
“Ada yang bilang kita bisa mengerti sifat seseorang dari tulisannya. Jadi itu benar?”
-
-
-
Aisha POV
Sedari tadi aku sudah gelisah berharap bel istirahat berakhir tidak pernah berbunyi. Aku ingin mencari bukuku yang hilang beberapa hari ini. Sudah sejak semalam aku mencari di rumah namun tidak menemukannya. Tadi pagi saat aku ingin berangkat pagi untuk mencari di sekolah, aku justru masuk ke gerbang sekolah saat bel pelajaran pertama dimulai. Akibatnya aku tidak jadi mencari bukuku.
“Kamu nyari apa sih, Sha?” Tanya Melia yang melihatku mondar-mandir di hadapannya.
“Buku aku. Dimana ya?” jawabku tanpa menatapnya. Aku masih terfokus untuk mencari bukuku di dalam laci-laci meja di kelasku.
“Buku apa?”
“Buku yang kemarin lusa aku bawa ke kantin. Aku baru inget kalau bukuku nggak ada tadi malam pas mau nulis. Aku cari di kamar juga nggak ada.”
“Oh... Emang hilang dimana?”
“Melia, ih! Kalau aku tahu juga aku nggak bakal bingung nyari, Mel.” Kesalku. Bagaimana tidak kesal? Melia ini memang kadar kepeduliannya tinggi, tapi kadar lemotnya juga teramat tinggi. Huh, menyebalkan!
“Oiya. Maaf-maaf. Yasudah aku bantu cari bukunya.”
Aku dibantu Melia mencari buku diary milikku. Buku itu sangat penting untukku, karena di dalamnya tidak hanya berisi curhatan biasa. Namun juga berisi beberapa sajak yang sangat rahasia dan tidak ada satupun yang boleh membacanya. Jika iya, maka semua kisah cinta ku kepadanya akan terbongkar. Dan aku belum siap untuk menghadapi reaksinya.
Hingga beberapa menit kemudian, pencarianku tak kunjung mendapatkan hasil. Bel tanda istirahat telah selesai pun sudah berkumandang dengan lantangnya. Aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Semoga buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Yang nantinya justru menjadi bumerang sendiri untukku.
Aku kembali mengikuti pelajaran dengan tanpa semangat seperti biasanya. Hingga bel pulang berbunyi pun aku tidak memiliki mood baik untuk berbicara dengan siapapun. Bahkan guru yang menanyaiku hanya aku jawab sekedarnya. Para sahabatku juga mendapatkan semprotan akibat mulut pedasku yang sedang badmood.
Kini aku dan sahabat-sahabatku sedang berada di kantin seperti kebiasaan kami. Sudah beberapa lama aku tidak menggubris ucapan sahabatku. Oleh karena itu mereka juga enggan mengajakku bicara lagi. Namun, lain halnya dengan Adel yang baru datang. Ia yang tidak tahu apa-apa langsung mengambil duduk di sampingku. Tempat keramat bagi sahabatku saat aku sedang dalam mood yang buruk.
“Ngapain disini!?” Sentakku. Adel yang kaget pun sempat tersedak minumannya. Kemudian kulihat dia melakukan kontak mata dengan sahabatku lainnya. Aku yakin ia tengah mencoba untuk mencari tahu ada apa denganku. Aku tidak peduli.
“Kamu kenapa sih, Sha? Kalau ada apa-apa ya cerita dong!”
“ Huwaaaa, Del!! Buku aku hilang... hiks...” Histerisku. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin menangis.
“Bukumu hilang? Kenapa nggak bilang? Ini pakai punyaku aja. Masih kosong kok.” Jawabnya dengan tampang polos. Namun hal itu justru semakin membuatku naik pitam.
“ADEL!!! Hih! Kalian semua nyebelin! Awas ah! Aku mau pulang.”
Aku yang sudah terlanjur kesal. Ralat –Sangat kesal pun meninggalkan mereka beserta makanan yang aku pesan. Biar saja mereka yang membayar makananku. Salah siapa nyebelin!
*
*
*
“Aisha kenapa sih?
“Diary-nya hilang, Adel! Kita aja dari tadi nggak berani ngajak dia ngomong. Kamu malah nambahin bikin dia kesel. Marah kan dia sekarang.” Amira pun menjelaskan duduk permasalahan dari sahabatnya yang sudah meninggalkan area kantin.
“Oalah... Diary-nya toh? Kenapa nggak bilang coba? Kan kal- HEH?! Aisha marah?! Hadoh, gawat ini!! Aisha kalau marah susah sembuhnya. Hadoh! Aku kudu pie?”
“Kamu, sih!”
Mereka tidak menyadari keberadaan seorang pria yang mendengarkan obrolan mereka dari awal.
“Bapak kok senyum-senyum?” Tanya Irul yang sempat memergoki pria tersebut tersenyum sedari tadi.
__ADS_1
“Ah, enggak! Itu, teman kamu tadi lucu. Kadang bisa dewasa banget ngasih solusi ke temennya. Kadang ya bisa merajuk kaya anak kecil.”
“Aisha, pak? Dia marah, pak! Bukan merajuk.” Protes Ningrum.
“Dia hanya sedang menunggu masa haid-nya. Makanya emosinya nggak terkontrol. Tapi saya yakin sebentar lagi dia akan balik seperti teman kalian biasanya.”
“Kok bapak tahu?”
“Hanya menebak.” Ucap pria itu kemudian beranjak dari hadapan mereka sambil membawa secangkir kopi kesukaannya. Pria tersebut terus tersenyum membayangkan ekspresi lucu gadis pujaannya tadi.
Hahahahaa.... tebakan kalian tepat sekali. Pria itu adalah Rian, si pengagum rahasia seorang Aisha..
*
*
*
Sore harinya D-And-Cook Geng, sepakat untuk bertandang ke rumah Aisha. Mereka tidak pernah nyaman melihat salah satu dari mereka marah terlalu lama. Setidaknya kemarahan paling lama hanya sampai bel pulang berbunyi. Setelahnya mereka akan kembali baik-baik saja.
Dan kini mereka sudah sampai di depan rumah Aisha. Rahayu memencet bel kemudian datang seorang wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Assalamu’alaikum, Tante.”
“Walaikumsalam. Ayo masuk.”
“Makasih, Tante.”
“Siapa, Ma?” tanya sebuah suara dari dalam yang ternyata adalah Papanya Aisha.
“Temen-temennya Aisha, Pa.”
“Eh ada Rahayu, Amira, Ningrum, Melia, Adel, Ninda, Hendra, Fian, Daffi, Irul. Aduh bener nggak ya Om manggilnya?”
“Oh ya? Hahahaa... maaf ya... habisnya kalian itu kaya upin-ipin lho! Susah Om membedakannya.”
“Udah biasa pada kebalik Om. Padahal ya beda. Hendra lebih tinggi dan lebih putih dari Fian. Yang pasti ya lebih ganteng, Om.” Jawab Hendra jumawa.
“Yeeeee.” Sorak mereka semua.
“Hahahaaa... yasudah Tante panggilkan dulu Aisha nya. Atau mau naik ke kamarnya aja?”
“Kalau boleh sih kami mau ke kamarnya aja, Om, Tante.” Jawab Ningrum.
“Ya boleh dong! Om udah percaya sama kalian mah!”
“Makasih, Om.”
Setelahnya mereka menaiki tangga menuju kamar Aisha. Namun setibanya di depan kamar, tidak ada yang berani mengetuk pintunya. Mereka saling mendorong mengumpankan satu sama lain yang akan mendapat semprotan dari Aisha.
“Kamu aja deh, Nin. Aisha mana pernah marah sama kamu.” Suruh Amira pada Ninda.
“Ah, nggak mau! Takut aku tuh!”
“Ya terus siapa dong?” Tanya Daffi.
Mereka terus berdebat tentang siapa yang akan mengetuk pintu kamar Aisha. Hingga kemudian pintu itu terbuka sendiri dari dalam.
“AAAAAAAAAAAAAAA.!!!!” Teriak mereka kaget. Pasalnya di depan mereka ada sosok yang memiliki wajah begitu putih mirip seperti hantu.
“Sha?! Kamu bikin kaget aja sih! Siang-siang pake masker!”
“Ede epe? Kenepe nggek mesek eje seh?”
__ADS_1
“HAH?!” teriak mereka kebingungan. Pasalnya mereka tidak paham apa yang sedang diucapkan Aisha.
“Ngomong apa sih?”
“Huh! Ada apa? Kenapa nggak langsung masuk aja? Biasanya begitu.” Aisha pun termaksa menggerakkan wajahnya hingga masker yang ia kenakan sudah berkerut dimana-mana.
“Ya kan kamu masih marah sama kita, Sha. Kita mana berani asal masuk aja.” Jawab Adel yang mewakili teman-temannya.
“Yaudah masuk ke kamarku dulu aja. Aku mau bersihin wajah dulu.”
“OKE!” teriak mereka bersamaan.
Setelahnya Aisha menggiring teman-temannya untuk masuk ke kamarnya. Hal ini sudah biasa terjadi, mereka sudah menganggap rumah satu sama lain adalah rumah mereka sendiri. Bahkan mereka sering menginap di salah satu rumah jika hari libur telah tiba.
“Sha? Masih marah?”
"Enggak. Maaf ya aku tadi udah marah-marah nggak jelas. Yah! Ternyata aku PMS. Hehe." Cengir Aisha tanpa dosa.
"Hah? PMS? Mulai kapan?" tanya Irul tanpa dosa. Mendapat hadiah timpukan bantal dan boneka dari sahabat-sahabat perempuannya.
"Kamu ngapain nanya-nanya gitu ke Aisha sih, Rul?! Ih kamu itu cowok loohh!!!" sentak Ninda dengan wajah merahnya.
Pasalnya Ninda adalah teman yang paling polos diantara kesebelasan mereka. Ehm! Maksudnya diantara anggota D-And-Cook Gengs yang beranggotakan sebelas orang.
"Lah? Aku cuma mau mastiin aja kok!"
"Mastiin apa?" Tanya Aisha penasaran. Setelah sekian lama ia terdiam untuk mendengarkan celotehan sahabat-sahabatnya.
"Ya kamu bilang dulu! Mulai haid dari kapan?" tanya Irul lagi.
"Baru tadi pas pulang sekolah. Kenapa sih?" Aisha pun semakin penasaran. Sedangkan Irul menghembuskan nafasnya sebelum menjawab.
"Tadi, pas kita lagi ngomongin kamu yang marah-marah ke kita, Pak Rian datengin meja kita. Terus ngomong kalau kamu marah-marah karena memang sekarang jadwalmu PMS. Ya, jadinya aku kaget lah!" Jelas Irul panjang lebar. Yang hanya diangguki oleh Aisha dan yang lainnya.
Aisha masih memikirkan ucapan Irul. "Pak Rian? Guru di sekolahnya? Bagaimana mungkin ia mengetahui tentang masalah pribadi Aisha?" Begitulah yang ada di pikiran gadis cantik itu.
"Kamu nggak lagi ada sesuatu kan sama Pak Rian?" tanya Hendra penuh kecurigaan.
"Mak-maksudnya?" jawab Aisha dengan tergagap.
"Ya siapa tau kalian-" jawab Hendra menggantung di sertai isyarat dua jari dari masing-masing tangannya yang ia gerakkan naik turun dengan maksud tertentu.
Aisha yang paham apa yang di maksud Hendra pun menggetok kepala Hendra menggunakan ponsel canggih miliknya, yang kebetulan sedang ada di genggamannya. Disusul dengan ringisan sakit dai Hendra.
"Lambemu, Hen! Ya nggak mungkin lah! Aku sama Pak Rian nggak ada apa-apa! Lagian juga di sekolah kan Pak Rian ngajar Amira, Ninda, Ningrum, Daffi sama Irul. Kita yang anak IPA nggak dapet pelajaran dari Pak Rian kali!" Sungut Aisha membela dirinya.
"Eh maaf-maaf. Kan bercanda doang, Sha!"
"Bercandamu jelek!" Jawab Aisha masih dengan keketusannya.
Hendra pun meminta maaf kepada Aisha. Pada akhirnya Aisha memaafkan Hendra karena memang ia tidak marah kepada Hendra. Ia hanya sedikit terkejut karena perkataan Hendra yang menghubungkannya dengan Pak Rian. Guru mereka di sekolah.
Akhirnya, setelah adegan maaf-memaafkan, Aisha dan teman-temannya kembali menghabiskan sisa waktu hari ini untuk mengobrol dan sesekali memainkan game-game yang menambah persahabatan mereka.
Hingga mereka meninggalkan rumah Aisha saat jarum jam sudah menunjukkan angka delapan. Waktu dimana mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
*
*
*
To Be Continued
__ADS_1