
"Hey!"
Sontak mataku mengerjap karena tepukan keras Alice dibahu kananku.
"Yaishh. Kau mengejutkanku"
"Salahmu sendiri. Yang kau lakukan dari tadi hanya melamun tak memperhatikan jalan. Bagaimana jika kau tersandung dan jatuh? Apa yang membuatmu melamun Agatha Chelsea?"
"Tidak ada. Hanya senang melihat mereka" pandanganku menatap lurus ke arah Jessie dan Rose yang sedang tertawa lepas.
"Mereka selalu seperti itu sejak dulu. Ayo" ucap Alice lalu menarikku mengikuti Jessie dan Rose.
Kurasakan saku seragamku bergetar membuatku menghentikan langkah.
"Sebentar, ada telepon"
"Siapa?" tanya Rose yang sudah menghadapku.
"Dave"
Kakiku melemas saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave.
"Aku harus segera pergi. See you" ucapku lalu berlari.
"Ada apa Chel?!" suara teriakan Jessie terdengar samar ditelingaku.
Keadaan halte cukup ramai kali ini, belum ada tanda-tanda bus akan datang. Aku memilih mendudukkan diri di salah satu kursi panjang yang tersedia. Badanku terasa gemetar tak bertenaga sejak mendengar perkataan Dave di telepon tadi.
Pikiranku kalut, sudah tidak sanggup memikirkan sesuatu. Air mataku perlahan keluar setelah cukup lama kutahan. Hingga suara derum motor membuatku mendongak dan mendapati Benny dengan motor sport biru miliknya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya setelah melepas helm full face nya dan menghampiriku.
Tangisku pecah membuat beberapa orang memandangku. Benny menarikku kedalam pelukannya mencoba menenangkan.
"Hey, sudah" ucapnya sembari membelai lembut rambutku.
"Apa yang terjadi baby girl? Ceritakan padaku. Aku kakakmu kau tau" lanjutnya melepas pelukan lalu menatapku penuh.
"Kkak Jho..nny"
"Ya ada apa dengan Jhonny? Kamu merindukannya?" tanyanya berturut yang kujawab gelengan.
"Lalu? Kau mau pergi kemana? Bukankah asrama lebih dekat, kenapa kau disini?"
"Kak Jhonny kecelakaan" ucapku tergugu.
"What?"
"Dave menelpon ku tadi"
"Lalu, sekarang dimana dia?"
"Rumah Dave"
"Baiklah kita kesana" aku mengangguk lalu berdiri.
Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan. Disinal aku, berdiri didepan gerbang coklat yang menjulang tinggi. Rumah megah dengan gaya modern klasik berdiri kokoh dengan dua pilar di depannya.
"Ini benar rumahnya?" tanyaku memastikan yang dijawab anggukan oleh Benny.
Setelah memencet bel, tak lama seorang gadis kecil nampak membuka pintu lalu berlari kearah kami.
"Kak Ben"
"Hey Angel"
"Mereka saling mengenal? Pasti Benny sering bermain kesini. Tapi.." lamunanku buyar saat Benny mengajakku masuk.
"Pasti kalian ingin menemui kakakku? Akan kuantar ke atas"
Gadis kecil bernama Angel ini menuntunku dan Benny ke lantai dua rumah ini.
"Kak Jhonny!" aku menghambur ke pelukan kakakku yang masih terbaring.
"Hey, apa yang kau lakukan disini?"
"Pertanyaan macam apa itu?! Bagian mana yang terluka? Patah dibagian mana?" tanyaku beruntun.
"Patah? Aku tidak terluka separah itu. Hanya ada beberapa jahitan" bibirku sukses terbuka saat mendengar perkataan kak Jhonny.
__ADS_1
Aku berbalik dan menatap kesal kearah Dave yang tersenyum kikuk.
"Jadi ini yang kau sebut patah? Apa kau tidak tau definisi patah? Apa kau tau bedanya patah dan jahit? Apa kau tau? Aku panik setengah mati memikirkan perkataan mu!!" kekesalan ku sudah tak dapat kutahan.
"Apa kau tidak dapat berpikir?" tangisku pecah membuatku terduduk di lantai.
"Kau pikir ini lelucon?" suara Benny terdengar pelan namun tajam.
Dengan kekesalan yang memuncak, aku berdiri dan langsung berjalan meninggalkan kamar.
"Chelsea! Hey kau.."
"Chel. Chelsea dengarkan penjelasan ku"
Aku tak menggubris panggilan Dave dan terus mempercepat langkahku.
Aku benar-benar muak, hingga aku berjalan asal kesegala arah. Aku bahkan tidak tau dimana aku sekarang.
Ting
Line
Alice
Chel
Kau dimana?
Kau hampir membuat kami mati karena mencarimu.
Aku pergi sebentar.
Tolong izinkan aku.
Dimana kau?
(read)
Jangan hanya melihat pesanku.
(read)
"Ekhem" suara deheman itu membuatku reflek membuka mata. Seorang lelaki tinggi berdiri di hadapanku. Ia menggunakan seragam yang berbeda denganku.
"Apa kau tertidur?"
"Ah. Eh tidak. Aku hanya memejamkan mata"
"Boleh aku duduk?"
"Tentu"
"Kau tak pergi sekolah?"
"Kau sendiri?"
"Ah ya. Aku lupa kalau aku juga tidak" ucapnya lalu tertawa.
"Aku Andreas" ucapnya sambil mengulurkan tangan yang dengan senang hati kusambut baik.
"Chelsea. Agatha Chelsea"
Dia terlihat mengangguk "Kenapa tidak sekolah?"
"Aku pergi"
"What? Pergi? Dari rumah?"
"Tidak. Hanya menghindari seseorang" ucapku lesu tanpa mengalihkan pandangan dari danau luas di depanku.
"Ah.. kau bertengkar dengan kekasihmu?"
"Ah..em tidak. Hanya teman"
"Shit! Kenapa tiba-tiba bibirku kelu"
"Kau sendiri?" tanyaku.
"Sedang ingin"
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanpa berniat bertanya lebih padanya.
"Seragam kita berbeda. Dimana kau sekolah?"
"Stein Continuation" ucapnya sontak membuatku menatapnya. Bagaimana tidak, sekolah itu cukup jauh dari sini. Oh ralat! Sangat jauh dari sini.
"SCHS? Apa kau gila? Itu sangat jauh"
"Aku tau" aku menggelengkan kepala tak habis pikir dengan lelaki disebelahku.
"Chel" panggilan itu membuatku menoleh.
"Dave?"
"Kau disini? Aku mencarimu. Ayo pulang" ucapnya sambil menarik tanganku sedikit kasar membuatku meringis.
"Lepaskan! Kau menyakitinya!" bentakan Andreas membuatku tersentak.
"Apa urusanmu!" jawab Dave tak kalah sengit.
"Kau siapa berani-berani berbuat seperti itu?"
"Aku kekasihnya"
Deg
Tubuhku membeku saat mendengar Dave mengatakan hal tersebut. Kekasihku? Sejak kapan? Omong kosong apalagi kali ini.
"Baiklah. Aku tak akan ikut campur urusan kalian. Selesaikan baik-baik" Andreas menepuk bahu kanan Dave lalu berbalik meninggalkan kami.
Aku yang kesal pun langsung menghempaskan tangan Dave yang sedari tadi menggenggam jemariku.
"Chel. Wait"
"Apa lagi?"
"Aku akan menjelaskannya"
"Apa yang akan kau jelaskan? Lalu apa maksud perkataan mu bahwa aku ini kekasihmu?"
"Baiklah. Aku mengaku sal.."
"Memang salah!"
"Tapi ini semua bukan aku yang menginginkan nya"
Mendengar itu membuatku tersenyum miris "Lalu siapa? Kak Jhony?"
"Memang dia"
"Kak Jhonny?" tanyaku tak percaya.
"Memang dia yang menyuruhku berbohong padamu"
Oke, sekarang giliran ku yang menunduk malu karena telah menuduhnya macam-macam.
"Kalau begitu maaf" ucapku lirih.
"Apa yang kau katakan? Aku tak mendengarnya"
"I'm sorry!" teriakku didepan nya yang malah membuat lelaki ini tertawa.
"Sorry for what? Ini semua memang salahku" ucapnya lalu memajukan wajahnya tepat di depanku reflek membuatku mengerjap dan memundurkan wajah.
"No! This is indeed my fault" ucapku lirih.
"Ah gotcha. Bulu matamu terjatuh karena aku merindukanmu" ucapnya disusul tawa diakhir kalimat.
"Apa yang kau katakan" ucapku memalingkan wajah menahan malu.
"Yasudah ayo"
"Kemana?"
"Altar"
"What?"
"Asrama Chel"
__ADS_1