
***Dulu aku mencibir orang yang senang berkencan dengan wanita. Tapi saat aku mengalaminya, aku jadi tahu apa yang mereka rasakan. Membahagiakan!”
-
-
-
Elang mematikan mesin motonya setelah berhasil memarkirkannya dengan benar diantara mobil-mobil milik ayah dan juga kakaknya. Cukup sulit ternyata membawa papper bag dengan mengendarai sepeda motor. Elang salut akan perjuangan para ojek online yang sanggup membawa banyak bungkusan dengan mengendarai sepeda motor.
Laki-laki itu memasuki pintu penghubung antara garasi dengan bagian dalam rumahnya. Jam memang sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun ia masih melihat kedua orangtua beserta kakaknya yang tengah mengobrol di ruang tamu.
Beginilah kebiasaan yang di terapkan ayahnya sedari dulu. Sesibuk apapun mereka, mereka tetap wajib untuk hadir dalam quality time yang dilakukan selepas mereka semua pulang dari aktivitasnya seharian.
Jangan heran! Meskipun Rajawali, kakaknya memiliki sifat hampir seperti kulkas berjalan itu, ia tidak pernah absen untuk berkumpul dengan keluarganya. Baginya, keluarga adalah nomor satu! Tidak ada alasan apapun untuk menyangkalnya.
“Good evening, all! Anak ganteng tersayang pulang dari ngapel ini.” Serunya. Ia pun mendudukan diri di samping kakaknya yang memandangnya sembari menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah adik satu-satunya ini.
“Baru pulang dari mana, Lang?”
“Abang gimana sih? Kan aku udah ngomong tadi. Aku baru pulang dari ngapel. Jalan gitu sama cewek. Kan malming, Bang! Emangnya Abang yang cuma duduk anteng di depan laptop tanpa bisa nikmatin masa muda. Aku mah ogah!”
Yah beginilah cara bicara Elang di rumahnya. Ia dilarang menggunakan bahasa lo-gue meskipun itu dengan kakaknya sendiri. Dan Elang pun menurutinya, bahkan sejak keluarga mereka masih tinggal di Bandung sekalipun.
“Abang juga kerja untuk masa depan kamu! Itu perusahaan yang menopang hidup kita kalau kamu lupa.”
“Sudah! Kalian ini kalau jauh aja saling nanyain. Giliran dekat malah seperti kucing dan tikus.” Sahut Maminya.
Dan ketika ibu ratu mereka berbicara, maka tidak ada lagi yang berani menyangkalnya.
“Gimana tadi ngapel kamu? Berhasil? Udah kamu tembak belum?” Tanya sang Papi. Hm, ternyata sifat tengil yang dimiliki oleh Elang menurun dari sang Papi.
“Apa sih, Pi? Orang Elang sama Ica cuma jalan sebagai teman kok.” Elaknya.
“Teman apa teman?” Goda sang Papi lagi.
“Kepo ih!” Jawabnya. Menimbulkan gelak tawa dari ketiga anggota keluarganya.
“Pergi kemana aja, Lang?” Giliran sang Mami yang bertanya.
“Cuma muter-muter Mall, Mi. Awalnya itu kita mau nonton, Mi. Tapi film yang dia suka malah udah sold out tiketnya. Terus Elang minta sama mbaknya tiket VIP. Ica malah bilang sama mbaknya kalau nggak jadi. Habis itu dia narik tangan Elang pergi disana.”
“Terus?” Sela sang Papi yang penasaran dengan kelanjutan cerita kencan pertama putra bungsunya.
“Dia marah-marah gitu, Pi. Katanya Elang nggak boleh seenaknya aja buang-buang uang. Di luar sana banyak anak yang mesti kerja keras dulu baru bisa makan.”
“Terus?” Sela papinya lagi.
“Papi ih! Terus-terus aja!”
“Hahahaaa... Papimu kan tingkat keponya udah akut, Lang.” Timpal Maminya.
“Ya pokoknya kesel pi sama dia! Masa kita jalan berdua Elang cuma ngeluarin uang buat makan pempek aja. Itu pun nggak sampai seratus ribu.”
“Kok bisa?” Tanya sang mami yang juga ikut penasaran dengan gadis yang di kencani anaknya.
“Entah! Dia ngambek setelah itu. Padahal udah Elang iming-iming i belanja sepuasnya juga nggak mau maafin Elang. Terus habis itu dia malah jalan gitu aja ke toko baju. Milih-milih baju. Pas mau Elang bayarin ancamannya serem, Mi.”
“Apa memangnya?”
“Dia nggak mau Elang ajak jalan lagi kalau Elang bayarin belanjaan dia yang nggak seberapa itu.”
“Terus kamu takut?”
“Iyalah, Mi. Apalagi Elang seneng dia dah mulai cerewet sama Elang. Aslinya mah persis banget sama Abang! Hemat kata!” Sindirnya. Yang justru membuatnya emosi setelah mendengar jawaban dari Rajawali.
“Jodohnya sama Abang kali.” Ucapnya singkat.
__ADS_1
Elang memelototkan matanya dan menatap tajam Abangnya itu.
“Enak aja! Ica nggak pantes buat Abang. Abang udah tua! Udah 25 tahun. Ica masih 17 tahun!”
Rajawali tidak menanggapi dan hanya mengedikkan bahunya saja mendengar penuturan adiknya. Toh ia tidak tahu seberapa istimewanya gadis yang sedang dekat dengan adiknya ini.
“Hm.. Papi jadi makin penasaran sama gadis itu, Lang. Coba kapan-kapan ajak dia main kesini.”
“Ashiaaapp, Papi! Secepatnya Elang ajak Ica main ke rumah,”
“Ijin sama orang tuanya jangan lupa, Lang!”
“Ho oh, Mami ku tercinta! Pasti itu mah!”
Mereka melanjutkan obrolan dengan sesekali menyinggung soal putra sulung mereka yang belum mengenalkan gadis pilihannya. Sementara Elang sibuk dengan hp nya membaca riwayat chat nya dengan Aisha.
“Eh, itu apa Lang?” Tanya Mami tiba-tiba setelah melihat bungkusan yang ada di samping kaki Elang.
“Ah iya! Elang sampai lupa. Elang udah bilang kalau Ica beli baju kan tadi? Nah baju yang di beli itu untuk Mami sama Mamanya dia. Ini!” Ucap Elang sembari menyerahkan papper bag kepada Maminya.
“Waaaahhh! Makasih loh! Ini sogokan biar di restui apa gimana?” Goda Maminya sembari membuka dan melihat baju yang di belikan teman gadis putranya.
“Restu apaan sih, Mi? Waktu Elang bilang kaya gitu ke dia, Mami tau nggak apa jawabannya?”
“Apa emang?”
“Dia bilang ‘Calon mantu gundulmu! Aku cuma keinget aja sama Mami kamu yang udah melahirkan anak se-tengil kamu. Pasti banyak banget cobaannya!’ . Gitu, Mi.”
Adu Elang dengan suara yang ia buat semirip mungkin dengan Aisha. Walau kenyataannya, hal itu malah terdengar menggelikan di telinga anggota keluarganya. Sontak mereka pun tertawa. Tak terkecuali Rajawali yang biasanya hemat bicara.
“Ketawa aja terus!” sungutnya tidak terima.
“Habis lucu aja si Ica-ica itu. Hahahaa... Ada gitu yang berani ngatain kamu kaya gitu? Biasanya cewek-cewek yang ngejar kamu. Ini malah kamu yang nggak mau berhenti ngejar dia. Padahal udah di kata-katain juga.”
“Ih justru itu yang bikin Elang seneng godain dia, Mi.”
Obrolan mereka berlanjut hingga malam semakin larut. Pukul setengah dua belas mereka baru beranjak dari ruang keluarga dan memasuki kamarnya masing-masing.
Elang mulai merebahkan diri di atas ranjang king size miliknya. Ia memang merasa cukup lelah setelah menjalani kegiatannya satu hari ini. Namun mengingat kembali ‘kencannya’ bersama Aisha membuatnya lupa akan rasa lelah. Ia mengirim pesan suara untuk Aisha, dan memandangi foto profil gadis itu sebelum akhirnya pergi ke alam mimpi. Berharap esok hari akan semakin cerah dan Tuhan mengizinkannya untuk menyambut hari yang baru bersama cerita baru.
*
*
*
Hari semakin larut, namun rasa kantuk tak kunjung datang menghampiri gadis ini. Ia masih memikirkan tentang sebuah objek yang di lihatnya saat di parkiran Mall tadi. Aisha begitu terluka saat kembali mengingat kejadian tersebut.
Seorang pria yang ia kagumi berjalan bersisian dengan seorang wanita dewasa seusianya. Mereka tampak sangat serasi. Di tambah dengan hadirnya seorang balita yang berada dalam gendongan sang pria. Membuat mereka terlihat seperti figur keluarga yang sangat sempurna.
Ya! Pria tersebut adalah Rian. Namun Aisha tidak tahu siapa gerangan wanita dan balita yang keluar dari mobil bersama dengan pria pujaannya tadi.
Siapapun wanita itu, Aisha yakin ia adalah orang yang sudah menggantikan posisinya di hati Rian. Itupun kalau perkataan Rian beberapa minggu lalu merupakan kesungguhan dari hatinya.
Huh! Miris sekali! Aisha terluka di pertama kalinya ia jatuh cinta. Bahkan rasa yang ada di hatinya belum sempat terutarakan.
Aisha tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membunuh rasa sakitnya akan cinta.
Tidur? Bahkan ia yakin dalam mimpinya akan muncul banyak luka.
Menulis? Pikirannya tidak bisa berimajinasi saat ini. Kekalutannya membuat ide yang selalu ada di kepala cerdasnya menguap begitu saja.
Yah, begitulah cinta. Siapa yang beruntung, ia akan bahagia. Sedang yang buntung, hanya mendapatkan kesakitan saja.
Di tengah kekalutannya, ia mendapatkan sebuah pesan suara dari seorang teman laki-laki yang belakangan ini selalu mengganggunya. Ia pun memilih untuk membukanya, karena rasa penasaran begitu mendominasinya kini.
-
__ADS_1
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
“Selamat malam Mbak Ica cantik! Sudah tidur belum? Bang Elang rindu. Hahahahaa...”
-
Aisha mendengarkan pesan pertama yang dikirimkan oleh Elang. Tanpa sadar sedikit lekukan di area bibirnya terlihat karena senyuman tipis yang terpatri menghiasi wajah basahnya.
-
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
“Makasih ya untuk hari ini! Maaf udah bohongin kamu. Kamu pasti udah sadar kan kalau alasanku mengajakmu jalan untuk mencari kado buat Mami itu bohongan? Yah akunya yang bodoh sih. Mana bisa aku bohongin orang pinter. Hahahahaaa.....”
-
Kembali Aisha dibuat tersenyum oleh gurauan yang dilontarkan Elang dalam voice note nya. Aisha pun membuka voice note ketiga.
-
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
“Aku nggak tahu apa yang buat kamu sedih, Ca... Aku kan temen kamu. Kamu bisa cerita ke aku kalau kamu mau. Kalau nggak ya nggak papa. Tapi aku nggak suka lihat kamu sedih, Ca. Aku lebih suka lihat kamu yang jutek ke aku. Nggak papa loh kalau kamu mau ngata-ngatain aku. Aku siap telinga.”
-
Aisha tersadar dari kesalahannya. Meskipun ia baru mengenal Elang, namun ia sudah yakin jika Elang ini sebenarnya laki-laki yang sangat baik. Sama seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Dan tidak sepatutnya ia merusak moment-nya bersama laki-laki itu.
Hm, baiklah! Aisha mengakui kesalahannya. Dan ia berjanji akan meminta maaf kepada pria itu besok.
Aisha membuka voice note selanjutnya.
-
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
“Dah tidur beneran ya? Nggakpapa deh... Besok pagi pas kamu buka hp segera kabari aku ya! Aku butuh tahu keadaan kamu, Ca. Aku merasa bertanggungjawab karena aku yang terakhir kali ada bersamamu. Okay Ica-ica di dinding? Hahahahaa.... Good night, Ca! Sleep tight!”
-
Aisha pun tertawa mendengar voice note terakhir dari Elang. Apa tadi katanya? Ica-ica di dinding? Cicak kali ah itu! Seenaknya saja dia mengganti nama anak orang. Padahal orangtuanya sampai mikir selama berbulan-bulan untuk memberinya nama.
Gadis itu hendak membalas pesan dari Elang. Namun mengingat ia baru saja menangis, ia pun mengurungkan niatnya untuk mengirimkan voice note juga. Ia tidak ingin Elang mendengar suara seraknya pasca menangis. Pada akhirnya ia hanya mengetikkan balasan super panjang yang pernah ia kirim untuk laki-laki tengil itu.
Aqueesha Z. Qiandrany
Makasih juga yaa.. Maaf udh bikin km nggk nyaman. Aku cm lg kepikiran sesuatu aja kok.
Santai aja.
Makasih udh nanyain. Tp mksdny manggil Ica-ica di dinding apa ya? -___-
Aku blm tdr. Tp ini otw merem. Km jg! Jgn tdr trlalu mlm!
Good night and sleep tight too :)
Aisha mengirimkan balasannya untuk Elang. Kemudian setelah tanda checklist sudah berwarna biru. Ia sengaja segera mematikan sambungan datanya. Bagaimana pun ia juga merasa malu karena sudah bisa menerima Elang menjadi sahabatnya.
Sementara Elang yang membaca balasan dari Aisha pun bersorak gembira. Tak menyangka jika Aisha akan mengetikkan balasan yang sangat panjang untuk ukuran gadis jutek sepertinya.
Apalagi setelah membaca kalimat singkat berisi perhatian dari gadis itu. Kini ia yakin dapat tidur dengan sangat nyenyak malam ini. Terimakasih Mbak Ica!
*
*
*
__ADS_1
To Be Continued***