![ASTAKONA [LAPAN PENJURU]](https://asset.asean.biz.id/astakona--lapan-penjuru-.webp)
Hari pertama di akademi dimulai dengan suasana yang tidak karuan. Ketika jam 8 pagi tiba, muka para pelajar baru tampak mengantuk dan lelah. Mereka berasal dari berbagai desa, dan semuanya tampak kepayahan mengatasi kelelahan dari hari sebelumnya.
Tak lama kemudian, beberapa orang dosen muncul dan memasuki dewan kuliah yang besar. Dengan langkah tegas, mereka berjalan menuju papan tulis, dan salah satu di antara mereka menulis namanya dengan tulisan indah: Professor Arawsar. Namun, pandangan para pelajar masih terlihat kusut dan kurang fokus.
"Ehem," Profesor Arawsar berdehem, berusaha menarik perhatian mereka. Namun, belum ada yang benar-benar mendengarkannya.
Dengan tatapan serius, Professor Arawsar menghulurkan tangannya dan mulai membacakan kalimat, "Astakona Mustard pertama, panggilan perosak alam."
Tiba-tiba, di bawah kaki para pelajar muncul tikus-tikus dan lipas-lipas yang bergerak ke sana kemari. Mereka panik dan berteriak histeris, merasa seperti kiamat tiba-tiba datang. Hari pertama kelas mereka sudah berubah menjadi kekacauan karena ulah dosen ini. Namun, Professor Arawsar hanya tertawa dengan penuh kesenangan, seolah menikmati adegan lucu yang dipertunjukkan.
Dia kemudian mengambil mikrofon dan dengan santainya berkata, "Hilang!"
Tikus-tikus dan lipas-lipas pun lenyap dari dewan kuliah, dan suasana pun kembali tenang.
"Dengan cara ini, semoga kalian lebih fokus," kata Professor Arawsar dengan nada mengejek.
"Selamat datang, wahai pelajar baru. Saya adalah Professor Arawsar, dan di sini saya akan mengajar kalian tentang setiap peraturan dan cara pembelajaran di akademi ini, termasuk jadwal pembelajaran, etika berpakaian, sistem pembelajaran, dan transportasi. Dan tentunya, juga segala aspek pentadbiran di sini," lanjutnya.
Profesor Arawsar kemudian memperkenalkan dosen-dosen lain yang akan mengajar di akademi ini. Dosen Meliana dari desa Ungu akan mengajarkan Chemia, ilmu kimia yang misterius. Dosen Owel dari desa Hitam akan mengajarkan senjata dan mantera asas. Dosen Jarek dari desa Maroon akan mengajarkan strategi dan taktik perang. Dosen Budiman dari desa Putih akan mengajarkan tentang kesasteraan dan sejarah yang melingkupi dunia ini. Dan Dosen Ana dari desa Seij akan membimbing para pelajar dalam memahami cara hidup dan bertahan di alam yang liar.
Setiap dosen berdiri dengan gagah dan menunjukkan dirinya dengan penuh semangat. Para pelajar baru menatap mereka dengan kagum.
Setelah sesi di dewan kuliah selesai, mereka semua bergerak ke kafe utama di bangunan pentadbiran. Di sana, Zara dan teman sebiliknya mengambil beberapa makanan dan duduk di meja bulatan yang nyaman.
"Fuh, tadi aku sangat mengantuk," ujar Fifi.
"Hmm, bukan hanya kau saja," balas Kal.
"Tapi seru juga tadi main-main sama tikus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kita semua saat profesor mengeluarkan semua tikus itu," ujar Zara sambil bercanda.
__ADS_1
"Tapi lebih baik lagi kalau dia mengeluarkan ular juga, mungkin ada yang harus dibawa ke rumah sakit di hari pertama pembelajaran," ujar Kal dengan candaannya.
Mereka tertawa kecil mendengarkan celoteh kocak teman-teman mereka. Namun, tiba-tiba terdengar suara pergaduhan di belakang mereka. Pelajar dari desa Maroon dan desa Hitam sedang bertengkar karena berebut tempat duduk. Atmosfer menjadi tegang, dan suasana menjadi tidak nyaman.
"Badan besar tapi otak kecil. Pergilah cari meja lain. Lo pikir dengan ukuran tubuhmu, kami akan takut padamu? Atau mungkin lo harus menggunakan Astakona mu untuk membuat meja sendiri sana." ujar salah seorang pelajar dari desa Maroon dengan amarah.
Pelajar dari desa hitam sangat marah mendengar kata-kata itu. Selagi dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, selagi itu dia akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung memukul pelajar lelaki itu hingga pengsan.
"Ada lagi yang ingin berkelahi?" tantangnya dengan marah.
Semua pelajar lain berundur, termasuk teman-teman dari desa Maroon yang mencari meja lain. Zara melihat kejadian itu dengan kemarahan, dia berdiri tetapi Fifi menahannya lalu menggelengkan kepala.
Namun, tiba-tiba teman-teman pelajar lelaki yang tadi dipukul mendekati mereka setelah melihatkan pakaian mereka. Dia meminta bantuan untuk merawat sahabatnya yang terluka dan memandang ke arah Zara. Namun, Zara sebenarnya marah dengan apa yang terjadi, tapi dia menahan diri. Sesaat Ji bangkit, menawarkan diri untuk membantu merawat pelajar yang terluka itu setelah sadar bahawa Zara adalah Tias.
Dengan penuh perhatian, Ji membantu pelajar yang terluka dan berusaha menenangkannya. Pandangan Zara melihat kejadian itu, akhirnya dia sadar bahwa dalam dunia magis ini, ada lebih banyak hal yang perlu diperhatikan daripada pergaduhan dan perselisihan antar-desa. Ada kerja sama, pertolongan, dan kebaikan hati yang harus mereka tunjukkan sebagai satu keluarga besar di akademi ini.
Di meja makan, Cynnirix menegur tentang perkelahian pelajar baru yang baru saja terjadi. Haise, yang juga duduk bersama mereka, ikut mengomentari, "Biasa deh, kamu juga dulu begitu."
Mereka berdua makan bersama, dan Cynnirix melihat sepotong sosej di piring Indra. Tanpa ragu, Cynnirix langsung mengambilnya, namun Indra tidak bereaksi seperti biasanya.
"Lo kenapa?" tanya Cynnirix heran sambil mengemil sosej itu, karena biasanya Indra akan langsung bereaksi saat diambil makanan oleh orang lain.
"Aku hanya ingin keluar dari sini," ujar Indra dengan suara terdengar murung.
Cynnirix dan Haise menjadi bingung.
"Ceritakanlah, apa yang membuatmu seperti ini? Kemarin-kemarin kan tidak seperti ini," tanya Haise mencoba mencari tahu.
Indra mengangguk, memberi isyarat bahwa dia ingin menceritakan sesuatu lalu menceritakannya, "Kemarin, aku melihat Raira bercumbu dengan cowok lain di sebuah lorong gelap dan sepi sebelum sampai ke kafe. Aku sangat mengenal dia dan aku tahu siapa cowok itu."
__ADS_1
"Dan. Malam itu juga, dia bertemu denganku di kafe desa. Tanpa segan mahupun malu dia menegurku dengan suara begitu menggoda lalu memelukku dengan erat. Namun, pada waktu itu aku sangat kecewa samanya."
Cynnirix dan Haise tampak terkejut mendengar cerita Indra. Mereka berdua berusaha memberikan dukungan, "Wah, bro, pasti patah hati banget ya. Tapi jangan khawatir, kami ada di sini untukmu."
Zara dan temannya bangun dari bangku meja untuk meletakkan piring yang digunakannya. Dia berbicara sama temannya dengan ketawa kecil. Pada waktu itu, Zara berjalan jaraknya 2 meter dari Indra.
Indra mendengarkan itu menjadi kaget seketika kayaknya seperti kenal banget dengan suara itu. Dia segera berpaling ke sebelah kanannya. Gadis itu persis Zara tetapi rambutnya yang pendek diikat rapi dan dia sedang memakai pakaian dari Seij. Dia sangat terkejut dan ianya seperti mimpi.
Indra mencoba mengumpulkan kembali pikirannya, tetapi hatinya masih berkaca-kaca. "Tapi, aku yakin itu Zara. Aku mengenali senyumnya, pandangannya, semuanya. Tidak mungkin aku salah," ujarnya dengan penuh keyakinan.
"Hah? Zara? Teman lo? Bro, mungkin lo hanya terlalu terguncang dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini," Cynnirix mencoba menenangkan Indra.
"Ingatlah, kita berada di akademi. Mana mungkin teman lo ke sini. Bisa saja itu hanya ilusi dalam fikiran lo." Tambahnya lagi.
Indra mencoba memahami perkataan Cynnirix, tetapi dalam hatinya masih yakin bahwa yang dilihatnya tadi adalah Zara yang sesungguhnya. Dia ingin memastikan kembali, jadi tanpa ragu, dia berjalan mencari Zara di antara kerumunan pelajar.
"Indra, tunggu dulu!" seru Haise yang berusaha mengikuti langkah Indra.
Namun, Indra sudah terlanjur terburu-buru. Dia terus berlari mencari Zara. Hati dan pikirannya campur aduk, tidak tahu harus percaya apa.
Akhirnya, Indra menemukan sosok yang dia yakini sebagai Zara di kaunter pembayaran. Hatinya berdebar kencang saat dia mendekatinya.
"Zara, ini aku, Indra!" serunya dengan penuh harap.
Namun, sosok itu hanya menatapnya dengan ekspresi bingung, dan dia benar-benar bukan Zara. Indra merasa kecewa dan hampir menyerah, tetapi dia tidak bisa menghapus keyakinannya bahwa dia melihat Zara.
Sementara itu, Cynnirix dan Haise tiba di tempat Indra berada. Cynnirix menghela nafas, "Lihat, dia memang sudah terlalu terguncang dengan peristiwa kemarin. Halusinasi mungkin." Ujarnya kepada Haise.
Haise menghampirinya lalu mengusap bahu Indra dengan penuh empati, "Kita harus bawa dia ke tempat istirahat. Dia butuh waktu untuk merenungkan semuanya."
__ADS_1