
“Are we family? No! Even more...”
-
-
-
Setelah seharian penuh mereka bermain, kini saatnya untuk belajar sekaligus mengerjakan PR mereka masing-masing. Irul, Daffi, Rahayu, Adel dan Ninda memegang kendali untuk mengajari anak-anak usia SD. Hendra, Amira, Melia dan Fian bertugas untuk mengajari anak-anak yang masih PAUD atau TK.
Sementara Aisha dan Elang, mereka meng-handle anak-anak yang di kenal nakal di panti asuhan Setulus Kasih Bunda. Ya, anak-anak dengan karakter bandel seperti itu memang hanya luluh dengan Aisha ketimbang teman-temannya yang lain. Dan bertambah lagi dengan Elang. Karakter Elang yang mudah membaur memang menjadi daya tarik tersendiri di mata anak-anak panti.
“Mbak Ica kok nggak marah sama Kennan?” Tanya anak itu.
“Mbak Ica kan sayang Kennan. Kenapa harus marah?”
“Soalnya Kennan kan nyebelin. Temen-temen aja nggak ada yang mau main sama Kennan. Cuma Bunda sama Mbak Ica aja yang sayang Kennan.”
“Heyyy! Bang Elang juga sayang Kennan.” Sela Elang yang tidak terima karena namanya tidak disebut sebagai orang yang menyayangi anak berusia 10 tahun tersebut.
“Iya. Bang Elang juga maksud Kennan.” Ucap anak itu.
“Kennan nggak nyebelin kok. Tapi ya kadang kejahilan Kennan itu berlebihan. Makanya temen-temen pada sebel.”
“Kennan nggak jahil kok, Mbak.”
“Hahahaaa... Iya, nggak jahil kok. Tapi sangat kreatif. Hehe...”
“Jadi Kennan anak baik?” tanyanya polos.
“Yap! Adik-adik Mbak Ica nggak ada yang nggak baik. Semuanya baik banget!”
“Tapi Kennan sering coret-coret buku temen-temen. Terus mereka marah.”
“Kennan suka gambar?” Tanya Elang.
“Suka, Bang.”
“Abang juga loh! Gimana kalau mulai sekarang Elang belajar gambar di buku Kennan sendiri aja? Biar nggak di marahi teman-teman terus. Nanti Abang belikan bukunya. Mau?” Tawar Elang yang mendapat anggukkan antusias dari Kennan.
“Mau, Bang!”
“Okedeh! Nanti Abang belikan.”
“Sama pastel-nya juga?” Tanya Kennan hati-hati.
“Iya, Kennan.” Jawabnya disertai dengan elusan di rambut tebal anak itu.
Aisha yang melihatnya pun tersenyum dalam diamnya. Ia tak menyangka jika di balik sisi kekanakan Elang, ia juga mempunya sifat mulia dengan menyayangi anak-anak yatim ini dengan tulus. Ya, Aisha dapat melihatnya dalam tatapan Elang saat ini.
*
*
*
Matahari memancarkan cahayanya begitu terang di siang hari ini. Setelah kegiatan makan dan sholat dhuhur berjamaah, anak-anak sudah di tunggu oleh penanggung jawab masing-masing kamar untuk tidur siang. Ini sudah waktunya mereka beristirahat setelah melakukan banyak kegiatan selama berjam-jam lalu.
Aisha dan para gadis lainnya berbagi tugas untuk menemani anak-anak hingga tertidur, sementara para lelaki bertugas untuk membereskan barang-barang mereka. Ya, sekarang ini jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sudah saatnya bagi mereka untuk kembali ke rumah.
Setelah semuanya tertidur, Aisha menghampiri teman-temannya untuk mengajak mereka berpamitan kepada para pengasuh panti terlebih dahulu. Sedangkan Elang, pria itu sudah pulang terlebih dahulu sebelum anak-anak tertidur tadi. Alasannya karena Ibunya sudah menunggu dirinya untuk pergi ke rumah kakek dan neneknya.
“Terimakasih ya, Bunda. Kami sudah diberi ijin untuk bermain dengan adek-adek.”
“Bunda yang harusnya bilang terimakasih, Nak. Setiap Mbak Ica dan teman-temannya datang kemari, anak-anak Bunda pasti merasa sangat bahagia. Apalagi sekarang tambah satu pasukan lagi. Bang Elang juga sayang sama anak-anak Bunda. Kalian anak-anak yang baik. Bunda yakin kalian akan menjadi anak-anak yang sukses nantinya.”
“Aamiin... Terimakasih atas doanya, Bunda. Kami ikhlas kok bantu adek-adek disini. Kami menyayangi mereka.” sahut Aisha.
“Adek-adek beruntung memiliki Ibu sebaik Bunda.” Ucap Irul. Di benarkan oleh teman-temannya yang lain.
Bunda pun hanya tersenyum menampakkan lekukan cukup dalam di kiri dan kanan bibirnya menandakan jika usianya tidak muda lagi.
“Kalau begitu kami pamit dulu, Bu. Sudah cukup sore. Kami takut terjebak macet.” Pamit Fian mewakili teman-temannya.
“Iya, Nak. Hati-hati ya! Semoga kalian sampai ke rumah dengan selamat.” Jawab Bunda selanjutnya.
Mereka pun keluar dari ruangan pengasuh panti untuk menuju mobil mereka. dan setelahnya mereka meninggalkan halaman panti. Irul dan kakak adel yang sudah menjemputnya membunyikan klakson dan Bunda pun menganggukkan kepalanya.
*
*
*
Di perjalanan pulang masih diselingi dengan berbagai obrolan hingga tak lama setelahnya semua orang yang ada di mobil Irul tertidur kecuali Irul dan juga Aisha. Aisha berada di bangku depan samping Irul. Dan Irul pun membuka obrolan.
“Dia tadi siapa, Sha?”
“Dia? Maksud kamu siapa?”
“Laki-laki yang di panggil Bang Elang sama anak-anak panti tadi.”
“Oh itu.”
“Iya. Dia siapa?”
__ADS_1
“Temen.”
“Temen? Kok aku belum pernah lihat dia sebelumnya.”
“Temen baru, Rul. Aku ketemu dia di kafe pas aku lagi ngetik kaya biasanya. Dia datengin meja aku dan ngajak kenalan.”
“Kamu mau gitu aja?”
“Ya nggak lah! Awalnya aku udah nolak buat kenalan. Dianya maksa terus. Yaudah akhirnya daripada dia ngoceh terua bikin konsentrasiku hilang mending aku iya-in aja.”
“Terus kok dia bisa tahu hari ini kamu ada di panti?”
“Mana aku tahu. Dia datang ke panti juga sebelum kita kan?”
Irul tampak berpikir kemudian menolehkan wajahnya sebentar guna melihat ekspresi yang ditunjukkan Aisha. Ekspresi saat ia sedang kesal. “Kamu suka sama dia?”
“WHATTT??!!! Kamu tanya itu ke aku? Ya nggak lah! Gila apa!? Cowok tengil gitu! Ogah banget aku suka sama dia. Iyuhhh!”
“Iya, sih. Tapi aku baca situasinya kok kayak dia suka sama kamu ya, Sha?”
“Bodo amat!”
“Is kamu ini!”
“Yaudah sih nggak usah di bahas. Males aku tuh sama dia.”
“Kenapa? Kayaknya dia temen yang asik.”
“Tau ah!”
Aisha mencebikkan bibirnya kesal mengingat apa yang di lakukan laki-laki itu saat makan siang tadi. Andai tidak ada Ilham disana sudah dipastikan laki-laki bernama Elang itu akan ia habisi saat itu juga. Itupun kalau bisa. Kalau nggak ya Aisha hanya bisa mengelus dadanya meminta kesabaran lebih kepada Yang Maha Kuasa. Huh!
Irul sangat menyayangi sahabatnya ini. Sayang dalam artian seorang sahabat kepada sahabatnya. Tidak lebih. Irul sungguh menyayangi Aisha tanpa embel-embel cinta di belakangnya. Irul hanya merasa Aisha dan sahabat perempuan lainnya adalah salah satu dari sekian banyak daftar perempuan yang harus ia jaga. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan mereka. Hal ini sudah menjadi prinsip seorang Muhammad Khoirul dari dulu.
Sisa perjalanan mereka hanya di isi oleh suara lagu yang terputar di mobil milik Irul. Irul memilih untuk terdiam dan fokus dengan kegiatan menyetirnya. Sementara Aisha menyusul teman-temanya yang lain pergi ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ke rumah Ninda. Tempat mereka berkumpul sebelum berangkat tadi. Karena kelelahan, para gadis kecuali Aisha sepakat untuk rehat sejenak di rumah Ninda. Sedangkan para laki-laki dan juga Aisha kembali ke rumahnya masing-masing.
Sebenarnya Aisha masih ingin berkumpul bersama sahabat-sahabatnya, namun kewajibannya sebagai penulis tidak bisa dia lupakan begitu saja. Aisha sudah di kejar target untuk menerbitkan novel terbarunya.
Sesampainya Aisha di rumahnya, ia di sambut oleh kesunyian yang begitu mencekam. Aisha memanggil kedua orang tuanya, namun tak mendapatkan sahutan sama sekali. Kemudian ia merasakan getaran dari dalam tasnya, dan mendapati sebuah panggilan masuk di ponselnya. Aisha melihat id caller Mamanya tertera di layar 5 inch tersebut.
“Halo, Ma. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam, sayang. Sudah pulang dari panti?”
“Sudah, Ma. Ini Aisha baru aja sampai. Mama kemana? Kok sepi banget?”
“Mama sama Papa harus menghadiri pesta pernikahan teman Papa di Jombang, Nak. Mungkin besok baru pulang. Aisha nggak papa sendiri? Atau kalau takut Aisha boleh ajak teman Aisha menginap di rumah.”
“Maaf ya, sayang.”
“Nggak papa, Ma. Beneran deh!”
“Ya sudah Mama tutup dulu telponnya ya! Nanti Mama telpon lagi.”
“Iya, Ma.”
Sambungan telpon pun terputus. Aisha kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu menaiki tangga untuk sampai di kamarnya.
Sebelum melanjutkan kegiatan menulisnya, Aisha terlebih dulu memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya agar ide yang keluar dari pikirannya mampu mengalir deras seperti air.
Tidak sampai satu jam Aisha sudah siap dengan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya. Aisha hanya mengenakan kaos pendek dan hot pants kali ini. Rambut yang masih basah ia biarkan begitu saja tanpa mncoba mengeringkannya dengan hair dryer. Sejak dulu Aisha memang tidak menyukai alat elektronik yang satu itu. Aisha lebih senang mengeringkan rambutnya secara alami demi menjaga kelembaban kulit kepalanya.
For your information, rambut hitam panjang Aisha adalah satu dari bagian tubuhnya yang paling penting. Aisha sangat menyayangi rambutnya dan merawatnya dengan baik selamana ini.
Gadis cantik itu mulai membuka laptopnya dan mengetikkan password yang sudah ia pasang untuk menjaga keamanan laptop miliknya. Kemudian ia me-refresh laptopnya dan mulai membuka file berisi ketikkan novel terbarunya.
Namun saat file belum juga terbuka, ponsel Aisha berdering. Ia pun mengeceknya dan mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak ia ketahui melalui aplikasi WhatsApp.
+6282-212-xxx-xxx
Halo! Ganggu nggak?
Aisha mengerutkan kening mendapatkan sapaan seperti itu. ‘Orang iseng!’ batin Aisha.
Awalnya ia hanya membiarkan saja, hingga kemudian orang yang ia anggap iseng tersebut kembali mengiriminya pesan yang sama hingga ratusan kali. Karena kesal, Aisha pun membalasnya.
Aqueesha Zahwa Q.
?
Yap! Hanya itu jawaban yang Aisha kirimkan. Kemudian tanpa menunggu lama, balasan dari orang iseng itu pun muncul.
+6282-212-xxx-xxx
Jgn judes dong! Ini aku, Pangeran Elang. Aku kan udah chat kamu kmrn. Nggk di save?
Oh ternyata laki-laki menyebalkan itu yang mengiriminya pesan WhatsApp. Aisha tidak bisa menebak sebelumnya, karena kata-kata yang di kirimkan Elang sudah menggunakan bahasa yang lebih santai.
Aqueesha Zahwa Q.
Enggak...
+6282-212-xxx-xxx
__ADS_1
Cm itu? Astagaaaa! Nggk di chat nggk ngmg lgsung. Km pelit kata bgt ya!
Aqueesha Zahwa Q.
Iya.
+6282-212-xxx-xxx
Ica! Please deh! Jgn bikin aku kesel! Bls agak panjang napa!
Aqueesha Zahwa Q.
Kenapa? Aku sibuk El...
+6282-212-xxx-xxx
Alhamdulillah sedikit lebih panjang...
Aisha tak lagi menjawab pesan Elang yang di rasa sangat tidak penting tersebut. Ia pun keluar dari room chat mereka setelah sebelumnya menyimpan nomor Elang di ponselnya.
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
Ica ih! Habis chat agak panjang trs ngilang. Aku mau minta tlng ini...
Aqueesha Zahwa Q.
Tolong apa?
Manusia pengganggu Hidup Aisha:(
Ini penting Ca. Aku telpon ya? Iya aja deh!
Aisha belum sempat mengetikkan balasan untuk Elang. Namun laki-laki yang ia juluki sebagai pengganggu hidup Aisha malah sudah menelponnya terlebih dulu. Karena merasa tidak enak hati sudah memberikan kesan perkenalan yang buruk, Aisha pun mengangkat panggilan tersebut tanpa membuat Elang menunggu terlalu lama.
“Apa?”
“Assalamualaikum, cantik!” ucap laki-laki di seberang sana, berniat untuk menyindir Aisha yang tidak memberinya salam terlebih dahulu.
“Huh! Walaikumsalam.”
“Nah gitu dong! Kan manis didengernya.”
“Huekk..” Balas Aisha berpura-pura sedang muntah. Menimbulkan gelak tawa dari laki-laki di seberang sana. “Ada apa?” lanjutnya.
“Aku mau minta tolong kamu nih, Ca. Mau ya?” pinta Elang dengan nada suara yang dibuat melas.
“Minta tolong apa? Aku sibuk banget El.”
“Ih kamu tega, Ca! Mami aku sebentar lagi ulangtahun. Temenin aku nyari kado ya? Aku kan baru di Jogja, nggak tahu tempat-tempat bagus disini," jelasnya.
“Kapan?”
“Hah?! Kamu mau, Ca? Seriously?” Elang sangat antusias meski hanya mendengarkan kalimat tanya ‘kapan’ dari Aisha. Menanyakan waktu bukankah itu artinya Aisha sudah menyetujui ajakannya?
“Hm.” Jawabnya singkat.
“Sekarang gimana? Eh jangan deng! Kamu pasti capek karena seharian ini main sama anak-anak panti. Besok aja gimana?”
“Besok nggak akan di bolehin. Mama dan Papa udah pulang. Nanti malam kalau mau?”
“ Tonight?! It’s Saturday night, Ca. Are you okay with that?”
“Kalau nggak mau yaudah.”
“E-eh jangan gitu dong, Ca. Aku cuma kasihan aja sama kamu. Emang kamu nggak capek apa? Lagipula malam minggu gini biasanya macet kan? Nanti kamu malah nyalah-nyalahin aku.”
“Aku cuma punya waktu luang nanti malam aja. Kalau mau ya ayo aku temani. Kalau nggak ya nggak papa.”
“E-eh! Oke-oke! Aku jemput ke rumah kamu ya? Em.. jam 7?”
“Hm.”
“Tapi aku nggak tahu alamat kamu, Ca. Nanti share loc ya?”
“Hm.”
“Ham hem ham hem aja kamu dari tadi, Ca. Ngomong napa!”
Aisha membuang napasnya sedikit kasar. Kemudian menutup panggilan telepon tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
‘Huh! Biarkan saja! Aku malas meladeni laki-laki kurang kerjaan seperti dia.’ Batinnya berbicara.
Aisha membereskan alat-alat tempur yang akan ia gunakan untuk menulis tadi. Ia meletakkannya kembali di atas meja belajar yang ada di sudut ruangan. Kemudian membuka lemari untuk menyiapkan pakaian yang akan ia gunakan nanti malam.
At least.... Meskipun ia kesal sekali dengan laki-laki bernama Elang itu, ia tidak boleh terlihat buruk di tempat umum kan? Ia juga ingin seperti pasangan lain yang terlihat sempurna di malam minggu seperti ini.
Tunggu! Pasangan sempurna?! Bagaimana bisa Aisha membayangkan hal tersebut?! Aisha mengedikkan bahunya seraya berucap ‘amit-amit jabang bayi’ dalam hatinya. Hal itu ia lakukan karena kesalahannya dalam berpikir beberapa saat yang lalu.
-
-
-
To Be Continued
__ADS_1