Asrama Putri

Asrama Putri
Now I Know


__ADS_3

"Chel..bagaimana?"


"Emm.."


Genggaman tangannya kurasakan mulai melemah.


"Aku tau. Kau mungkin.."


"Aku mau"


"Shit. Bagaimana bisa mulut ini mengatakan hal itu!"


Aku merutuki mulutku yang tiba-tiba mengiyakan ajakan Dave untuk menjadi kekasihnya.


"Chel? Ulangi perkataan mu" tanganku kembali digenggam erat oleh Dave membuatku semakin tak bisa mengontrol diri.


"Apa kau tuli?!" bentakku kesal. Apa dia tidak bisa melihat wajahku yang sudah semerah kepiting rebus ini.


Dan tiba-tiba tangannya terulur mendekat, menarik kedalam pelukannya.


"Aku menyayangimu" ucapnya lembut tepat ditelingaku membuat darah diseluruh tubuhku berdesir.


Kurasakan sesuatu menggantung di leherku. Sebuah kalung dengan permata kecil sebagai liontinnya, membuatku terpaku.


"Emm, aku akan ke toilet" ucapku melepas pelukannya lalu segera berjalan cepat menuju toilet di ujung koridor.


Mataku membulat saat jam tangan milikku sudah menunjukkan pukul 8.15.


"Shit! Pasti Mrs. Clara sudah masuk kelas"


Oke, apalagi ini. Pintunya terkunci?


Ddor


Ddor


"Siapapun tolong aku"


"Hey! Aku terkunci"


Ddor


Ddor


Klap


"What?"


Lampu toilet tiba-tiba mati, membuatku yang sedari tadi tak henti mencoba mendobrak pintu seketika diam mematung.


Ddor


Ddor


"Apalagi maumu?!"


Aku mulai tau siapa dalang dari ini semua.


Ddor!!


Aku sontak menghentikan teriakanku, dan reflek menutup mulut dengan kedua tangan. Air mataku mulai membasahi kedua pipiku.


Aku mencoba menahan agar tangisku tak mengeluarkan suara.


Ddor!!


Aku menjerit tertahan dengan mulut yang masih kututup rapat. Tubuhku melemas, jantungku berdetak lebih cepat melebihi saat aku sedang bersama Dave. Perasaan takut yang semula tertahan, sudah tak dapat kutahan.


Ddor!!


Dobrakan keras ketiga, perlahan membuatku mundur menabrak tembok.


Brakkk!!


Sampai akhirnya seorang gadis dengan setengah wajah yang hancur, dengan bola mata yang mencuat keluar, dan mulut robek hingga mencapai telinga. Sosok dengan mata yang mengisyaratkan kemarahan itu sekarang sedang berdiri tepat didepanku. Dengan sebelah wajah yang masih utuh, dapat kulihat rahangnya mengeras memunculkan senyuman miring.

__ADS_1


Sesosok gadis dengan seragam penuh darah dengan keadaan wajah kirinya yang hancur. Perlahan gadis itu mendekat kearahku membuat aku menggelengkan kepala mengisyaratkan untuk jangan melukaiku.


Tapi itu semua tak membuat gadis dengan name tag bertuliskan Clara Sheva Andreaska merasa iba padaku.


Menangis dan terisak membuatku sedikit kehabisan nafas. Gadis ini sekarang berada tepat didepan wajahku membuat tenggorokanku tercekat karena kali ini aku lebih jelas dapat melihat wajah hancurnya.


Plak


Tamparan keras di pipi kiri membuatku meringis, merasa de javu dengan semua ini. Keadaan yang sama dengan yang pernah ku mimpimpikan.


"A..pa yyang ss.. sebenarnya kk..kau inginkan ddariku?" dengan semua keberanian, pertanyaan itu akhirnya muncul dari mulutku.


Dengan mata yang semakin melotot, gadis itu tertawa memperlihatkan seluruh isi mulutnya yang dipenuhi darah.


"HAHAHAHA"


"KAU TAU APA YANG KU INGINKAN?" tanya gadis itu dengan senyum miring yang tak pernah sirna dari wajahnya membuatku mengangguk perlahan.


"YANG KU INGINKAN.. KAU MATI!"


Dengan nada bicara yang menekan, Clara yang semula tersenyum sekarang memperlihatkan amarah yang memuncak membuatku tersentak.


"Aa..pa ssa..lahku?"


"KAU BERKENCAN DENGAN DAVE BUKAN?!"


Belum sempat aku menjawab, Clara sudah lebih dulu menarik kasar rambutku keluar dari bilik toilet.


"Arrgghhh"


Plak


Untuk kedua kalinya pipi kiriku ditampar membuatku benar-benar ingin pergi meninggalkan semua ini.


Plak


Tanganku meraba bibirku yang terasa perih dan ternyata sudah berdarah. Dalam diam aku menahan tangis.


"INI YANG SEHARUSNYA KAU TERIMA!"


Plak


Plak


"TELAH BERANI"


Plak


"MENGAMBIL DAVE KU!"


Kurasakan badanku dihempas keluar kamar mandi dan tersungkur di koridor penghubung kelas sastra dan sains.


Aku menangis tergugu, badanku sudah sangat lemah. Aku tetap menangis tanpa berniat beranjak dari tempat ini. Hingga kurasakan rengkuhan pada bahuku.


"Apa yang kau lakukan?" seorang pemuda tengah menatapku penuh iba malah membuatku semakin terisak.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"


Tanya pemuda ini beruntun yang hanya kujawab dengan gelengan.


Hingga akhirnya aku dapat meredam isakanku dan dapat kulihat pemuda dengan rambut pirang dengan mata yang menyorotkan kekhawatiran.


"Apa yang terjadi padamu? Ayo kuantar ke ruang kesehatan"


Dengan perlahan pemuda itu sedikit demi sedikit mengompres bagian lebam pada wajahku.


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Siapa kau?" tanyaku balik dengan suara parau.


"Ah, aku Samuel. Angkatan baru"


"Terimakasih"


"Emm.."

__ADS_1


"Kembalilah"


"Kau tak apa jika kutinggalkan?"


"Heem. Terimakasih"


Bohong jika aku berkata tidak apa-apa jika ditinggalkan. Nyatanya sendirian di ruang kesehatan semakin membuatnya ketakutan akan hadirnya gadis itu lagi. Aku yang semula duduk, perlahan mencoba membaringkan tubuhku pada ranjang.


Srek


Tirai penutup dibuka menampakkan Alice, Jessie dan Rose dengan raut khawatir membuatku mengernyitkan dahi.


"Kalian disini?"


"Tadi ada yang memberitahu jika kau di sini"


"Apa yang terjadi padamu?" lanjut Rose.


"Wajahmu. Astaga" sahut Jessie membuatku reflek memeluknya.


"Ada apa? Ceritakan yang sebenarnya" Alice ikut memelukku.


Aku benar-benar ingin menceritakannya, tapi itu akan membuat mereka semakin khawatir.


"Apapun masalahmu, ceritakan kepada kami"


ucap Jessie membelai lembut rambutku membuat aku semakin terisak.


"Aku hampir dibunuh" ucapanku membuat Jessie reflek melepas pelukannya. Rose yang membuka sempurna mulutnya karena terkejut.


"Apa yang kau katakan? Kau dibunuh?"


"Siapa yang ingin membunuhmu?" Alice terlihat marah dengan kepalan tangannya.


"Kalian mengenal Clara?"


Akhirnya dengan yakin aku mengungkapkan alasan keadaanku seperti ini.


"Clara? Kau mempunyai hubungan apa dengan Dave?" tanya Rose.


"Kau tak mempunyai hubungan apapun dengan Dave kan Chel?" tanya Jessie hati-hati.


Pertanyaan Jessie membuatku seketika menyesali pilihanku.


"Chel please. Jauhi Dave jika kau tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" perkataan Rose seakan sangat memohon padaku.


"Alice juga pernah dekat dengan Dave. Dan berakhir sama sepertimu. Hampir dibunuh. Tapi dia memilih untuk menjauhi Dave pada akhirnya" ucap Jessie lalu menepuk pelan pundak Alice.


"Dear" tiba-tiba Dave datang dengan segala kekhawatiran.


"Dear?" Alice-Jessie-Rose.


Kedatangan Dave tidak membuatku tenang malah membuatku semakin ketakutan hingga akupun menggeser posisi dudukku menjauh darinya.


"Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?"


Kulihat Alice, Jessie dan Rose pergi membiarkan kami berdua.


"Dear. Tell me. Siapa yang membuatmu seperti ini?" Dave menangkuo kedua pipiku agar menatapnya.


Aku masih diam tak menjawab semua pertanyaaannya.


Hingga kulihat Dave akan menarikku kedalam pelukannya, namun segera kutahan dan mendorongnya.


"Ada apa denganmu? Kau tak ingin aku memelukmu?" tanyanya.


"Aku ingin sendiri" ucapku lirih.


"Katakan padaku. Apa yang terjadi?"


"Kau ini yang kenapa!" ucapku bersamaan dengan tangis yang lagi-lagi hampir membuatku kehabisan nafas.


"Hey. Tenang oke. Tenang" Dave menarikku dalam pelukannya membiarkanku menangis tersedu-sedu.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan keduanya dari ambang pintu ruang kesehatan.

__ADS_1


__ADS_2