ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 10


__ADS_3

Malam itu, ketika Zara sedang sibuk mengemas barang-barangnya, dia merasa getaran aneh yang mempengaruhi ruangan itu. Perkataan Bhai pada siang hari tadi terus bergema di telinganya, dan ketidakberesan ini juga dirasakannya pada patung-patung Bhai yang dikalahkannya. Bagaimana mungkin patung-patung itu mengetahui tentang peristiwa yang melibatkan ketua Hige dan akademi Astakona?


Zara menggumamkan pertanyaan dalam hati, penuh rasa ingin tahu. Ia memutuskan untuk menemui Bhai yang sudahpun tunggu di luar rumah.


Mereka berjalan sehingga ke dalam sebuah hutan. Tidak pasti itukah jalannya, Zara hanya mengikuti sahaja Bhai. Namun, tatkala hutan semakin gelap, sebuah perasaan cemas menyelimuti Zara saat tiba-tiba langkah Bhai berhenti. Matanya menatap tajam ke arah Zara, namun sesuatu terasa berbeda. Warna merah yang aneh bersinar dari matanya, dan topinya dilepas, menampakkan wajah yang tidak dikenal oleh Zara.


Hatinya berdebar kencang, dan tanpa sadar, Zara menarik tangan dari genggaman Bhai palsu tersebut. Ia merasa ketakutan dan kebingungan. "Siapa kau sebenarnya?" bisiknya dengan ragu.


Awan yang menutupi bulan purnama berlalu mencerahkan kawasan hutan itu dengan samaran cahaya.


Sosok Bhai itu menghadapinya dengan senyuman mengerikan, wajahnya menjadi jelas kelihatan dan itu adalah si Morkus, sang pembunuh yang kejam dan haus darah teman Zara!


"Kau... kau Morkus! Kenapa kau menyamar sebagai Bhai?" uajr Zara, tetapi wajahnya dipenuhi ketakutan dan amarah.


Morkus hanya tertawa dengan kejam. "Oh, gadis kecil. Aku ingin tahu Tias seperti apa kamu. Bagaimana bisa aku takut padamu. Tapi aku takkan biarkan kau berbicara!" Ancamnya, dan matanya yang merah, memancarkan aura jahat yang menakutkan.


Zara menggigit bibirnya, mengepalkan tangannya, dan berusaha menenangkan diri. "Aku tidak akan memberitahumu apa-apa! Dan aku akan memastikan kau tidak akan mencelakai siapapun lagi!" ucapnya dengan tekad yang mantap.


"Jadi apa yang kau inginkan? Mau membunuhku? Serius? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membunuhku! Malah aku yang akan membunuh mereka! HAHAHA!" Morkus tertawa dengan sombongnya.


Perasaan marah memuncak dalam diri Zara saat melihat keangkuhan Morkus. Tanpa ragu, gelangnya berubah menjadi merah menyala, dan api membara keluar dari tangannya, mengarahkan serangannya ke arah Morkus. Namun, Morkus berhasil menghindar dengan cepat.


"Huh?! Apakah kau benar-benar berniat untuk membunuhku?" tanya Morkus dengan tatapan heran.


"HAHA. Lihatlah sekelilingmu!" balas Morkus dengan sikap percaya diri.


Zara dan Morkus kini dikelilingi oleh kumpulan berjubah hitam, siap untuk bertindak jika ada apa-apa yang terjadi kepada ketuanya, Morkus. Mereka merupakan pasukan sokongan yang setia untuk membantu Morkus dalam rencananya.

__ADS_1


Morkus dengan cepat bergerak mendekati Zara dan tiba-tiba menghembuskan serbuk aneh yang membuat Zara kehilangan kesadaran. Ia pun pingsan dan terjatuh.


Dalam keadaan tak sadarkan diri, Zara bermimpi. Dia melihat Kedidi datang mendekatinya dengan wajah cemas, mencoba membangunkannya.


Namun, di dunia nyata, Morkus berada dalam perjalanan menuju tempat Zara berada, berniat untuk mengakhirinya selamanya.


Tiba-tiba, gelang Zara berubah menjadi warna emas, dan semua permata di dalamnya berubah warna menjadi warna kesemua elemen Astakona. Cahaya emas yang menyilaukan menyinari seluruh area sekitar, membuat kumpulan berjubah hitam itu menjadi buta sementara.


Morkus mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada kumpulannya untuk tidak bertindak. Dia tahu bahwa cahaya emas itu dapat membahayakan mereka.


Saat cahaya emas mereda, Morkus dan pasukannya pergi, meninggalkan Zara yang masih pingsan di tempat itu.


Ketika Zara akhirnya terjaga pada pagi hari, dia menyadari bahwa dia berada di luar rumah dan bukan lagi di hutan. Ternyata dia hanya mengalami penglihatan semu pada malam sebelumnya.


Zara segera berlari menuju pekan Ningku untuk mencari Bhai. Saat menemukannya, dia kaget melihat Bhai diikat di depan sebuah toko.


Mereka memberitahu bahwa Bhai telah mabuk dan merusak harta benda di sekitar pekan, sehingga mereka mengikatnya agar tidak menyebabkan masalah lebih lanjut. Mereka mengungkapkan bahwa Bhai sudah terikat selama tiga hari.


Tanpa ragu, Zara segera membuka ikatan yang mengikat Bhai. Namun, saat mencoba membangunkannya, Bhai tidak menunjukkan reaksi apa pun. Zara mendapatkan sebuah baldi anti terapung, mengambil air dari sumur, dan menuangkan air itu ke wajah Bhai dengan harapan untuk membangunkannya.


Akhirnya, Bhai terbangun dan melihat Zara berdiri di hadapannya dengan sikap tegas.


"Bhai, apa yang terjadi padamu?" tanya Zara khawatir.


Bhai tersenyum lemah. "Maafkan aku, Zara. Aku tidak bisa mengingat banyak hal, tapi aku tahu aku telah membuat masalah dan menyusahkanmu."


Zara mencoba menenangkan Bhai. "Jangan khawatir, Bhai. Yang penting, kau sudah sadar sekarang. Aku akan membantumu pulih."

__ADS_1


Dengan bantuan Zara, Bhai akhirnya pulih dari pengaruh mabuknya.


Di tengah suasana yang tenang, Zara duduk bersama Bhai di danau, tempat mereka sering berlatih. Dia menceritakan apa yang terjadi semalam, bagaimana ia tiba-tiba bertemu dengan Morkus, sosok yang sulit dijejaki dan sangat berbahaya. Bhai terlihat agak terkejut mendengar cerita tersebut, seakan tidak percaya bahwa Zara benar-benar dapat bertemu dengan Morkus.


"Bahkan aku sendiri sulit melacak keberadaannya, bagaimana mungkin kau bisa bertemu dengannya?" ujar Bhai dengan rasa heran.


Lalu, Zara bercerita tentang peristiwa hitam yang dialaminya bersama teman-temannya yang tragis. Kemungkinan, Morkus datang membalas dendam kerana keberaniannya mencabar Morkus.


Bhai mengernyitkan kening mendengar kisah itu dan merasa bersyukur bahwa Morkus tidak berhasil melakukan apa pun terhadap Zara.


"Mujur saja kau berhasil menghindarinya," ujar Bhai dengan lega.


Zara mengangguk, merasa bersyukur atas pertolongan tak terduga yang ia dapatkan saat itu.


Bhai menyadari bahwa nyawa Zara saat ini sedang berada dalam bahaya jika terus berada di luar. Bhai dengan bijaksana menyarankan agar Zara mencari tempat aman, dan tidak ada tempat yang lebih tepat selain Akademi Astakona.


Namun, bagi Zara itu sangat sulit baginya.


"Sulit memang, tapi itu adalah jalan terbaik untukmu, Zara. Akademi adalah tempat yang aman bagimu keran disana kawalannya sangat ketat." kata Bhai dengan serius.


Bhai juga menegaskan agar Zara selalu berhati-hati dan peka dengan keadaan sekelilingnya. Keberadaan Morkus dan kumpulan berjubah hitam bakal mengancam keselamatan Zara, dan Zara harus selalu waspada.


Bertekad untuk memberikan perlindungan terbaik untuk Zara, Bhai memutuskan untuk membawanya ke Akademi Astakona. Saat itulah, Zara akan mendapatkan pelatihan dan pendidikan yang lebih baik untuk melindungi dirinya dari bahaya.


Bulan depan adalah waktu kemasukan pelajar baru di akademi, dan Bhai mengajukan izin kepada Mak Zalilah untuk membawa Zara ke sana. Mak Zalilah dengan ikhlas memberikan izinnya, dan dia tidak mempermasalahkan jika Zara ingin pergi dan tinggal di akademi. Baginya, yang terpenting adalah hilang beban baginya.


Dalam sebulan menjelang pembukaan akademi, Bhai dengan tekun mengajarkan berbagai hal kepada Zara. Mulai dari undang-undang dunia Astakona, pemilihan desa, sistem pembelajaran, dan kokurikulum. Zara belajar dengan sungguh-sungguh dan giat menyerap semua pengetahuan yang diajarkan oleh Bhai.

__ADS_1


__ADS_2