Asrama Putri

Asrama Putri
Just Calm Down (2)


__ADS_3

Setelah turun dan melepas helm, tanpa mengucapkan sesuatu Dave berjalan masuk mendahuluiku.


"Wait! Mau kemana kau?"


"Tentu saja masuk. Memangnya mau kemana lagi?" ucapnya sambil menggerakkan dagunya kearah asrama.


"Boleh?" tanyaku.


"Tentu saja. Apa kau tidak tau jika lelaki bisa memasuki asrama ini. Asal tidak melakukan hal-hal terlarang" ucapnya lalu berjalan mendahului.


"Siapa juga yang mau melakukan"


"Awsshh" ringisku saat dahiku tepat mengenai punggung tegap seseorang.


"Kalau berhenti ngomong" kesalku lalu mengambil handphone yang sudah terjatuh bebas di lantai.


"Dimana kamarmu?"


"Ku pikir kau tau karena berjalan mendahuluiku" aku memukul pelan lengannya kesal.


"Oh, sekarang sudah berani memukulku?" godanya lalu menggelitikiku.


"Hey kak stop it"


"Sekarang tunjukkan kamarmu"


"Kamarku dilantai dua" ucapku lalu berjalan menuju tangga.


Langkahku berhenti pada kamar dengan nomor 80.


Setelah menemukan kunci dan membuka pintu lebar-lebar agar Dave bisa membuka, mataku melihat Dave yang sedang memandang sendu kamar sampingku.


"Hey. Ayo masuk" tak ada jawaban.


"Dave?" dia masih terdiam.


"Dave!" ucapku keras hingga Dave terlonjak kecil karena terkejut.


"Kau mengejutkanku"


"Apa yang kau lakukan. Ayo masuk"


"Kau sendirian?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar.


"Heem. Belum mendapatkan teman"


"Ingin aku temani?"


"What?!" bola mataku hampir saja keluar karena perkataannya.


"Kau tidak mau ya" ucapnya dengan tawa.


"Ya menurutmu?"


"Menurutku kau mau" ucapnya lalu menghampiriku duduk dipinggir ranjang. Terus berjalan ke arahku, membuatku sontak berdiri dan berjalan mundur. Hingga saat tersisa beberapa langkah.


Brakkk


Pintu tertutup dengan sendirinya, membuat kami sontak berlari kearahnya.


Dave mencoba menggerakkan tuas pintu, tapi nihil. Pintu ini seperti sudah terkunci dari luar. Tapi, wait! Siapa yang menguncinya?


"Siapa diluar?!"


"Jangan bergurau!"


Kaki dan tanganku mulai bergetar, yang kutakutkan terjadi.


Praangg


"Aaaaaaa" aku menjerit bersamaan dengan pecahnya kaca jendela kamarku.

__ADS_1


Dave berlari ke arah jendela lalu melihat sekeliling mencoba menemukan orang yang melakukan hal ini.


"Siapa kau?!"


Dengan nafas tercekat, aku mencoba membuka mata dan menemukan sebuah kertas yang kupikir ada batu di dalamnya.


Dengan hati-hati kubuka kertas itu dan..


"Aaaaaa"


Aku reflek menutup mulut. Mataku membulat lebar, tangan kakiku semakin gemetar. Tubuhku lemas hingga membuatku terhuyung kebelakang.


"Apa yang terjadi Chel?" tanya Dave yang sudah menangkap tubuhku agar tidak terjatuh. Raut khawatir nampak pada wajah tampannya.


Dengan tangan yang masih gemetar, kuberikan kertas itu. Tubuh Dave menegang lalu melihat sekeliling.


Bau anyir masih dapat kurasakan di kertas yang bertuliskan..


Aku tau Dave bersamamu. Kalian memintaku untuk muncul bukan? Baiklah, aku akan segera muncul dan menghabisi kalian!


Aku benar-benar merasa de javu dengan kejadian ini.


"Ini sama sekali tidak lucu! Tunjukkan dirimu! Bastard!"


Dapat kurasakan Dave mengeratkan pelukannya membuatku sedikit tenang. Karena kali ini aku tak menghadapi teror ini sendiri.


"Hey Bastard. Keluar kau!"


Aku semakin ketakutan. Aku takut jika semua ini ulah gadis misterius itu. Aku ingat bahwa dia sudah berulang kali memberi peringatan padaku. But, ini semua tidak masuk akal.


Dddor


"Aaaaaaa"


Dave mengeratkan pelukannya lalu beralih menggenggam tanganku, menuntun ke arah pintu.


Ceklek


Dapat kulihat lelaki jangkung yang tengah menggenggam tanganku ini menghembuskan nafasnya kasar. Lalu beralih menghadapku, mengusap lembut pipiku.


"Tenang okay. Untuk sekarang, kau menginap dirumahku dulu. Sampai kau merasa tenang"


🦇


Dave menunjukkan sebuah kamar yang penuh dengan dekorasi anak perempuan.


"Kau bisa tidur disini. Ini kamar Angel. Sebenarnya masih ada satu kamar kosong. Tapi itu masih sangat kotor"


"Angel?"


"Ah. Dia adikku" ucapnya paham akan pertanyaanku.


"Lalu Angel?"


"Ah itu, biar ku urus"


Aku mengangguk paham "Aku akan melihat kak Jhonny"


*Tok


Tok


Tok*


"Kak" tak ada sahutan, kucoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.


Kak Jhonny nampak tertidur pulas dengan wajah pucatnya.


Cukup lama aku memandangi wajah tenangnya hingga akhirnya aku tertidur.


...

__ADS_1


"Eunggghhh" aku terbangun saat merasakan usapan di kepalaku.


"Apa aku membangunkanmu?" tanya kak Jhonny dengan suara lirihnya.


"Ah, maaf aku tertidur"


"Seharusnya aku yang meminta maaf karena membangunkanmu. Dan maaf juga untuk kesalahanku yang menyuruh Dave membohongimu" ucapnya lembut dengan mata yang menyiratkan penyesalan.


"Sudahlah. Aku sudah tidak memikirkannya lagi" ucapku sambil mengusap tangan lemahnya.


"Kau sudah meminum obatmu?" tanyaku saat melihat bungkusan obat di nakas.


Kulihat kak Jhonny menggeleng pelan membuatku mendengus.


"Kau ini bagaimana. Kau sedang sakit, harusnya meminum obat. Kau ini ingin cepat sembuh atau ti.." ucapanku terhenti saat tiba-tiba kak Jhonny menarikku pelan dan merengkuh tubuhku. Dapat kurasakan tubuh lelaki ini terasa panas.


"Leave it like this for just a moment. Only you I have at the moment" ucapnya semakin mempererat pelukan seakan tidak ingin membiarkan aku meninggalkannya.


Suara pintu terbuka membuat kami melepas pelukan dan mendapati Dave berdiri diambang pintu.


"Ada apa ini? Kalian menangis?"


Mendengar itu aku dan Kak Jhonny reflek mengusap sisa air mata di pipi.


"Baiklah. Chel, bersihkan dirimu. Mommy dan Angel menunggu kalian untuk makan malam"


Tak sampai 30 menit, aku sudah selesai bersih-bersih dan segera memapah Kak Jhonny menuju ruang makan dilantai satu.


Dapat kulihat seorang wanita paruh baya tersenyum kearahku.


"Ini Chelsea yang kuceritakan mom" ucap Dave saat aku mendudukkan diri di salah satu kursi kosong.


"Chelsea bibi" ucapku mencoba seramah mungkin agar ibu Dave merasa tidak terganggu dengan adanya diriku.


"Kau sangat cantik" ucapnya lembut dengan senyum yang mengembang di bibirnya membuatku seketika teringat mommy.


"Ah ya, jika kakakmu tidur disini. Dan kau?" lanjutnya.


"Dia masuk asrama bibi. Rencana awal dia akan disana sampai kelulusan, baru setelah itu akan pindah ke Canada" Kak Jhonny berucap.


"Kenapa harus di asrama? Kau bisa tinggal disini" sanggah ibu Dave hingga membuat Dave tersedak.


"Lihat. Dave saja setuju" lanjutnya.


"Ah, tidak perlu. Kesannya kita sangat merepotkan"


Bukannya aku menolak, hanya saja bagaimana mungkin aku tinggal di rumah orang sampai kelulusan.


"Tidak masalah. Disini juga Angel sendirian"


"Tidak perlu bibi, biar Kak Jhonny saja yang disini"


"Hey kenapa?"


"Mom, dimana su.. Ada kakak cantik?" Angel tiba-tiba muncul dari arah dapur.


"Kau mengenalnya sweety?"


"Heem. Tadi pagi dia datang bersama Kak Ben. Kakak cantik akan menginap malam ini?" tanya gadis kecil ini sembari duduk di kursi kosong sebelah Dave.


"Iya" ucapku tersenyum menanggapi.


"Ay yay. Berarti aku punya teman tidur"


Oh lihatlah betapa lucunya gadis ini.


"Lihat, Angel saja senang"


"C'mon mom. Biarkan Chelsea makan dulu" Dave menyahut.


"Ah. Bibi sampai melupakan makan malamnya. Sekarang kita makan dulu, nanti kita lanjut ngobrolnya"

__ADS_1


__ADS_2