
Pagi yang indah kembali lagi...
Pekatnya langit malam memang selalu datang pada waktunya tiba, tetapi ia tak akan lama
Ia akan pergi saat mentari datang menyapa
Begitupun mendung, gerimis, hujan, badai dan petir
Mereka memang akan datang membasahi bumi, menyapu langit dengan suara menggelegar atau cahaya yang menyengat jiwa
Tetapi itu hanya sementara kemudian pergi
...•...
Windi selesai memakaikan Tristan baju tatkala Melvin masuk ke kakar putra mereka. Jarang-jarang Melvin semoat mengunjungi kamar pangerannya, biasanya juga sibuk dengan berkas yang entah kapan habisnya.
"Morning my son!" sapanya memeluk dan menciumi pipi putranya.
Tristan hanya tertawa kegelian karena beberapa jambang halus Melvin yang menusuk-nusuk pipinya. Sementara Windi membereskan perlengkapan Tristan, membiarkan Melvin mengusel-ngusel Tristan di atas kasur. Senyum manis terbit di wajah khas Jawanya, melihat kebahagiaan Tristan yang berbeda. Bahagianya melihat tawa Tristan, selain karena Allah Swt, Tristan adalah kekuatannya.
__ADS_1
...•...
Pagi itu Melvin seperti biasa mengantar Windi terlebih dahulu, Windi mengambil kelas percepatan sehingga 6 hari masuk dalam seminggu, hanya weekend yang libur.
dengan wanita lain. Mengapa hanya mendapat kecupan di kening rasanya berjuta kali lebih indah? Apakah ini yang dinakamakan keindahan tiada tara, ketika hal itu didapat sudah halal?
...•...
Suatu malam, setelah melewati hari yang melelahkan Melvin masuk ke kamar tepat pukul 22.00 WIB. Ia langsung meraih handuk setelah meletakkan tas dan melepas kaos kakinya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu, Melvin keluar dari kamar mandi dan terkejut ketika melihat seorang wanita yang duduk membelakanginya. Wanita itu memunggunginya sehingga ia tidak tau siapa yang ada di kamarnya, lalu dimana Windi?
"Ehem!" ia mencoba menarik perhatian wanita itu agar ia bisa tau siapa wanita yang berani masuk ke kamarnya selain sang istri.
Namun, wanita itu belum juga berbalik, masih tenang dan menatap luar jendela yang menampilkan bulan dan bintang di langit malam. Melvin merasa serba salah, ia ingat betul terakhir kalinya ia berada di situasi yang membuatnya kehilangan kepercayaan pertama dari sang istri. Ia tidak mau lagi mengulang hal yang sama walau itu hanya niatan belaka.
"Siapa kamu?" tanya Melvin mengamati punggung dengan rambut panjang nan lebat itu.
Tetapi, wanita itu tidak menjawab. Melvin hanya bisa menangkap wanita itu seperti siluet hitam, pencahayaan yang hanya mengandalkan lampu tidur membuatnya tak bisa mengenali sosok itu. Anehnya, ia tak merasa terancam.
__ADS_1
"Cepat katakan siapa kamu? Beraninya masuk ke dalam kamarku dan istriku?!" geramnya karena diabaika.
Melvin tidak bisa menahan kesabarannya, ketika ia menarik wania itu dengan kasar.
Sret!
"Melvin!"
Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... 😂😍
.Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... 😂😍
.
.
Ilustrasi rambutnya aja...😀
__ADS_1