ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 6


__ADS_3

Di dalam lohong hitam itu, suasana begitu suram dan menakutkan. Zara terjaga dengan kepala yang sakit dan mencium bau busuk yang menyengat di sekelilingnya. Dia terkejut melihat banyak rangka dan tengkorak manusia berserakan di sekitarnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ada ombak besar yang memukul di dadanya. Jeritannya bergema di dinding gua yang penuh kematian.


Saat dia tersadar, Zara menyadari bahwa dia berada dalam lohong tersebut. Dengan cepat, dia menutup mulutnya agar jeritannya tidak terdengar lagi.


"Di mana aku berada?" gumamnya dalam kepanikan.


Ingatan tentang Kedidi yang diculik tadi menyala di benaknya, memacu dia untuk berusaha bangkit dari tempat berlumut hitam itu dan bergerak menuju cahaya merah yang terlihat di kejauhan.


Namun, nasibnya sungguh tidak berpihak. Cahaya merah itu bukanlah jalan keluar yang ia harapkan, malah membawanya ke lembah bencana yang mengerikan.


Zara mendengar ucapan mentera larangan Astakona dilaung oleh kumpulan itu.


Mentera larangan Astakona dilaungkan dengan kekuatan yang menakjubkan, menyelimuti kawasan itu dengan keheningan yang mencekam. Bunyi paluan gendang-gendang semakin menguatkan aura kegelapan yang menyelimuti mereka.


Tidak kurang dari 50 anggota kumpulan berjubah hitam berkumpul di sekitar keranda Kedidi. Ada empat formasi bulatan yang mengelilingi keranda. Bulatan terdekat dengan keranda tengah menabur bunga kemboja putih dengan penuh ketulusan. Bulatan kedua dan ketiga bergerak dengan gerakan seremonial, mengangkat dan menurunkan tangan dengan irama tertentu. Sementara itu, bulatan terakhir memainkan alat musik yang menciptakan dentingan magis.


Munculnya Indra tiba-tiba dari belakang Zara mengagetkan gadis itu hingga hampir berteriak. Meski meronta, Zara tak bisa melepaskan diri dari genggaman kuat Indra.


"Shh! Aku Indra," bisik Indra perlahan di telinga Zara.


Zara mengernyit curiga namun akhirnya percaya bahwa itu adalah Indra. Dia mematuhi isyarat Indra untuk bergerak ke suatu tempat, berusaha agar tak terdengar oleh anggota kumpulan berjubah hitam.


Indra berhenti dan menyelidiki sekeliling dengan hati-hati, mencari jalan terbaik untuk menyelamatkan Kedidi.


"Kau tunggu di sini, jangan mendekat ke sana. Aku akan menyelamatkan Kedidi," ujar Indra tegas.


Zara bingung dan bertanya, "Kenapa?"


Indra memberikan isyarat agar Zara tetap di tempat. Dia menyalakan api dari tangannya, siap untuk menghadapi tantangan.


Tiba-tiba, dua anggota kumpulan berjubah hitam yang pernah dilihat Zara sebelumnya muncul di depannya. Mereka tenang dan siap untuk bertarung namun Zara menjadi sedikit kaget.


Tak lama kemudian, Indra memperkenalkan rekannya, Haise, dan Cinnyrix, yang ternyata adalah sekutu yang sudah dikenalnya.


"Ingat. Jangan ke sana." Ujar Indra memberi instruksi kepada Zara untuk menunggu di tempat itu, dan dia berjanji akan kembali setelah misi penyelamatan berhasil diselesaikan.


Setelah berangkat menuju tempat Kedidi berada, mereka berhadapan dengan serangan tidak terduga.


"Astakona Hitam ke-4. Malam yang ketiduran."


Tiba-tiba, Indra dan rekannya terkapar tak sadarkan diri di medan pertempuran.


Dalam kesunyian yang mencekam, Indra mencelikkan matanya. Dia mendapati dia telah duduk berlutut, dililit oleh lilitan akar berdaun duri yang mengikatnya dengan erat, menyebabkan tubuhnya tertusuk duri-duri tajam tersebut. Darah mulai mengalir dari pakaian yang tergores.


"Arghhh!!!!" Jerit Indra dan teman-temannya meronta dalam kesakitan. Namun, semakin mereka berusaha melepaskan diri, semakin erat lilitan itu menggenggam mereka.


Zara menunggu dengan lamanya. Hatinya menjadi tidak keruan memikirkan sahabatnya yang belum pulang. Pasti ada sesuatu yang menimpa mereka lalu dia bergegas menjejaki Indra dan rakannya tadi.


Ternyata dia benar. Mereka semua telah terperangkap disana.


"Indra! Haise! Cinnyrix!" jerit Zara dalam hati melihat mereka telah ditangkap.


Kedidi diangkat dari keranda. Kemudian, kedua tangannya diikat pada palang besi di sebelah kiri dan kanan, menggunakan tali gentian manila menariknya ke atas sehingga hanya hujung ibu jarinya menyentuh tanah.


"DUSU!" teriak salah satu anggota kelompok itu.


Tiba-tiba, seluruh anggota kelompok itu duduk menghadap Kedidi. Dentuman gendang dan suara alat musik lainnya terus diam.


Sosok yang bertopeng gagak hitam muncul berdiri di sebelah Kedidi. Morkus, pemimpin mereka, memandang ke arah Indra dan teman-temannya. Senyumnya dilemparkan menunjukkan kejahatannya sambil dia bertepuk tangan.


"Kami yang membantu kalian, kami pula yang harus mati? Apakah kalian menganggap membunuh kami begitu mudah? Haha! Selamat datang di wilayah hitam kematian, wahai para prajurit semut Astakona."


"Siapa kau? Lepaskan dia!" Jerit Indra, marah dan kesakitan menyatu dalam jeritannya.

__ADS_1


Lelaki berjubah hitam itu tersenyum sinis, menampakkan gigi tajamnya, lalu berjalan ke belakang Kedidi. Tangannya memegang bahu Kedidi yang tergantung.


"Aku? Aku Morkus! Ketua Hige Timur! Tidakkah kalian membaca tentangku dalam buku-buku referensi kalian? Kalian begitu leka dalam belajar!"


Dia melihat pipi Kedidi yang lembut lalu dijilatnya.


Indra merasa darahnya mendidih. "Dasar pengecut! Jangan sekali-kali kau menyentuh temanku seperti itu! Aaarghhhhhh!!!" Jeritan Indra semakin menguat ketika lilitan akar itu mulai mematahkan tulang rusuknya.


Teman-temannya juga ikut menjerit karena akar-akar itu merespons dengan rasa sakit yang luar biasa. Mereka terjebak dalam mantra hitam yang tak bisa mereka lepaskan menggunakan Astakona.


"Haha! Aku menikmati reaksi kalian. Jangan khawatir. Adik kecil ini akan kami jaga seperti minyak wangi." Ucap Morkus dengan jahat.


Kemudian, Morkus kembali berdiri di depan Kedidi, dan dari dalam jubahnya, ia menarik keluar sebilah pedang hitam yang tajam.


"Kalian jangan sesekali menyentuh dia!" Jerit Indra.


Morkus melangkah dengan angkuh, menghadap Kedidi yang terkapar. Pedangnya berkilat tajam, siap menghujam jantung Kedidi tanpa belas kasihan. Tiba-tiba, Jeritan Indra menggema di udara.


"Kedidi!" serunya.


Namun, takdir telah terjalin, dan Morkus dengan ganasnya menancapkan pedangnya di jantung Kedidi. Mulut Kedidi berbusa darah, dan Morkus menarik pedang itu dengan kejam, membuat darah mengalir deras. Lalu, dengan sebuah piala emas berhias akar berduri, Morkus menangkap darah Kedidi dan membaginya di antara kumpulan mereka. Darah itu diminum dengan penuh nafsu rakus.


Indra menutup matanya, tidak sanggup melihat Kedidi dalam keadaan itu. Tangisnya pecah, meratap atas nasib malang sahabatnya yang telah dianiaya begitu kejam.


Zara, yang menyaksikan semua ini, tidak mampu berdiri teguh. Kakinya gemetar, dan dia merasa lemah. Air mata mengalir di pipinya tanpa henti. Dia merasa takut dengan kebrutalan yang ada di depan matanya.


Setelah minuman itu diminum, mereka menunggu dengan harapan mendapatkan kekuatan baru. Namun, tiada yang terjadi. Amarah Morkus memuncak, dan dengan marahnya, dia melemparkan pedangnya ke tanah. Morkus mendekati mayat membiru Kedidi dan dengan sadisnya, mencabik-cabik perutnya yang kecil lalu melemparkan pedang ke tanah kerena amarahnya.


Zara tidak sanggup melihat penderitaan yang dialami sahabatnya. Tanpa ragu, keberanian mendalam pun menyergapnya.


"Kedidi!!!!!!" teriak Zara dengan gemuruh. Dia berlari dengan pantasnya mengambil pedang yang dijatuhkan Morkus ke tanah lalu


Tiba-tiba, semua pandangan tertuju padanya. Indra terkejut melihat apa yang dilakukan Zara. Dia pun menoleh ke depan.


Morkus terperanjat. "Siapa kau?! Mengapa kau tidak terpengaruh dengan mentera hitam seperti yang lainnya?!"


Indra mencoba memberi peringatan. "Zara!!! Kau gila?! Kau ga bisa mengalahkannya!"


"Apakah yang bisa kalian lakukan sekarang? Hah! Dasar Tias! Tidak menyadari kenyataan. Kalian yang selemah manusia berani melawan kami? Apakah kalian buta? Apakah kalian pekak? Lihatlah sekeliling kalian. Tidak ada yang mampu melawan kami!" Morkus mengejek Zara dengan nada sombong.


Namun, Zara tetap tegar berdiri. Amarahnya mendidih dalam diri. Air matanya mengalir, namun tidak ada ketakutan yang dapat menguasainya.


"Satu-satunya yang bisa melawan kalian adalah mereka yang tidak memiliki Astakona!" pekik Zara dengan marahnya.


"Mengarut!" Marah Morkus.


Dengan gerakan lincah, Zara tiba-tiba muncul di belakang Morkus, bersiap untuk mengunci lehernya. Morkus terkejut dan berusaha menghindar, tetapi tak berhasil sepenuhnya, sehingga lehernya tergores sedikit dan mengeluarkan setitik darah. Dengan cepat, Morkus menutupinya menggunakan lengan bajunya.


Rekan-rekan Indra menyaksikan adegan itu dengan terkejut.


Wajah Zara tanpa ekspresi mendekati Morkus yang sudah terpojok.


"Pulangkan Kedidi seperti semula sebelum kau menculiknya. Kalau tidak, aku akan membalas dengan kekejaman yang lebih mengerikan," ucap Zara dengan tegas.


"Hah!" Morkus terkejut dan mengangkat tangan sebelahnya.


"Astakona hitam ke-4. Malam yang tertidur." Morkus berusaha menggunakan sihirnya, tetapi Zara tetap tak tergoyahkan.


"Apakah kau berpikir aku bodoh dan mudah dikelabui? Tias tidak akan terpengaruh oleh Astakona," seloroh Zara sinis.


Namun, belum sempat kumpulan itu menyelamatkan ketuanya tiba-tiba jeritan kedengaran di dalam keramaian.


"Aaarghh!!!!" Jeritan mengerikan memenuhi kerumunan mereka. Tiba-tiba, kelompok kutu-kutu muncul dan dengan cepat mulai memakan daging di kaki-kaki mereka. Semua orang panik dan berusaha melarikan diri, menciptakan kekacauan.

__ADS_1


Morkus sendiri merasa panik dan memberikan perintah kepada para pengikutnya.


"Semua mundur! Astakona hitam ke-2. Hilang dari pandangan!" serunya. Lalu, kepulan asap hitam muncul dan membawa pengikut-pengikutnya pergi.


Sementara itu, kutu-kutu tersebut makan dengan rakusnya akar berduri yang melilit tubuh Indra dan teman-temannya. Mereka menjadi sangat lemah dan akhirnya rebah.


Kutu-kutu itu kemudian perlahan-lahan bergerak menjauh meninggalkan mereka lalu masuk ke dalam sebuah peti besi kecil. Maria dan Buceros muncul lalu menutupi peti-peti besi itu.


Melihatkan keadaan rakannya serta mangsa yang harus diselamatkannya menjadikan dia terkilan dengan tindakannya.


"Kita dah terlambat Buceros." Ujar Maria.


Zara mendekati Kedidi dan melepaskan ikatan di tangannya. Dia membaringkan mayat Kedidi di tanah dan mengarahkan tangannya ke tikaman Kedidi.


"Astakona Seij pertama. Daun penyembuh," ucapnya dengan harapan. Namun, tidak ada yang terjadi. Dia terduduk, berlutut, dan menangis tersedu-sedu karena tidak bisa menyelamatkan Kedidi akibat banyaknya darah yang hilang.


"Zara." panggil Indra yang kesakitan, tapi panggilannya tidak terdengar.


.....


Tangisan dan kesedihan bergema di sekeliling. Semua orang merasa hancur. Ibu dan ayah Kedidi, terutama, tampak patah hati. Anak mereka kembali dalam keadaan yang sadis dan tak bernyawa saat fajar menyingsing. Nyaris saja ibu Kedidi menyalahkan dirinya sendiri, namun disanggah dan ditenangkan oleh para tetangga yang peduli. Mereka semua membantu mengatur pemakaman Kedidi dengan penuh kasih sayang.


Indra juga merasa sangat berduka atas kehilangan sahabatnya.


Polisi, tentara, dan dokter dari Astakona datang untuk menyelidiki dan memberikan bantuan kepada keluarga dan teman-teman yang terluka. Dokter dari Astakona Seij merawat luka-luka Indra, dan rekan-rekannya.


Setelah ia selesai barulah petang itu, Kedidi dimakamkan.


Haise yang eluruh tubuhnya diliputi perban, mendekati Indra dan Zara perlahan.


"Mereka adalah anggota Hige yang sedang mencari pemilik Astakona Zamrud. Pemegang Astakona Seij sering menjadi sasaran karena persamaan mereka. Kami juga merasa berduka atas kepergian teman kalian. Kalian sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya," ujar Haise dengan tulus.


Indra dan Zara hanya bisa berdiam diri. Mata mereka masih merah dan bengkak karena air mata yang tidak henti mengalir sejak semalam.


"Kalian harus kuat," kata Haise lagi.


Lalu, seorang gadis berambut ungu muncul dan memandang lembut pada Zara yang masih sedih.


"Zara," panggilnya.


Namun, Zara tidak menjawab, dia hanya menatap ke arah bawah.


"Aku Maria. Aku bisa merasakan perasaanmu atas kehilangan seseorang. Semoga kau bisa tegar dan tabah menghadapi hidup ini."


Maria mengeluarkan sebuah gelang berpermata Astakona jernih yang tak berwarna dari dalam saku bajunya.


"Ini adalah teknologi baru untuk Tias. Nama gelang ini adalah Loperas. Kami menciptakannya untuk mengatasi kelemahan orang-orang Tias. Meskipun masih dalam tahap uji coba, ambillah ini, setidaknya sedikit membantu," ucap Maria sambil menawarkan gelangnya pada Zara.


"Kami harus pergi sekarang, dan Indra, aku punya berita buruk untukmu," kata Maria.


Indra yang awalnya bungkam, akhirnya berkata, "Kenapa?"


"Misi kita kali ini gagal. Kami diarahkan untuk menahanmu dan teman yang lain sehingga perbicaraan tamat. Ini adalah kes berat. Ada kemungkinan kau akan diadili di mahkamah akademi. Soal keluargamu, aku sudah menjelaskan kepada mereka." Haise ikut berkata.


Maria mendekati Indra dan mengeluarkan sebuah pena kayu hitam.


"Lakukan apa yang kalian inginkan. Meskipun tubuhku di sana, hatiku akan selalu tetap di sini," ucap Indra.


"Kemana kau akan pergi, Indra?" tanya Zara yang tiba-tiba bersuara


"Aku harus kembali ke akademi," jawab Indra. Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya. Maria mencoret pergelangan tangannya dengan hati-hati lalu membentuk sebuah gari.


"Sejak kapan kau belajar di akademi?" tanya Zara, agak terkejut.

__ADS_1


Indra hanya diam. Dia berjalan mengikuti Maria, dan teman-temannya. Cinnyrix membuat sebuah portal berbentuk lingkaran dan mereka pergi, meninggalkan Zara.


Dalam perasaan kesedihan yang mendalam, Zara menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan kehilangan semua temannya. Hidupnya menjadi gelap gelita dengan begitu pantas.


__ADS_2