
Melvin kesal dengan bodyguardnya di sebrang telpon, Vero hanya menjawab 'yes sir!', 'yes sir!' dengan gugup.
"Kenapa kamu malah sibuk memaki Vero?! Ini bukan saatnya Melvin, kita harus menghubungi bagian informasi."
Kini sang istri yang ngedumel gara-gara Melvin gagal fokus. Mereka menuju ke pos keamanan taman hiburan untuk meminta agar petugas membuat pengumuman anak hilang.
Keduanya panik, bagaimana tidak? Putra kecil mereka yang baru berusia 4 tahun setengah hilang di keramaian. Pikiran mereka sudah kemana-mana. Melvin mengerahkan semua bodyguard miliknya, mencari ke seluruh sudut taman hiburan.
Tetapi di lain sisi, Tristan yang sedang dicari malah enak-enakkan duduk di kedai es krim di luar taman hiburan. Ia bersama Vero.
Si kecil Tristan sengaja meminta agar Vero pura-pura tidak tau keberadaannya. Ketika pengumuman anak hilang diumumkan Vero dan Tristan saling berpandangan.
"Tuan kecil, sepertinya ini bukan ide bagus. Boss akan membunuh saya!" Vero ketakutan.
Tristan yang baru bangun dari keterkejutannya buru-buru menelan es krim di mulutnya. Ia dengan gagah berani menatap Vero.
"Uncel tidak usah khawatil, aku akan melindungimu dari daddy! Daddy tidak akan membunuhmu! Pelcayalah padaku, kalena daddy tidak jahat. Telebih bunda tidak akan membiarkan daddy belbuat kasal uncle."
__ADS_1
Vero masih ragu, "tapi tuan kita harus..." ucapannya terpotong oleh Tristan.
"Uncle tidak pelcaya padaku?" tanyanya lantag.
Vero burtu-buru menggeleng, "tidak tuan kecil. Maksud saya ini urusan orang dewasa, kita tidak boleh berbohong. Tuan kecil sudah diajarkan oleh nyonya kan? Tidak baik berbohong."
Tristan berfikir keras, "tapi paman kalau belohong demi kebaikan tidak apa-apa! Daddy dan bunda butuh waktu beldua, bunda sepelti marah pada daddy. Jadi, meleka harus dibelikan waktu beldua saja. Aku tidak boleh mengganggu!"
Vero ingin protes lagi tetapi kata-katanya terputus karena dibekap oleh Tristan dan ditarik ke sisi belakang kedai es krim.
Tristan meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir setelah melepas bekapannya pada Vero.
"Ada paman Exel!" bisiknya ketika melihat bodyguard lain lewat.
Mereka tertutup kedai sehingga tidak terlihat, tetapi sialnya ponsel Vero berdering membuat Tristan panik. Kemudian ia dengan cepat mengambil ponsel Vero dan mematikannya. Vero pasrah, sejak ia diberi tugas menjadi bodyguard khusus putra majikannya ini, ia tau kalau Tristan bukan balita biasa. Ia menuruni sepenuhnya akal bulus sang ayah. Dari fisik sampai isi otak, Tristan mirip dengn Melvin. Untung Tristan memiliki Windi yang menanamkan sikap dan moral baik pada Tristan sehingga ia tetap menghormati para pekerja di rumahnya dan tidak belagu.
"Vero gila! Awas kau kalau ketemu, ku hjar kau!" maki Exel sebelum pergi.
__ADS_1
Tristan dan Vero lega kemudian keluar dari persembunyian, tetapi Tristan belum juga puas membuat kedua orang taunya kesulitan ia mencari ide agar kedua orang tuanya kembali mesra seperti biasa.
...•...
Vero kewalahan diseret oleh Tristan ke area bianglala. Di lain sisi Exel sudah menemukan titik dimana Vero berada dan dia melihat Vero sedang bersama Tristan naik wahana bianglala.
Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Melvin.
2 menit setelah laporan Exel, Melvin dan Windi sampai si area bianglala dan melihat Tristan dan Vero yang sudah naik wahana dan permainan dengan perlahan sudah berjalan, Tristan dengan senang melambaikan tangan ke arah mereka.
Melvin dan Windi saling pandang sebelum menyusul naik bianglala.
"Tristan hati-hati!" teriak Windi keras membuat Melvin pengang.
Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... 😂😍
Bersambung...
__ADS_1