ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 5


__ADS_3

Zara terengah-engah di tengah padang rumput yang luas, menatap tajam pada Indra yang berdiri di hadapannya dengan percaya diri. Cahaya matahari terbenam memancarkan warna keemasan pada rambut panjang Indra, menambah kesan keunikan pada pemuda itu.


Dalam keheningan, Zara dan Indra saling menatap tajam dengan pedang kayu di tangan masing-masing. Suasana menjadi tegang, dan angin berhembus lembut menciptakan gerakan rambut panjang mereka.


"Jadi, siapa yang akan menang kali ini?" ucap Zara dengan nada percaya diri.


"Tentu saja, itu akan menjadi aku," jawab Indra dengan senyum menantang.


Tanpa menunggu lebih lama, mereka bergerak hampir bersamaan, beradu pedang dengan cepat dan lincah. Gerakan mereka begitu indah dan terampil, seolah mereka berdansa di atas panggung yang tak terlihat.


Serangan demi serangan dilancarkan, namun mereka sama-sama tangguh dan menghindar dengan cekatan. Zara menunjukkan kepiawaiannya dengan teknik pedang yang lincah dan mematikan, sedangkan Indra menampilkan kelincahannya dalam menghadapi serangan Zara.


Namun, seiring berjalannya waktu, Zara mulai mendominasi pertarungan. Ia lebih berpengalaman dan telah melatih keterampilannya dengan giat. Indra mencoba mempertahankan diri sebaik mungkin, tetapi akhirnya dia terpaksa mundur beberapa langkah.


"Sudah cukup, Indra. Kau kalah," ucap Zara sambil menahan serangan lebih lanjut.


Namun, Indra tidak menyerah begitu saja. Dengan senyuman licik, dia melontarkan sebuah trik tak terduga. Dia tersenyum sinis, lalu dengan gerakan cepat, dia memetik jari dan mengucapkan mantra Astakona Maroon ke-2, menciptakan ilusi api yang mengelilingi Zara.


"Astakona Maroon ke-2. Ilusi Api." Ucap Indra.


Dia melepaskan ilusi kecil yang membuat Zara sedikit terganggu.


Itu adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu Indra. Dengan gerakan kilat, dia melancarkan serangan balasan yang tak terduga. Namun, Zara dengan cepat mengenali ilusinya dan segera membalas.


"Coba tebak, siapa yang semasa kecil dia kawan, tapi bila besar, dia lawan?" tantang Indra dengan suara bergema.


Zara memejamkan mata dan mengandalkan kepekaannya terhadap aura Astakona. Dia menghirup napas sedalam-dalamnya dan dengan mantap mengungkapkan jawabannya, "Api!"


Mata Zara terbuka, dan dengan gerakan cepat, dia menyerang tubuh Indra yang sebenarnya. Tuk' suara pedang kayu terdengar saat pedangnya bertaut dengan tubuh Indra.


Indra merasakan sakit yang hebat di bahagian bijinya, dan ilusi apinya menghilang lalu dia terkulai lemas di atas rumput hijau. "Ouh tidak. Keturunanku," gumamnya sambil pitam.


Zara menghampiri Indra dengan senyum puas di wajahnya. "Tapi... dia bisa dibunuh dengan air," ujarnya dengan senyuman kemenangan.


Kedidi yang melihat kejadian itu dari kejauhan menggelengkan kepala, sedikit heran dengan tingkah laku Zara dan Indra. Dia melompat dari bangku karna kakinya tak bisa mencapai tanah saat duduk di situ.


Dia pun menepuk dahinya, pusing melihat kondisi Indra.


"Haih. Kalian berdua sepertinya tidak bisa hidup tanpa berkelahi. Aku benar-benar lelah harus selalu menyembuhkan luka-luka kalian."

__ADS_1


Kedidi mendekati Indra dengan penuh perhatian, lututnya menyentuh tanah saat dia meraih perut Indra dengan telapak tangannya yang kecil.


"Astakona Seij pertama Daun yang Sembuh," ucap Kedidi dengan sungguh-sungguh.


Cahaya hijau yang magis menyinari sekitarnya. Indra yang tadi koma, kini tersedar. Dia segera memeriksa luka-lukanya dengan meraba area tersebut. Rasa lega terpancar dari wajahnya ketika menyadari lato-latonya masih tersisa dua.


"Aduh. Sakit. Ini sudah kali keberapa aku terluka." keluh Indra yang pada masa yang sama dia lega.


Indra melirik Kedidi yang duduk di sebelahnya, memberikan ungkapan terima kasih.


Namun, pandangannya beralih ke arah Zara yang sedang tertawa kecil.


"Hah, tertawa lagi. Benda ini bukan main-main! Karena kau, hampir saja keturunanku hilang. Beruntung ada Kedidi."


"Ya, maaf." Ujar Zara bersahaja.


Cahaya hijau yang muncul tadi menarik perhatian kelompok manusia. Tiba-tiba, dari balik pepohonan tinggi di belakang rumah Kedidi, beberapa sosok berjubah hitam muncul dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Senyuman sinis menghiasi wajah mereka.


"Sasaran terdeteksi. Seorang Seij. Perempuan. Berusia sekitar 10 tahun, berambut merah pendek paras leher."


"Diterima."


Indra memperhatikan Zara yang menatap hutan di belakang rumah dengan khawatir.


"Zara," panggilnya, namun tidak ada jawaban. Indra mengerti bahwa Zara merasa sesuatu yang aneh.


Kedidi juga melihat Zara yang tiba-tiba membeku, raut wajahnya penuh kekhawatiran.


"Kedidi, cepat masuk ke dalam rumah," ujar Indra, menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang serius.


Tanpa banyak soal, Kedidi berlari masuk ke dalam rumahnya, dengan hati yang gelisah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Indra berdiri tegak, menepuk bahu Zara dengan lembut, membuat Zara tersadar dari keadaannya.


"Kau nampak apa, Zara?" tanya Indra dengan penuh perhatian.


Zara hanya menggeleng, masih terbingung dengan perasaan yang baru saja dia alami.


"Jomlah balik," ajak Indra supaya Zara kembali pulang.

__ADS_1


...


Malam itu, rumah Kedidi dirompak dengan brutal, dan Kedidi diculik oleh kelompok berjubah hitam yang tak dikenal.


Pada saat kejadian, Zara sedang dalam perjalanan menuju rumah Kedidi dengan membawa makanan. Namun, sebelum dia tiba di sana, terdengar jeritan dari keluarga Kedidi sekitar 50 meter jauhnya dari rumah. Dia melihat Kedidi yang tidak sadarkan diri digendong oleh kelompok berjubah hitam itu. Zara kemudian mengikuti mereka dari jauh. Beruntung, Zara tak terdeteksi oleh mereka karena dia seorang Tias, mampu menyembunyikan keberadaannya.


Kelompok itu membawa Kedidi ke sebuah pondok usang yang tersembunyi di dalam hutan. Beberapa orang berjubah hitam lainnya sudah menunggu di sana.


Kedidi, yang kini telah sadar, panik dan meronta ketakutan ketika dia diturunkan dan diikat pada sebuah kursi kayu menggunakan Astakona kegelapan berwarna hitam ungu.


Dia mencoba menjerit, namun suaranya dicegah dan keheningan menyelimuti tempat itu. Air matanya mengalir, tetapi tangisnya tetap tidak terdengar.


Zara yang bersembunyi di balik pohon-pohon yang gelap merasa tak menentu. Ia merasa buntu dan tak tahu harus berbuat apa. Hatinya berdesir, ingin membantu Kedidi, tetapi keberaniannya sedang diuji dalam situasi yang penuh ketegangan ini.


Zara menyaksikan adegan mengerikan yang terjadi di hadapannya dengan gemetar. Mayat-mayat bergelimpangan di depannya, darah berubah menjadi hitam, dan suasana gelap pekat membuatnya merasa takut dan terancam. Ia menahan napas, takut membuat keberadaannya terdeteksi oleh kumpulan berjubah hitam yang masih berdiri di sana.


Salah seorang dari kumpulan itu memberikan isyarat dan mereka berencana untuk pergi. Tapi sebelum mereka beranjak, seseorang yang memberi uncang syiling emas tadi mengangkat tangan dan tersenyum, kemudian membuka telapak tangannya.


Tiba-tiba, ais tajam bermunculan dari tanah, menusuk mereka semua dengan hebat, menyebabkan mereka bergelimpangan mati dalam renjatan yang mematikan.


Zara tak bisa menyembunyikan kagetnya, matanya membulat, tetapi ia terpaksa menahan diri agar tak membuat suara apapun yang bisa mengkhianati keberadaannya.


Kumpulan berjubah hitam yang tersisa melepas jubah mereka, menunjukkan identitas asli mereka. Salah seorang di antara mereka, Cinn, berbicara tentang misi mereka yang kurang ekstrem.


"Heh? Bunuh orang belum ekstrem? Kau mau apa sebenarnya, Cinn?" tegur Maria, seorang gadis berambut ungu panjang.


Cinn tampak agak gelisah dan menyadari ada sesuatu yang tak beres di tempat itu.


"Shh. Ada sesuatu yang tak kena di sini," ujar Haise, pemuda berambut putih di kelompok itu.


Mayat-mayat yang tergeletak di tanah tiba-tiba mulai mengeluarkan kepulan asap berwarna hitam, mengisi udara dengan kegelapan.


"Mayat mereka merewap?" tanya Cinnyrix, dengan gelisahnya.


"Ini bukan wap, tapi lohong hitam. Buceros. Perisai," ujar Haise, memberikan instruksi.


Buceros mengangguk dan menancapkan tombaknya ke tanah. Cahaya kuning keemasan mulai muncul perlahan-lahan di sekeliling mereka.


"Astakona Brown kedua Perisai bumi." sebut Buceros.

__ADS_1


Sebuah perisai tercipta di lohong hitam itu melindungi mereka. Mereka ditelan di sana termasuklah Zara yang ada di situ.


__ADS_2