
4 bulan telah berlalu dengan aku yang masih tetap ingin tinggal di asrama meskipun banyak kejadian aneh yang mengganggu membuatku harus ekstra sabar menghadapinya. Banyak teman-teman juga ikut menguatkanku. Ah ya, Mark juga berkata jika aku lari dari ini semua, gangguan itu malah akan selalu menyiksaku.
Aku membanting tubuhku di atas tempat tidur lalu menghembuskan nafas berat.
Ting
Aku bergerak membuka tas untuk mencari handphoneku.
Dave
Kau sudah kembali?
Ya. Baru saja sampai.
Ada apa?
Tidak. Tadi aku mencarimu di kelas tapi tidak ada.
Aku kembali lebih awal.
Kau sakit?
Tidak. Hanya sedikit kelelahan.
(Read)
Melihat pesanku yang tak kunjung dibalas. Akhirnya aku kembali merebahkan tubuhku, memandang langit-langit kamar. Sekelibat bayangan jus mangga lewat dipikiranku.
"Ah. Aku terlalu malas hanya untuk membeli jus mangga"
Tok
Tok
Tok
"Oh ayolah, jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin meladenimu" gerutuku mendengar ketukan pintu. Bukan tidak mungkin jika pelakunya si gadis misterius itu.
Tok
Tok
Aku semakin menenggelamkan wajahku di bawah bantal.
"Chel. Ini aku"
Wait. Bukankah itu suara Dave? Aku segera beranjak dan membuka pintu dan menemukan Dave berdiri tepat di depanku dengan masih menggunakan seragam sekolah.
"Ah. Ada apa?"
"Kau tidak menyuruhku masuk?"
"Ah tentu. Masuklah"
Aku memang sudah cukup dekat dengan Dave beberapa bulan terakhir ini. Dia akan datang untuk sekedar berkunjung atau mengajakku pergi keluar. Tapi mengesampingkan fakta aku semakin dekat dengan Dave, banyak orang pula yang semakin sering memberi peringatan padaku untuk menjauhi Dave. Oh, otakku sudah terlalu penuh untuk sekedar berpikir.
"Aku membawakanmu makanan. Makanlah, aku tau kau pasti belum makan siang"
"Ah terimakasih. Kau seharusnya tak perlu repot-repot"
Kubuka bungkusan dan, wait. Jus mangga? Bagaimana dia bisa membawakanmu jus mangga saat aku benar-benar ingin meminumnya.
"Makanlah, kau tidak akan kenyang jika hanya memandangnya" ucap Dave membuatku tersadar.
"Kau membawa 2 bungkus?" tanyaku saat melihat ada 2 box makanan.
"Yaa. Aku juga belum sempat makan. Jadi kupikir aku akan makan disini bersamamu"
"Ah begitu"
Hening, tak ada yang berbicara saat aku menyiapkan makanan diatas piring. Hingga, aku merasakan tubuhku menegang, mataku membulat. Sebuah benda kenyal mendarat tepat dibibir ku. Jantungku sudah berdetak diatas rata-rata. Perlahan Dave mendorong pelan tubuhku, merebahkannya dengan lembut diatas tempat tidur. Dapat kurasakan tangannya mendorong tengkukku untuk semakin mendekat. Dan sialnya, aku sama sekali tak menolak apa yang dilakukan pemuda yang memenuhi isi otakku akhir-akhir ini.
Tok
Tok
Tok
Dengan segera aku mendorong dada bidang Dave menjauh dariku dan segera bangkit membuka pintu.
"Benny?"
"Aku membawakanmu jus mangga. Cuaca hari ini cukup panas mengingat kau sangat menyukai jus mangga dulu" ucapnya menyodorkan cup berisi jus mangga kepadaku.
"Sudah kubawakan" celetuk Dave dari belakang.
"Ada Dave juga?"
"Sejak tadi. Kau yang tak memperhatikan sekeliling dan hanya terfokus pada gadis didepanmu"
"Masuk Ben"
Benny duduk di sofa kecil dekat jendela.
"Kenapa kau masuk. Pergilah"
__ADS_1
"Aku akan disini menjaga Chelsea. Jika kau yang menjaganya, aku ragu"
"Memang jika Chelsea bersamaku dia tidak akan aman?" balas Dave tanpa memandang ke arah Benny yang tengah menatapnya sengit.
"Bisa saja kau melakukan sesuatu"
"Maksudmu?" gertak Dave. Kini pandangannya sudah tertuju penuh pada pemuda yang tengah duduk di seberangnya.
"Ya siapa tau tiba-tiba kau menciumnya" ucapan Benny barusan membuat aku dan Dave tersedak.
"Kalian berencana tersedak?"
🦇
Jam digital di nakas sudah menunjukkan pukul 20.30. Dan yang kulakukan sejak tadi hanya diam memandangi langit-langit kamar.
Ting
Dave
Chel
Ya?
Jus dari Benny kau minum?
Tidak. Kuberikan pada Jessie.
Aku terlalu kenyang.
Yah sayang sekali
Sayang kenapa?
Aku baik-baik saja sayang
(Read)
Suka sekali mengganggu ku. Memangnya mau tanggung jawab jika tiba-tiba aku terkena serangan jantung.
Ting
Dave
Dear, kenapa hanya kau lihat?
Who ia dear?
Kau.
Sarangeul haetta uri..
Melihat siapa yang menelpon, tanpa mengangkatnya aku langsung mematikan panggilannya.
Sarangeul haetta..
Ada apa?!
Kenapa kau membentak padaku?
Ah kakak. Ada apa?
Ada apa? Memang salah menelpon adikku?
Salah!
Dave bilang, pesannya hanya kau baca. Kalian bertengkar?
Tidak!
Setelah mengatakan itu, aku langsung mematikan panggilan lalu beralih membuka roomchat Dave.
Dave
Tidak perlu merayuku
Haha, baiklah maaf aku hanya bergurau.
"Jadi ciuman itu juga hanya gurauan? Dasar!"
Dave
Hmm.
Kau merajuk?
Tidak.
Baiklah. Bagaimana jika kita main tebak-tebakan?
Apa?
Kau hanya membalas dengan satu kata Chel.
Ada apa Dave sayang?
__ADS_1
Finally kau memanggilku sayang :v
Jika a dan n digabungkan jadi apa?
Jadi an?
Yash. Mulai sekarang kita jadian.
What?
"Oke Dave sepertinya mengantuk. Bicaranya mulai melantur"
Dave
Iya. Mulai sekarang kita berkencan.
Terserah.
Setelah mengirim pesan terakhir itu. Aku melempar handphone ku asal. Menghiraukan bunyi pesan beruntun yang dapat kupastikan berasal dari Dave.
Hingga aku tertidur dan sejenak melupakan berbagai kejadian abstrak hari ini.
🦇
Tawa Jessie terus terdengar sejak aku bercerita tentang kejadian Dave mengajakku berkencan.
"Lalu, kau menerimanya?" tanya Rose yang duduk menghadapku.
"Tentu saja tidak. Kau pikir saja, mana ada orang seperti itu" jawabku gemas.
Aku menelungkup kan wajah diantara tumpukan tanganku.
Hingga aku merasakan seseorang menggoyangkan bahuku.
"Chel. Kau dicari seseorang" ucap Bobby yang masih menggoyangkan lenganku.
"Siapa?"
"Dave" ucapnya lalu pergi.
Kulihat Dave berdiri disamping pintu menghadap koridor.
"Hey!" sapaku mencoba membuatnya terkejut. Tapi nihil. Pemuda didepanku tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Kau tidak terkejut?"
"Ada apa Dear?"
"Dave! Stop it!"
"Apa yang salah denganmu? Kau memakai lipstik di pipi?" tanyanya dengan terus menggodaku.
"Apa yang kau katakan?!" aku menepis pelan tangannya yang sedari tadi mencubit pipiku.
"Aku semakin menyayangimu" ucapnya lirih membuatku tak mendengarnya dengan jelas.
"Apa?" tanyaku.
"Ada apa? Hemm?" ucapnya lembut, tatapan matanya terlihat sayu.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Ada yang salah mengunjungi kekasih sendiri?" tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Kekasih? Ah, kau memliki kekasih disini? Satu kelas denganku?"
"Ya"
"Siapa namanya?"
"Kau benar-benar ingin tau?" godanya lagi.
"Ah sudahlah" ucapku kesal.
"Haha. Kau benar-benar ingin tau? Namanya Chelsea. Agatha Chelsea"
Tubuhku mematung mendengar ucapannya.
"Dear?"
"Dave! Stop call me dear!"
"Lalu kau ingin dipanggil seperti apa?"
"Apa hakmu memanggilku seperti itu? Apa kau kekasihku? Bahkan kau mencuri ciuman pertamaku!"
"Aku sudah menyatakannya kemarin"
"Kemarin itu kau bilang menyatakan perasaan?"
"Baiklah. Apa kau ingin menjadi kekasihku Agatha Chelsea?"
Bola mataku hampir saja melompat keluar karena Dave yang tiba-tiba menyatakan perasaan didepan kelas seperti ini dengan memegang sebuah kalung ditangan kanannya.
"Jadi?"
__ADS_1