ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 7


__ADS_3

Indra kembali ke Nakasta, negeri tempat terletaknya Akademi. Namun, raut wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan sedikit pun. Banyak orang menyambutnya di sana, terutama para dosen yang pernah mengajarnya, termasuk dari Desa Maroon.


Indra merasa malu dan tertunduk merasa seperti seorang penjahat besar. Dia telah meninggalkan akademi dengan cara menyertai askar kecil Astakona untuk menjalankan misi berdekatan kampungnya. Ia berharap bisa kembali ke akademi dengan kepala tegak dan dihormati oleh Desanya, namun kenyataannya ia harus kembali dengan kepala tertunduk karena kegagalan dalam menjalankan misi sebagai seorang senior Akademi.


Maria mendekati Cynnirix lalu mencubit lengannya.


"Sakitlah." Marah Cynnirix.


"Hei, Cynnirix. Mengapa kau membawa kita ke tempat ini? Kau ingin semua orang tahu bahwa kita gagal dalam misi?" bisik Maria kepada Cynnirix.


"Hmpp! Haha. Aku senang seperti ini. Bukan aku yang menjadi ketua dalam misi ini. Lihatlah si dungu yang bersedih itu, dia yang begitu bangga menjadi ketua dalam misi ini kan? Sudah ku bilang rancangannya pasti gagal tapi kalian tidak mahu mendengarnya dari awal. Sekarang, dialah yang harus menanggung akibatnya," ujar Cynnirix dengan angkuh.


"Cukuplah dengan kesedihan yang dia alami. Kenapa kau harus menambah beban ini lagi? Apakah tidak ada jalan lain yang bisa kau pilih? Mengapa harus teleport di tengah keramaian seperti ini?" tanya Maria.


"Suka-suka aku, aku akan menggunakan jalan mana pun yang ku mau. Lagipun, ini jalan yang paling dekat untuk ke pusat tahanan." jawab Cynnirix dengan marah.


Meskipun suasana riuh dan penuh keramaian, hati Indra semakin berat karena komentar Cynnirix. Dia merasa semakin tertekan dan tidak tahu bagaimana menghadapi masa depannya di akademi.


. . .


Indra dan temannya dihadirkan di hadapan Mahkamah Akademi. Di ruangan itu, hadir berbagai macam orang, termasuk pegawai tentara, dosen, hakim, para wartawan, dan beberapa penduduk kampung yang memberikan kesaksian untuk membela nasib Indra dan kawan-kawannya.


"Hari ini, Mahkamah telah memutuskan untuk mengadili saudara Indra dan temannya. Berdasarkan pasal kanun keseksaan Astakona bagian (21), ditegaskan bahwa setiap Aske (askar kecil) Astakona yang gagal dalam menjalankan misi, seperti misi yang menyebabkan korban tewas, pelaku kejahatan berhasil melarikan diri, serta misi dengan tujuan lain yang gagal, harus menyerahkan diri untuk berkhidmat hanya di akademi, serta sementara waktu akan dicabut izin mereka untuk terlibat dalam misi di luar wilayah Astakona. Dengan kata lain, mereka tidak akan dipilih kembali untuk menjadi Aske di masa depan." ujar Hakim dengan tegas.

__ADS_1


"Saya setuju, Yang Mulia," sahut semua saksi yang hadir.


"Beri mereka waktu untuk beristirahat dari misi. Sejatinya, misi ini bukanlah tugas yang mudah. Kelompok Hige sangat kejam dan sulit untuk dikejar. Hanya orang yang pernah berhasil menangkap mereka yang tahu betapa beratnya misi itu. Pasti mereka masih mengalami trauma. Lagipula, ini merupakan misi pertama bagi mereka," sambung saksi.


Indra dan teman-temannya merasa lega mendengar putusan tersebut. Meskipun mereka harus menjalani hukuman, mereka juga diberi kesempatan untuk beristirahat dan pulih dari pengalaman mengerikan tersebut. Misi mereka telah membawa banyak kesulitan dan tantangan, namun ini juga merupakan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan tumbuh menjadi lebih kuat.


Pada akhirnya, Mahkamah mengeluarkan keputusan yang adil, memberikan Indra dan kawan-kawannya kesempatan untuk memulihkan diri dan menghadapi masa depan dengan penuh keteguhan dan keberanian. Kini, mereka harus belajar dari pengalaman pahit itu dan menjadi lebih siap untuk misi-misi mendatang yang mungkin lebih sulit lagi.


Mereka semua bersurai dari mahkamah. Kumpulan Indra dan teman-temannya keluar, dan di saat itu, Hakim bertemu dengan mereka. "Tidak apa-apa. Meskipun kalian mendapat hukuman pergantungan lisensi hari ini, semangat kalian layak dipuji karena berani menjalankan misi besar ini. Aku berharap kalian tidak saling menyalahkan satu sama lain karena kegagalan ini. Tetaplah berusaha. Kegagalan pertama mungkin tidak membawa kesuksesan, tetapi memberikan kalian pengalaman berharga," kata Hakim.


Mereka semua mengangguk sebagai tanda setuju dengan kata-kata terakhir Hakim sebelum dia pergi.


"Aku harus pulang duluan. Ada urusan yang harus kuselesaikan," ujar Haise sambil segera meninggalkan mereka.


"Kamu itu, pekerjaanmu bertimbun, tapi tidak pernah mau dikerjain. Selalu saja kubereskan pekerjaanmu," ujar Maria pada Cynnirix.


"Terus apa tugasmu menjadi pembantuku selama ini?" Soal Cynnirix.


"Apa?! Baiklah, mulai hari ini aku tidak akan lagi menjadi pembantumu! AKU RESIGN! Rasain lo kalo gue ga ada." balas Maria dengan tegas.


"Hmpph. Resign yang ga pernah kesudahan. Nanti kamu akan membantu aku lagi. Dasar betina. Banyak bicara tapi tidak serupa tindakan," ujar Cynnirix.


"Mendingan kamu jangan bicara kayak gitu loh. Kamu bakalan sakit kalo Maria ga ada." Tegur Indra kepada Cynnirix.

__ADS_1


"Teros? Apa kaitan sama kamu? Hmph! Gara-gara lo, gue digantung lesen Aske. Mau nasihatin orang tapi ga liat diri di cermin duluan." Ujar Cynnirix dengan angkuhnya sebelum pergi meninggalkan Indra dan Buceros.


Indra dan Buceros saling pandang, tidak tahu harus bagaimana menghadapi teman-teman mereka.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Indra pada Buceros.


"Aku ingin menghadiri latihan junior untuk pembukaan Sukma bagi para siswa baru sesi berikutnya. Maukah kau ikut?" tawar Buceros.


"Bisa juga. Junior-juniorku pasti juga akan ada di sana," jawab Indra.


"Sebelum itu, apakah kamu punya telepon?" tanya Indra.


"Maaf, Indra. Itu adalah aturan khusus yang berlaku bagimu. Kamu dilarang untuk berhubungan dengan dunia luar hingga masa hukumanmu selesai," ujar Buceros.


Indra hanya tersenyum getir, namun hatinya sangat sedih. Rasanya sulit baginya untuk berpisah dengan dunia luar dan tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang dicintainya.


"Berapa lama masa hukumannya?" tanya Indra.


"Mungkin sekitar tiga bulan," jawab Buceros.


Indra hanya bisa mengangguk, menandakan bahwa ia mengerti dan menerima hukuman yang diberikan. Meskipun hatinya berat, dia tahu ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus dihadapi setelah kegagalan dalam misi.


"Yuk ke sana." Ujar Indra.

__ADS_1


Mereka berdua mengambil langkah menuju ke lokasi pelatihan, menyadari bahwa meskipun misi pertama mereka gagal, masih banyak hal yang harus mereka pelajari dan jalani di Akademi. Mereka bertekad untuk menjadi lebih kuat dan berpengalaman agar di masa depan, mereka bisa berhasil dalam misi yang lebih besar lagi. Kegagalan hanyalah langkah awal menuju kesuksesan yang sejati.


__ADS_2