ASTAKONA [LAPAN PENJURU]

ASTAKONA [LAPAN PENJURU]
Bab 9


__ADS_3

Zara berdiri di tepi danau, bertemu dengan lelaki itu yang membawa beberapa bekal makanan yang dibeli dari pasar Ningku. Saat melihat Zara, lelaki itu bertanya tentang pakaian yang ia kenakan.


"Kamu yakin bisa berlatih dengan pakaian seperti itu?" tanya Bhai sambil menggigit sebiji epal.


"Tapi Pakcik tidak bilang harus berpakaian bagaimana, dan hari ini kita hanya ingin berbicara, bukan berlatih," jawab Zara.


"Bener juga sih. Tapi ga usah panggil aku Pakcik, terdengar tua sekali. Aku masih muda, panggil saja aku Bhai, supaya kamu terbiasa," kata Bhai.


"Baiklah, Bhai," ucap Zara dengan senyuman.


"Anak yang baik sekali," puji Bhai. "Sekarang, pilihlah senjata yang kamu mau." Ujar Bhai sambil melemparkan beg senjata ke tanah.


Zara meletakkan bekal makanannya di samping dan mendekati beg berisi senjata yang dilemparkan oleh Bhai. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini senjata-senjata dalam beg tersebut terbuat dari logam dan asli, bukan dari kayu seperti yang pernah dia mainkan bersama teman-temannya sebelumnya.


Di antara berbagai senjata, mata Zara tertuju pada sebuah pedang kecil yang menonjolkan batu permata merah di tengah pemegangnya. Senjata itu terlihat begitu menarik, seakan-akan memanggilnya untuk memegangnya. Zara memutuskan untuk memilih pedang itu.


"Aku memilih yang ini," ucapnya mantap.


Bhai tampak terkejut mendengar pilihannya. "Hmm. Kamu serius? Kamu tahu bahwa pedang itu adalah milik Astakona Seij?" tanyanya dengan serius.


"Ga tau Bhai, tapi rasanya seperti pedang ini memiliki ikatan khusus denganku, berbeda dengan senjata yang lain," jawab Zara.


Bhai tertawa riang, "Hahaha. Wah. Kamu sangat unik. Pelajar lain sering menghindari pedang itu. Pedang itu memang keren dan penuh misteri, tapi tenang saja, aku akan mengajari kamu bagaimana cara menggunakannya dengan benar."


Zara datang lagi ke danau pada hari berikutnya, mengikuti permintaan Bhai untuk mengenakan seluar dan rambutnya diikat. Namun, kali ini Bhai terkejut melihat perubahan pada penampilan Zara. Rambut merah indahnya, yang dulunya panjang dan mencapai pinggangnya, kini dipotong pendek sampai sejajar bahu, dengan ujung-ujungnya diikat rapi.


"Kok kamu memotong rambutmu?" tanya Bhai heran.


"Lebih nyaman dengan potongan rambut ini. Selain itu, rambut juga lebih sehat dengan panjang yang lebih pendek," jawab Zara dengan senyuman.

__ADS_1


"Terserah padamu, tapi kamu kelihatannya lebih imut dengan rambut panjang itu," ujar Bhai dengan nada sedikit canda.


Zara hanya tersenyum mendengarnya, merasa senang dengan perubahan penampilan barunya. Dia merasa percaya diri dengan potongan rambut baru ini, dan merasa bahwa hal ini akan membantunya dalam perjalanan ke depan.


Bhai dan Zara pun kembali berlatih, tetapi kali ini Bhai memberikan beberapa latihan khusus untuk melindungi diri Zara selama pertempuran. Dia mengajari Zara cara menggerakkan pedangnya dengan cepat dan akurat.


Hari demi hari berlalu, Zara terus berlatih dengan giat di bawah bimbingan Bhai. Keterampilan bertarungnya semakin meningkat.


Tidak hanya menjadi guru, Bhai juga menjadi seorang sahabat yang setia bagi Zara. Mereka tertawa dan berbicara banyak hal di sela-sela latihan mereka. Setiap kali Zara merasa kelelahan atau frustasi, Bhai selalu ada di sampingnya untuk memberikan semangat dan dukungan.


Saat mereka berlatih dan menghabiskan waktu bersama, ikatan di antara mereka semakin kuat. Bhai tidak hanya memberikan pelatihan fisik, tetapi juga pelatihan mental dan emosional. Zara merasa dia telah menemukan seseorang yang benar-benar peduli padanya dan percaya padanya, seseorang yang bersedia membantunya tumbuh dan menjadi yang terbaik dari dirinya.


Setelah lama berlatih, Zara pun menanyakan bagaimana cara keluar dari rumahnya. Bhai tersenyum, "Setelah kamu berlatih dengan keras dan bersedia untuk keluar, aku akan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan."


...


Keesokan harinya, Zara datang lagi untuk berlatih dengan Bhai, namun kali ini, Bhai tidak muncul. Zara merasa bingung dan sedikit khawatir, karena biasanya Bhai selalu datang tepat waktu. Dia menunggu dengan sabar di tepi danau, berharap Bhai akan segera datang.


"Kalian siapa? Keluarlah!" ucap Zara dengan berani.


Tiba-tiba, lima orang bertopeng Syaitan merah muncul dari semak samun berdekatan dengan danau. Zara sangat terkejut melihat penampilan mereka. Mereka melepaskan panah dari jarak jauh, namun Zara dengan cekap berhasil mengelakinya.


Salah satu dari mereka menghembuskan api dari topeng mulutnya, mengarahkannya ke arah Zara. Tanpa pilihan lain, Zara terjun ke danau untuk menghindari serangan api tersebut. Beruntung, dia pandai berenang.


Namun, tiba-tiba Zara merasa ditarik oleh sesuatu di dalam air dan diangkat ke udara. Gelembung air mengelilinginya saat dia melayang di udara. Rupanya, dia sedang dikelilingi oleh kekuatan magis.


Ketika dia kembali di darat, lima orang bertopeng Syaitan mendekatinya sambil tertawa jahat. Mereka mulai mencemohnya dan menyebutnya lemah.


"Jadi ini Tias? Bagaimana ketua kami bisa takut padamu? Kamu lemah!" ucap lelaki bertopeng Syaitan hitam.

__ADS_1


Zara merasa marah dan darahnya mendidih. Tiba-tiba, gelang Astakona yang pernah diberikan oleh Maria berubah menjadi merah menyala. Tanpa sadar, api keluar dari tangannya dan membakar kelima lelaki bertopeng Syaitan itu. Namun, mereka berubah menjadi patung kecil setelah terkena serangan api.


Tiba-tiba, Bhai muncul dari balik pohon dengan menepuk tangan. Dia terlihat kagum dengan apa yang Zara lakukan.


"Kupikir kamu Tias, tapi bagaimana mungkin kamu bisa mengeluarkan api seperti Astakona maroon?" tanya Bhai.


"Aku tidak tahu. Tiba-tiba aja gelang ini berubah menjadi merah dan api keluar dari tanganku," jawab Zara.


"Sepertinya gelang itu memang khusus untukmu. Mungkin membantu kamu mengendalikan Astakona dengan lebih baik. Tapi hati-hati, saat menggunakannya, kamu bisa keliru dianggap sebagai Astakona Zamrud dan menjadi target pembunuhan." peringat Bhai.


Zara mengangguk mengerti. Dia merasa terkejut dengan kekuatan baru yang dimilikinya, namun juga merasa berterima kasih atas gelang Astakona yang membantunya.


Zara menghela nafas lega setelah peristiwa di danau tadi. Hatinya berbunga-bunga karena Bhai memberinya pujian atas keterampilan bertarungnya. Namun, dalam hati, dia merasa penasaran dengan solusi yang Bhai janjikan untuk membantunya keluar dari rumah.


"Ouh, iya kayaknya kamu sudah bersiap, sih. Cuma aku agak kecewa sama kamu karena tidak memakai senjata yang aku berikan. Tapi tidak apa-apa sih, kamu sudah berhasil mengalahkan patung-patungku, itu sudah cukup. Aku kaget melihatmu jatuh ke danau. Kukira kamu akan kesulitan berenang," ucap Bhai.


Zara tersenyum, "Terima kasih, Bhai. Aku belajar banyak darimu."


"Lalu, apa solusimu untukku? Aku masih penasaran sampai hari ini tentang apa yang telah kamu janjikan sejak 2 bulan yang lalu" tanya Zara.


"Solusinya? Hmm, inilah suratnya. Ambil dan bacalah. Malam ini, siapkan barang-barangmu dan keluarlah saat bibimu tidur. Aku akan menjemputmu di rumahmu, dan kita akan pergi ke tempat yang ditunjukkan di surat itu," jawab Bhai sambil memberikan surat kecil kepada Zara.


Zara menerima surat itu dengan antusias dan membacanya dengan seksama. Di dalam surat itu, Bhai menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke sebuah tempat tersembunyi di luar kota, di mana ada sebuah akademi khusus untuk para penguasa Astakona muda.


"Akademi?!" ucap Zara kagum.


"Ya, akademi itu milik beberapa rekanku. Kita adalah para penguasa Astakona yang berusaha menjaga perdamaian dan keadilan di dunia ini. Di sana, kamu akan belajar lebih banyak tentang Astakona sebelum kamu bisa ke akademi yang lebih besar di kota Nakasta, mengasah keterampilan bertarungmu, dan menemukan jati dirimu sebagai penguasa Astakona," jelas Bhai.


Zara merasa takjub dan gembira dengan kesempatan ini. Dia merasa bahwa inilah saatnya untuk menemukan tujuan dan takdirnya yang sebenarnya. Dia berjanji akan berlatih dengan giat dan menjunjung tinggi tanggung jawab sebagai penguasa Astakona.

__ADS_1


"Terima kasih, Bhai! Aku siap untuk perjalanan ini!" ucap Zara penuh semangat.


"Sangat bagus! Aku tahu kamu akan menjadi seorang penguasa yang hebat. Kita akan bertemu malamini. Sampai jumpa!" seru Bhai sambil berlalu pergi.


__ADS_2