ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 12


__ADS_3

Empat hari yang melelahkan akhirnya berakhir, dan para calon terpilih seramai 800 orang diwajibkan menghadiri acara pembukaan di akademi. Setelah acara pemilihan selesai, orang tua dan penjaga pun kembali ke negeri masing-masing setelah mengetahui status anak-anak mereka di akademi.


Namun, Zara merasa berat hati karena Bhai belum juga muncul. Mungkin Bhai sudah kembali ke rumah ketika giliran wawancaranya tiba. Di antara momen kebahagiaan dan kegembiraan yang dia alami selama acara pembukaan, ada perasaan hampa yang tidak dapat dia singkirkan.


Pada hari pembukaan, suasana di akademi begitu meriah. Setiap peserta diberikan seragam resmi dan santai sesuai dengan desa asal mereka. Para senior dari setiap desa dipilih untuk membimbing para pelajar baru, membawa mereka mengelilingi beberapa kawasan penting di akademi.


Setelah melewati tur panjang mengelilingi akademi, para senior membawa para junior baru ke desa mereka masing-masing, dibantu oleh senior dari desa ungu melalui sebuah portal khusus.


Zara merasa tertarik dengan sistem desa di akademi ini. Setiap desa memiliki tempat belajar tersendiri, dengan pendekatan dan gaya pengajaran yang berbeda-beda. Desa-desa tersebut saling berinteraksi dan berkolaborasi, menciptakan lingkungan belajar yang unik dan menarik.


Di saat matahari mulai terbenam di langit senja, Zara dan rombongannya tiba di Desa Seij. Mereka dikejutkan oleh pemandangan luar biasa. Ianya membawa mereka ke dunia hutan-hutan yang indah, di mana pepohonan menjulang tinggi ke langit dan memberikan rasa teduh yang menyenangkan. Desa Seij seakan berada di alam gaib, tempat di mana alam semesta menyentuh bumi dengan kelembutan.


Rumah-rumah asrama yang mereka tempati dipenuhi dengan aroma kayu yang harum, karena dibangun dengan penuh cinta menggunakan bahan-bahan alami yang tumbuh di sekitarnya. Bentuknya unik seperti cendawan raksasa, mencerminkan keindahan alam sekitarnya.


Setiap langkah yang diambil Zara di desa ini terasa seperti menyentuh permadani hijau yang lembut.


Bunyi kicauan burung yang merdu berpadu dengan suara gemericik aliran sungai yang tenang. Seperti simfoni alam, harmoni suara ini menyentuh jiwa dan mengisi hati Zara dengan ketenangan dan kedamaian.


"Ouh ya. Malam ini, semua jangan tidur. Akan ada pertunjukan istimewa dari para senior kalian sebagai tanda selamat datang," kata salah satu senior dengan sorot mata berbinar.


"Jangan lupa, jam 9 kami akan menjemput kalian di sini. Pastikan jam 8 sudah turun dan bersiap. Saya tidak mau ada di antara kalian yang tidak hadir dan menjejaskan reputasi desa Seij."


"Baik, tuan!" serentak jawaban bersemangat terdengar dari para pelajar baru.


Setelah berbicara dengan senior, mereka pun bergegas untuk mendaftar di asrama. Terdapat 10 blok utama, 4 blok lelaki berada di utara, dan 6 blok lagi berada di timur, selatan dan barat. Zara dengan penuh harap dan semangat menyerahkan kartu pendaftarannya di meja pendaftaran dan menerima kunci dengan nomor blok Selatan Kedua, Aras 1, Bilik 3 Pelajar B (S2-1-3B). Dia meraih kunci itu dengan penuh antusias dan bergerak bersama siswa lainnya yang juga mendapatkan blok asrama di Selatan, dipandu oleh senior.

__ADS_1


Bloknya, S2-1-3B, terletak dengan indah menghadap sungai yang mengalir di sisi desa. Suara aliran sungai seperti lagu alam yang menenangkan, memperkuat kesan damai yang melingkupi desa tersebut.


Mereka kemudian masuk ke dalam blok, dan aroma kayu alami memenuhi udara ketika pintu dibuka. Ruang tamu asrama mereka terhias indah dengan pernak-pernik tumbuhan dan seni kayu, memberikan sentuhan ajaib yang sesuai dengan aura Desa Seij.


Zara merasa hatinya berdebar-debar saat mencari pintu kamarnya di lorong yang sunyi. Akhirnya, matanya tertuju pada papan pintu bilik yang terukir S2-1-3B.


Terdapat tiga buah kasut yang diletakkan dengan rapi di hadapan pintu, masing-masing memiliki warna yang berbeda. Senyum terukir di wajahnya, menandakan bahwa teman sebiliknya telah tiba lebih dulu. Dengan hati berdebar-debar. Zara menggenggam gagang pintu dan perlahan-lahan membukanya.


Saat pintu terbuka, tatapan cemas Zara berubah menjadi kelegaan ketika dia disambut dengan ramah oleh tiga sosok yang ceria. Ji, yang mempesona dengan rambut kerinting berwarna blonde, langsung menyapa Zara dengan penuh antusiasme. Fifi, dengan senyum manisnya, dan Kal, dengan kehangatan di matanya, turut menyambut kedatangan Zara.


"Hai! Kamu Zara ya? Aku Ji. Ini Fifi dan di sana adalah Kal. Tahniah kerana berjaya masuk ke sini. Ouh, di sana adalah kasurmu," kata Ji dengan semangat yang menyenangkan.


Zara menjawab sapaan mereka dengan canggung namun tetap penuh keceriaan, "Terima kasih."


"Mari, ayo bersiap-siap!" ajak Fifi, sambil mengajak Zara masuk ke dalam kamarnya yang hangat dengan cahaya lampu kuning yang lembut.


Dengan penuh kebanggaan, warga dari Desa Seij berdiri di dekat bendera imej salamander. Maroon dengan gagah menampilkan singa yang gagah di benderanya, sedangkan Desa Biru membawa bendera bersimbolkan chameleon yang menakjubkan di dalamnya.


Tak kalah menarik, Desa Putih menampilkan elegansi bangau di benderanya, sementara Desa Hitam mempertontonkan keberanian kala jengking yang tajam. Sedangkan Desa Ungu menampilkan ular yang mempesona, dan kehadiran gajah gagah dari Desa Brown menarik perhatian banyak mata. Tidak ketinggalan, Desa Mustard menampilkan kecerdikan rubah yang cerdik dan lincah.


Saat cahaya lampu obor memenuhi arena dengan warna oren yang menyala, suasana menjadi semakin ajaib. Semua warga akademi berkumpul, mengenakan pakaian rasmi yang indah, memancarkan pesona mereka masing-masing. Zara dan teman sebiliknya duduk di kerusi yang nyaman, bersemangat menyaksikan acara puncak ini.


Di tengah gelanggang, tergantung layar besar yang menambah semarak acara. Penonton bisa melihat lebih dekat para peserta dan persembahan yang mereka siapkan. Semua wajah dipenuhi dengan antusiasme dan harap-harap cemas, karena acara ini adalah sorotan utama dalam penerimaan mereka di desa ini.


Malam itu, mereka diberikan kata ucapan perasmian yang penuh semangat dari para pemimpin desa. Setiap kata yang diucapkan menyiratkan makna yang dalam, mengenai persatuan dan semangat bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

__ADS_1


Setelah itu, mereka dihiburkan oleh senior-senior dengan penuh keahlian menampilkan berbagai persembahan yang mengagumkan. Ada tarian yang menggambarkan perjalanan mereka dalam menghadapi berbagai rintangan dengan menggunakan Astakona mereka. Terdapat juga pertunjukan musik yang mengalun indah di sana.


Zara dan teman-temannya terpesona oleh kemampuan dan bakat senior-senior mereka. Persembahan itu membawa mereka dalam perasaan kekaguman yang mendalam terhadap apa yang bisa mereka capai di desa ini.


...


Raira mendekati Indra yang bersendirian. Dia memeluk Indra dari belakang. "Sayang! Aku rindu padamu. Kau tidak ke acara penutupan kah?"


"Aku udah malas dengan kehidupan di sini. Tidak ada apa yang menarik, yang ada hanyalah tradisi yang sama setiap tahun. Ga ada kebahagian di sini melainkan kesedihan dan amarah." Ujarnya sambil melihat ke arah pertunjukan bunga api dari koridor tingkat atas kafe Maroon.


Raira melepaskan pelukannya dan dengan bermuncungan terus bertanya "Terus aku gimana? Aku bukan sumber kebahagianmu kah? Bukan kah kita udah lama pacaran?"


Indra hanya melihat Raira sekilas pandang. Tiba-tiba aja ngomong kayak gitu.


"Kau sama aja kayak cewe-cewe lain yang aku anggap sebagai teman seperjuangan, ga lebih dari itu." Jawab Indra.


Raira merasakan jantungnya berdebar kencang, disaat itu dunianya seolah runtuh. Tatapannya yang penuh harap pada Indra kini berubah menjadi air mata yang mengalir di pipinya. Rasanya seperti pisau yang menusuk hatinya, mendengar kata-kata Indra yang terasa menusuk langsung ke dalam lubuk perasaannya.


"D-demi apa yang kau katakan begitu? Kamu tau kamu itu udah lama aku tunggu. 6 bulan! " gumam Raira dengan suara gementar, mencoba menahan tangisnya.


"Apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu? Padahal kita telah bersama begitu lama sejak dari tahun pertama, saling mendukung dan berbagi cerita, dan aku selalu berpikir bahwa kita adalah lebih dari sekedar teman." Ujar Raira lagi


Indra menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya tanpa ampun. "Maafkan aku jika aku terlihat tidak peka, tapi inilah yang aku rasakan. Aku merasa terjebak dalam rutinitas tanpa gairah, dan bukan salahmu, tapi... aku merasa kita tidak cocok. Mungkin cinta kita hanyalah sebuah persahabatan yang menyamar, tapi aku tidak bisa melanjutkannya." Ujar Indra lalu dia pergi meninggalkan Raira setelah bunga api yang terakhir muncul.


Air mata semakin deras mengalir dari mata Raira, hatinya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Jadi, kau bilang semua yang kita alami bersama ini hanya sebatas persahabatan semu?" tanyanya dengan suara terputus-putus.


__ADS_2