ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 3


__ADS_3

Sorotan senja menyambut kepulangan Zack dan Hushion ke padang rumput mereka yang indah. Mereka bergegas melihat kambing-kambing mereka di kandang yang dibuat oleh Hushion. Namun, keajaiban tak terduga terjadi—pagar itu tiba-tiba mencair dan menghilang seperti wap air. Tanpa ragu, Zack membawa pulang kambing-kambingnya untuk menjaga keselamatan mereka sebelum gelap datang. Hushion juga membantu adiknya dalam tugas tersebut.


Setelah tiba di rumah, mereka melihat seorang lelaki berdiri di halaman. Senyuman merekah di wajah Zack dan Hushion seolah mereka telah menemukan harta karun. "Ayah!" seru Zack dengan antusias, berlari cepat dan memeluk ayahnya dengan erat. Hushion dengan hati bahagia menyusul di belakangnya.


Zack bertanya riang gembira, "Ayah baru pulang ya? Zack rindu sekali!"


"Hm... Ya, baru saja tiba tadi," jawab sang ayah sambil memandang Zack dengan senyum lembut, meskipun raut wajahnya terlihat agak lelah.


"Mesti ayah keletihan, kan? Zack akan buat air kopi hangat untuk ayah." usul Zack penuh perhatian.


"Sangat baik ide kamu, Zack. Pergilah membuat air."


"Baiklah, ayah."


Zack masuk ke dalam rumah dan menuju dapur, perlahan menghilang dari pandangan ayah dan abangnya.


Dalam ketidakhadiran Zack, Hushion bertanya dengan rasa ingin tahu, "Ayah, apakah ada urusan khusus yang membuat ayah pulang hari ini? Biasanya, ayah jarang pulang pada hari Isnin kecuali ada hal penting."


Ayahnya tersenyum dan dengan hati-hati mengeluarkan selembar surat yang bertanda Oktagon dengan bunga mawar di tengahnya.


Hushion langsung mengerti bahwa surat itu berasal dari Akademi Astakona.

__ADS_1


"Ini adalah surat untukmu, Hushion. Itu dikirim langsung oleh pengirim burung merpati dan sampai kepada ayah." Ujar ayahnya.


Hushion menghela nafas panjang saat melihat surat itu, merasakan campuran kegembiraan dan kecemasan dalam hatinya.


"Saya menolak untuk pergi ke sana, ayah."


Dalam percakapan itu, Hushion dengan tegas mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap keputusan ayahnya untuk dia pulang ke Astakona semata-mata. Dia menolak untuk kembali ke tempat itu karena tak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Hushion merasa bingung dan kesal dengan sikap tegar ayahnya yang tampak enggan mengubah pikirannya. Dia bertanya mengapa ayahnya masih bersikeras, meskipun Hushion telah mengambil keputusan yang berbeda.


Ayahnya mencoba membela diri dengan berkata bahwa masa lalu harus dibiarkan berlalu dan memaafkan memanglah sulit.


Namun, Hushion berkeras tidak akan pergi.


"Terus siapa yang mau jaga Zack? Ayah?" Soal Hushion. Dia khawatir tentang siapa yang akan menjaga Zack dan juga mencoba menunjukkan bahwa ayahnya sendiri seharusnya menjadi penjaga Zack.


Hal ini membuat Hushion semakin marah, karena menurutnya, ayahnya hanya kembali untuk urusan kambing dan tidak memiliki tanggung jawab yang nyata terhadap Zack. Dia juga merasa kesal dengan keputusan ayahnya untuk membawa Zack ke tempat Mak Zalilah, seorang wanita yang memiliki reputasi buruk dan pernah membuat Zack dan Hushion dihina oleh penduduk desa karena fitnahnya.


Dalam ketegangan yang meningkat, ayahnya menarik nafas panjang dan menatap mata Hushion dengan tajam, mungkin mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan anak lelakinya itu.


"Hushion, anakku yang bijaksana dan telah dewasa, gunakanlah kepintaran dan pemikiranmu dengan bijaksana. Jika ayah menjadi seorang bapa yang terbebas dari tanggungjawab, kamu akan kehilangan tempat perlindunganmu; gua akan menjadi tempat tinggalmu, manakala dedaunan kering akan menjadi bantal dan tilammu. Cahaya malammu akan mengandalkan api dari ranting kayu, dan makananmu hanya akan berupa udara yang mengisi perutmu yang kosong. Namun, karena rasa tanggung jawab, ayah menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan dasar agar kamu berdua tetap hidup."


"Kamu mengutip kesalahan ayah sebagai alasan untuk kamu melupakan jasa yang ayah berikan. Apakah kamu mempertanyakan isi hati dan perasaan yang tersembunyi di balik langkah-langkahnya? Ayah bertanya kepadamu, mampukah kamu membayar semua ini jika kamu sendirian? Tentu tidak, bukan? Sekurang-kurangnya kamu mengikuti keinginan ayah ini sebagai tanda terima kasihmu ke atas kebaikan tidak mengabaikan kamu dan adikmu. Bukan sukar permintaan ayah, kamu hanya perlu ke Akademi semula. Itu sahaja."

__ADS_1


"Dalam hidup ini, terkadang kita harus memilih jalan yang sulit, dan bagi ayah, menjadi bapa yang harus berpisah dengan keluarga adalah keputusan berat. Marilah kita masuk ke dalam, tidak enak ngomong perkara privasi ini di luar."


Hushion, yang mendengar perkataan ayahnya, terdiam sejenak. Dia merasa kewajibannya untuk menjaga kambing-kambing akan berakhir, dan itu merupakan kabar baik bagi dirinya. Namun, Hushion masih ingin mengajak Zack masuk ke Akademi Astakona sebagai siswa seperti dirinya. Dia tahu dia harus meyakinkan ayahnya untuk mendaftarkan Zack juga.


Saat Zack membawa air kopi untuk tamu, dia secara tidak sengaja mendengarkan percakapan di antara ayah dan Hushion di dapur. Nama Akademi Astakona seakan menggelitik ingatannya. "Astakona? Aku merasa sepertinya pernah mendengar tentang itu sebelumnya."


Sambil terus memantau percakapan itu, ayahnya mendengus frustasi dan mengeluh sehingga kaca matanya dilepaskan lalu diletakkan di meja.


"Baiklah, kamu bisa mendaftarkan Zack ke akademi dan membawanya bersamamu, tetapi dia harus lulus ujian masuk seperti kamu. Tapi ingatlah syarat untuk masuk ke akademi. Apakah kamu lupa bahwa Zack adalah Tias? Dia tidak berbakat dan tidak memiliki kemampuan. Tidak seperti kamu, yang memiliki segalanya. Kamu sempurna. Rupa menarik, otak cerdas, bakat yang menonjol, perilaku baik, dan banyak orang menyukaimu. Tetapi Zack..."


"Dia hanyalah beban buat keluarga."


Kata-kata ayahnya membuat Hushion merasa sedih dan bersalah. Dia menoleh ke arah dapur dan melihat Zack berdiri di sana, mendengarkan segala yang diucapkan ayahnya. Zack menundukkan kepalanya dan memegang erat dulang yang membawa air kopi, kemudian dengan tiba-tiba, dia menghentakkan dulang itu dengan kuat ke meja dapur, menciptakan suara keras yang menggema.


Tindakan impulsif itu mungkin merupakan cara Zack untuk mengekspresikan perasaannya yang terluka dan marah. Dia meninggalkan dulang itu dan berlari keluar dari dapur melalui pintu belakang.


Hushion merasa penuh penyesalan dan bergegas mengejar Zack. Dia menyadari bahwa dia harus berbicara dengan adiknya dan menghibur serta mendukungnya. Karena, di akhir hari, keluarga adalah tempat di mana mereka harus saling mendukung dan mencintai satu sama lain.


Hushion merasa terkejut dan cemas ketika dia melihat Zack menghilang dan pintu belakang dapur terbuka lebar. Dia segera berlari menuju pintu dan mencoba mencari adiknya.


Ayahnya mendekati Hushion dengan ekspresi serius. "Biarkan dia pergi. Pelajaran pertama yang harus dia pelajari adalah menerima dirinya sendiri" kata ayahnya dengan tegas.

__ADS_1


Namun, Hushion merasa terusik dengan apa yang dia dengar. Dia menatap ayahnya dengan penuh perasaan. "Ayah, apakah ayah menyadari apa yang ayah katakan sekarang? Zack itu adalah perempuan. Memang dia lemah, tetapi itu bukan alasan untuk kita membuangnya. Mengapa kita yang kuat tidak menjaga dan melindungi orang yang lemah? Seberapapun kekuatan kita di dunia ini, saat kita mati, kita akan menjadi selemah-lemahnya manusia."


Kata-kata bijak Hushion membuat ayahnya terpaku. Dia merenungkan kata-kata tersebut dengan serius, menyadari bahwa ada kebenaran di dalamnya. Dia terdiam, mencerna makna dari apa yang Hushion ungkapkan.


__ADS_2