elang baru dateng kok,”


“Hahaha... Yaudah gih kalian jalan. Keburu panas.”


“Papa kasih izin Aisha pergi sama Elang?” tanya Aisha keheranan.


“Kenapa nggak? Elang anak baik kok. Dia juga berani minta izin sama Papa langsung,” ucap Papa.


“Duh makasih Om. Udah percaya sama Elang,” balas Elang.


“Sama-sama. Jaga anak gadis Om ya!”


“Pasti Om.”


Setelah itu Aisha berpamitan kepada Papanya. Di ikuti dengan Elang yang menjabat tangan Ayah dari gadis di depannya.


“Kapan-kapan mampir ya, Lang! Belum sempet ngopi tadi kita,”


“Siap, Om!”


Aisha sedikit bingung dengan keakraban Papanya dan Elang. Laki-laki yang memiliki jiwa percaya diri yang tinggi itu memang pandai mengambil hati banyak orang rupanya.


Mereka pun memasuki mobil milik Elang yang di pinjamnya dari Abangnya lantaran motor miliknya sedang berada di bengkel karena mengalami sedikit kerusakan pada bagian belakangnya. Lagipula, hari ini adalah hari Sabtu. Dan Abangnya itu tidak pergi ke kantor pada hari ini. Sehingga mobilnya pun teronggok di garasi rumah mereka.


Elang mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Sebelum melajukan mobil ke rumahnya, Elang terlebih dulu memberhentikan mobilnya di depan sebuah supermarket untuk membeli belanjaan titipan Maminya.


“Ca.... Mampir dulu ya! Mami nitip belanjaan tadi.”


"Nggak jadi nyari sarapan?"


"Enggak, ah! Nanti aja di double sama makan siang," ucapnya.


“Oke,” balas Aisha singkat.


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2