ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 4


__ADS_3

Hushion berlari ke arah pintu depan dengan hati yang berdebar kencang. Namun, ayahnya berhasil menahannya dengan cara memegang bahunya dengan tegas. Hushion merasa bingung dengan senyuman jahat yang terukir di wajah ayahnya. Rasa cemas mulai memenuhi pikirannya saat ayahnya mendekatkan bibirnya ke telinganya dan berbisik dengan nada amaran yang tegas.


"Hushion, jika kamu melangkah keluar, anggap saja hari ini adalah hari terakhir kamu mengenal dia."


Kata-kata itu membuat Hushion semakin bingung dan merasa seperti orang bodoh.


"Apa maksud Ayah?" tanyanya dengan suara gementar.


Ayahnya melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke meja. Dia meraih gelas yang terbalik dan menuang kopi yang sebelumnya dibuat oleh Zack. Tanpa ragu sedikit pun, ayahnya menghirup kopi itu dengan tenang. Lalu dia berkata dengan nada yang dingin, "Terserah kamu. Pilihan ada di tanganmu sekarang."


Hushion merasa seakan ditantang oleh kata-kata ayahnya. Dia menyaukkan seliparnya tanpa mempedulikan konsekuensi yang mungkin akan terjadi. Fikirannya hanya ada pada Zack, yang telah pergi dari rumah itu. Dia berlari keluar mencari adiknya, tanpa memikirkan apa pun selain mencari dan menyelamatkan Zack.


Dalam perjalanan mencari Zack, Hushion merenungkan kata-kata ayahnya. Dia merasa penuh keraguan dan kebingungan. Tapi, dalam hatinya, tidak ada perasaan goyah untuk melindungi Zack. Mereka adalah saudara, dan Hushion berjanji akan selalu ada untuk adiknya, tanpa peduli apa pun yang terjadi.


Hari semakin gelap dan awan gelap menutupi cahaya senja petang. Perlahan-lahan, tetesan air hujan mulai jatuh dengan lebatnya. Zack terus berjalan menyusuri hutan, melangkah semakin dalam dan semakin jauh dari rumah. Setiap langkahnya diiringi rasa kelelahan yang menyusup ke dalam tubuhnya.


Akhirnya, Zack berhenti di sebuah pohon besar. Dia merasa sangat lelah, dan pandangannya semakin terbatas oleh gelapnya hutan dan rintik-rintik hujan yang semakin lebat. Dengan napas terengah-engah, dia merebahkan punggungnya di akar pohon besar tersebut, lalu merapatkan kaki rapat ke badannya untuk menghangatkan diri.


Dia memeluk kakinya dengan kedua tangannya, mencoba meredakan perasaan bingung dan kesedihan yang menghantui hatinya. Air matanya tercampur dengan air hujan yang mengalir di pipinya. Zack merasa kelelahan fisik dan emosional yang begitu mendalam. Dia masih dalam keadaan terpaku, hatinya terluka oleh kata-kata ayahnya yang tajam dan menyakitkan. Dia merasa terhina dan tidak dihargai sebagai bagian dari keluarga.


Hujan semakin deras, menciptakan suara gemuruh yang mengisi hutan. Tetesan air hujan turun dengan lebatnya, membuat semak-semak dan dedaunan menjadi semakin basah.


Namun, tiba-tiba ayahnya muncul tepat di hadapannya, membawa payung untuk melindunginya dari hujan, serta membawa sebuah pelita ayam yang menerangi tempat itu, perasaan bingung semakin menggelayut di hatinya. Dia bingung bagaimana ayahnya bisa mengetahui keberadaannya di sini.


Ayahnya menatapnya dengan ekspresi yang penuh perhatian, meskipun dia menghina anaknya. Ayahnya berbicara dengan lembut, mencoba menjelaskan maksud di balik ujian yang dia berikan.


"Selemah inikah kamu, Zack? Ayah hanya ingin menguji kemampuanmu, tetapi tidak menyangka bahwa kamu masih berada di tingkat yang ayah harapkan. Jika kamu sudah menyerah oleh kata-kata yang menyakitkan, bagaimana kamu akan bertahan dalam kehidupan yang keras dan penuh rintangan? Akademi astakona bukanlah tempat untuk bermain-main, melainkan sebuah medan latihan yang menghadirkan tantangan berat."


Zack menatap ayahnya dengan wajah kebencian dan kesedihan yang terlihat jelas di matanya. Mukanya sembab karena air mata yang mengalir deras.


"Tak ada gunanya Astakona, jika duri sudah melintang di jalanan. Tak ada gunanya Astakona, jika diri sudah lemas di lautan. Kritikan dan penghinaan bukanlah satu-satunya jalan penyelesaian. Malah, itu akan menjadi kebinasaan," ujar Zack.

__ADS_1


Ayahnya meletakkan pelita ayam di samping Zack dan menatap wajah anaknya.


"Huh~ Kamu masih belum memahami mengapa ayah melakukan semua ini. Terus terang, kamu memang menjadi beban bagi keluarga kita. Ayah telah mencoba berulang kali berbicara denganmu, tapi kamu tetap tidak memahaminya. Kamulah anak yang membawa sial bagi keluarga kita. Sejak lahir hingga sekarang, sial ini terus menimpa kita. Maka ayah ingin mengakhiri hubungan ini agar tidak berlarut-larut. Dengan cara membunuhmu, aku yakin sial ini akan hilang."


Zack terdiam, matanya membulat.


Ayahnya meletakkan payung di samping Zack, menyebabkan keduanya basah kuyup dalam hujan, lalu dia tersenyum.


"Kamu pikir ayah sekejam itu, Zack? Ayah dan abangmu mencintaimu."


Ayahnya berlutut di depan Zack. Mereka saling menatap dengan mata penuh perasaan lalu memeluk anaknya itu.


"Tapi demi kebaikan abangmu, ayah terpaksa memutuskan hubungan kalian berdua. Maafkan ayah."


Kemudian, dia meletakkan tangannya di atas kepala Zack. Zack tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya. Tiba-tiba, badannya menjadi kaku seperti batu, dan mulutnya terasa terkunci rapat. Di hadapannya, dia melihat ayahnya berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Aura jahat muncul di sekitar mereka berdua. Zack menjadi ketakutan, merasa seperti melihat seseorang yang bukan ayahnya lagi.


"Zack Budiman. Hari demi hari, masa berganti masa. Kamu akan melupakan segala kisah yang telah terjadi dalam hidupmu, termasuk orang-orang yang kamu cintai. Hushion Budiman dan ayahmu tidak akan pernah muncul dalam hidupmu, dan kamu tidak akan mengenal siapa mereka."


"Astakona Ungu ke-4, Astakona Memori. Hilang!" ucap ayahnya.


Zack terkejut. Dunianya menjadi gelap gulita. Perasaan campur aduk yang tadi dirasakannya menghilang dalam sekelip mata. Akhirnya, dia rebah di tempat itu.


Ayahnya mengangkat Zack yang terkulai lesu.


"Maafkan ayah. Ayah tahu ini salah, tetapi ini untuk kebaikan keluarga kita."


Hushion merasa putus asa. Dia menyadari bahaya di luar sana. Maka dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke dalam hutan, terutama karena sudah larut malam. Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah sambil berdoa agar Zack selamat dan kembali dengan selamat.


Hushion, dengan bajunya yang basah kuyup, melangkah masuk ke dalam rumah.


Pandangannya tertuju pada sofa ruang tamu. Ayahnya terlihat duduk di sana dengan santainya, seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi.

__ADS_1


"Hushion. Cukup sudah. Biarkan saja dia."


Hushion merasa sangat marah.


"Ayah tidak akan pernah mengerti perasaanku! Aku pulang ke rumah, mengambil tanggung jawab untuk menjaga Zack seperti yang kujanjikan pada ibu sebelum dia meninggal. Dan apa yang ayah lakukan? Ayah hanya ingin memisahkan aku dari Zack!"


Ayahnya terdiam. Ia meletakkan cangkir yang dipegangnya dan kemudian berdiri, mendekati Hushion. Ia memegang bahu anak kesayangannya itu.


Badan Hushion tiba-tiba terasa kaku. Dia menatap ayahnya. Mata mereka bertemu dalam tatapan penuh makna. Jantungnya berdegup kencang. Dia merasakan kehadiran Astakona yang kuat mengelilinginya, hingga pandangannya perlahan kabur. Dia berusaha melawan pengaruh Astakona, tetapi dia merasa kalah.


"Jika begitu, lebih baik kau lupakan janjimu. Ibu sudah lama meninggal dan kau sendiri tahu apa penyebab kematiannya. Ayah tahu, kau mencintainya, tapi kehidupan harus terus berjalan karena kita hanya hidup sekali. Ingatlah, Hushion, musuh takkan berhenti hingga mereka menghancurkan keamanan kita. Kehadiranmu di akademi bukan tanpa alasan, kamu melindungi rakyat negara kita. Sambil itu, kau juga dapat melindungi Zack." Ujar ayahnya.


Kemudian ayahnya meletakkan tangannya di atas kepala Hushion. Cahaya ungu muncul dari tangannya, kali ini lebih terang dan intens.


Hushion Budiman. Hari demi hari, masa berlalu begitu cepat. Kau akan melupakan segala kisah yang telah terjadi dalam hidupmu. Tujuan hidupmu adalah menjadi pahlawan tertinggi, pemegang Astakona. Zack Budiman hanyalah menjadi beban bagi kesuksesanmu, dan dia tidak akan pernah ada dalam kehidupanmu. Kamu tidak akan mengenal siapa dia."


"Astakona Ungu ke-4, Astakona Memori. Hilang!"


Setelah ayahnya mengucapkan mantra itu, Hushion rebah tak berdaya di lantai.


Keesokan harinya. Hushion telah menyiapkan begnya untuk pergi ke akademi. Dia mengenakan pakaian khas yang rapi, dan rambut putihnya diikat dengan rapi.


Zack melihat Hushion menaiki kendaraan dengan delapan kaki dan empat roda. Dia bingung dan bertanya-tanya siapa pemuda berambut putih itu.


Di sisi lain, Hushion juga memperhatikan kanak-kanak berambut merah pendek itu. Dia juga bingung mengapa anak kecil itu ada di dalam rumahnya.


Keduanya saling menatap dari kejauhan, namun mereka tidak mengenali satu sama lain. Sebuah takdir misterius telah menghapus kenangan mereka, meninggalkan mereka dalam kebingungan dan ketidakmengertian.


Di rumahnya, kambing-kambing yang sudah lama menjadi teman setia telah dijual. Ayahnya pun memutuskan untuk memberi gaji kepada Mak Zalilah sebagai pengasuh dan penjaga Zack. Meskipun upah yang diberikan tidaklah banyak, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka.


Pada saat Zack hendak berangkat, Mak Zalilah tiba dengan senyum hangatnya saat bertemu ayahnya. Dia dengan penuh perhatian membawa Zack pergi dari rumah mereka. Sebelum berpisah, ayahnya memberikan pesan rahasia pada Mak Zalilah, agar tidak membiarkan Zack pergi ke tempat yang berbahaya.

__ADS_1


Sejumlah uang hasil penjualan kambing kemudian diberikan kepada Zack sebagai hadiah. Setelah Mak Zalilah membawa Zack pulang ke rumahnya, ayahnya dan Hushion bersiap-siap meninggalkan rumah untuk berangkat ke bandar menuju ke pelabuhan. Mereka akan memulai perjalanan ke destinasi, aitu Nakasta, sebuah kota yang menjadi pusat kerajaan bagi 8 negeri dimana terletaknya Akademi di sana.


__ADS_2