![ASTAKONA [LAPAN PENJURU]](https://asset.asean.biz.id/astakona--lapan-penjuru-.webp)
Pekan Ningku adalah sebuah kota maju yang memiliki daya tarik yang hampir setara dengan kota pelabuhan terkenal di daerah itu. Dengan kemajuan dan fasilitas yang tersedia, kota ini menjadi tujuan favorit bagi banyak orang yang ingin menjelajahi keunikan dan pesona alamnya. Meskipun begitu, di balik reputasinya yang gemilang, Pekan Ningku masih dianggap sebagai pekan biasa oleh beberapa orang, karena ia belum sepenuhnya menyamai kehebatan dan reputasi kota pelabuhan yang telah mendunia.
Pemandangan yang menarik dan penuh misteri inilah yang membuat Pekan Ningku menonjol di antara kota-kota lainnya. Salah satu keunikan mencolok yang menjadi ciri khas kota ini adalah hampir semua kedai yang berada di sini tidak berdiri tegak di atas tanah, melainkan mengapung anggun di atas langit-langit kota. Tidak ada satu pun dari kedai-kedai tersebut menyentuh tanah, menciptakan pemandangan luar biasa yang memberikan aura magis pada kota ini.
Uniknya, untuk dapat mengakses kedai-kedai yang mengambang tersebut, para pelanggan harus menggunakan tali khusus yang terbuat dari daun akar pohon yang disediakan di kedai. Proses memanjat tali ini menjadi bagian dari pengalaman yang menarik bagi setiap pengunjung. Namun, keunikan sejati Pekan Ningku muncul ketika para pemegang kuasa Astakona, kelompok khusus dengan kekuatan magis, dapat menggunakan kekuatan mereka untuk melayang dan naik ke kedai-kedai dengan mudah, menambah pesona magis kota ini.
Tiada tangga disediakan di Pekan Ningku, karena di sini diyakini bahwa segala benda mati tidak diperbolehkan menyentuh tanah. Segala sesuatu yang berada di kota ini, baik itu kedai-kedai mengambang, tempat tinggal, maupun barang-barang dagangan, semuanya terangkat di udara tanpa menyentuh permukaan bumi.
Saat berada di Pekan Ningku, akan menemui beragam golongan masyarakat, mulai dari bangsawan, tentera, hingga warga biasa, yang datang dari berbagai penjuru untuk membeli dan menjual berbagai barang unik yang menjadi daya tarik kota ini. Konon, semua barang yang dihasilkan di Pekan Ningku diklaim sebagai yang terbaik di dunia, menambah daya pikat dan daya tarik pasar bagi para pengunjung.
Namun, keberadaan kota ini menjadi misteri tersendiri, kerana hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia jalan masuk ke pekan ini. Jalur-jalur masuknya dijaga dengan ketat dan hanya diberikan kepada mereka yang dianggap pantas untuk mengunjungi dan menghormati pesona luar biasa Pekan Ningku.
Pekan Ningku, yang berjarak sekitar 3 km dari kampung terdekat mereka, harus ditempuh melalui perjalanan yang melelahkan melalui semak belukar. Jalan rahasianya hanya diketahui oleh mereka yang telah berada di dalam lingkaran kota ini. Meskipun demikian, Hushion sudah hadam dengan jalan masuknya dan sangat mudah untuk ke sana sehingga akhirnya berhasil memasuki kota ini.
Zack melihat ke kiri dan kanan, terpesona oleh pemandangan unik kota Pekan Ningku yang begitu berbeda dari tempat-tempat lain yang pernah dia kunjungi. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, dia bertanya pada Hushion, "Hushion, apa yang begitu menarik sampai kamu mengajak aku ke sini?"
Tapakan Hushion tiba-tiba terhenti di depan sebuah kedai berwarna hijau yang terhias dengan tumbuhan hijau biru yang indah. Di depan pintu kedai itu terdapat sebuah papan kayu yang terukir dengan indah, menampilkan nama kedai tersebut, 'Floraestra'.
"Dah sampai," ujar Hushion dengan senyum ceria.
"Sini ya? Ini kan kedai magis? Aku tidak bisa masuk." Zack merasa ragu.
"Siapa bilang Tias tidak bisa masuk? Yuk, ikut aku!" Kata Hushion dengan semangat, sambil memegang erat tangan Zack. Dia ingin memastikan Zack merasa aman dan tidak terjatuh ke bawah.
"Tapi, Hushion." Zack merengus sambil menghentakkan kakinya, tetapi Hushion tetap gigih membawanya ke dalam kedai.
"Dahlah, kita sudah sampai. Sini, pegang tanganku dan jangan bergerak. Kita akan terbang," kata Hushion dengan antusiasme.
"Terbang ke mana? Kita bukan burung," Zack bertanya dengan heran.
Hushion hanya menggelengkan kepalanya dengan misterius, memberikan isyarat bahwa dia punya rencana yang menarik.
Tiba-tiba, Hushion menggambar dengan tangannya bayangan bulatan di tanah yang tidak kelihatan. Kemudian gelembung-gelembung air muncul dan membentuk sebuah platform terapung yang anggun. Hushion mengajak Zack untuk berdiri di atas platform tersebut.
"Dah siap. Kita akan terbang ke kedai itu." kata Hushion dengan semangat.
Mereka berdua naik ke atas platform dan tiba-tiba platform itu bergerak terapung ke atas, membawa mereka terbang ke arah kedai 'Floraestra'.
Setelah mereka sampai di depan kedai, segera mereka menjejakkan kaki di dalam kedai, semua gelembung air yang membawa mereka berdua terbang menjadi wap air, menghilang dengan cepat. Zack hanya bisa memandang kagum bagaimana air yang membawa mereka tadi dengan cepat berubah menjadi wap.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam kedai, dan ketika pintu terbuka, kedatangan mereka menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar kedai.
"Hushion! Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah menantikan kehadiranmu setelah sekian lama." seru Bima sambil melambaikan tangannya.
Hushion dan Zack baru saja tiba di depan kedai Floraestra, dan senyuman hangat tiba menyambut mereka dari Bima, teman dekat Hushion. Bima terlihat sangat bersemangat dan teruja berjumpa dengan mereka.
Bima adalah sosok yang benar-benar memesona. Wajahnya yang cantik dipancarkan oleh kulit yang begitu putih, mengundang perhatian setiap orang yang bertemu dengannya. Meskipun ketinggiannya hanya sederhana, aura keanggunan yang menyelimutinya membuatnya seolah-olah berdiri di atas sebuah panggung.
Yang menarik perhatian adalah pakaian yang dikenakan Bima. Dari atas hingga ke bawah, pakaian ini terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang terjalin secara apik, menciptakan desain yang tak lazim tetapi sungguh memikat hati. Setiap detailnya dipilih dengan cermat, sehingga mencerminkan keindahan alam yang alami dan mempesona.
Rambutnya berkilau dengan warna blonde yang menawan, mengalir panjang hingga mencapai paras pinggangnya. Setiap helai rambut terlihat begitu sehat dan terawat, menyinari wajahnya yang cantik dengan gemilang. Dikernakan dia seorang keturunan Mabu, telinganya yang besar dan runcing menambah daya tarik tersendiri, memberikan kesan misterius dan anggun pada penampilannya.
Bima adalah sosok yang unik dan luar biasa, tak hanya dalam penampilan tetapi juga dalam karakternya yang menarik. Ia adalah contoh sempurna dari keindahan yang tidak hanya terletak pada fisik semata, tetapi juga pada hati yang tulus dan penuh kasih.
"Hai, Bima! Iya, aku akhirnya sampai juga. Ini Zack, saudaraku," ujar Hushion, sambil memperkenalkan Zack pada Bima.
Zack menyambut dengan senyum, "Senang bertemu denganmu, Bima."
__ADS_1
Bima tertawa riang, "Ouh, itukah saudaramu. Selamat datang Zack. Masuklah, mari duduk dan ngomong bareng-bareng." ujar Bima sambil menunjuk ke sebuah meja yang dihiasi dengan bunga-bungaan cantik.
"Kalian mau minum teh atau minuman herbal yang khas dari Floraestra?" Soal Bima.
"Bagaimana kalo teh aja, Bima?" Soal Hushion.
"Baiklah, tehnya adalah pilihan yang tepat," jawab Bima sambil tersenyum. Dia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk mereka berdua.
Kedai 'Floraestra' tampak begitu magis dan ajaib. Tanaman hijau biru yang unik menghiasi setiap sudut kedai, menciptakan suasana yang menyegarkan dan menakjubkan. Tanpa ragu, Zack dan Hushion mulai menjelajahi setiap sudut kedai, tidak sabar untuk menemukan keajaiban dan keunikan apa pun yang tersimpan di dalamnya.
Hushion dan Zack melihat-lihat sekeliling, menatap barang-barang menarik yang dipajang di kedai. Mereka tertarik dengan berbagai produk ajaib dan tanaman langka yang ada di sana.
Bima kembali dengan teko teh dan tiga cangkir, dan dia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir mereka. Mereka bertiga duduk bersebelahan, menyeruput teh sambil berbicara mengenai hidup masing-masing.
Namun demikian, Bima mengarahkan pandangannya dengan tatapan penuh perhatian ke arah Hushion yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama tidak ke kedainya. "Hushion, apa keinginan kamu datang ke sini?" tanyanya dengan penuh keingintahuan.
Hushion tersenyum lembut. "Saya datang untuk memeriksa tahap Astakona saya, Bima. Dalam beberapa hari terakhir, saya merasa tubuh saya agak berbeda."
"Berbeda ya? Mungkin kamu telah makan sesuatu yang salah?" tanya Bima dengan penuh perhatian pada keadaan pelanggannya.
Hushion menggeleng, "Tidak. Sepertinya pola makan saya tetap seperti biasa."
Bima menjadi heran. "Adakah kamu merasakan aneh pada tubuhmu oleh karna magis Astakona kah?"
Hushion mengangguk.
"Baiklah, bentar ya. Kalo ga salah kamu Astakona Biru kan?" Ujar Bima. Dia kemudiannya mencari-cari alatannya untuk memeriksa keadaan Hushion
"Iya."
"Berikan tanganmu sebentar. Biarkan Bima memeriksa."
Daun Begonia yang diberi serbuk Kristal sungai dan beberapa tetes air tangisan naga diletakkan di atas tangan Hushion tiba-tiba menghasilkan cahaya biru yang magis, dan 6 kepingan es terbentuk di atas daun itu. Bima memeriksa kepingan es dengan penuh perhatian, menyimpulkan bahwa tahap Astakona Biru Hushion telah mencapai 6, iaitu Astakona Biru pasif dan juga menandakan bahwa Hushion telah menguasai semua elemen fasa air.
Bima merasa sedikit kaget ketika melihat Hushion, yang masih muda, mampu menguasai Astakona Biru pasif, elemen es, karena umumnya orang yang menguasai elemen ini berumur 20 tahun ke atas.
Seketika Bima meninggalkan mereka dan kembali dengan membawa sebuah pedang berwarna biru gelap dengan sarung yang indah berukiran bunga ros dari emas putih. Ceritanya berhubungan dengan seorang anak Master Knight yang sakit, dan ayahnya meminta Bima untuk merawat anaknya.
Setelah merawat dengan penuh dedikasi, anak Master Knight itu akhirnya sembuh sepenuhnya. Sebagai tanda terima kasih, ayahnya memberikan pedang indah tersebut kepada Bima.
Namun, ketika Bima mencoba mengeluarkan bilah pedang, Hushion sangat terkejut karena ternyata bilah pedangnya tidak ada!
"Kenapa bilah pedang ini tidak ada?" gumam Hushion dengan kebingungan. "Apakah ada yang salah dengan pedang ini?"
Bima tersenyum dan dengan lembut menjelaskan, "Tenanglah, Hushion. Pedang ini sangat ajaib, dan kamu tidak akan melihat bilahnya seperti pedang biasa pada umumnya. Pedang ini adalah pedang buat orang yang bisa menguasai Astakona Biru pasif. Ambil dan cobalah untuk membukanya"
Hushion memandangi pedang itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Lalu bagaimana cara mengaktifkannya?" tanyanya.
"Untuk mengaktifkan bilah pedang ini, kamu harus menemukan kedamaian dalam dirimu sendiri dan benar-benar menyatu dengan elemen es," jawab Bima sambil memberikan nasihat. "Percayalah pada dirimu sendiri dan biarkan hatimu terbuka untuk menerima kekuatan es ini. Jika kamu sungguh-sungguh menguasai Astakona Biru pasif, maka bilah pedang ini akan muncul dengan sendirinya saat kamu membutuhkannya."
Hushion mengangguk, penuh semangat untuk menguji kemampuannya. Dia memegang pedang itu dengan erat dan mulai mencari kedamaian dalam dirinya. Hatinya dipenuhi dengan tekad yang bulat, dan dia mempercayai bahwa dia bisa menguasai elemen es dengan baik.
Beberapa saat kemudian, Tiba-tiba, sebuah cahaya biru putih yang indah muncul dari dalam sarung pedang tersebut. Bima, Zack, dan Hushion sangat terkejut melihatnya. Tanpa ragu, Hushion langsung menarik keluar pedang dari sarungnya, merasa heran karena sebelumnya sarung pedang terasa sangat ringan. Hushion memperhatikan ukiran yang terdapat di bilah pedang yang panjang itu. Di bagian muka bilah, terukir dengan indah duri batang ros berwarna kelabu.
"Wah, cantik sekali," ucap Hushion dengan senyuman.
"Wah. Ini, Pedang Eternal Ice Blade! Pedang jenis ini tidak akan mencair atau membeku. Keistimewaannya adalah ketahanannya terhadap karat, hingga selamanya. Namun, ada syaratnya, yaitu jangan pernah menghilangkan sarung pedangnya," jelas Bima setelah memeriksa pedang tersebut.
__ADS_1
Bima kemudian memandang ke arah Zack. Dia merasa ada alasan tertentu mengapa Hushion membawa adiknya ke sini.
"Hushion, mengapa kamu membawa saudaramu ke sini? Sebelumnya, kamu tidak pernah membawanya?" tanya Bima ingin tahu.
Hushion menjawab, "Sebenarnya, saya hanya ingin memastikan apakah dia memiliki Astakona atau tidak. Beberapa waktu lalu, saya melihat dia dipukul oleh seekor kambing jantan yang marah. Wajah dan tubuhnya terluka parah, berdarah di mana-mana. Namun, keesokan harinya, dia pulih seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada tanda bekas luka pun."
Bima mengernyitkan keningnya. "Tidak mungkin dia ... Benarkah yang kamu katakan ini, Hushion? Kalau begitu, izinkan aku meminjam pedangmu, Hushion."
Bima meminta pedang Hushion, dan Hushion pun memberikannya.
"Bukankah, itu hal biasa saja. Aku cepat sembuh," ujar Zack.
"Izinkanku berbuat ini." Ujar Bima.
Tanpa berpikir panjang, Bima tiba-tiba melukai pipi Zack dengan sedikit goresan. Darah mulai menetes dari luka yang dihasilkan.
Zack dan Hushion sangat terkejut dengan tindakan Bima.
"Hushion, ini adalah cara untuk menguji apakah adikmu memiliki Astakona atau tidak." ucap Bima serius.
Zack memandangi Bima dengan penuh kebingungan dan ketakutan, tidak mengetahui apa yang terjadi.
Wajah Bima mendekat lebih dekat dengan wajah Zack, mata mereka saling bertatap. Bima dengan seksama memeriksa luka di pipi Zack yang terlihat seperti luka biasa.
"Kamu tahu, sembuh dalam sehari mahupun sesaat adalah hal yang mustahil, Nak. Bahkan tabib terbaik dari Astakona Seij sendiri belum tentu bisa menyembuhkan luka secepat itu, kecuali ... jika kau adalah pemegang Astakona Zamrud," ucap Bima dengan misterius.
"Astakona Zamrud?" tanya Zack, wajahnya penuh dengan kebingungan.
"Iya, Astakona Zamrud," Ujar Bima dengan nada serius.
Bima melihat lagi ke arah luka di pipi Zack. Ternyata luka tersebut tidak bercantum seperti yang ia perkirakan sebelumnya. Tanpa buang waktu, Bima mengambil sebuah plaster herba yang tersimpan dalam laci mejanya.
Bima melanjutkan ceritanya dengan penuh misteri, suara rendahnya mengisi ruangan dengan nuansa yang mendalam.
"Legenda pemegang Astakona Zamrud telah terkubur dalam sejarah selama berabad-abad. Sebuah kekuatan yang begitu besar, tetapi juga membawa bencana. Pemerintah dengan bijak melarang perburuan darah pemegang Astakona Zamrud demi melindungi stabilitas negara dan kehidupan warga negara."
"Bahkan, terdapat sebuah kisah epik dari zaman dahulu tentang seorang pemuda bernama Durmaz, yang dilahirkan sebagai pemegang Astakona Zamrud yang langka. Dia berjuang dengan gagah berani melawan kegelapan yang ingin menguasai dunia. Walaupun luka hampir membawanya kepada kematian namun tatkala dia pulang membawa kemenangan, dia tetap teguh berdiri tanpa ada sedikit calar di badannya."
"Astakona Zamrud, sang penguasa segala elemen Astakona, memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia mampu menyerap dan menyatukan beragam energi dari elemen- elemen lainnya, menciptakan harmoni yang luar biasa di dalam dirinya. Namun, kekuatannya yang dahsyat juga menjadi keberkahan yang diidamkan banyak orang. Darahnya juga dianggap sebagai ramuan magis yang penuh keajaiban. Orang-orang berbondong-bondong untuk mencari jejak Darmuz pemegang si Astakona Zamrud, karena diyakini bahwa meminum darahnya akan memberikan kekuasaan dan keabadian tak terbatas."
"Ketika dia menyadari ada yang salah tentang kekuatan luar biasanya, Durmaz menolak menggunakan Astakonanya dan mengharamkan darahnya digunakan sebagai alat untuk kekuasaan dan keabadian."
"Ditimpa oleh teror dan kekerasan yang diakibatkan oleh keinginan akan kekuatan terhadap Astakona Zamrud, Durmaz mengambil keputusan untuk melarikan diri dari desanya. Dia menyembunyikan identitasnya dengan cermat dari pandangan orang umum, menghilang tanpa jejak seperti legenda yang tak terlihat."
"Namun, di balik kebijaksanaan Durmaz, masyarakat terpikat dengan daya tarik Astakona Zamrud yang misterius. Tidak peduli status sosial, orang-orang berlomba-lomba untuk mencari darah pemegang Astakona itu. Dalam kegilaan untuk mendapatkan kekuatan tak terbatas, manusia dengan kejam membunuh satu sama lain, bahkan keluarga dari Astakona Seij menjadi buruan untuk mendapatkan Durmaz."
"Astakona Seij, dengan kemampuan ajaib untuk menyembuhkan orang lain, menjadi sasaran empuk dalam kehausan orang-orang akan kekuatan magis. Mereka menjadi korban karena menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang ingin disembuhkan oleh keajaiban Astakona Seij."
"Huru-hara ini menyebabkan pemerintah terpaksa mengambil tindakan drastis. Upaya terakhir untuk mengatasi kekacauan ini adalah dengan membunuh Durmaz. Durmaz akhirnya ditangkap lalu dibunuh. Pengisytiharan akan kematian Durmaz menyebabkan pemerintah mengharamkan pengambilan darah dari mana-mana pemegang Astakona. Siapa pun yang diklaim sebagai keturunan Astakona Zamrud akan dihadapkan pada hukuman mati karena kehadiran mereka dianggap sebagai ancaman besar bagi keamanan negara."
"Keputusan ini, meskipun berat, diambil dalam usaha untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas. Namun, berita tentang Astakona Zamrud tetap beredar sebagai cerita rahasia dan misterius di kalangan rakyat. Keberadaannya menjadi mitos yang terus menggoda dan mengganggu pikiran manusia, menyebarkan pesona magis yang tidak terlupakan."
Bima mengambil napas dalam-dalam, mengingatkan diri Zack dan Hushion sendiri untuk waspada, mengingat masa lalu yang gelap.
"Dari saat itulah, penguasaan Astakona Zamrud menjadi mitos, dan orang-orang hanya bisa menyimpannya dalam dongeng-dongeng lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi."
Zack dan Hushion mendengarkan cerita Bima dengan penuh perhatian, merenungkan arti dari legenda. Mereka menyadari bahwa kekuatan yang langka seperti itu, meskipun menarik, bisa mambawa bencana dari seluruh dunia.
__ADS_1
Bima mencuci darah Zack lalu menempelkan plaster herba dengan hati-hati di atas luka di pipi.
"Demikianlah, sedikit cerita tentang legenda pemegang Astakona Zamrud. Tampaknya kau bukan salah satunya, mungkin Hushion terlalu terpengaruh dalam mimpinya," ucap Bima dengan penuh misteri.