![ASTAKONA [LAPAN PENJURU]](https://asset.asean.biz.id/astakona--lapan-penjuru-.webp)
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Bhai telah membawa Zara datang ke Nakasta satu minggu lebih awal perjalanan ke Nakasta mengambil masa hari. Setelah melewati perjalanan selama satu minggu di atas kapal, akhirnya mereka tiba di pelabuhan Nakasta. Pagi itu, seluruh kota meriah menyambut kedatangan para calon baru akademi.
Jalanan dipenuhi dengan berbagai pedagang dan dagangan yang menarik. Pertunjukan-pertunjukan menakjubkan juga diadakan di berbagai sudut kota. Pelabuhan Nakasta pun tak kalah ramainya, kapal-kapal besar datang dengan membawa penumpang dari delapan negeri yang berbeda.
Ribuan anak muda turun dari kapal-kapal tersebut, termasuk Bhai dan Zara yang berasal dari negeri Gunik, tanah kelahiran mereka. Kedua saudara itu melangkah keluar dari kapal, membawa kantung kain di belakang mereka. Di sekelilingnya, penumpang dari kapal-kapal lain membawa bagasi mereka masing-masing.
Zara begitu terkesima dengan suasana di Nakasta. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kota ini. Bhai tersenyum melihat kegembiraan gadis desa itu. "Menyenangkan, tinggal di kota? Segala warna-warni dan kehidupan yang selalu ada di sini," ujar Bhai.
Zara mengangguk antusias. "Iya, sangat menyenangkan!"
Mata Zara tertuju pada sebuah toko roti, dan dia segera berlari mendekatinya. Dia membeli beberapa biji roti dan memberikan satu biji kepada Bhai. "Aku penasaran, bagaimana kamu bisa punya uang tanpa bekerja?" tanya Bhai kepo.
Zara pun menjelaskan bahwa uangnya berasal dari harta warisan keluarganya yang ditinggalkan sejak dia kecil. Hartanya begitu melimpah hingga bisa mencukupi hingga tujuh generasi ke depan. Namun, hati Zara sedih karena semua anggota keluarganya telah meninggal dunia, sehingga dia tidak pernah merasakan kasih sayang seperti anak-anak kecil pada umumnya.
Bhai merasa simpati. Dia memeluk Zara erat dan berkata, "Anggap saja aku adalah bagian dari keluargamu sekarang."
Sorot mata Zara berseri-seri. Air matanya mengalir perlahan, jatuh di atas biji roti yang dimakannya. "Terima kasih," bisik Zara dengan penuh rasa. Perasaan hangat dan kasih sayang dari Bhai membuatnya merasa tidak sendirian lagi.
Akademi Astakona, sebuah tempat yang legendaris dan misterius, menyimpan segudang rahasia dan keajaiban di balik gerbangnya yang megah. Menara tinggi yang menjulang di atas bukit memberikan pandangan indah ke seluruh Nakasta, dan ketika pengumuman dibuat, suaranya mengalun menembus angkasa, menjangkau telinga setiap warga kota.
__ADS_1
Dengan jantung berdebar, ibu bapa yang menunggu di luar pagar pintu merasakan getaran kegembiraan. Sepuluh belas pintu besar terbuka lebar, mengundang mereka untuk melangkah ke dalam dan mengejar impian mereka. Zara dan Bhai termasuk di antara orang-orang yang berdesakan masuk, tak sabar untuk menyaksikan keajaiban Akademi Astakona.
Setelah melangkah di dalam, pandangan Zara langsung tersapu oleh pemandangan yang menakjubkan. Seolah-olah dia telah memasuki istana ajaib dari dongeng, bangunan-bangunan megah dan taman-taman yang indah menyambut mereka. Akademi ini begitu luas, bahkan lebih besar dari sebuah kota. Setiap sudutnya dipenuhi dengan kehidupan, seni, dan ilmu pengetahuan.
"Bhai, lihatlah! Ini luar biasa!" pekik Zara dengan mata berbinar-binar.
Bhai tersenyum puas melihat kekaguman Zara. "Iya, memang menakjubkan. Kita berada di Akademi Astakona, tempat di mana bakat dan keahlian disambut dan diasah dengan cermat."
Mereka semua diarahkan untuk gelanggang arena dan mendaftarkan diri di sana sambil dipandu oleh pelajar-pelajar senior di sana.
Mereka berjalan melalui koridor-koridor yang dipenuhi mural-mural indah yang menceritakan kisah-kisah legenda dari masa lampau. Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan para guru dan siswa yang penuh semangat menyambut kedatangan mereka.
Sesampainya mereka di Gelanggang Arena, sebuah colosseum megah yang menjadi wadah pendaftaran di Akademi Astakona, Zara dan para calon murid lainnya antusias mendaftarkan diri. Ibu bapa mereka diarahkan untuk duduk di kerusi-kerusi yang berjejer berbentuk seperti tangga di sekitar arena, sementara para peserta baru perlu menunggu giliran di dewan yang berbeda.
Pada hari itu, jumlah pendaftar mencapai 5 ribu orang, namun kuota maksimum yang diterima untuk satu tahun adalah 3,200 orang.
Ujian tahap pertama bermula. Masing-masing peserta ditantang untuk menangkap sebanyak mungkin tikus yang dilepaskan untuk mengumpulkan mata. Mereka yang gagal atau mendapatkan mata terendah akan dieliminasi pada tahap ini.
Tahap kedua merupakan tantangan yang lebih berat. Dari 4,600 peserta yang tersisa, hanya 3,000 orang yang berhasil melewati rintangan menantang, seperti halangan api, halangan air, dan halangan tanah. Banyak dari mereka terjatuh, terluka, atau bahkan menyerah karena kesulitan yang mereka hadapi. Namun, Zara dengan tekun melewati semua rintangan itu tanpa mengenal takut.
__ADS_1
Ketika hanya tersisa 3,000 orang, mereka berada pada tahap terakhir di mana kemampuan astakona mereka diuji. Setiap pegawai desa dari desa-desa asrama, seperti Putih, Hitam, Biru, Mustard, Maroon, Seij, Ungu, dan Brown, harus memilih calon yang pantas untuk mewakili desa mereka.
Namun, perhatian tertuju pada seorang peserta bernama Zara, peserta terakhir pada hari itu, yang memberitahu bahwa dirinya hanyalah seorang Tias, ahli seni bela diri dengan menggunakan senjata, namun bukan pemegang astakona seperti peserta lainnya.
Ketika fakta ini terungkap, semua orang menjadi terkejut dan bingung karena biasanya akademi ini hanya menerima peserta dengan kekuatan astakona. Salah seorang pegawai desa dari desa Ungu bahkan mengejek Zara dengan nada skeptis, "Pilihlah kalian. Aku ga bakal menerima anak murid sepertinya."
Pada masa yang sama, Bhai dari kejauhan, dia berdiri dari kerusinya lalu meninggalkan arena itu lalu keluar dari akademi.
Namun, seorang pegawai desa dari desa Seij, yang telah melihat senjata dan gerakan Zara, merasa seperti dia pernah melihat sosok ini sebelumnya.
"Wahai gadis muda. Kamu sedar bahawa kamu adalah Tias. Apa motivasimu untuk ke sini?" Soal pegawai Seij.
"Aku hanya ingin keluar dari zona selesaku dan meyakinkan dunia bahwa aku adalah Tias yang tidak lemah seperti yang disangka oleh orang lain. Maka aku ke sini dengan bersungguh-sungguhnya melatih diriku siang dan malam tanpa lelah untuk sampai ke sini." Jawab Zara.
Semangat yang ditunjukkan Zara memberinya penuh keyakinan lalu pegawai itu menawarkan diri untuk menjadi mentor Zara. Meskipun banyak pegawai desa lainnya terkejut dengan keputusan ini, pegawai Seij yakin bahwa keahlian Zara dalam senjata akan menjadi aset yang berharga.
Dengan serius, pegawai Seij menjawab, "Kekuatan astakona bukanlah satu-satunya cara untuk berjaya di sini. Kemampuanmu mahir dalam senjata sangat dibutuhkan oleh desa kami. Kami mahukan tabib juga bisa berlawan walaupun dirinya hanyalah penyembuh semata-mata."
Para pegawai desa lainnya akhirnya mengangguk setuju dengan keputusan pegawai Seij, dan Zara pun diterima sebagai murid desa Seij meskipun bukan pemegang astakona. Keputusan ini mengejutkan banyak orang, termasuk para peserta lainnya, tetapi Zara merasa sangat bersyukur karena mendapat kesempatan ini.
__ADS_1
Setelah acara berakhir, Zara keluar dari dewan mencari Bhai dengan gelisah. Hatinya berdesir, karena setidaknya Bhai harusnya memberi selamat tinggal sebelum pergi meninggalkannya.