
Windi mengantarkan makan siang untuk Melvin, ia mengajak Tristan yang langsung mmeluk ayahnya yang juga sangat merindukan pangeran kecilnya itu.
"Melvin," Melvin menoleh pada panggilan Windi dan melihat wajah teduh sang istri.
Windi tersenyum untuknya, "Aku tau krisis memang akan terjadi suatu hari. Bumi ini selalu berotasi, begitupun hidup kita., tidak selamnya berada di atas. Dulu aku selalu menginginkan pria yang pemberani menghadapi dunia."
Melvin menyimak, sementara Tristan sibuk bermain sendiri di pangkuan Melvin.
"Pemberani menghadapi dunia bukan mereka yang kuat ototnya, tetapi dia yang tidak takut kehilangan dunia. Harta bisa dicari, tetapi tidak untuk kehidupan Melvin. Aku tau kamu sedang berusaha mempertahankan apa yang keluargamu percayakan padamu, tetapi kamu telah berusaha sampai titik ini. Aku selalu ada di sisimu Melvin, justru aku akan menjauh ketika kamu bersikap curang. Untukku kamu tidak perlu menjadi pria kaya, punya segalanya dan bisa memberikanku apapun. Tetapi aku butuh kamu yang sehat wal afiat, beriman, menjadi pemimpin yang baik dan selalu memiliki waktu untuk keluarga kecil kita."
Melvin tersentuh dan terenyuh, istrinya selalu lebih dewasa darinya.
"Badai pasti berlalu Melvin, aku siap apapun resikonya. Ada atau tidaknya hartamu, aku tak masalah. Sudah tiga tahun lebih kita menjalani rumah tangga, kemarin aku lulus dan telah mendapat undangan wisuda. Aku bersamamu, apa adanya kamu Melvin."
Melvin menahan air matanya, tak ingin memperlihatkannya di depan Trista. Ia hanya mampu menggenggam tangan Windi dan menyalurkan energi.
__ADS_1
•••
Hari wisuda Windi telah tiba, Melvin sudah jauh lebih baik. Ia bisa melewati masalah di perusahaan dan Windi berhasil menguatkan sang suami.
Windi mendapat nilai bagus dalam kelulusannya, semua keluarga Danis datang dan ikut berfoto bersama. Moment paling berharga itu bisa dirayakan dengan keluarga. Melvin, Windi dan Tristan tampak harmonis seperti keluarga yang didambakan semua orang.
Yah, benar apa kata Windi bahwa badai pasti berlalu. Badai memang tak pernah betah untuk tinggal, ia hanya lewat dan mengguncang, tetapi ia juga merupakan penguji siapa yang tumbang dalam badai pasti ia rapuh dan perlu dikuatkan. Maka, Windi dan Melvin mencoba terus mengokohkan ikatan keluarganya.
Windi dan Melvin masih terus belajar, terutama Melvin yang telah belajar banyak dari Windi istrinya.
Dulu banyak yang mengatakan kalau dirinya sekarang adalah type pria gentle, tapi di hadapan Windi ia tak lain adalah pria brengsek yang hanya tau berbuat tanpa berani bertanggung jawab, dia pengecut.
Windi mengajarkanya banyak hal, Windi membuatnya menjadi pria sesungguhnya yang tidak pernah takut pada dunia. Dari Windi, Melvin belajar betapa dunia tak sesempit yang ia bayangkan.
Kemudian Melvin hanya bisa beterima kasih pada Sang Pencipta, ditakdirkan untuk menjadi satu dengan Windi.
__ADS_1
•••
Tiga tahun berlalu Tristan sudah duduk di bangku SD kelas 2 di London.
"Kenapa Tristan gak mau sekolah?" tanya Windi saat mereka sedang sarapan.
Tristan menolak untuk mandi dan berangkat sekolah, ia masih memakai baju tidur. Tampangnya kusut dan terlihat ngambek pada sesuatu.
"Gak mau aja ..." jawabnya pelan.
"Kenapa, bilang sama Bunda, ada apa?" tanya Windi sabar.
Melvin juga memperhatikan itu, ia menyerahkan pengasuhan sepenuhnya pada Windi, hanya sesekali ia terlibat untuk mendisiplinkan Tristan.
"Itu ..."
__ADS_1
Hai, bagi yang cari kelanjutannya, aku mau cari rumah baru buat Ayah Anakku. Mungkin kalian bakal temuin nama penanya bukan lagi Ell Zeya, bisa aja Blue Rose atau Aubi Atmarini Aiza. Tapi aku mang punya beberapa nama pena. Hehe.... 😂😍
Bersambung...