
Melvin tertidur di kursinya, sudah 3 hari ini ia tak pulang dan Windi tak berani mengganggunya.
Tetapi Windi tak bisa diam saja, ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan sang suami dan memenangkannya.
"Melvin!" panggilnya lirih, menyetuh bahu sang suami yang tidak menyadari keberadaannya.
Melvin tersentak, kemudian menegakkan tubuhnya. Mata sayunya menangkap wajah khawatir sang istri, kemudian meraih tangannya untuk digenggam.
"Aku di sisimu..." ujar Windi menghibur.
Melvin memeluknya, Windi adalah obat baginya.
"Thakn's, sayang. Keberadaanmu memberikan energi."
Windi tersenyum tipis, kemudian ia berkata, "istirahat dulu, biar fresh lagi. Kalo kamu makasain diri justru malah kamu gak bisa fokus. Pindah ke kamar gih!"
__ADS_1
Melvin setuju dan menuruti Windi, ia berjalan ke arah kamar istirahat dan mengajak Windi juga.
"Tapi sama kamu yah?"
Windi menyetujuinya, Melvin sedang butuh dia, bahkan jika perilakunya lebih kekanakan dari Tristan.
•
Setelah istirahat dan terbangun dari tidurnya, Windi sudah menyiapkan handuk dan baju ganti untuk mandi sang suami. Beberapa menit selesai, Windi menyiapkan peralatan untuk sholat mereka berdua.
Windi tau kali ini Melvin sedang diterpa badai, keberadaannya sangat diperlukan walau Melvin tidak mau mengungkapkan lebih. Windi menggenggam tangan kanan Melvin, mengusap-usap sambil menatap mata sang suami dalam.
"Aku gak bisa bantu banyak, Melvin. Tetapi aku tau saat ini kamu sedang diterpa badai, dan itu pasti sangat berat. Bahkan banyak pihak memojokanmu, aku sedih mendengarnya."
Melvin menatap istrinya sendu, ia tak ingin Windi sedih. Ia mendekat dan memeluk Windi erat, seolah mereka tak memiliki kesempatan untuk bersama lagi.
__ADS_1
"Melvin, percayalah...everything will be fine. Kamu Melvin kami, kamu pasti kuat. Aku dan Tristan akan terus mendukungmu dalam segala situasi. Berjanjikan kuat untuk kami, karena aku akan kuat untukmu dan Tristan. Kamu harus bisa bertahan demi aku dan Tristan, karena aku bertahan demi kamu dan Tristan. Kita lakukan semuanya bersama," bagai angin sejuk, hati Melvin tenang mendengar tutur kata Windi.
"Kalau kamu sedih, kamu bisa peluk aku, kamu bisa bersandar di pundakku walau pundakku kecil, tapi untukmu tak masalah. Kamu bisa nangis ketika kamu ingin menangis dan merasa tidak adil dengan dunia ini," Melvin jadi berkaca-kaca, nafasnya memburu, jantungnya berdegum kencang.
Windi mengeratkan pelukannya, mendengar detak jantung Melvin yang bertalu-talu.
"Kamu bisa telpon aku kalau kamu merasakan hal itu ketika aku gak ada di sampingmu, bahkan kamu bisa minta aku datang untuk menemanimu. Karena kamu gak sendiri, ada Allah Swt. aku dan anak kita. Jangan pernah merasa sendiri, oke?"
Melvin mengangguk, air matanya mengalir deras. Isak Tangisnya terdengar pilu dan Windi tertular karenanya, ia ikut menangis.
"Kalau kamu merasa sendiri, semua jadi berat, nanti kamu gak kuat dan putus asa. Jangan begitu yah? Inget selalu, kamu punya Allah, punya aku dan Tristan yang selalu bersama kamu. Yah? I love you so much," ucapannya kembali membuat Melvin merasa lega, kuat dan tangisnya seolah melunturkan beban.
Mereka berdua terus berpelukan sampai puas, hingga Melvin kembali bekerja.
Bersambung...
__ADS_1
Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... 😂😍