![ASTAKONA [LAPAN PENJURU]](https://asset.asean.biz.id/astakona--lapan-penjuru-.webp)
Zack duduk termenung, mengamati kambing-kambing ayahnya yang sedang merumput di padang. Hari ini, gilirannya menggembalakan kambing dari pagi hingga petang.
"Huh..." Keluhannya panjang terdengar di tengah angin. Ia mencabut rumput dengan lambaian tangan, melemparkannya ke udara, dan kemudian membiarkannya jatuh ke tanah seperti daun kering yang berputar-putar.
Rasa bosan merayapi hati Zack karena pekerjaannya hanya sebatas mengamati kambing-kambing bergerak. Ia pun melemparkan tubuhnya di tengah padang rumput, lalu menyilangkan tangan di belakang kepala sebagai bantal yang empuk. Rumput yang tebal tetapi pendek itu terasa selesa bagaikan tilam, dan Zack merasa ingin tertidur.
Bisa saja ia lena sampai senja, apalagi dengan awan putih di langit biru yang menghalangi sinar matahari dan hembusan angin yang lembut di dataran berbukit tersebut. Sesaat, Zack melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia tersenyum nakal.
"Hujan lebat pun ada yang menantangnya, rehat sejenak ga mungkin akan membawa bencana?" ucap Zack dengan canda.
Namun, begitu matanya hampir tertutup untuk tidur, tiba-tiba air deras menyemburinya hingga wajahnya basah kuyup.
"Hah!" Zack terkejut bangkit dari rebahannya. Nafasnya tersengal-sengal, dan detak jantungnya berpacu kencang. Ia menatap ke langit, menyadari bahwa bajunya kini basah kuyup. Padahalnya tiada hujan.
Tangannya menyentuh wajah untuk mengusap air yang menetes, namun hampir saja ia tersedak ketika air hujan masuk ke hidungnya.
"Hujan lebat muncul dengan gayanya, tapi kalau bencana datang, tak ada yang bisa lari darinya," tiba-tiba terdengar suara sapaan.
Zack segera menoleh ke arah suara tersebut, dan matanya membulat kaget.
Di hadapannya berdiri Hushion, abang Zack, yang tiba-tiba muncul. Hushion duduk dengan posisi mencangkung, sambil tersenyum manis memperhatikan Zack.
"Duhai adikku, senang sekali kau menikmati hujan. Jangan lupa bawa kambing ke kandang kalo hujan." ucap Hushion dengan ramah. Senyuman manis diliriknya.
"Hushion?" Zack berkata dengan bingung.
Namun, bingungnya segera berubah menjadi kemarahan yang memerah, seakan-akan otaknya hendak meledak.
Hushion tersenyum melihat adiknya yang mulai berubah menjadi raksasa emosi.
"Selamat pagi! Haha. Lucu sekali wajahmu saat kaget tadi. Seperti monyet terkena kerengga."
"Selamat pagi kau bilang?! Hushion! Arrghh. Jik kau ingin membangunkanku, tidak perlu menyiramkan air seperti itu. Bisa saja kan membangunkan seseorang tanpa harus menyiramnya dengan air? Bagaimana kalau aku mati tadi? Bagaimana?"
Kemarahan Zack terpancar saat ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan mulutnya mengoceh.
"Uish, garangnya adikku. Tidak akan mati kok hanya karena setetes dua air."
Zack melepaskan silangan tangannya lalu laju menggenggam baju Hushion, langsung meraih leher baju saudaranya.
"Setetes dua? Ini bukan setetes dua. Ini seperti ember penuh dengan air! Kamu selalu bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu," ucap Zack.
__ADS_1
Hushion mengangkat keningnya dan menoleh ke arah lain. Ia merasa bingung dan akhirnya mengakui kesalahannya.
"Maaf, Zack."
Hushion mendapat satu idea lalu memegang kedua bahu adiknya.
"Eh, bagaimana kalau kamu ikut aku? Aku menemukan tempat yang menarik untuk kamu lihat. Maukah kamu ikut?" Soal Hushion, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ish. Kau tahu aku sedang marah, kan? Tiba-tiba kamu mengajakku. Tidak mau!" Zack menolak dengan tegas.
Hushion membuat ekspresi simpati dan Zack pun terperangkap dalam permainan tipu daya tersebut.
Zack melepaskan pegangan tangannya pada Hushion dan duduk bersila di hadapan abangnya. Hushion pun berubah posisi dan duduk seperti adiknya.
"Hmph! Tempat apa yang begitu menarik sampai kamu datang mengajakku?" tanya Zack.
"Pekan Ningku," jawab Hushion.
"Pekan Ningku? Oh, sungguh jauh dan menarik tempat pilihanmu," ejek Zack, padahal sebenarnya Pekan Ningku berada dekat dengan rumah mereka.
"Apa yang menarik di sana? Kamu selalu pergi ke sana. Kenapa sekarang ingin mengajakku?" tanya Zack.
"Tidak ingin pergi. Mana bisa aku ke sana. Kamu lupa orang-orang di sana tidak menyukai orang sepertiku?" ujar Zack.
Zack menyatakan demikian karena dia seorang Tias, yang artinya dia dilahirkan tanpa astakona. Astakona adalah kuasa atau kekuatan magis yang memberikan kelebihan khusus kepada setiap individu. Hampir semua orang lahir dengan astakona, namun Zack adalah salah satu pengecualian yang langka.
Dikarenakan keunikan statusnya sebagai Tias, Zack sering merasa berbeda dan tidak mampu berbaur dengan orang lain yang memiliki astakona. Ia sering kali merasa diasingkan dan diabaikan, karena kebanyakan orang tidak memahami kondisi yang dialaminya.
"Haa... Itu yang kamu salah sangka. Sekarang orang-orang di sana sudah lebih terbuka. Tidak seperti dulu. Mereka sudah tidak ambil pusing dengan hal-hal seperti itu lagi," ungkap Hushion.
Zack mempertimbangkan kata-kata Hushion dengan sungguh-sungguh. Meskipun tetap ada keraguan dalam hatinya, namun senyum tulus dari Hushion memberikan sedikit ketenangan pada dirinya. Dia memandang ke arah kawanan kambingnya lalu memikirkan kambing-kambingnya yang baru sahaja meragut rumput. Kalo dia membawanya ke kandang pasti kambingnya tidak kenyang.
Hushion melihatkan itu terus berkata.
"Aku mengerti kekhawatiranmu, Zack. Aku tahu betapa berharganya kambing-kambing ini untukmu. Kamu telah merawat mereka dengan baik selama ini. Namun, perlu kamu pahami juga bahwa sesekali, kamu juga perlu meluangkan waktu untuk dirimu sendiri dan menjelajahi hal-hal baru." ujar Hushion dengan hati-hati.
Zack merenung sejenak. "Kamu benar, Hushion. Aku mungkin terlalu fokus pada kambing-kambing ini dan lupa untuk menjalani petualangan hidup. Jika kamu ada cara untuk kawanan kambing ini untuk tetap berada di sini, maka aku akan mencoba untuk pergi ke Pekan Ningku bersamamu."
Hushion tersenyum bahagia, "Itu dia, adikku! Aku berjanji akan menjaga kambing-kambingmu sebaik mungkin. Kita akan memiliki petualangan yang tak terlupakan bersama di Pekan Ningku."
Zack mengangguk dengan senyuman di wajahnya, merasa lega dengan keputusannya. Ia tahu bahwa dengan adanya Hushion, kambing-kambingnya akan dalam perawatan yang baik.
__ADS_1
"Jadi. Apakah solusinya?" Soal Zack.
"Aah~ Jangan khawatir, Zack. Biarkan aku menunjukkan kepadamu sesuatu yang menakjubkan," ujar Hushion dengan semangat sambil berdiri.
"Menakjubkan? Apa itu?" tanya Zack dengan rasa ingin tahu yang memuncak.
"Kamu lihat, Zack. Aku akan membuat pagar untuk melindungi kawanan kambing ini," ujar Hushion penuh keyakinan.
"Pagar? Kamu benar-benar gila. Bisakah kamu melakukannya?" Zack tidak bisa menyembunyikan keraguan di wajahnya.
Hushion hanya tersenyum misterius. "Ayo, lihat ini!"
Hushion berdiri tegak, fokus memandangi area di mana kawanan kambing bergerak. Ia menghitung-hitung perkiraan luas tanah yang ingin dijadikan pagar. Lalu dengan gerakan yang penuh keanggunan, ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan membuka telapaknya.
Tiba-tiba, cahaya biru dan putih yang memukau menyelimuti keduanya. Angin kencang bertiup membawa kabut putih dan salju, mengelilingi kambing-kambing itu. Udara yang tadinya panas seketika berubah menjadi dingin dan nyaman.
Es mulai membentuk pagar yang indah di sekeliling kawanan kambing, mengurung mereka di tempat dengan rapi dan aman. Sekejap saja, pagar es itu sudah selesai dibuat, seolah-olah tarian ajaib dari kuasa Astakona Hushion.
Zack hanya diam, terpesona dengan apa yang baru saja terjadi. Ia kagum dan takjub.
Hushion melambaikan tangannya di depan wajah Zack. Namun, Zack tidak memberikan reaksi apa pun. 'Ada apa dengan dia?'
"Hey, Zack. Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu merasa sakit?"
"Bagaimana kamu bisa membuat pagar seperti ini? Dan mengapa kambing-kambing itu tenang saat kamu membuat pagar ini? Entah-entah ini yang kamu maksudkan dengan 'pagar'," tanya Zack.
"Iya," jawab Hushion sambil tersenyum.
"Astaga, kamu luar biasa, Hushion. Biasanya kamu hanya bisa mengendalikan air. Sejak kapan kamu bisa membuat es? Seberapa tinggi tahap Astakona yang kamu miliki?" Zack menjadi semakin bersemangat.
Hushion tertawa puas melihat reaksi kagum Zack. "Astakona ku? Sejak lama sebenarnya, hanya saja aku jarang menunjukkan kemampuan ini. Aku lebih sering mengendalikan elemen air, tetapi kemampuan membentuk ais juga merupakan bagian dari kuasa Astakona ku yang tersembunyi."
Zack kagum mendengarnya. "Tapi kenapa selama ini kau tidak pernah menunjukkan kemampuan itu padaku?"
Hushion menggaruk kepala, "Kau tahu, terkadang aku merasa takut atau cemas untuk menunjukkan keunikan Astakona ku. Aku khawatir orang-orang akan menganggapku aneh atau berbeda. Tapi melihatmu terheran-heran seperti ini membuatku merasa lebih percaya diri."
"Sekarang aku merasa lebih spesial, karena aku punya abang yang memiliki kemampuan hebat seperti itu," ucap Zack dengan bangga.
Hushion tersenyum bangga melihat respon adiknya. "Kamu juga spesial, Zack. Setiap orang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing, termasuk kamu sebagai Tias. Jangan pernah merasa rendah diri atau takut menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Jadilah bangga dengan dirimu apa adanya."
Keduanya pun melangkah bersama, menjelajahi Pekan Ningku dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Zack belajar untuk lebih menghargai Hushion, dan dia semakin yakin bahwa saudaranya adalah sosok yang luar biasa.
__ADS_1