Apa yang Aku Lihat?

Apa yang Aku Lihat?
4


__ADS_3

Ku pandang ke sekeliling guna mencari galah (alat untuk memetik buah di pohon yang tinggi terbuat dari bambu) yang biasa di pakai oleh engkong (kakek) memetik buah di kebon ini.


Beliau yang biasa merawat kebon serta makam keluarga yang ada di pojok kebon dan ada di belakang rumah ku.


"Mana eh galah nya. Gua cari ke sana yaa, lu ke sana". titahku pada kedua temanku.


Saat sedang mencari cari galah, batinku berkata aku harus menoleh ke atas.


Tapi otakku berkata jangan menoleh.


Bingung...


Otak dan hati ku tak singkron.


'Duuhh,, noleh gak yaa'. batin ku.


Akhirnya ku putuskan untuk ku lirik dengan mata sebelah.


'Astaghfiruallah apaan ituuuu'. ucapku dalam hati.


Langsung ku ambil galah nya, kemudian berlari ke arah Mia.


"Eh udah ketemu". ucap Mia


Tak ku hiraukan ucapan Mia. Langsung ku berikan galah pada nya.


Mia menerima galah dan mulai memetik buah pepaya nya.


Ia tak terlalu memperhatikan aku yang sedikit pucat karena melihat sesuatu.


Awalnya ku kira hanya sebuah karung yang membungkus buah nangka yang mulai besar.


Semakin ku intip, 'karung' itu ternyata bergerak kemudian melayang.

__ADS_1


Aku kaget melihat pemandangan itu.


Karena walaupun siang hari, kebon ini agak gelap karena rimbunnya pepohonan.


Entah kenapa aku jadi bisa melihat hal aneh seperti itu semenjak kejadian adikku berbicara sendiri di kamar.


Dari kejauhan ku lihat Lala tergopoh-gopoh membawa cobek dan bumbu rujak.


Ku hampiri Lala untuk membantu nya.


Kami akan ngerujak di kebon sini saja.


Agak ke pinggir dekat jalanan. Sehingga tidak terlalu gelap.


Lala juga membawa pisau kecil untuk mengupas buahnya.


Lala mulai menguleg bumbu rujaknya.


Sedangkan Mela hanya melihat kami saja.


Selesai di kupas buah nya di cuci oleh Mela dengan air minum yang ia bawa.


Lalu kami santap rujak yang seger dan pedas itu di siang hari menjelang sore.


Sejenak terlupakan pemandangan mengerikan tadi.


Ku santap dengan lahap rujak nya.


Keringat bercucuran di dahi kami.


"wiisshh mantap banget dah ngerujak siang gini. Nanti lu ngaji kan?". tanya Lala padaku.


"Ngaji lah, kalo gak mah abis gua la". semuanya tertawa.

__ADS_1


"Iyalah gua juga sama". sahut Mia.


Kami semua tertawa membayangkan jika tidak mau berangkat mengaji tentu membuat orang tua kami murka. Apalagi mamah..


hhiiiiiii seram sekali. Lebih seram dari yang tadi ku lihat melayang layang.


Ku habiskan rujak ini beramai-ramai sambil bercerita kesana kesini. Sungguh indahnya berbagi cerita dengan kawan kawan.


Terlebih lagi ini hari Minggu jadi semua temanku ada di rumah.


Meskipun terkadang ada yang berlibur bersama keluarga.


Tapi kali ini, kita berlibur di rumah saja.


Terik mulai berganti senja. Kami semua bersiap untuk pulang. Karena di kebon sini sudah mulai gelap.


Sebelum alarm berbunyi sebaiknya kami bergegas menuju rumah masing-masing.


"Eh balik Yo. Udah sore nih". ucapku.


"Iyaa yok. Nanti ngaji tungguin yak. Jangan jalan duluan". ujar Lala.


"Tungguin gua juga yaak, di depan rumah lu aja mim. Jangan ada yang ninggalin lu". sahut Mia juga.


"Yaa tapi jangan lama lu pada. Kan kita barengan yang gede. Kalo lama pasti di tinggalin". Maksudku yang gede itu adalah kakakku dan teman teman nya.


Karena mereka kesal kalau kita lama, mereka pasti jalan duluan.


Sedangkan jalan ke tempat mengaji melewati dua kebon yang berhadapan.


Gelap....


Tentu nya kita semua tidak berani kalau lewat sendiri atau tidak ada orang yang lebih besar bersama kita.

__ADS_1


__ADS_2